Who Said There will be Quiet after the Storms?

Who Said There will be Quiet after the Storms?

Based on Myself : Scumbag Beyond Life and Death

Oleh Kimung*

Everything turns so disgust

when I stayed at home

No more shelter or anything called salvation

Away from home prove I’m a real scumbag

So I begin to hate all of my family

Cross the line – Revolt!

It’s time to – Revolt!

“Revolt!”, Burgerkill, 1995

 

Sindanglaya, siang-siang terpanas musim kemarau 1995. Kamar Eben berantakan berat. Sick of It All album Just Look Around menghajar gendang telinga ikut memeriahkan siang bolong yang panas itu. Ivan terlihat tekun menuliskan lirik. Sementara Kimung berkutat di sampingnya dengan gitar kopong kepunyaan Eben. Marlboro tak lepas-lepas dari bibir keduanya, sementara botol arak cap Orang Tua berdiri hijau anggun. Isinya tinggal setengah. “Jadi euy!” begitu teriak Ivan dengan wajah sumringah ketika akhirnya ia berhasil menyelesaikan lagunya. “Revolt!”, begitulah Ivan menjuduli itu. Lirik pertama yang ia buat untuk Burgerkill. Dan benar saja. Sepanjang tahun 1995 hingga 1999, “Revolt!” adalah sebuah ledakan. Lagu ini adalah lagu wajib Burgerkill di setiap panggung era itu. Ribuan penonton singalong berteriak seiring beat-beat ganas Burgerkill. Yang berteriak tak cuma anak hardcore, tapi juga anak-anak grunge, death metal, grindcore, hingga punk rock. Mereka meruyak ke bibir panggung ketika Ivan berteriak, “Cross the line… “, kemudian mereka bersama-sama teriak “Revolt!!!” Ivan sangat menikmati saat-saat itu. Bagi Ivan, “Revolt!” adalah proklamasi awal sosok dirinya sebagai seorang “scumbag” kepada khalayak hardcore Bandung, dan juga Indonesia. Away from home prove I’m a real scumbag! teriaknya. Namun, hingga saat itu, ia belum utuh menjelmakan sosoknya sebagai “Scumbag”.

Pada corat-coret artistik di buku hariannya tahun 1995 hingga 1999, ia masih menggoreskan paraf “ Ivan BKHC” di bawah karyanya. Ivan benar-benar memproklamirkan diri sebagai ”Scumbag” ketika ia bereaksi atas munculnya ’faksi-faksi’ dalam pergerakan hardcore bawahtanah di Bandung. Ketika faksi-faksi seperti positif youth, straight edge, vegan, negative youth, dan lain-lain semakin merajalela, Ivan menjadi bingung atas orientasi hardcore yang ada di Indonesia. Baginya, hardcore sederhana saja. Sesuatu yang keras, kondisi yang sulit, dan perjuangan yang tanpa henti. Musik yang harus dimainkan sebaik mungkin, sebuah karya seumur hidup. Karya yang baik dan inspiratif akan menggugah orang dan jika seseorang sudah tergugah maka munculah pergerakan. Maka, bagi Ivan berkarya sebagus mungkin dalam musik hardcore, itulah pergerakan yang sebenarnya. Pergerakan-pergerakan yang muncul bersama musik hardcore bagi Ivan bukan sesuatu yang esensial. Itu cuma kulit saja. Permukaan. Bukan inti. Bukan core.

Tapi Ivan bukan tipe reaktif yang eksplosif. Ia bereaksi dengan jahil dan tengil. Ketika orang berlomba-lomba membangun citra hardcore yang macho dan positif, Ivan menggebrak panggung dengan nama gaya ”Ivan Scumbag” dengan bandnya yang bengal ”Burgerkill Begundal Hardcore Ugal-ugalan!”. ”Da aing mah sagala dihakan, rék ngimum, ciméng, dados, hayu! Jiga wadah runtah wéh héhéhé!” Secara harfiah, scumbag memang berarti ’tempat sampah’. Ini adalah sebuah langkah yang sangat tidak populer, jika kita melihat kondisi scene hardcore saat itu. Namun, memang tak selalu keputusan populer yang biasa diambil Ivan selama hidupnya. Homeless Crew’s Revolt!

Ivan, lahir di Sarijadi, Bandung, 19 April 1978, adalah sulung dari lima bersaudara, laki-laki semua. Ayah dan ibunya adalah guru. Semenjak kecil ia sudah tertarik ke pelajaran menggambar, musik, dan matematika. Ivan adalah murid yang pandai. Ia juga riang dan gampang bergaul. Walau irit bicara, ia sangat disenangi kawan-kawannya. Ivan memiliki senyum yang sangat menawan. Kelas lima sekolah dasar ia pindah ke Ujungberung dan tinggal bersama neneknya. Di sini Ivan mendapat pengajaran agama yang ketat. Ia ikut sebuah pengajian remaja Ikatan Remaja Nurul Islam. Anggota-anggotanya tidak asing bagi kita sekarang. Ada Dani—Jasad, Andris—Burgerkill, Disinfected dan Mesin Tempur, Sule—Restless, Yayan—eks-Sacrilegious, Opik, dan Engkus. Salah satu guru mengaji mereka adalah Yayat—eks-Jasad, produser Burgerkill.

Setahun kemudian Ivan kembali ke Sarijadi. Ia tinggal di rumah uwak-nya, beberapa blok dari rumah orang tuanya. Masa inilah ia pertama kali mengenal musik metal. Ia bertemu drummernya yang pertama, Bebi—Beside, yang juga kawan sekelasnya. Dengan Bebi dan anak-anak SMP 12 Bandung, Ivan sempat membentuk band Cannibalism, membawakan Sepultura dan Lawnmower Deth. Ia juga menggalang pecinta grindcore di SMP 12 Bandung dan SMP 2 Bandung dalam sebuah aliansi, Corpse Grinder Foundation Bandung atau CGFB. Masa ini Ivan bersentuhan pertama kali dengan rokok, alkohol, dan kemudian pil-pil jalanan. Ivan kembali ke Ujungberung tahun 1993, ketika ia masuk SMA Ujungberung. Ia kembali bertemu kawan-kawan pengajiannya dulu, namun kini dalam atmosfer yang berbeda. Death metal sedang menggila di Ujungberung dan kawan-kawan pengajiannya dulu tak ketinggalan menggilai musik ini. Yayat, Dani, Ayi, dan Agus bahkan membentuk band, Orthodox, yang lumayan disegani. Selain Orthodox, Ujungberung awal tahun 1990an juga terkenal dengan ikon-ikon musik metal lainnya seperti Funeral, Necromancy, dan Jasad. Ujungberung juga terkenal dengan spot nongkrong, sekaligus tempat latihan legendaris, Studio Palapa milik Kang Memet, engineer terbaik masa itu. Merasakan gairah death metal yang membara, Ivan mengajak kawan-kawannya untuk membentuk band. Analvomit adalah bandnya yang pertama di Ujungberung (1994) bersama Kimung dan Yayan. Ketika Analvomit bubar, ia sempat bersession dengan Kimung, Toto, dan Dody membawakan Deicide dalam band Blasphemous Nazarene (1995), sebelum kemudian membentuk Disinherit (1995) bersama Kimung, Ferly, dan Bebi, dan kemudian Infamy (1995) bersama Aji, Toto, dan Ramdhan. Semuanya band death metal dengan corak yang cenderung satanik atau gore. Musisi favoritnya saat itu adalah Glen Benton—Deicide, Chris Barnes—Cannibal Corpse, dan Frank Mullen—Suffocation. Salah satu manifestasi yang ia bangun mengenai eksistensinya adalah jargon “Anak Tuhan Asuhan Setan” yang sering ia tulis di buku hariannya. Satanik yang penuh penghujatan namun juga kontemplatif, berpengaruh besar terhadap musikalitas Ivan, terutama terhadap kepiawaiannya merangkai lirik.

Dinamika komunitas Ujungberung semakin berkembang saat itu. Banyak band baru lahir. Anak-anak yang nongkrong di Ujungberung juga semakin banyak. Ivan yang saat itu tinggal di rumah neneknya, membuka pintu lebar-lebar bagi kawan-kawannya. Segera saja rumah Kaum Kidul itu menjadi markas anak-anak Ujungberung, selain jalanan raya Ujungberung dan rumah Dani Jasad. Rumah Ivan juga yang membidani lahirnya Extreme Noise Grinding, Revograms, dan event monumental Bandung Berisik. Di tataran ideologis, rumah ini juga yang menjadi naungan anak-anak Ujungberung ketika mereka berdiskusi mengenai totalitas di musik, independensi, hingga masalah-masalah spiritual, idealisme, dan filosofi yang kontemplatif. Bisa dikatakan, Kaum Kidul, selain jalanan Ujungberung, adalah embrio awal munculnya radikalisme di komunitas Ujungberung. Masa itu, Ivan dekat dengan Dinan, Sonic Torment. Ketika Dinan menggalang komunitas Ujungberung dalam membentuk organisasi anak-anak metal Ujungberung, ENG, Ivan dengan bersemangat membantunya. Pun ketika Dinan memelopori penerbitan Revograms, sebuah fanzine anak-anak ENG, Ivan ikut serta aktif di dalamnya. Bersama, Kimung, Yayat, Dani, Gatot, dan Sule, Ivan adalah tim redaksi Revograms edisi pertama.

Masa ini juga menandai awal gaya hidup Ivan yang flamboyan dan bohemi. Dengan kawan-kawannya sesama musisi, Ivan mulai lebih sering meluangkan waktu di jalanan. Mengobrol banyak hal, diskusi hingga larut malam, menggoda cewek, merokok, mabok, hingga akhirnya tidur di jalanan. Gaya hidup itu berlangsung terus dan pengikutnya semakin bertambah setiap saat. Belakangan, Ivan, Kimung, dan Addy Gembel menamai “genk” anak-anak Ujungberung tersebut sebagai Homeless Crew.

Homeless Crew adalah sebuah penghargaan bagi kru yang mendukung panggung band-band Ujungberung. Kenyataannya tak ada yang benar-benar kru saat itu. Semua adalah para pemain band yang saling belajar dari kawan-kawannya dalam mengeset sebuah gig. Karena gaya hidup para kru yang jalanan banget, Ivan menamai mereka Homeless Crew. Nama ini juga plesetan jahil Ivan menertawakan tren yang merebak saat itu di kalangan anak-anak hardcore : menambahkan kata “hardcore” di belakang nama bandnya, kemudian diinisialkan. Misalnya ada band Anak Baonk. Maka Anak Baonk akan menambahkan kata hardcore di belakang namanya, kemudian menyingkat diri jadi ABHC. Ivan sempat menjahili tren itu dengan menyebutkan bandnya sebagai Burgerkill Hardcore Ugal-ugalan tapi tetap menyingkatnya jadi BKHC. Tapi kini ia butuh sesuatu yang lebih “ugal-ugalan” untuk mengganti singkatan dari HC. Homeless Crew kemudian benar-benar menggantikan HC hardcore di belakang Burgerkill. Homeless Crew bagi Ivan juga adalah sebuah representasi gaya hidup Burgerkill dan kru Ujungberung yang menolak untuk “berumah”. Simbol penolakan untuk tinggal dalam satu taraf kemapanan lalu tenggelam di dalamnya.

Di titik lain, Homeless Crew juga merepresentasikan kondisi kesadaran komunitas musik bawahtanah Ujungberung bahwa mereka tidak punya apa-apa. Segala yang ada dan melekat dalam tubuh setiap individu adalah bukan apa-apa. Dalam taraf ini, Homeless Crew menegaskan kenyamanan jiwa yang bebas berekspresi atau melakukan apapun dari kungkungan tubuh sebagai ‘rumah’nya. Awak mah bangké! teriak mereka. Hitheroad and never stop! Dengan semangat yang semakin menggila Ivan dan Burgerkill—kala itu Eben, Ivan, Kimung, Toto—menghajar puluhan gigs pergelaran musik bawahtanah sepanjang tahun-tahun pertengahan 1990an hingga tahun 2000. Tahun 1996, Burgerkill ikut serta sebuah proyek kompilasi 401204 Records yang digawangi Richard, Helvi, dan kru Reverse Studio. Album kompilasinya tersebut ditajuki Masaindahbangetsekalipisan. Burgerkill mendapat kehormatan besar. ”Revolt!” adalah lagu pertama dalam kompilasi ini. Ivan adalah orang yang paling bangga dengan rilisan kompilasi tersebut. Ke mana pun ia pergi, CD Masaindahbangetsekalipisan selalu ia bawa dan distel di mana pun ia singgah. Sementara ”Revolt!” dirilis 401204 Records, dua lagu Burgerkill lainnya, ”Myself” dan ”Offered Sux!” dirilis oleh Manifest Record yang digawangi Aris, Deadly Ground, dalam album kompilasi Breathless tahun 1996.

Tahun 1997 Ivan sempat kuliah di Jurusan Editing, Fakultas Sastra, Unpad. Ia senang kembali sekolah dan mendapatkan kawan-kawan baru. Di kampus ia segera mendapatkan banyak kawan. Bersama Manik Laluna dan tujuh orang kawannya yang lain Ivan sempat membentuk genk ATB, singkatan dari Anak Tak Berbudaya. Pada saat yang sama, di Ujungberung, Ivan kembali membuka pintu rumah tinggalnya lebar-lebar bagi anak-anak ENG karena saat itu mereka sedang merencakan gebrakan metal bawahtanah Ujungberung selanjutnya : Bandung Berisik II dan album kompilasi Ujungberung Rebels. Ketika Bandung Berisik II sukses dan proyek kompilasi segera dimulai, Ivan dan Burgerkill sedang memantapkan beberapa lagu terbaru mereka yang kelak menjadi lagu-lagu monumental Burgerkill. Masa ini, Burgerkill menciptakan ”Blank Proudness”, ”Rendah”, dan ”Sakit Jiwa”.Lagu yang kemudian direkam Burgerkill dan dimasukan ke dalam kompilasi Ujungberung Rebels adalah ”Blank Proudness”. Ivan sangat bangga akan kompilasi Ujungberung Rebels—kemudian dirilis dengan judul Independen Rebels, Musica, 1998. Ia juga aktif membantu Yayat mengurus Rebellion, distro yang dibangun Yayat dari keuntungan Independen Rebels. Rebellion menampung barang-barang kreasi anak-anak Ujungberung Rebels. Ivan sempat tinggal beberap alam di Rebellion. Ia membaca Sayap-Sayap Patah-nya Kahlil Gibran, menggambar, dan menulis. Ia juga belajar menyablon dan mendesain kaos dari kakak Yayat, Kang Koeple. Desain awal Ivan terdapat di kaos-kaos produksi Rebellion : Burgerkill’s Every Mother’s Nightmare dan kaos kru Rebellion, bertuliskan Drink Togetha’ Rock Togetha’, Always be My Brotha’.

Di saat yang bersamaan, Burgerkill juga mulai masuk studio dan merekam lagu-lagu mereka. Album Burgerkill yang pertama Dua Sisi akhirnya rilis tahun 2000 di bawah bendera Riotic Records. Namun Dua Sisi harus dibayar mahal dengan hengkangnya Kimung dari Burgerkill akibat tindakan indisipliner dan masalahnya dengan drugs. Ditinggal Kimung membuat Ivan uring-uringan. “Kapan Dua Sisi teh antara urang-si Kimung jeung Eben-si Toto. Mun euweuh si Kimung atuh lain Dua Sisi! ” gerundel Ivan. Dua Sisis memang merepresentasikan dua kubu ‘terang’ dan ‘kelam’ di dalam Bugerkill. Kubu terang diwakili Eben dan Toto, sementara kubu ‘kelam’ diwakili Ivan danToto. Buregrkill adalah band yang secara eksplisit menyebutkan bahwa terang dan kelam bukan lawan, namun konsep yang harus disinergikan demi hasil yang total dan maksimal. Masa-masa selanjutnya adalah masa-masa paling kelam dalam kehidupan Ivan. Ia tenggelam dalam drugs dan alkohol, berkeliaran di mana-mana : Jatinangor-Dago-Purnawarman-Rajawali-Padalarang, hingga akhirnya ketika lelah itu menyergapnya, Ivan kembali ke rumahnya : Ujungberung.

Tahun 2001 dan 2002, Ivan semakin sering tinggal di Ujungberung. Ia kembali tinggal di Kaum Kidul, di kamar yang sama ia pertama kali tinmggal di sana. Kini, kamarnya tak seramai dulu. Ivan mulai menatanya labih nyaman, lebih hangat. Kita akan semakin betah tinggal di dalamnya. Masa ini, Ivan mulai menuliskan lirik-lirik lagu baru. Kecenderungan penulisan lirik yang ia rintis melalui “Revolt!”, kemudian “Rendah”, dan “Sakit Jiwa” semakin berkembang. Lirik-liriknya berkembang sangat sarkas, tapi tidak ia tunjukan ke luar, namun ke relung-relung terjauh dalam diriya. Ivan memulai pengembaraan panjang lain menuju ke dalam dirinya sendiri. Sebuah fase psikedelik, karena saat itu Ivan juga masih menggunakan drugs. Pengaruh grunge—Ivan sangat mengidolakan Kurt Cobain dan Eddie Vedder—juga nampak, terutama dalam ambiguitas lirik, setajam, seeksplisit, dan se-straight apapun Ivan mengemas liriknya tersebut. Di album ini,cita-cita Ivan untuk berduet dengan musisi favoritnya Fadly, Padi, tercapai. Ivan bersession dengan Fadly dalam lagu “Tiga Titik Hitam”. Lagu yang juga mengantar Burgerkill ke ranah permainan paling jauh bagi band underground : major label. Burgerkill sign kontrak dengan Sony Music Indonesia tahun 2003 dan merilis Berkarat di bawah bendera label besar itu. “Sarua wéh jeung gawé, urang mah ngarasana. Manéh dikontrak ku Sony keur genep albumeun. Mun misalna saalbum satauneun berarti genep tauneun manéh di kontrak ku hiji perusahaan keur gawé ka manéhna. Sarua wé jeung manéh dikontrak gawé genep tauneun di hiji perusahaan. Éta hiji léngkah gedé. Nya keur urang, nya keur si BK..Urang nyadar urang kudu nyiapkeun sagalana sahadé-hadéna.” Ivan bercerita. Ivan dan juga para personil Burgerkill melihat sebuah peluang yang patut dijajal. Sebuah peluang yang baik untuk mempelajari banyak hal, terutama mengenai produksi sebuah rekaman, distribusi, hingga faktor-faktor lain yang biasanya luput diperhatikan oleh orang-orang kebanyakan, dan tentunya peluang untuk ekspansi musik Burgerkill ke dalam wilayah yang lebih luas. Mungkin sebuah utopis, tapi sesuatu akan tetap menjadi utopia jika kita hanya diam dan bermain-main di tataran itu-itu saja tanpa berani menjajal tataran lain di luar diri kita, di luar komunitas kita, di luar lingkungan kita. Pemikirannya yang lain, dengan bekerja sama dengan label besar, ia mengharapkan akan terjadi perbaikan dalam kehidupannya, terutama di ranah perekonomian. Ivan sangat mengharapkan, dengan kerja sama ini pendapatannya akan naik dan ia akan semakin mantap berjalan di jalur musik, jalur yang selalu ia junjung tinggi dan cita-citakan. “Aing mah rék meuli imah nu gedé, ngarah bisa nampung barudak kabéh, meuli mobil nu gedé, ngarah bisa ngajak barudak kabéh ulin ka mana-mana!” angan-angan Ivan saat ia membayangkan penghasilannya tentu akan naik seiring kerja samanya dengan Sony. Naif memang, namun begitu jujur. Ivan tak ambil pusing ketika begitu banyak media yag menyidir akan langkah Burgerkill—dan Ivan yag (lagi-lagi tidak populer). “Emang saha marenehna ngomong nu lain-lain tentang urang? So’ tau. Emang maranehna nu nanggung hirup aing?” katanya selalu.

Dan Berkarat memang prestisius. Album ini banyak mendapatkan pujian dari kritikus musik dan puncaknya adalah sebuah penghargaan dari blantika musik Indonesia sebagai Best Metal Production Anugerah Musik Indonesia 2004. Ivan sangat bangga dengan pencapaian itu. Bagi Ivan, ini adalah sebuah pembuktian totalitas dan komitmennya yang tinggi untuk berjalan di jalur musik. Ini membuat semangatnya semakin menyala. Ivan dan Burgerkill kembali membuktikan totalitas dan komitmen mereka bersama lewat Burgerkill Hellshow “A Give Back” 10th Anniversary 1995 – 2005. Ribuan fans dan kawan-kawan Burgerkill dari berbagai daerah datang dan berteriak bersama Ivan di ulangtahun Burgerkill ke-10 itu. Dengan segala euphoria itu, sempat terbit keinginan Ivan untuk menuliskan sebuah buku mengenai sejarah Burgerkill dan buku lirik-liriknya. Ia juga terinsipirasi buku kumpulan cerpen Tiga Angka Enam karya kawan karibnya, Addy Gembel, Forgotten. Ivan sempat mengobrol panjang dengan Kimung dan mereka sepakat untuk menuliskan buku itu berdua. Ivan yang membuat kerangka, Kimung yang mengolahnya menjadi sebuah narasi. Kimung juga menyanggupi menerbitkan karya Ivan melalui Minor Books. Namun setelah Hellshow dan sepanjang 2005, Ivan semakin sibuk dengan album terbaru Burgerkill. Masalah kesehatan juga merundung Ivan. Dadanya sering sesak dan ia sering batuk berkepanjangan. Ivan juga semakin sulit tidur dan ia sudah mulai sering merasa sakit kepala. Masalah kesehatan juga mengganggunya dalam berkerya. Dengan berbagai rongrongan tersebut, Ivan sering merasa kesulitan dalam menulis lirik. Sering kali, akibat Ivan mandeg, Eben terpaksa menculik Ivan untuk begadang bersamanya, memantapkan lagu. Stok lagu Burgerkill saat itu sudah lumayan banyak dan Ivan harus segera mengisikan pola vokalnya di lagu-lagu tersebut. Belum juga Ivan benar-benar pulih dari gangguan kesehatan, cobaan lain datang menerpa Burgerkill. Band ini memutuskan untuk hengkang dari Sony Music Indonesia karena mereka merasa kecewa dengan label tersebut. Mulai dari jadwal rekaman yang dimundur-mundurkan hingga anggaran rekaman yang tidak masuk akal.

Akhirnya, November 2005, Burgerkill cabut dari Sony. Bersama, para personil Burgerkill dan kru berkumpul dan kembali mengucapkan komitmen bersama untuk berjalan sendirian. Komitmen itu juga pada kelanjutannya menegaskan kedisiplinan, toleransi, dan tanggung jawab yang kuat terhadap segala langkah yang akan ditempuh. Ini adalah fase pendewasaan buat Ivan. Kondisi ini sangat menyentil sendtimentalitas Ivan untuk bangkit. Dalam beberapa catatannya ia sering menuliskan kata-kata “reborn” dan “back to the street”. Agaknya Ivan mempersiapkan dirinya utuk kembali ke semangat yang sama ketika ia membangun Homeless Crew dan Ujungberung Rebels di jalanan. Ia membuat sebuah perusahaan pakaian, Scumbag Premium Throath bersama sang kekasih, Mery dan merencanakan untuk menikah bulan Desember 2006. Sayang, kedewasaan ini tidak ditunjang dengan kondisi tubuh yang sehat. Beban mental dari perubahan ini tak tertanggungkan tubuh Ivan yang ringkih. Komitmennya telah teruji. Ia mematuhi ‘ikrar’ bersama Burgerkill. Ia membereskan rekaman dengan hasiol yang maksimal, bahkan di saat-saat terlemah dirinya. Keingkihan tubuhnya bagaikan semakin membiaskan semangat ang menyala-nyala hebat dalam dirinya. Beyond Coma & Despair rilis 20 Agustus 2007 tiga minggu setelah Ivan meninggal akibat radang otak, Legacy Lives On and On… Setelah launching party Beyond Coma and Despair Burgerkill melakukan tur Jawa dan bali. Sebuah fase bermusik yang selalu dirindukan Ivan. Setelah itu, Burgerkill yang mulai bangkit dari schock Ivan, menyeleksi puluhan calon vokalis.

Kini Vicky berdiri garang di barisan Burgerkill memegang panji-panji yang sempat diusung Ivan. Namun, itu adlah sebuah perjalanan panjang. Jauh sebelumnya, Eben sempat uring-uringan : “Bubarkeun wae kitu si Burgerkill teh?” Tapi bukan itu yang diingini Ivan. ia telah berkorban segalanya untuk melihat band ini sukses—bukan bubar. Maka jalanan harus terus dihajar dan BUrgerkill harus tetap digarda terdepan. Berhenti berarti mati! Tahun 2007, Beyond Coma and Despair, album biografis, hidup matinya Ivan, masuk sebagai 20 album terbaik tahun 2006 versi majalah Rolling Stone. Album ini juga masuk ke daftar rilisan terbaik tahun 2006 Ripple Magz. Tahun ini album ini juga masuk 150 album sepanjang masa majalah Rolling Stone. Sementara perusahaan pakianyang Ivan rintis, Scumbag Premium Throath, juga tidak pada. Perusahaan pakaian ini kini ditangai sang adik sebagai bisnis keluarga. Mana kata siapa hanya akan ada kesunyian setelah badai berakhir? Ivan mungkin kini telah tiada, namun kata siapa yang tiada benar-benar menghilang? Ivan tetap hidup. kita bisa merasakan semangatnya dalam sepak terjang dan dobrakan-dobrakan Burgerkill, Scumbag Premium Throath, Homeless Crew, Ujungberung Rebels dan ribuan lainnya yang selama hidupnya terinspirasi darinya. Teriakannya tetap menggema di sudut-sudut kota di mana suaranya didengarkan dan tetap hidup dalamjiwa generasi-generasi muda yang kelak akan menjadi ‘ivan-ivan’ baru bagi perkembangan scene musik bawahtanah Indonesia tercinta.

All hair Scumbag! All hail Scumbag! All hail Scumbag!

*Penulis buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: