METODE SEJARAH dan METODE SEJARAH LISAN

METODE SEJARAH dan METODE SEJARAH LISAN

Oleh Kimung

Metode penelitian sejarah adalah metode atau cara yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian peristiwa sejarah dan permasalahannya. Dengan kata lain, metode penelitian sejarah adalah instrumen untuk merekonstruksi peristiwa sejarah (history as past actuality) menjadi sejarah sebagai kisah (history as written). Dalam ruang lingkup Ilmu Sejarah, metode penelitian itu disebut metode sejarah.
Metode sejarah digunakan sebagai metode penelitian, pada prinsipnya bertujuan untuk menjawab enam pertanyaan (5 W dan 1 H) yang merupakan elemen dasar penulisan sejarah, yaitu what (apa), when (kapan), where (dimana), who (siapa), why (mengapa), dan how (bagaimana). Pertanyaan-pertanyaan itu konkretnya adalah: Apa (peristiwa apa) yang terjadi? Kapan terjadinya? Di mana terjadinya? Siapa yang terlibat dalam peristiwa itu? Mengapa peristiwa itu terjadi? Bagaimana proses terjadinya peristiwa itu?
Dalam proses penulisan sejarah sebagai kisah, pertanyaan-pertanyaan dasar itu dikembangkan sesuai dengan permasalahan yang perlu diungkap dan dibahas. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus menjadi sasaran penelitian sejarah, karena penulisan sejarah dituntut untuk menghasilkan eksplanasi (kejelasan) mengenai signifikansi (arti penting) dan makna peristiwa.

PROSES PENELITIAN SEJARAH

Pemilihan Topik Penelitian
Suatu penelitian ilmiah tentu berawal dari pemilihan topik yang akan diteliti. Dalam bidang sejarah, topik penelitian harus memenuhi beberapa persyaratan.
a) Topik itu harus menarik (interesting topic), dalam arti menarik sebagai obyek penelitian. Dalam hal ini termasuk adanya keunikan (uniqueness topic).
b) Substansi masalah dalam topik harus memiliki arti penting (significant topic), baik bagi ilmu pengetahuan maupun bagi kegunaan tertentu.
c) Masalah yang tercakup dalam topik memungkinkan untuk diteliti (manageable topic). Persyaratan ini berkaitan dengan sumber, yaitu sumber-sumbernya dapat diperoleh. Meskipun topik sangat menarik dan memiliki arti penting, namun bila sumber-sumbernya, khususnya sumber utama tidak diperoleh, masalah dalam topik tidak akan dapat diteliti. Oleh karena itu calon peneliti harus memiliki wawasan luas mengenai sumber, khususnya sumber tertulis.

Studi Pendahuluan
Setelah topik penelitian ditentukan, segera lakukan studi pendahuluan. Cari sumber-sumber acuan utama, yaitu sumber-sumber yang diduga memuat data atau informasi yang relevan dengan topik penelitian. Dengan menelaah sumber-sumber acuan utama secara efektif, peneliti akan dapat memahami ruang lingkung penelitian, baik ruang lingkup masalah maupun ruang lingkup temporal (waktu) dan spasial (tempat/wilayah) obyek penelitian.
Ruang lingkup penelitian itu kemudian dituangkan dalam rencana kerangka tulisan (laporan penelitian). Sementara itu, telaah pula bibliografi/daftar pustaka pada setiap sumber acuan utama yang berupa buku ilmiah. Hal itu dimaksudkan untuk mendapat tambahan informasi sumber-sumber yang diduga memuat data tentang masalah yang akan diteliti. Catat identitas sumber-sumber itu menjadi bibliografi kerja.

Implementasi Penelitian
Penelitian sejarah yang pada dasarnya adalah penelitian terhadap sumber-sumber sejarah, merupakan implementasi dari tahapan kegiatan yang tercakup dalam metode sejarah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tahapan kegiatan yang disebut terakhir sebenarnya bukan kegiatan penelitian, melainkan kegiatan penulisan sejarah (penulisan hasil
penelitian).

Heuristik
Heuristik adalah kegiatan mencari dan menemukan sumber yang diperlukan. Berhasil-tidaknya pencarian sumber, pada dasarnya tergantung dari wawasan peneliti mengenai sumber yang diperlukan dan keterampilan teknis penelusuran sumber. Berdasarkan bentuk penyajiannya, sumber-sumber sejarah terdiri atas arsip, dokumen, buku, majalah/jurnal, surat kabar, dan lain-lain.
Berdasarkan sifatnya, sumber sejarah terdiri atas sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber yang waktu pembuatannya tidak jauh dari waktu peristiwa terjadi. Sumber sekunder adalah sumber yang waktu pembuatannya jauh dari waktu terjadinya peristiwa. Peneliti harus mengetahui benar, mana sumber primer dan mana sumber sekunder. Dalam pencarian sumber sejarah, sumber primer harus ditemukan, karena penulisan sejarah ilmiah tidak ukup hanya menggunakan sumber sekunder.
Agar pencarian sumber berlangsung secara efektif, dua unsure penunjang heuristik harus diperhatikan.
a) Pencarian sumber harus berpedoman pada bibliografi kerja dan kerangka tulisan. Dengan memperhatikan permasalahan-permasalahan yang tersirat dalam kerangka tulisan (bab dan subbab), peneliti akan mengetahui sumber-sumber yang belum ditemukan.
b) Dalam mencari sumber di perpustakaan, peneliti wajib memahami sistem katalog perpustakaan yang bersangkutan.

Kritik Sumber
Sumber untuk penulisan sejarah ilmiah bukan sembarang sumber, tetapi sumber-sumber itu terlebih dahulu harus dinilai melalui kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern menilai, apakah sumber itu benar-benar sumber yang diperlukan? Apakah sumber itu asli, turunan, atau palsu? Dengan kata lain, kritik ekstern menilai keakuratan sumber. Kritik intern menilai kredibilitas data dalam sumber.
Tujuan utama kritik sumber adalah untuk menyeleksi data, sehingga diperoleh fakta. Setiap data sebaiknya dicatat dalam lembaran lepas (sistem kartu), agar memudahkan pengklasifikasiannya berdasarkan kerangka tulisan.

Interpretasi
Setelah fakta untuk mengungkap dan membahas masalah yang diteliti cukup memadai, kemudian dilakukan interpretasi, yaitu penafsiran akan makna fakta dan hubungan antara satu fakta dengan fakta lain. Penafsiran atas fakta harus dilandasi oleh sikap obyektif. Kalaupun dalam hal tertentu bersikap subyektif, harus subyektif rasional, jangan subyektif emosional. Rekonstruksi peristiwa sejarah harus menghasilkan sejarah yang benar atau mendekati kebenaran.

Historiografi
Kegiatan terakhir dari penelitian sejarah (metode sejarah) adalah merangkaikan fakta berikut maknanya secara kronologis/diakronis dan sistematis, menjadi tulisan sejarah sebagai kisah. Kedua sifat uraian itu harus benar-benar tampak, karena kedua hal itu merupakan bagian dari ciri karya sejarah ilmiah, sekaligus ciri sejarah sebagai ilmu.
Selain kedua hal tersebut, penulisan sejarah, khususnya sejarah yang bersifat ilmiah, juga harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah umumnya. Beberapa hal tersebut antara lain :
a) Bahasa yang digunakan harus bahasa yang baik dan benar menurut kaidah bahasa yang bersangkutan. Kaya ilmiah dituntut untuk menggunakan kalimat efektif.
b) Merperhatikan konsistensi, antara lain dalam penempatan tanda baca, penggunaan istilah, dan penujukan sumber.
c) Istilah dan kata-kata tertentu harus digunakan sesuai dengan konteks permasalahannya.
d) Format penulisan harus sesuai dengan kaidah atau pedoman yang berlaku, termasuk format penulisan bibliografi/daftar pustaka/daftar sumber.

Kaidah-kaidah tersebut harus benar-benar dipahami dan diterapkan, karena kualitas karya ilmiah bukan hanya terletak pada masalah yang dibahas, tetapi ditunjukkan pula oleh format penyajiannya.

METODE SEJARAH LISAN

Sejarah lisan secara sederhana dapat dipahami sebagai peristiwa-peristiwa sejarah terpilih yang terdapat di dalam ingatan hampir setiap individu manusia. Dengan pemahaman seperti itu, menjadi jelas ada di mana sebenarnya sejarah lisan. Sejarah lisan ada di dalam memori manusia. Untuk itu, agar sejarah lisan dapat digunakan sebagai sumber sejarah, perlu ada upaya untuk mengeluarkannya dari memori individu manusia. Tanpa itu, bisa jadi sejarah lisan tidak akan pernah bisa digunakan sebagai sumber sejarah dan akan menjadi hak milik abadi sang pemilik kisah. Dalam kaitannya dengan upaya untuk mengeluarkan sejarah lisan dari memori individu manusia maka akan sampailah pada pembicaraan tentang cara, teknik, atau metode untuk mengeluarkannya. Cara, teknik, atau metode untuk mengeluarkan sejarah lisan ini untuk mudahnya bisa disebut sebagai metode sejarah lisan.

TAHAPAN KERJA

Tahap Persiapan
Ada delapan langkah kegiatan yang perlu mendapat prioritas perhatian. Kedelapan langkah kegiatan tersebut, meliputi, perumusan topik penelitian, penetapan judul penelitian, pembuatan kerangka penelitian, pembuatan kendali wawancara, inventarisasi dan seleksi pengkisah, kontak dengan pengkisah, pengenalan lapangan, dan persiapan alat rekam. Urut-urutan langkah kegiatan yang akan diuraikan di bawah ini tidaklah bersifat kaku, bisa jadi karena pertimbangan situasi dan kondisi, langkah kegiatan yang satu lebih didahulukan dibanding langkah kegiatan lainnya.

Perumusan Topik Penelitian
Pada dasarnya sebuah kegiatan penggalian sejarah lisan baru dapat dilakukan dengan baik manakala telah diperoleh kejelasan tentang topik yang akan diteliti. Untuk menentukan topik penelitian, setidaknya ada empat pertimbangan yang perlu dilakukan, yaitu :
• Manageable topic, topik yang diteliti ada dalam jangkauan kemampuan intelektual, finansial, dan ketersediaan waktu
• Obtainable topic, pengkisah yang diperlukan untuk menggali sejarah lisan yang sesuai dengan topik yang telah dirumuskan masih hidup dan relatif mudah untuk dijangkau.
• Significance of topic, topik cukup penting untuk diteliti. Pengukuran kepentingan topik dalam penggalian sejarah lisan dapat pula dilihat dari nilai rekonstruksi yang akan dihasilkan. Bila sebuah rekonstruksi sejarah melalui sejarah lisan akan mampu mencerahkan pemahaman sejarah masyarakat tentang suatu peristiwa yang tengah menjadi bahan pembicaraan atau masih gelap alurnya bisa pula kiranya dikedepankan untuk diberi prioritas.
• Interested topic, topik menarik untuk diteliti. Pertimbangan keempat dalam memilih topik ini benar-benar diarahkan kepada ketertarikan peneliti terhadap topik yang dipilihnya.

Pemahaman Masalah
Memahami masalah yang akan diteliti sebagaimana tercermin dalam judul penelitian perlu dilakukan agar sebelum penggalian sejarah lisan dilakukan, penggali sejarah lisan telah memiliki bekal awal tentang peristiwa atau materi yang akan ditelitinya. Upaya memahami masalah dapat dilakukan melalui pendekatan konvensional dan pendekatan non konvensional. Pendekatan konvensional dilakukan dengan melacaknya terlebih dahulu melalui sumber-sumber tertulis, baik yang ada di lembaga-lembaga kearsipan maupun perpustakaan-perpustakaan.

Pendekatan non konvensional dilakukan dengan melacak materi atau peristiwa yang akan diteliti melalui internet. Dari perumusan masalah akan dihasilkan kerangka penelitian yang penting untuk dibuat karena dapat menjadi petunjuk tentang informasi sejarah lisan yang diperlukan.

Pembuatan Kendali Wawancara
Kendali wawancara memiliki fungsi sebagai alat pancing untuk memperoleh informasi sejarah lisan sebagaimana yang diinginkan. Dengan demikian, kendali wawancara selalu memiliki keterkaitan erat dengan kerangka sementara. Apa yang sudah diuraikan dalam kerangka sementara kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam kendali wawancara.
Tampilan kendali wawancara sebagai penjabaran lebih lanjut dari kerangka sementara tidak lain berupa daftar pertanyaan. Penting kiranya untuk diperhatikan, pertanyaan-pertanyaan yang dimuat dalam kendali wawancara haruslah dibuat sesederhana mungkin tetapi jelas dan mudah dipahami. Terlebih bila pertanyaan-pertanyaan tersebut ditujukan kepada para pemilik sejarah lisan yang berasal dari komunitas masyarakat yang sederhana dan kurang atau bahkan tidak terdidik. Untuk itu semua, sudah selayaknya bila pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dimulai dengan 5 W (who,what,when, where, why) dan 1 H (how).

Inventarisasi dan Seleksi Pengkisah
Gambaran awal tentang keberadaan para pemilik sejarah lisan atau pengkisah sebenarnya sudah harus diperoleh sejak topik dirumuskan. Oleh karenanya, pada langkah kegiatan ini, inventarisasi dipahami sebagai proses penyusunan daftar pengkisah sesuai dengan derajat perannya dalam peristiwa sejarah serta perluasan daftar pengkisah yang akan digali sejarah lisannya. Akan menjadi baik kiranya bila daftar pengkisah ini dibuat sebanyak mungkin. Adapun yang dimaksud pengkisah (interviewee) adalah saksi hidup yang menceriterakan kesaksiannya melalui wawancara yang direkam dalam alat rekam. Kesaksian lisan dari tangan pertama, bisa berupa peristiwa tertentu yang dialami sendiri, dirasakan sendiri, didengar sendiri, dilihat sendiri, atau dipikirkan sendiri secara langsung oleh pengkisah. Setelah inventarisasi dilakukan, maka dilakukanlah seleksi pengkisah. Seleksi pengkisah yang paling sederhana menyangkut dua hal, yaitu usia dan kesehatan mental.

Kontak dengan Pengkisah
Setelah diperoleh daftar pengkisah terseleksi, langkah selanjutnya mengadakan kontak dengan pengkisah. Kontak dengan pengkisah dimaksudkan untuk memperkenalkan diri, menyampaikan maksud dan tujuan, serta sekaligus membuat janji wawancara. Ada baiknya sebelum kontak dilakukan, pewawancara berupaya mengenal terlebih dahulu profil calon pengkisah, baik melalui orang-orang yang mengetahui tentang jati diri pengkisah maupun melalui bacaan-bacaan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengadakan kontak awal dengan pengkisah, mulai dari datang langsung ke tempat tinggal pengkisah, mengirim surat, berkomunikasi lewat telepon rumah atau handphone, hingga berkomunikasi melalui SMS atau e-mail. Kesemua pilihan untuk membuat kontak dengan pengkisah tersebut sifatnya tentu sangat kondisional sekali. Faktor etika dan kesantunan perlu dipertimbangkan manakala akan menentukan media komunikasi untuk mengontak pengkisah. Di antara kesemua pilihan, bila pengkisah yang akan dikontak telah berumur atau lebih tua dari peneliti ada baiknya mendatangi langsung kediaman pengkisah menjadi prioritas pilihan pertama.

Pengenalan Lapangan
Pengenalan lapangan di sini dimaksudkan sebagai upaya mengenal medan tempat wawancara akan dilakukan. Ada dua hal yang menjadi dasar perlunya pengenalan lapangan di lakukan. Pertama, bila kontak awal dengan pengkisah dilakukan dengan tidak mendatangi langsung tempat tinggal pengkisah. Kedua, bila ternyata dari kontak awal yang dilakukan, pengkisah memutuskan bahwa wawancara tidak diadakan di tempat tinggal pengkisah tetapi di tempat lain yang telah ditentukan, misalnya di kantor tempat pengkisah bekerja atau bila pengkisah seorang petani, wawancara diadakan di pematang sawah atau di kebun, atau bila pengkisah seorang nelayan, wawancara diadakan di tempat pelelangan ikan atau di atas perahu. Dalam situasi seperti itu, pengenalan lapangan perlu dilakukan agar pada saat wawancara akan dilakukan, peneliti sudah mengetahui dengan baik tempat yang akan dituju, termasuk memperkirakan waktu tempuh yang diperlukan agar si penggali sejarah lisan dapat terhindar dari keterlambatan tiba di lokasi saat wawancara akan dilakukan.

Pengenalan Alat Rekam
Fungsi alat rekam bagi seorang penggali sejarah lisan dalam kegiatan penggalian sejarah lisan tidak jauh berbeda dengan fungsi senjata bagi seorang prajurit yang akan turun ke medan perang. Untuk itu, jelaslah merupakan suatu conditio sine qua non bagi penggali sejarah lisan untuk mempersiapkan dengan baik alat rekam beserta segala perangkat pendukungnya, seperti kaset dan baterei.
Alat rekam yang baik adalah alat rekam yang jernih daya tangkapnya, bentuknya sederhana, mudah dibawa, dan untuk menjalankannya dapat menggunakan energi listrik maupun baterei. Sangat dianjurkan agar sebelum memulai menggali sejarah lisan, penggali sejarah lisan mencoba terlebih dahulu alat rekam tersebut dalam berbagai posisi dan jarak. Tujuannya, untuk mengetahui kelaikan alat rekam tersebut, sekaligus untuk mengetahui seberapa jauh daya tangkap alat rekam tersebut.

Tahap Pelaksanaan

Tahapan pelaksanaan kegiatan penggalian sejarah lisan juga dapat dibagi lagi dalam beberapa langkah kegiatan yang terdiri dari lima tahap, meliputi pembuatan label wawancara, pembukaan wawancara, menjaga suasana wawancara, membuat catatan, dan mengakhiri wawancara.

Membuat Label Wawancara
Fungsi label dalam wawancara sejarah lisan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan fungsi keterangan pengarang, tahun, judul, tempat terbit, dan penerbit yang ada pada sebuah buku. Oleh karena itu, jelaslah pembuatan label ini mutlak harus dilakukan dalam kegiatan penggalian sejarah lisan. Label wawancara untuk kegiatan penggalian sejarah lisan ini dibuat pada awal dan akhir wawancara, ada yang berbentuk lisan dan ada pula yang berbentuk tulisan. Adapun keterangan yang termuat dalam label wawancara, meliputi, nama pengkisah, nama pewawancara, tanggal dan tempat wawancara, waktu wawancara, dan topik atau judul penelitian.
Untuk memudahkan, ada empat jenis label wawancara yang perlu dibuat oleh pewawancara dalam kegiatan penggalian sejarah lisan.
1. Label yang terekam dalam kaset pada awal wawancara. Sebagai contoh, label yang terekam dalam kaset ini misalnya berbunyi, “Pada hari ini, Selasa tanggal 24 Mei 2005, saya, Haidir Aulia, mengadakan wawancara dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Wawancara ini diadakan di tempat kediaman pengkisah di Cikeas berkaitan dengan penelitian yang berjudul, ‘Respon Para Menteri Kabinet terhadap Dekrit Presiden 22 Juli 2001’. Wawancara dimulai pada pukul 16.00 WIB. Adapun isi wawancara sebagai berikut”.
2. Label yang terekam dalam kaset pada akhir wawancara. Bunyi label wawancara di akhir wawancara misalnya, “demikian wawancara dengan Susilo Bambang Yudhoyono, wawancara ini berakhir pada pukul 17 .13” atau “demikian wawancara pertama dengan Susilo Bambang Yudhoyono, wawancara ini berakhir pada pukul 17.13. Wawancara selanjutnya direncanakan akan berlangsung hari Selasa tanggal 31 Mei 2005”.
3. Dua label wawancara lainnya berbentuk tulisan, yakni yang tertulis di kulit kaset dan yang tertulis di kertas pembungkus kaset. Kedua label wawancara yang berbentuk tulisan ini berisi keterangan tentang topik atau judul penelitian, nama pengkisah, nama pewawancara, tempat wawancara, tanggal wawancara, waktu wawancara, dan isi kaset, misal :
Judul Penelitian : Respon Para Menteri Kabinet terhadap Dekrit Presiden
22 Juli 2001
Nama Pengkisah : Susilo Bambang Yudhoyono
Nama Pewawancara : Haidir Aulia
Tanggal Wawancara : 24 Mei 2005
Waktu Wawancara : 16.00 – 17.13 WIB
Tempat Wawancara : Cikeas, Bogor
Isi Kaset : Sisi A dan Sisi B
Berbeda dengan label wawancara yang berbentuk lisan, kedua label wawancara yang berbentuk tulisan ini di samping berfungsi untuk memberikan identitas pada kaset hasil penggalian sejarah lisan juga berfungsi untuk memudahkan melacak identitas sebuah kaset saat dilakukan pengolahan hasil penggalian sejarah lisan.

Pembukaan Wawancara
Bagian terpenting dari tahapan pelaksanaan metode sejarah lisan adalah saat pembukaan wawancara. Seyogyanya pembukaan wawancara dibuat sebaik mungkin agar mampu memberi kesan yang nyaman bagi pengkisah. Oleh karenanya, sangat disarankan kalau pembukaan wawancara dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang santai, ringan, dan menyenangkan bagi pengkisah, misalnya tentang riwayat hidup pengkisah, termasuk di dalamnya kenangan-kenangan manis pengkisah semasa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Sasaran utama pembukaan wawancara adalah untuk menyegarkan ingatan pengkisah akan peristiwa-peristiwa sejarah terpilih yang terdapat di dalam memorinya. Upaya lain dapat pula dilakukan dengan mengadakan dialog santai terlebih dahulu sebelum wawancara diadakan.

Menjaga Suasana Wawancara
Setelah pembukaan wawancara berjalan dengan lancar dan baik, hal lain yang harus segera diperhatikan adalah menciptakan rapport atau suasana psikologis berupa rasa saling percaya dan keterbukaan hubungan antara pewawancara dan pengkisah. Untuk itu, berikan kesempatan kepada pengkisah untuk memberikan informasi dan pengetahuannya secara panjang lebar dan hindarkan kesan dalam diri pengkisah bahwa seolah-olah ia tengah diinterogasi. Rapport biasanya akan mudah tercipta bila antara pewawancara dan pengkisah sebelumnya telah saling mengenal, misalnya karena hubungan kerja atau hubungan pertemanan. Dalam kondisi seperti itu, wawancara pun biasanya akan semakin hidup karena dapat diisi dengan pembicaraan yang bersifat pleasantries, yakni kelakar-kelakar yang sebagian merupakan nostalgia terhadap pengalaman pada masa silam.
Terlepas dari ada tidaknya hubungan personal yang telah terbangun antara pewawancara dan pengkisah, untuk membangun rapport yang baik, hendaklah diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
• Pertanyaan disampaikan satu per satu dan mulailah pertanyaan dengan kata-kata siapa, apa, dimana, kapan, mengapa, atau bagaimana (5W, 1H).
• Usahakan pertanyaan tidak terlalu panjang apalagi berputar-putar sehingga membingungkan pengkisah. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang mudah dipahami dan mudah ditangkap oleh pengkisah, terutama bila pengkisah berasal dari lingkungan masyarakat yang sederhana dan kurang terdidik.
• Jangan sekali-kali memotong pembicaraan pengkisah, termasuk apabila pewawancara menilai bahwa peristiwa yang diceriterakan pengkisah tidak benar, baik menyangkut tempat peristiwanya, tokoh peristiwa, ataupun waktu terjadinya peristiwa. Dengan kata lain, jangan menggunakan wawancara untuk mempertontonkan pengetahuan pribadi atau kehebatan pewawancara.
• Jadilah pendengar yang baik selama pengkisah menyampaikan keterangannya dan berikanlah “pesan” yang jelas kepada pengkisah bahwa pewawancara sangat tertarik dengan keterangan-keterangannya . “Pesan” ketertarikan dapat berbentuk bahasa tubuh atau komentar lisan.
• Apabila keterangan pengkisah dipandang kurang jelas, jangan segan-segan untuk bertanya kembali untuk memperjelas pemahaman atas jawaban pengkisah.
• Bersikaplah fleksibel dan jangan terpaku hanya pada pertanyaan-pertanyaan yang termuat dalam kendali wawancara, terutama manakala ditemukan keterangan-keterangan baru dari pengkisah tentang topik yang tengah diteliti.
• Kalau tidak terpaksa sekali, hindarkan kehadiran pihak ketiga selama wawancara
• Hindarkan keterangan off the record yang bersifat “abadi”. Artinya, kalaupun pengkisah menyatakan bahwa keterangannya bersifat off the record maka hendaklah diupayakan bahwa hal tersebut tidak berlangsung selamanya tetapi ada kurun waktu, misalnya sifat off the record-nya hanya selama pengkisah masih hidup. Setelah pengkisah meninggal, informasi yang diberikannya menjadi terbuka untuk dipublikasikan.
Hal lain yang tidak kalah penting yang perlu dilakukan dalam tahapan ini adalah berupaya agar pengkisah mau dan dapat mengeluarkan sebanyak mungkin pengetahuannya tentang peristiwa-peristiwa sejarah terpilih yang tersimpan dalam memorinya. Seringkali untuk mengeluarkan ingatan dari diri seseorang tidaklah semudah yang dibayangkan. Kadang-kadang diperlukan berbagai alat pembantu pengingat (mnemonic device) untuk memancingnya. Bisa jadi pewawancara perlu mengawalinya dengan menceriterakan terlebih dahulu peristiwa yang hendak ditanyakan sehingga si pengkisah dapat menempatkan ingatannya pada setting yang sesuai. Cara lain, dapat ditempuh dengan mengajukan pertanyaan yang dirumuskan secara “salah”. Apapun upaya pancingan yang dilakukan untuk membuat pengkisah mampu mengeluarkan ingatannya, semuanya tidak akan berarti banyak bila rapport belum bisa diwujudkan.
Dalam kaitannya dengan upaya menciptakan rapport, ada persyaratan khusus yang sebenarnya perlu dimiliki pewawancara. Menurut Willa K. Baum (1982), seorang pewawancara (interviewer) haruslah orang yang mampu duduk tenang dan mendengarkan, yang bersedia mendengarkan pendapat yang berlawanan dengan pendapatnya tanpa merasa wajib menyanggah atau mendidik pengkisah, yang tidak takut untuk sesekali mengajukan pertanyaan atau komentar menuntun pengkisah, yang cukup tegas untuk mengakhiri wawancara tepat pada waktunya, serta menjaga agar wawancara tersebut tetap berlangsung dalam batas-batas penyelidikan sebagai yang telah direncanakan semula, yang bersikap cukup awas dan berpengetahuan cukup luas untuk mengetahui apabila pengkisah menyinggung subyek yang tidak direncanakan namun sangat berharga, dan yang mampu menelusuri subyek baru tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan.
Dengan persyaratan tersebut, secara otomatis ada dua karakter yang tidak boleh dimiliki seorang pewawancara, pertama, orang yang selalu merasa wajib untuk berbicara. Kedua, orang yang selalu merasa wajib untuk mengatur orang lain.

Membuat Catatan
Pembuatan catatan sewaktu wawancara berlangsung di antaranya dimaksudkan untuk mencatat kata-kata yang dinilai kurang jelas atau kata-kata yang dianggap penting, misalnya mengenai nama orang, nama tempat, atau istilah-istilah tetentu yang bersumber pada bahasa asing atau bahasa daerah setempat. Adapun koreksi terhadap kata-kata yang dicatat tersebut dilakukan segera setelah wawancara selesai atau bila dipandang perlu dapat ditanyakan sewaktu wawancara masih berlangsung. Di luar itu, pembuatan catatan juga perlu dilakukan untuk menyikapi kemungkinan munculnya pertanyaan baru di luar yang tertulis dalam kendali wawancara.

Mengakhiri Wawancara
Keputusan untuk mengakhiri wawancara sangat ditentukan oleh kejelian pewawancara dalam memahami permasalahan serta dalam membaca suasana wawancara. Apabila data yang diperlukan dari pengkisah sudah memenuhi target yang diinginkan hendaknya wawancara segera diakhiri untuk mencegah masuknya informasi-informasi yang tidak relevan dengan topik atau judul penelitian dalam kaset. Demikian pula apabila pengkisah kelihatan sudah lelah atau banyak ngelantur dalam menuturkan kisahnya sebaiknya wawancara pun segera dihentikan untuk dilanjutkan pada waktu yang lain.

Membuat Surat Pernyataan
Surat pernyataan wawancara perlu dibuat untuk memperkuat kredibilitas hasil penggalian sejarah lisan sebagai sumber sejarah serta untuk memberi rasa aman pada kedua belah pihak bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, seperti pemutarbalikan fakta oleh pewawancara maupun pengkisah ataupun pengingkaran telah memberikan keterangan tertentu oleh pengkisah. Oleh karenanya, agar aspek legalitas hukum juga dapat terjaga dengan baik, surat pernyataan sebaiknya dibuat di atas kertas segel atau kertas bermeterai sesuai peraturan yang berlaku.
Surat pernyataan wawancara pada dasarnya dapat dibuat dalam dua model. Pertama, surat pernyataan yang dibuat segera setelah wawancara dilakukan. Dengan demikian, keterangan dalam pernyataannya hanya berisi keterangan bahwa pengkisah benar-benar telah diwawancarai oleh pewawancara berkaitan dengan judul penelitian yang telah ditentukan, serta waktu dan tempat yang telah ditentukan pula. Kedua, surat pernyataan yang dibuat setelah transkripsi dibuat. Surat pernyataan model kedua ini dibuat setelah pengkisah membaca dengan seksama hasil transkripsi wawancara. Selanjutnya apabila isinya sesuai dengan yang terekam dalam kaset, pengkisah menandatangani transkripsi tersebut dan membuat surat pernyataan yang isinya keterangan telah diwawancarai serta kebenaran bahwa hasil wawancara sesuai dengan yang tertulis dalam hasil transkripsi.

Tahap Pembuatan Indeks dan Transkripsi

Pembuatan indeks dan transkripsi dalam metode sejarah lisan dapat dikatakan sebagai tahapan akhir proses penggalian sejarah lisan. Tujuananya untuk mempermudah penggunaan hasil penggalian sejarah lisan sebagai sumber sejarah. Kedudukan indeks dalam penelitian sejarah lisan dapat dikatakan hampir sama dengan kedudukan daftar isi pada sebuah buku. Sementara itu, pembuatan transkripsi dimaksudkan untuk mempermudah pengolahan hasil penggalian sejarah lisan. Dengan melakukan transkripsi, yang inti kegiatannya berupa pengalihan bentuk lisan ke bentuk tulisan, proses pengolahan sejarah lisan sebagai sumber sejarah diharapkan menjadi lebih mudah dan lebih cepat.

Pembuatan Indeks
Sejalan dengan fungsinya, pembuatan indeks haruslah diupayakan mampu memberi gambaran yang jelas dan utuh tentang isi kaset hasil penggalian sejarah lisan. Untuk itu, perlu ada penguraian yang cermat dan cerdas tentang isi hasil penggalian sejarah lisan ke dalam bagian-bagian tertentu, misalnya, bila penggalian sejarah lisan berupa wawancara dengan Susilo Bambang Yudhoyono tentang “Respon Para Menteri Kabinet terhadap Dekrit Presiden 22 Juli 2001”, maka uraian di dalam indeks dapat terdiri dari, riwayat hidup pengkisah, masa pendidikan dasar, masa pendidikan menengah, masa pendidikan militer, masa pengabdian sebagai militer, masa pengabdian sebagai sipil, masa menjadi menteri kabinet, masa-masa krisis sebagai menteri, sikap dan pandangan terhadap kebijakan presiden, dan dilema dalam menyikapi dekrit presiden.
Secara teknis, setidaknya ada dua alternatif pilihan dalam pembuatan indeks, yaitu :
• Pembuatan indeks dengan berdasarkan pada pembagian waktu atau ke dalam satuan menit dan jam. Misalnya, Sisi A, 00 riwayat hidup pengkisah, 06 masa pendidikan dasar, 21 masa pendidikan menengah, 28 masa pendidikan militer, 34 masa pengabdian sebagai militer, 39 masa pengabdian sebagai sipil; Sisi B, 00 masa menjadi menteri kabinet, 12 masa-masa krisis sebagai menteri, 27 sikap dan pandangan terhadap kebijakan presiden, 33 dilema dalam menyikapi dekrit presiden.
• Pembuatan indeks berdasarkan angka yang terdapat pada tape (tape counter). Umumnya setiap tape counter memiliki tiga digit angka. Dengan demikian, bila pembuatan indeks dilakukan dengan menggunakan tape counter maka pembagiannya misalnya menjadi, 000 riwayat hidup pengkisah, 035 masa pendidikan dasar, 079 masa pendidikan menengah, 177 masa pendidikan militer, 276 masa pengabdian sebagai militer, 354 masa pengabdian sebagai sipil, dan seterusnya.

Pembuatan Transkripsi
Kaset hasil penggalian sejarah lisan pada dasarnya sudah memadai untuk digunakan sebagai sumber sejarah. Namun, manakala berbicara tentang kemudahan untuk mengolahnya maka pembuatan transkripsi mau tidak mau harus dikedepankan sebagai jawabannya. Sejarah lisan tanpa transkripsi sering dikatakan sebagai kelemahan yang khas dari sejarah lisan, karena dipandang tidak praktis dalam pemanfaatannya. Dengan demikian, pengalihan dari bentuk lisan ke bentuk tulisan tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan kejernihan (clarity) dan untuk menggampangkan (readability).
Kejernihan yang diharapkan dari pembuatan transkripsi tidak lain adalah kejelasan tentang apa yang terekam di dalam kaset. Seringkali karena suara pengkisah yang tidak jelas, kondisi alat rekam yang kurang baik, tempat wawancara yang bising, atau munculnya suara-suara yang tidak terduga selama wawancara mengakibatkan hasil wawancara kurang begitu jelas terdengar. Dalam kondisi demikian, biasanya hanya pewawancaralah yang lebih bisa mengenali dengan relatif lebih baik apa yang disampaikan oleh pengkisah, termasuk segala bunyi yang ada di dalam hasil rekaman, dan sebaliknya hampir sulit bagi orang lain untuk dapat menangkapnya dengan jelas.
Pembuatan transkripsi hasil penggalian sejarah lisan juga diharapkan dapat menggampangkan proses pengolahan. Makna menggampangkan di sini tidak lain berkait erat dengan efektifitas dan efisiensi mengolah sumber. Dalam bentuk lisan, waktu yang dibutuhkan untuk mengolahnya bisa jadi sama dengan waktu pelaksanaan penggalian sejarah lisan itu sendiri karena harus mendengar secara lengkap hasil rekaman. Sebaliknya, apabila telah dibuatkan transkrispsi, proses pengolahan akan lebih cepat dan lebih mudah karena hasil penggalian sejarah lisan dapat dibaca dalam bentuk tulisan dan itu berarti waktu mengolahnya akan lebih mudah dan lebih singkat.

Sumber-sumber :

Amirin, Tatang M. 1995. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Arikunto, Suharsimi. 1983.

Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Bina Aksara.

Basri MS. 2006. Metodologi Penelitian Sejarah (Pendekatan, Teori dan Praktik).
Jakarta: Restu Agung.

Committee on Historigraphy. c. 1954. The Social Sciences in Historical Study. New York: Social Science Research Council.

Dienaputra, Reiza D. 2006. Konsep dan Metode Sejarah lisan. Bandung : Minor Books

Gardiner, Patrick. 1961. The Nature of Historical Explanation. London: Oxford University
Press.

Gottschalk, Louis. 1985. Mengerti Sejarah. Cet. 4. Terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI
Press.

Hardjasaputra, A. Sobana dan Nina Herlina Lubis. 1999. Pedoman Penulisan dan Evaluasi Skripsi. Jatinangor: Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Hardjasaputra, A. Sobana. 2004. Penelitian dan Penulisan Sejarah; Materi Kuliah. Jatinangor: Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Unpad.

Jay, Ros. 2000. Menulis Proposal & Laporan. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia; Suatu
Alternatif. Jakarta: Gramedia.

——–. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

Komaruddin. 1974. Metode Penulisan Skripsi dan Tesis. Bandung: Angkasa.

Kuntowijoyo. 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Cet. ke-4.Yogyakarta: Yayasan Bentang
Budaya.
Notosusanto, Nugroho. 1978. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Suatu Pengalaman).
Jakarta: Yayasan Idayu.

Sastrohoetomo, Ali. 1977. Karangan Ilmiah; Suatu Penuntun Menulis Laporan dan Skripsi.
Jakarta: Pradnya Paramita.

Kent, Sherman. 1967. Writing History. 2nd edition. New York: Appleton-Century-Crofts.

Komaruddin. 1974. Metode Penulisan Skripsi dan Tesis. Bandung: Angkasa.

Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yoyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Renier, G.J. 1997. Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah. Terj. Muin Umar. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. (Judul asli: History its Purpose and Method).

Tan, Mely G. 1977. “Masalah Perencanaan Penelitian” dalam Koentjaraningrat ed.). Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia : 24-60.

Thomson, David. 1974. The Aims of History; Values of the Historical Attitude. London: Thames and Hudson.

Winardi. 1982. Pengantar Metodologi Research. Bandung: Alumni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: