BANDUNG ORAL HISTORY Bagian 1

BANDUNG ORAL HISTORY Bagian 1

Oleh Kimun666

Cikal bakal berdirinya Bandung Oral History dapat dilacak hingga Februari 2006. Saat itu Minor Books menerbitkan buku babon Konsep dan Metode Sejarah Lisan yang ditulis oleh Reiza D. Dienaputra, sejarawan Universitas Padjadjaran yang memiliki perhatian khusus terhadap pengembangan metode sejarah lisan. Sebagai ajang promosi dan pertanggungjawawab publik atas rilisnya buku ini, Minor Books berencana menggelar sebuah workshop menulis sejarah lisan bagi anak-anak sekolah menengah dan mahasiswa. Yang menyambut baik program ini saat itu adalah Tarlen Handayani dari Tobucil. Namun karena begitu padat kesibukan masing-masing, maka workshop tak jadi digelar. Wacana gelaran workshop sejarah lisan bersama Tarlen merebak kembali bulan November 2008 ketika Kimung baru saja merilis buku Myself : Scumbag, biografi Ivan Scumbag almarhum yang menggunakan metode sejarah lisan dalam penulisannya. Sayang, rencana ini juga urung dilakukan karena kesibukan masing-masing. Padahal, di saat ini Kimung sudah mulai merancang workshop keliling sambil promo buku Myself : Scumbag. Yogyakarta dan Malang sudah menyanggupi menyediakan lapak untuk kegiatan workshop.
Wacana workshop sejarah lisan kembali menghangat pasca bedah buku Myself : Scumbag. Dalam bedah buku di Selasar Sunaryo, 19 Januari 2008 itu, Minor Books bekerja sama dengan Commonroom mengetengahkan kampanye kesehatan, diskriminasi sosisal, kolaborasi, dinamika komunitas, dan kampanye menulis serta mendokumentasikan hidup ini, workshop sejarah lisan masuk ke program terakhir. Belum juga kampanmye ini digarap semakin serius, terjadilah Insiden AACC 9 Februari 2008. Sontak perhatian semua elemen scene independen tertuju untuk berjuang melawan stigma dan segala hal teknis yang muncul dan kemudian merebak memberatkan komunitas pasca insiden. Workshop sejarah lisan pun terbengkalai lagi.
Kebutuhan akan workshop kembali mencuat ketika Addy Gembel memutuskan untuk memimpin Solidaritas Independen Bandung (SIB). Sebagai ketua SIB, tentu banyak yang harus diurus Gembel terutama dalam mengatasi masa krisis akibat insiden. Padahal saat itu, Gembel baru saja mulai menggarap buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels bersama Kimung. Buku terusan Myself : Scumbag dan dirancang sebagai buku kedua dari trilogi scene musik independen Bandung ini memang diset oleh Kimung khusus untuk dikerjakan berdua dengan Gembel. Namun apa mau dikata…
Kimung sempat meminta bantuan Sinta Ridwan, tapi Sinta ternyata tidak berminat dengan riset yang dilakukan Kimung. Kimung juga sempat dibantu oleh Osiie selama beberapa lama, namun Osiie kembali pergi karena kesibukan kuliahnya. Jadilah Kimung terlunta-lunta mengerjakan buku ini sendirian. Begitu banyaknya objek historis yang harus diriset dalam kisah sejarah Ujungberung Rebels membuat Kimung mau tidak mau memutuskan untuk membentuk pasukan khusus periset muda dari kalangan scene independen, terutama Ujungberung Rebels. Kimung menggarisbawahi kata ”periset muda” atas pemikiran, segala riset yang dilakukan di scene ini masih jauh dari pemasukan materi yang sifatnya komersial. Riset mengenai scene independen saja baru-baru ini dilakukan dan Myself : Scumbag bahkan bisa dikatakan sebagai biografi pertama yang dirilis oleh scene independen Bandung semenjak kelahiran mereka kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Hanya semangat orang muda yang mampu mengejar idealisme ini. Semangat tua sudah ngoyo harus digaspol dengan iming-iming jodoh atau uang, sesuatu yang tentu saja tak dipunya Kimung yang jauh dari grupis dan uang yang meruah.
Untuk membentuk pasukan riset itu, Kimung curhat ke Gustaff yang selama ini terus membantunya secara moril dan materil. Awalnya mereka merencanakan workshop sejarah lisan bulan Juli sebagai program pengisi liburan. Namun demikian, berbagai dinamika yang terjadi akhirnya membawa mereka ke bulan Desember, bertepatan dengan peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember, yang secara reguler digelar oleh Commonroom.
Untuk itu, Kimung bersama Reggi sepakat untuk malkukan brainstorming berkaitan dengan visi dan misi workshop, tujuan, format, hingga detil acara, termausk juga silabus dan rencana pengajaran perpertemuan agar semuanya bisa terukur dan tangible. Kimung dan Reggi lalu mengundang Addy Gembel, Sinta Ridwan, dan Ucok Homicide dalam merumuskan format workshop. Ucok terutama yang memberikan begitu banyak masukan mengenai apa yang harus dilakukan setelah workshop. Workshopnya sendiri adalah sesuatu yang mudah untuk digarap. Pekerjaan rumah yang jauh lebih berat adalah apa yang harus dilakukan agar hasil dari workshop akan memperlaihatkan kontribusi yang berkesinambungan. Semua yang hadir lalu sepakat untuk membuat semacam forum beranggotakan alumni workshop dan menjaring mereka agar tetap stay connect. Ucok juga mengingatkan tuuan workshop dan forum tersebut, apakah akan dibuat sebuah gerakan populewr atau pembentukan kanon. Kimung memilih pembentukan kanon terlebih dulu sebelum akhirnya dibuka secara luas menjadi sebuah gerakan populer.
Untuk mencapai tujuan membentuk kanon periset muda di komunitas, Kimung mulai mencari sosok-sosok yang sekiranya memiliki semagat, komitmen, dan hasrat yang dahsyat dalam menulis. Melalui bantuan situs jejaring sosial Friendster, Kimung mulai berhubungan dengan banyak anak muda, khususnya dari Ujungberung. Rencananya, Kimung akan mempersiapkan sepuluh orang dari scene independen yang akan ia biayai dalam workshopnya. Untuk membiayai kesepuluh calon tersebut, Kimung meminta bantuan Morbid Nixcotine. Tommy Morbid setuju dan ia bahkan meminta Kimung menyediakan tempat lima untuk kawan-kawan dari berbagai daerah yang akan datang diundang dan dibiayai Morbid Nixcotine. Kesepuluh orang yang terpilih atas seleksi Kimung pribadi dan juga atas referensi dari kawan-kawan dekatnya di scene adalah Fauziah, Okid, Kimo, Uzi Popo, Betty, dan lima orang titipan Morbid Nixcotine dari berbagai daerah distribusi Morbid. Sayang, omongan Tomy Morbid ternyata bohong belaka. Ia sama sekali tidak pernah meng-acc dukungan Morbid Nixcotine untuk program sosial ini dan tak pernah sama sekali menindaklanjuti apa yang pernah ia katakan sebelumnya. Lima tempat kosong kemduian diisi oleh Oki, Ratna, Ranti, dan Akbar.
Akhirnya, peringatan hari HAM Sedunia di Commonroom digelar atas kerja sama dengan Hivos dan Anne Frank Foundation tanggal 6 Desember 2008 sampai 10 Januari 2009 dibuka oleh pameran foto Anne Frank. Dari pameran foto Anne Frank itulah kampanye kesadaran untuk menulis dan mendokumentasikan hidupnya merebak dan menjadi gerbang menuju workshop sejarah lisan. Workshop ini digelar selama satu bulan dari tanggal 13 Desember 2008 hingga 10 Januari 2009 selama empat pertemuan setiap hari sabtu, kecuali dua pertemuan terakhir yang dirancang hari Sabtu 9 Januari 2009 dan hari Minggu 10 Januari 2009.
Pertemuan pertama workshop teknik dan metode sejarah lisan. Sore jam 15.00, dibuka oleh Reggie dan Kimung, menampilkan pembicara tamu, Pak Reiza yang membahas konsep-konsep dasar ilmu sejarah hingga akhirnya masuk ke pembahasan mengenai konsep dasar sejarah lisan. Sebuah penuturan yang sederhana namun sangat menarik dan begitu mudah diikuti oleh para peserta workshop. Minorbacaankecil terbit sebagai materi pendukung untuk para peserta workshop. Total peserta yang hadir dalam pertemuan pertama itu ada tujuh belas orang. Di akhir workshop, semua yang hadir diberi tuga untuk menentukan tema dan rancangan perumusan masalah penelitian.
Minggu depannya, 20 Desember 2009, semua kembali berkumpul dengan tugasnya amsing-masing. Pertemuan dibuka oleh Kimung dengan fokus awal menyoroti review calon tema yang akan diangkat serta skup temporal dalah ilmu sejarah. Hmmm berikut adalah tema yang dipresentasikan para peserta workshop berkaitan dengan tema yang mereka angkat :
– Akbar : sejarah band A Stone A, kisah diangkat dari kisah hidup personil A Stone A yang sudah meninggal.
– Kimo : sejarah benjang dan bangbarongan. Fokus mungkin biografi tokoh, atau lingkung seni.
– Viki, tema dinamika perkembangan musik bawahtanah Bandung, mengambil empat alternatif objek penelitian, kalau tidak hardecore Bandung dan black metal, berarti sejarah dua band favotirnya, Homicide dan Forgotten. Viki dan forum cenderung memilih sejarah black metal.
– Micky dan Gilang, keduanya saudara, memilki bisnis keluarga, berdagang kusen dan meubel. Objek penelitiannya adalah industri rumah tangga, mengangkat bisnis keluarga kusen Mukti jaya dari sudut produksi, distribusi, dan konsumsi.
– Rizal menyoroti tema budaya memakai barang palsu. Ada dua objek penelitiannya, kalau tidak DVD, ia memilih pemalsuan tas. Namun belakangan ia tertarik pada fenomena penyewaan tas dan alat-alat lain yang menentukan status social dalam masyarakat.
– Ami meyoroti tema pengamen mahasiswa di Dago. Ami lebih fokus ke keberadaan pengamen. Modelnya mungkin akan sejarah salah satu tokoh anak jalanan yang tumbuh di daerah Dago. Kimung merekomendasikan sosok Piton.
– Rizki mengambil tema para pedagang di pasar Minggu Gasibu.
– Zia mengambil dua tema, sejarah teater atau pergaulan sesame jenis tahun 1980an hingga 2000an. Zie cenderunglebih memilih fenomena pergaulan sesame jenis di bandung tahun 1980an hingga 2000an.
– Zihan bertahan dengan dua rencana penelitian, punk Bandung yang menjadi obsesinya akibat ditolak oleh scription board jurusannya, serta hooliganisme Persib. Sepertinya Zihan lebih cenderung memilih hooliganisme Persib.
– Betty memilih tema kaum Hawa di scene bawahtanah, peran mereka, hingga masalah-masalah feminisme. Model penulisannya mungkin biografi salah satu atau beberapa tokoh wanita di scene bawahtanah bandung 1990-2000an.
– Ratna memilih tema gerakan kolektif subkultur 1999 sampai 2006. Ada beberapa objek yang rencananya menjadi fokus Ratna, antara lain kompilasi Bandung dan pergelaran musik yang melibatkan beragam komunitas dalam penyelenggaraannya.
– Erfan mengambil tema peta pembentukan atmosfer komunitas di Bandung antara tahun 1990 hingga 2000. tidak seperti peserta lain yang cenderun g mengerucutkan masalah, Erfan akan mencoba memperlebar masalah. Ia sudah diperingatkan akan kesulitan mencari dan mengelola data dan fakta, namun Erfan tetap ngotot untuk mencoba merengkuh semua unsur dan sisi pembentukan atmosfer komunitas di Bandung.
Pertemuan diakhiri dengan penugasan membuat inventarisasi nara sumber/pengkisah, menyeleksi, membuat kendali wawancara, mewawancara, membuat indeks, serta transkripsi dari hasil wawancara metode sejarah lisan.
Satu minggu kemudian, 9 Januari 2009, pertemuan ketiga workshop sejarah lisan kembali digelar. Pertemuan kali ini adalah presentasi calon riset para peserta workshop, lebih ke pengembangan tema yang telah diambil satu minggu sebelumnya. Berikut adalah rancangan calon riset yang diajukan para peserta workshop,

Ami
Karena Aku Ingin Didengar
Bab 1 Siapa Aku?
– nama asli
– kegiatan yang dilakukan sekarang
– tempat ngumpul
– bangga atau tidak menjadi anak jalanan
– anak jalanan di mata priston
– kalimat terakhir …dan aku adalah seorang anak jalanan
Bab 2 Historical Background
– kisah tentang keluarga sehingga menjadi anak yang hidup di jalanan
– perjuangan yang dihadapi di jalanan
– cerita usia 5 sampai 10 tahun

Bab 3 Gelap
– hal yang membuat sakit hati atau terlecehkan
– musuh
– pandangan terhadap orang-orang secara umum
Bab 4 Utopia
– hal menyenangkan selama hidup[ di jalanan
– cita-cita, keinginan, harapan
– jaringan
Bab 5 Karena Hidup adalah Pilihan
– bagaimana dia melihat hidupnya sekarang
– harapan akan anak-anak jalanan lainnya
– pesan-pesan terhadap anak-anak jalanan
– pesan-pesan terhadap masyarakat luas

Gilang dan Micky
Industri Kusen Tiga Generasi
Bab 1 Pendahuluan
– tentang industri kusen
– sejak kapan ada industri kusen di Bandung?
– kegunaan kusen
– mengapa harus industri kusen?
Bab 2 Latar Belakang Keluarga Mendirikan Indutri Kusen
– rintisan awal pendirian usaha kusen, siapa, dimana, dan bagaimana
– perkembangan tren desin dari masa ke masa
Bab 3 Berdirinya Mukti Jaya Kusen
– produk yang dihasilkan
– perkembangan jumlah pekerja
– perkembangan strategi promosi dan marketing
– suka duka yang dialami
Bab 4 Perkembangan Mukti Jaya Kusen dari Tahun ke Tahun
– munculnya pesaing-pesaing
– strategi untuk jalan terus
Bab 5 Perkembangan Industri Kusen di Kota Bandung Akhir-akhir Ini
– Pengaruh Krisis Global terhadap Mukti Jaya Kusen
– Harapan ke Depan Mukti Jaya Kusen

Zihan
Setan Hooligan Datang untuk Menang
Bab 1 Persib nu Aing!
Membahas Persib, awal mula terbentuk, sejarah Persib sebagai latar belakang.
Bab 2 Bobotoh Saalam Dunya
Membahas terbentunya komunitas-komunitas pecinta Persib seperti Viking, Bomber, dan Boboko.
Bab 3 Kami Biru, kami Putih, Kami Persib
Membahas ‘Era Bersih’ bobotoh, kira-kira sebelum tahun 1985
Bab 4 Setan Hooligan Datang untuk Menang
Membahas mulai masuknya hooliganisme sebagai bentuk perkembangan sepak bola modern. Perilaku bonotoh sudah mulai brutal karena setelah menjuarai perseriatan, Persib lebih sering kalah, bahkan di pertandingan kandang.
Bab 5 Bagimu Persib, Jiwa Raga Kami
Membahas perselisihan antar supporter itu sudah lumrah. Perilaku anarki yang dianggap bentuk pengorbanan untuk Persib akan terus dilestarikan demi harga diri Persib dan Bobotoh.

Viki
Membaca Gejala dalam Jelaga—Homicide Melawan Barisan Nisan
Bab 1 Semiotika Raja Tega
Latar belakang, membahas dinamika musik hiphop di Bandung.
Bab 2 Megatukad
Membahas awal terbentuknya Homicide, konflik internal dalam band, split dengan Balcony, serta gis.
Bab 3 Necropolis
Ketika Homicide mulai menulis lirik dan membuat album yang dirilis dengan nama Necropolis. Juga menganalisis berbagai konflik yang merebak.
Bab 4 Barisan Nisan
Homicide memutuskan untuk membubarkan diri karena berbagai hal.
Bab 5 Sajak Suara
Refleksi.

Betty
Ketika Eksistensi Wanita di Musik bawahtanayh Dipertanyakan
Chapter 1 Sekilas mengenai Musik Bawahtanah
– apa itu musik bawahtanah
– ruang lingkup musik bawahtanah
– komunitas musik bawahtanah
– perkembangan wanita pada musik bawahtanah dari tahun ke tahun
Chapter 2 Peran Wanita di Scene Musik Bawahtanah
latar belakang dan alas an mengapa kaum hawa in masuk ke dalam dunia musik bawahtanah
Chapter 3 Orang-orang Biasa dengan Cerita-cerita tak Biasa
– menjadi produser band bawahtanah
– menjadi personil band bawahtanah
– menjadi manajer band bawahtanah
Chapter End
Simpulan dan tanggapan dari kawan-kawan pria di scene musik bawahtanah

Rijal
Barang Bajakan Beyond Good and Evil
Bab 1
Suasana dan konsisi lapak dan lingkungan serta interaksi antara penjual dan pembeli.
Bab 2
– Pengenalan tokoh utama
– Hobi dan komunitas yang diikuti tokoh
Bab 3 Mulai Usaha
– sejarah terbangunnya usaha
– motivasi membangun usaha
– latar belakang pemilihan scene independen dalam produksi CD bajakan
– visi usaha
– target dan reaksi pasar
Bab 4 Perkembangan Usaha
– sistem produksi dan distribusi
– kiblat/referensi dan sumber utama dalam pemilihan album yang akan dibajak
Bab 5 Penutup

Erfan Dayung
Bulatan dalam Bulat
Pendahuluan
– apa itu kmunitas independent di Kota Bandung
– siapa saja merekqa dan bergerak dalam hal apa
– factor yang menstimulan mereka untuk membentuk komunitas
– kenapa mereka bias tumbuh dan di mana mereka tumbuh
– penerimaan lingkungan masyarakat
– kenapa mereka bias menjadi mainstream yang terus bergerak progresif
– bagaimana mereka bias terus berkembang
– factor apa yang membatasi ruang gerak mereka
– bagaimana keadaan mereka saat ini
Bab 1 Komunitas Motor Tua Brotherhood
– apa itu Brotherhood
– bagaimana mereka bias terbentuk
– siapa saja anggotanya
– bagaimana organisasi mereka bias berjalan sampai saat ini
– pergerakan yang sudah dan akan terus dilakukan
– pengaruh mereka terhadap lahirnya gank-gank motor yang meresahkan masyarakat
– konflik yang terjadi dalam tubuh Brotherhood
– perspektif penulis—Refleksi
Bab 2 Komunitas Musik
– Genre apa yang pertama muncul dalam scene indie
– Bagaimana sang pelopor bias muncul
– Faktur yang mempengaruhi mereka
– Perkembangan per fase
– Munculnya generasi kedua dan seterusnya
– Siapa saja mereka saat ini
– Pembahasan sejarah ringan tentang komuitas musik indie yang ada di Bandung dibagi menjadi sub-sub bab dari genre-genre
– Bagaimana akhirnya mereka bias menjadi suatu arus baru di industri musik Indonesia
– Perspektif penulis—Refleksi
Bab 3 Distro dan Clothing
– bagaimana kondisi pasar distro saat ini
(Pembahasan mengambil salah satu pelopor yang paking berpengaruh di industri ini, 347)
– bagaimana 347 terbentuk
– fase-fase apa saja yang sudah dilewati 347
– perkembangan 347 saat ini (Kembali ke pembahasan secara luas industri ini)
– kapan dan bagaimana proses menjamurnya clothing dan distro (Mengambil acuan dari Kick, komuitas industri distro dan kloting di Bandung)
– Apa itu Kick
– Bagaimana Kick terbentuk
– Siapa saja anggotanya
– Factor yang mendorong mereka membentuk suatu komunitas dan pergerakan apa yang dilaukan
– Persoalan yang dihadapi Kck saat ini
– Pandangan Kick terhadap industri kloting dan distro yang menjadi semakin mainstream di Indonesia
– Harapan Kick terhadap perkembangan industri ini
– Perspektif penuls—Refleksi
Bab 4 Kesimpulan

Esoknya, 10 Januari 2009, pertemuan terakhir workshop oral history. Sebetulnya masih begitu bayak materi tenatng ilmu sejarah yang belum tersampaikan, namun khusus program workshop sejaral lisan, semua sudah selesai. Di pertemuan ini hanya dibahas bagaimana arah dan potensi riset sejarah lisan di scene independen Bandung. Pertemuan lebih satai dan Kimung sudah semakin membeaskan para peserta workshop untuk lebih bebas dalam menentukan arah riset mereka. Tujuan awal Kimung yang ingin membentuk pasukan riset yang bisa membantunya dalam buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels luruh selama satu bulan itu ketika melihat antusiasme para peserta workshop terhadap calon objek risetnya.
Kimung merasakan satu hal yang timbul dalam benak para peserta workshop tersebut. Secara material, mereka memang begitu jauh dari pencapaian mahasiswa sejarah pada umumnya yang sangat kental dengan metode dan metodologi sejarah. Namun demikian, Kimung merasa dalam benak para peserta workshop tersebut tumbuh kesadaran sejarah sebagai salah satu dari hak asasi mereka sebagai manusia.
Dalam kesempatan itu, untuk mengikat mereka terus dalam satu forum, Kimung mengajak alumni workshop untuk menggarap riset kompilasi-kompilasi musik scene independen Bandung dari tahun 1995 hingga 2009. Sebuah riset Kimung dan Idhar yangtertunda sejak pertangahan tahun 2008. ternyata, para alumni riset menyambut baik ajakan tersebut. Mayoritas kemudian kembali bersatu dan sepakat melakukan riset bersama mengenai kompilasi scene independen Bandung 1995 – 2009. Untuk mempermudah saling berhubungan, semua sepakat untuk membentuk forum alumni workshop yang berkumpul setiap hari Kamis sore di Commonroom. Forum itu kemudian dinamai Bandung Oral History.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: