Ujungberung dalam Legenda Sangkuriang

UJUNGBERUNG DALAM LEGENDA SANGKURIANG*

 

 

“Sesuatu yang olehnya manusia menjadi apa yang terwujud,

sesuatu yang olehnya manusia mempunyai karakteristik yang khas,

sesuatu yang olehnya ia merupakan sebuah nilai yang unik.”

Leahy, 1985

 

Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis pada daun palem yang berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi[1]. Dalam naskah tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Jawa dan Bali akhir abad ke-15. Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang menjadi kota Bandung. Dia menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat ini beserta legendanya. Laporannya adalah sebagai berikut:

 

Leumpang aing ka baratkeun

datang ka Bukit Patenggéng 

Sakakala Sang Kuriang

Masa dék nyitu Ci tarum

Burung tembey kasiangan [2]

 

Berdasarkan legenda tersebut diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan, Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun cariang (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya, para raja saling berperang di antara sesamanya.

Merasa tidak enak dengan situasi tersebut, Dayang Sumbi atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu. Dia berjanji, siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama Sangkuriang.

Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan, disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak. Serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka.

Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur, akhirnya sampailah ia di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi–ibunya sendiri. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja, Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian, Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan sebuah talaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tunggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkubanparahu.

Melihat itu, Dayang Sumbi segera melarikan diri. Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai bunga Jaksi. Adapun Sangkuriang, akhirnya menghilang kea lam gaib (ngahiyang) setelah sampai di sebuah tempat yang disebut Ujungberung.

***

Legenda bukanlah kisah historis, tetapi berupa mitos yang menjadi acuan hidup masyarakat pendukung kebudayaannya. Demikian pula yang terjadi pada legenda Sangkuriang, Gunung Tangkubanparahu, dan Ujungberung, ruang yang melatari kisah di dalam buku ini. Sebelum kita benar-benar beranjak dari legenda dan mitologi dan masuk ke pembahasan yang lebih komprehensif mengenai sejarah Ujungberung dan komunitas Ujungberung Rebels, ada baiknya kita memahami lebih jauh makna di balik legenda Sangkuriang.

Di bawah ini adalah nama-nama dan tempat-tempat serta aspek lainnya yang terdapat dalam legenda Sangkuriang, yaitu “Sungging Perbangkara”, “babi hutan Si Wayungyang”, “Dayang Sumbi atau Rarasati”, “anjing Si Tumang”, “Sangkuriang”, “taropong (torak)”, “Citarum”, “Sanghyang Tikoro”, “Gunung Putri”, “Gunung Manglayang”, “Talaga Bandung”, “kembang Jaksi”, “boeh raring“, “Gunung Bukit Tungggul”, “Gunung Burangrang”, “Gunung Tangkuban Parahu”, dan akhirnya “Ujungberung.”

SUNGGING PERBANGKARA. Artinya : Sungging = ukiran,ornamen. Perbangkara (Prabhangkara) = Prabha = cahaya. > ‘ng = penanda hormat, honorifik. > kara = matahari. Maknanya “Penanda dari kebaikan/kebenaran sebagai cahaya pencerahan bagi yang menyimaknya”

– Babi hutan WAYUNGYANG. Artinya: Wayungyang > w(b)ayeungyang = perasaan yang tidak tenteram, gundah gula. Maknanya: Seseorang yang masih berada dalam sifat kehewanan tetapi telah mulai bimbang dan menginginkan menjadi seorang manusia seutuhnya (berperi-kemanusiaan).

DAYANG SUMBI (DANGHYANG). Artinya : > Dang = penanda hormat, honorifik. Yang < Hyang = gaib. > Sumbi = 1) tendok = alat untuk menusuk hidung kerbau agar menurut. 2) Bagian ujung terdepan dari perahu sebagai penunjuk arah dalam berlayar. Maknanya: Petunjuk gaib sebagai kendali manusia dalam menentukan arah dalam melayari kehidupannya. Bisa dimaknai pula sebagai kata hati, nurani yang mendapat pencerahan hidayah Allah Swt.

RARASATI nama lain dari Dayang Sumbi. Artinya : > Raras = perasaan yang sangat halus. > ati = hati, qalbu. Maknanya: Hati atau qalbu yang penuh dengan kehalusan budi karena mendapat pancaran sinar Ilahi.

Si TUMANG. Artinya: > tumang = 1) Peti yang tertutup (b. Kawi), 2) mangmang = sumpah (b.Kawi) tu-mang-mang = orang yang terkena sumpah karena waswas. Maknanya: karakter seseorang yang selalu asal bersumpah, waswas, akhirnya termakan sumpahnya sendiri, hatinya seperti peti yang tertutup rapat tidak mendapat pencerahan.

SANGKURIANG. Artinya: > 1) Sang = penanda hormat, honorifik. > Kuriang .. saya, ego. 2) Sang = penanda hormat, honorifik. > Kuriang < guru + hyang = ego yang gaib. Maknanya: Sangkuriang = Jiwa (ego) non material yang menjadi dasar tumbuhnya kesadaran mental manusia yang selalu mendapat cobaan dan ujian kualitas dirinya.

TAROPONG. Artinya : 1) Alat bertenun dari sepotong bambu kecil (tamiang) tempat benang pakan (torak); 2) Alat untuk melihat sesuatu agar lebih jelas (teropong). Maknanya: Kegiatan (semangat) manusia dalam menata perilaku kehidupan agar terusun tertib sesuai dengan kualitas dirinya serta mampu melihat dengan jelas alur (visi) kehidupannya.

– Sungai CITARUM. Artinya: > Ci .. air. > Tarum = sejenis tumbuhan, daunnya untuk memberi warna indigo tua (hampir hitam) pada kain/benang tenun. Maknanya: Kehidupan adalah seperti air mengalir dalam perjalanannya akan mengalami beragam celupan kehidupan, kebahagiaan, keprihatinan dan juga hal-hal negatif lainnya sebagai ujian keteguhan hatinya.

SANGHYANG TIKORO. Artinya: > Sang = penanda hormat, honorifik. > Hyang = gaib. >Tikoro = saluran di leher untuk bernafas dan berbicara (tenggorokan) atau saluran di leher untuk makan (kerongkongan). Maknanya : Kemampuan manusia dalam berbicara tentang apa pun yang baik atau pun yang jelek serta sering dilalui makanan entah yang halal atau yang haram.

– Gunung PUTRI. Artinya > Putri = gadis, wanita cantik jelita, bangsawan. Maknanya: Karakter manusia yang dihiasi nilai keindahan dan cinta kasih. Dimaknai sebagi sifat kewanitaan (feminim, jamalliyah, rohimmi) yang penuh rasa kasih sayang.

– Gunung MANGLAYANG. Artinya: > Manglayang = 1) ngalayang, melayang. 2) Mang-layang > palayangan = Saluran untuk pembuangan air kolam/talaga. Maknanya : Kemampuan manusia untuk menguras dan membersihkan dirinya dari karakter yang kotor.

– Kembang JAKSI . Artinya: 1) Jaksi > bisa dimaknai jadi saksi . 2) Jaksi = bunga sejenis pohon pandan. Maknanya: Segala sesuatu yang dikerjakan seseorang akhirnya akan menjadi saksi pula bagi dirinya.

BO’EH RARANG. Artinya : > Bo’eh = kain kafan. > rarang = suci, mahal. Maknanya: Semuanya akan berakhir bila satu saat mau tidak mau harus memakai kain kafan yang suci, yaitu datangnya waktu kematian mungkin secara fisik atau secara psikis.

– Gunung BUKIT TUNGGUL. Artinya : > Bukit = Bentuk gunung yang lebih kecil. > Tunggul = pokok pohon. Maknanya: Siapapun orangnya, kaya-miskin, pembesar atau pun rakyat kecil semuanya mempunyai pokok sejarah dirinya (leluhur) dan juga mempunyai pokok jati dirinya.

– Gunung BURANGRANG. Artinya > Burangrang > Bukit + rangrang. > rangrang adalah ranting. Maknanya : Siapa pun orangnya tetap akhirnya akan ada sangkut pautnya dengan keturun dan masyarakat yang akan dating, yang pada gilirannya semuanya akan hilang ditelan masa (ngarangrangan).

– Gunung TANGKUBANPARAHU. Artinya: >Tangkuban = tertelungkup, menelungkup. > Parahu = perahu. > Gunung Tangkubanparahu = gunung yang bentuknya seperti perahu yang tertelungkup. Maknanya: Dalam kosmologi Sunda, gunung dimaknai sebagai tubuh manusia. Gunung Tangkubanparahu dimaknai sebagai manusia yang sedang menelungkupkan dirinya dan itu menandakan suasana hati yang sedang bingung penuh penyesalan.

TALAGA BANDUNG. Artinya: > talaga = danau. >bandung = 1) perahu atau dua buah rakit yang disatukan dan di atasnya dibuat tempat berteduh. 2) bandung > bandung + an = memperhatikan, menyimak. Maknanya: Talaga dimaknai sebagai alam kehidupan di dunia ini. Talaga Bandung = Dalam kehidupan di dunia ini kita ibarat perahu yang dirakit berpasangan dengan sesama makhluk lain, seyogyanya dapat membangun kehidupan bersama, yaitu kehidupan yang saling memperhatikan, silih asih, silih asah dan silih asuh, interdependensi (saling ketergantungan yang harmonis), equaliter (setara di depan hukum), dan egaliter (setara di dalam kehidupan)

– UJUNGBERUNG. Artinya: > ujung = akhir. >berung > ngaberung = menurutkan hawa nafsu. Maknanya : Berakhirnya gejolak hawa nafsu yang negatif.

***

Legenda atau sasakala Sangkuriang dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (sungging perbangkara) bagi siapa pun manusianya (tumbuhan cariang) yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan menemukan jatidiri kemanusiannya (Wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (Dayang Sumbi, Rarasati). Tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (toropong), maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus menerus (digagahi si Tumang) yang akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (Sangkuriang). Ketika Sang Nurani termakan lagi oleh kewas-wasan (Dayang Sumbi memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (kepala Sangkuriang dipukul). Kesombongannya pula yang mempengaruhi “Sang Ego Rasio” untuk menjauhi dan meninggalkan Sang Nurani. Ternyata keangkuhan Sang Ego Rasio yang berlelah-lelah mencari ilmu (kecerdasan intelektual) selama pengembaraannya di dunia (menuju ke arah Timur). Pada ahirnya kembali ke barat yang secara sadar maupun tidak sadar selalu dicari dan dirindukannya yaitu Sang Nurani (Pertemuan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).

Walau demikian, ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (Sangkuriang) dengan Sang Nurani yang tercerahkan (Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya Sang Ego Rasio (Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependensi–silih asih, silih asah, dan silih asuh—yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam perangainya (Citarum). Sementara itu, keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego Rasio sendiri (pembuatan perahu). Keberadaan Sang Ego Rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (Bukit Tunggul, pohon sajaratun) sejak dari awal keberada-annya (timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang Ego Rasio pun harus pula menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul, penada diri) dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yang akan datang dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (Gunung Burangrang).

Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (boeh rarang atau kain kafan). Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego Rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada “dirinya”. Maka ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (Gunung Tangkubanparahu).

Walau demikian lantaran sang Ego Rasio masih merasa penasaran, dikejarnya terus Sang Nurani yang tercerahkan dambaan dirinya (Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani. Tetapi ternyata Sang Nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego Rasio (bunga Jaksi).

Akhir kisah yaitu ketika datangnya kesadaran dan berakhirnya kepongahan rasionya (Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio (gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (Sanghyang Tikoro atau tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu yang halal bersih dan bermanfaat. (Sanghyang Tikoro = kerongkongan, genggerong).

Konsep Kearifan di Balik Legenda Sangkuriang

Beragam interpretasi yang muncul dilatarbelakangi oleh pemaknaan terhadap konsepsi yang terkandung pada pesan yang disampaikan dari rangkain cerita yang dituturkan. Konstruksi konsep yang disampaikan ini tidak terlepas dari milieu untuk mengatasi ruang dan mendudukkan kemanusiaan pada tempat yang tak terjajah oleh kepanaan. Konsep yang utuh mengandaikan semua bagian yang dibutuhkan untuk menyokong tegaknya teori terpenuhi, baik dari akar, cabang sampai kepada rantingnya.

Kacamata tersebut mengidentifikasikan bahwa “Sangkuriang” adalah sebuah konsep kepercayaan atau filsafat hidup masyarakat sunda buhun. Ada keterkaitan yang erat antara realitas “hyang” dengan “sang kuring”, “sang kuring” dengan Citarum, dan “sang kuring” dengan gunung dan si Tumang. Secara sederhana ini adalah gambaran dari “sang kuring” secara personal dan mandiri tidak terlepas dari tiga hakekat yaitu ketuhanan (Hyang), sosial (Citarum dan Talaga Bandung), dan alam. Aspek kedirian “sang kuring” tidak terlepas dari unsur kemanusiaan yaitu problem kehidupan dan kematian, nurani dan rasio, ego, dan superego. “Sang kuring” hidup bebas dengan segala potensinya dalam batasan dunia yang meliputinya. Dua konsep yang terkandung dalam mitologi tersebut yaitu konsep ketuhanan/ teologis dan kemanusiaan akan coba digali dibawah ini:

 

Konsep teologis

Menurut Jakob Sumardjo (2002), dalam lintasan sejarah kerohanian Indonesia dikenal adanya hirarki tiga dunia, yaitu; dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah. Dunia atas adalah dunia “hyang”, dunia tengah adalah dunia perantara yang bersifat gaib dan ambivalen, dan dunia bawah adalah dunia manusia. Manusia berasal dari dunia atas, dari sang hyang. Oleh karena itu, dalam kepercayaan Sunda, istilah yang merujuk kepada tuhan adalah “hyang” atau “sanghiang”. Istilah hyang dianggap sebagi istilah universal yang dipercaya sebagai perwujudan logos, kata tersebut pararel dengan tuhan Allah dalam Islam dan Kristen, Tian dalam Konghucu. Perbedaan pelafalan dan kata kalau dianalisa secara semiotis terletak pada aspek lingua, bukan pada penanda absolutnya.

Gambaran ketuhanan dalam mitologi diwakili oleh sosok raja Perbangkara/Prabhangkara. Raja adalah sesuatu yang dikenal dalam budaya manusia. Hal ini untuk menunjukkan keberadaan tuhan yang tidak jauh dengan kemanusiaan. Tuhan yang aktif, yang tanggap akan doa hamba-Nya. Tuhan yang memberikan wayungyang atau cahaya pencerahan kepada manusia baik dalam bentuk wahyu, ilham, alam sebagai sebuh pegangan.

Komunikasi antara dunia atas dan dunia bawah yang disimbolkan melalui Dayang Sumbi atau Danghyang Sumbi dapat dianalisa bahwa Danghyang Sumbi berposisi di dunia tengah, yang dalam kepercayaan Sunda dianggap memiliki aspek metafisis “Hyang” sebagai representasi dari dunia atas. Perkawinan yang diharapkan bukan perkawinan dengan Dayang Sumbi tetapi perkawinan dunia atas dan dunia bawah atau ber-tajalli-nya manusia dengan Tuhan. Danghyang Sumbi adalah perantara yang bisa menyatukan antara kedua dunia tersebut, atau bisa disejajarkan dengan ajaran cinta ketuhanan yang bisa mengantarkan kedekatan manusia dengan Tuhan.

Dalam alur diceritakan bahwa ketika Sangkuriang hendak membuat perahu untuk berlayar ia menebang sebuah pohon, bekas pohon tersebut kemudian menjadi tunggul. Tunggul bisa dipahami sebagai asal pohon atau ditarik kepada tataran yang luas adalah asal dari segala sesuatu, termasuk awal dari manusia itu sendiri. Manusia lahir dari proses hidup alami yang awalnya adalah dari satu eksistensi.

Kata tunggul dalam analisa semiotik secara ponetis dekat dengan kata tunggal/ nunggal/ tutunggul/ tanggul/ tanggal. Tunggul identik dengan tunggal, awal sesuatu adalah tunggal kemudian menjadi tunggul. Asal dan akhir sesuatu inilah yang merepresentasikan hakekakat ketuhanan. Hakekat ketuhahan dalam mitologi tersebut bisa dipahami sebagai Tuhan yang tunggal atau monotheis.

 

Konsep kemanusiaan

Sangkuriang atau “sang kuring” dalam legenda tersebut apabila dianalisa lebih lanjut menujukkan bagaimana sebuah konsep kesundaan tentang manusia sunda atau filsafat manusia Sunda dikemas, digambarkan, dan disampaikan kepada kita sebagai sebuah prinsip yang mapan dan utuh baik sebagai manusia psikologis, sosial, maupun spritual. Berbicara inti manusia, alam kodratnya dan strukturnya yang fundamental. Bukan hanya manusia dilihat sebagai suatu makhluk, sebuah benda, tapi suatu prinsip adanya (principe d’etre).

Manusia yang “sang kuring” ini pertama digambarkan sebagai mahluk biologis (Sangkuriang lahir dari ibunya Dayang Sumbi) yang mempuyai hasrat seksual (ingin mengawini perempuan), makan dan minum (berburu untuk makan). Ilustrasi ini menunjukkan bahwa sang kuring bukan dewa, tetapi manusia biasa. Sang kuring secara biologis adalah manusia yang berkaitan dengan unsur material, manusia secara otomatis tunduk kepada takdir tuhan di alam semesta.

Sang kuring apabila dibandingkan dengan makhluk lainnya (anjing Si Tumang) mempunyai kelebihan karena ia diberi Nurani dan Akal. Lewat akalnya manusia diberi kemampuan mengembangkan daya nalarnya (Sangkuriang mengembara). Melalui potensi akalnya inilah manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Nurani selalu membimbing manusia untuk taat dan patuh pada cahaya tuhan. Tetapi karena potensi akalnya, manusia bebas mengikuti atau melepaskan diri dari-Nya.

Manusia juga adalah makhluk sosial. Permintaan Danghyang Sumbi membuat Talaga Bandung adalah manifestasi dari pentingnya kehidupan sosial. Bukan hanya itu, sang kuring kemudian bukan hanya membuat telaga kehidupan–membangun tatanan masyarakat, tetapi juga mengarungi telaga tersebut dengan perahu yang kokoh supaya tidak tenggelam dalam riuh dan ributnya arus air. Melepaskan tabir individualitas dan kesombongannya dengan menjaga tikoro atau kerongkongannya dari hal yang mencelakakan.

Manusia yang diilustrasikan mitologi Sangkuriang memperlihatkan manusia dalam ketegangan antara predisposisi negatif dan positif. Dorongan nafsu mendorong manusia untuk terjun ke lembah syahwatiah dan mengabaikan nilai-nilai cahaya pencerahan; sedangkan nurani menuntun manusia senantiasa mengakrabi tuhan dan kebenaran. Manusia dituntut untuk memenangkan predisposisi positif yaitu mengikuti fitrah kemanusiaan.

Manusia secara kongkrit dituntut harus menyeimbangkan atau mengawinkan antara rasio dan nurani dengan tulus. Melakukan perintah dengan ikhlas dan penuh tanggungjawab. Sehingga manusia menemukan dirinya nunggal dalam kesatuan eksistensi.

 

***

 

Demikianlah sekelumit kearipan pandangan hidup Sangkuriang dalam melayari kehidupannya baik sebagi manusia lahir ataupun manusia transenden. Tentu saja tafsir ini bukanlah satu-satunya karena dalam mitologi tersebut masih menyimpan beribu tafsir kearipan yang dapat kita ambil dan hayati.

Kini, jelaslah sudah posisi “ujungberung” dalam ranah dan alur hidup manusia yang sedang mencari jati diri. Semoga dari Ujungberung Rebels kita bisa paham ujung perjalanan kita yang tak berujung.

 

 

 * Tulisan ini diambil dari karya Hidayat Suryalaga di Bandung, 18 April 2004, Kajian Hermeneutika terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu dengan Segala Aspeknya, disampaikan dalam orasi ilmiah wisuda mahasiswa Itenas, Bandung, 28 Mei 2005, dan termuat di situs www.wikipedia.org.  Tafsiran konsep kearifan di balik legenda Sangkuriang diambil dari karya Mang ManAR, “Eksistensi Sufistik Sangkuriang”, Cisela, 12 April 2008, termuat di www.sundanet.com.

 

[1] Beberapa karya sastra bertemakan legenda Sangkuriang dan Gunung Tangkubahparahu adalah :

   – Sang Koeriang, A.C. Deenik diambil dari Pleyte. Tt.

   – Gunung Tangkuban Parahu, R. Satjadibrata, 1946

   – “Babad Sangkuriang” dalam Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Edi S. Ekadjati, 1983.

   – Gending karesmen Sangkuriang Larung, Hidayat Suryalaga, 1973.

   – Sangkuriang, Hasan Wahyu Atmakusumah, 1955

   – Sang Kuriang, Kusnadi Prawirasumantri, 1992

   – Ngabendung Situ, Ajip Rosidi, 1962

   – Sang Kuriang, Beni Setia, 1972

   – Tapak Sangkuriang, Dadan Bahtera, 1989

   – Sangkuriang Kabeurangan, Wahyu Wibisana, 1992

   – Pergeseran Fungsi Mitos Sangkuriang dari Cerita Sangkuriang ke dalam Sajak Sunda, Suhandi,     Fakultas Sastra Unpad, 1994.

[2] Aku berjalan ke arah barat

   Kemudian datang ke Gunung Patenggeng

   Tempat legenda Sang Kuriang

   Waktu akan membendung Citarum

   Tapi gagal karena kesiangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: