Revograms Vol.1, Zine Pertama di Scene Musik Bawahtanah Indonesia

REVOGRAMS VOL. 1, ZINE PERTAMA DI SCENE MUSIK BAWAHTANAH INDONESIA

 

Dalam segala keterbatasan, tahun 1995, para metalhead Ujungberung sepakat berkumpul dan membentuk sebuah wadah yang dapat membawahi kreativitas musisi-musisi muda Ujungberung. Mereka mendirikan Extreme Noise Grinding (ENG). Lembaga yang bertujuan propaganda musik metal dan semangat Ujungberung. Manifestasi dari propaganda itu adalah Bandung Berisik Demo Tour I dan Revograms Zine. Dua manifesto inilah yang merekam awal dinamika pergerakan scene metal bawahtanah Ujungberung, Bandung, bahkan Indonesia. Revograms—singkatan dari Revolution Programsvolume 1 terbit Maret 1995 sebagai propaganda awal Bandung Berisik dan ENG. Zine ini disebut-sebut sebagai zine pertama di scene musik bawahtanah Indonesia.

 

Oleh Kimung

 

Revograms Vol.1 terbit Maret 1995. Kavernya gambar tangan buatan Dinan, seringai wajah monster ular from beyond dikelilingi tegkorak-tengkorak dan wajah-wajah jiwa yang tersiksa. Aura kelam membakar jiwa gambar itu. Kuat dan betenaga. Di bawahnya ada tulisan, diukir dengan teknik rugos : Total Local Underground Info.

Revograms Vol.1 digarap tim redaksi beranggotakan Ivan, Kimung, Dani, Dadan, Agus, Yayat, dan Gatot. Ivan sebagai pemred menamai tim ini “Tim Krucil Revograms”. Tim ini dibantu Agus (iklan), Ipunk dan Yayat (penjualan), Dadan sebagai (fotografer), serta Soleh “Koeple” Rustandi dan Budi “Bey” (kontributor). Dinan sebagai editor, mengawasi kerja tim ini. Markas tim redaksi ada di Jl. Rumah Sakit No.72 Ujungbeurng, sementara markas tim distibusi di Palapa Photo Studio, Jl. Raya Ujungberung No.118. Di bawah identitas tim, Ivan menggoreskan sebuah gambar komik pemuda metal gondrong, berkalung metal, berjaket kulit, mengacungkan kedua jari tengahnya. Tulisan No Posers! No Drugs! No Violence, Peace & Get a Better Life! Mengelilingi sang pemuda.

Revograms Vol.1 memuat sembilan rubrik, “Graveyard Sound”, “The Intruder”, “Live Interview”, “Cartoon Crew”, “Demo Review”, “Black Issue”, “Minded Mania”, “Dealer”, dan “Kolom ENG”. “Graveyard Sound” adalah kata-kata awal dari redaksi. Kata-katanya dikonsep Kimung dan ditulis tangan oleh Ivan dengan gaya penulisan anak kecil. Cerminan Revograms,sebuah zine yang baru saja belajar. Berikut adalah isi redaksional edisi perdana Revograms :

Akhirnya terwujud sudah sebuah obsesi. Memang sederhana, memang seadanya, memang amatiran…tapi setidaknya jangan cuma berharap semuanya bisa berubah tanpa kita sendiri mau merubah sistem yang seharusnya perlu dirobah…

Mengapa mesti ragu untuk membuat karya sendiri? Mengapa terbelenggu oleh sistem? MENGAPA?

Karena kita selalu dijerat oleh konsep untung rugi, karena kita tak pernah bangga akan karya sendiri, maka mari kita rubah sedikit demi sedikit apa yang telah hilang dalam diri kita. Semoga lembaran kertas ini memenuhi impian bagi para musisi local underground agar tidak hanya dijadikan konsumen dunia luar dan buklet ini mungkin hanya sekedar informasi pemacu keinginan. Tidak ada maksud “terselubung”. Maka mengapa mesti sendirian?

Karena di sini kita bicara seadanya, sejujurnya, asalkan bisa saling menghargai maha karya kita sendiri. Kami menunggu karya besarmu.

Nebeng : Jika lo pada punya uneg2, kakesel, saran, atau ide/kahayang…jangan takut, malu atawa sungkan untuk diungkapkan pada tim redaksi Revograms. Fuck the sistem. Tim Krucil REVOGRAMS.

“The Intruder” adalah rubrik wawancara Revograms dengan tokoh musik lokal. Dalam Revograms Vol.1, tokoh musik yang diwawancara adalah Andre, pemain gitar Full of Hate. Tata letak latar rubrik ini juga digambar Dinan, sementara isi wawancara ia tik di komputer Agus-Jlaroes, kemudian diguntingi, disusun, dan ditempel denga teknik kolase yang artistik. Wawancara menggali kabar personel Full of Hate, pengalaman manggung paling menarik, latar belakang musik, harapan ke depan, proyek selanjutnya, pandangan tentang anak-anak death metal, panggung-panggung, minuman favorit, dan tempat ngumpul Full of Hate. Bahasa yang digunakan campuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda dan tidak disensor.

Di “Live Review”, Revograms Vol.1 memuat liputan pergelaran Hullaballoo I 1994. Liputanya dibuat oleh Ivan dan lagi-lagi ditulis tangan. Liputan diawali dengan essay foto bertema macam-macam gaya stage-diving yang dilakukan penonton Hullaballoo I serta keriuhan audiens dalam pergelaran itu. Ada delapan foto yang dipajang eksklusif oleh tim redaksi Revograms. Foto-foto dicetak kemudian digunting dan ditempel di latar desain tata letak yang telah ditentukan. Lagi-lagi kolase. Di akhir essay foto, Ivan menuliskan liputannya dengan tulisan tangan yang sangat artistis, mengingatkan kita akan gaya gelombang air di cover album Nevermind-nya Nirvana. Ivan menulis liputannya dengan singkat namun jelas. Liputannya enak dibaca dan orang tak perlu susah membayangkan dengan adanya delapan foto penunjang suasana Hullaballoo I.

Rubrik “Cartoon Crew” diasuh oleh Kimung dan Ivan. Ada dua komik, yang pertama kritik sosial dan yang kedua komik fun. Komik pertama di Revograms Vol.1 adalah gambar sebuah pergelaran musik metal. Dari kejauhan digambarkan sebuah band dengan empat personil sedang manggung sementara para penonton menyemut di panggung sedang berheadbang. Di latar panggungnya ada tulisan “Fuck The Sistem!!! Underground Showtime”. Pusat komik sekaligus pusat kritik digambar oleh Ivan. Gambar percakapan dua tokoh—pria dan wanita—yang pria sepertinya personifikasi dari Glen Benton atau Chris Barnes (musisi-musisi favorit Ivan saat itu) dan yang wanita mengingatkan kita kepada Lina, kekasih Ivan yang berambut kriwil-kriwil. Sang pria, mengenakan kaos Suffocation bertanya kepada sang wanita : “Mpo, kenapa ya, band2 underground kita susah banget majunya. Padahal gua brani taruhan bahwa mereka itu punya potensi yang perlu dibanggakan disbanding grup2 posers yang sering nongol di tv…” Sang wanita, mengenakan kacamata hitam dan kaos  Deicide menjawab : “Kita tinggal di sini sih! Nyang terlalu banyak kemunafikan budaya & sistem yg kolot. Jadi sekarang mah kita musti punya motivasi & dedikasi yg bener biar orang2 tau bahwa kita bermusik itu menggunakan hati, bukannya dgn duit…

Komik kedua lebih fun. Masih digambar oleh Kimung, judulnya “Grinding Against the Daemon—One Way to Piss Off the Demon from Life”. Digambarkan seorang pemuda yang ketakutan setengah mati lagi dikejar-kejar oleh dua sosok setan. Ia berlari, berlari, tapi kemudian ia mengambil gitar, amplifier, dan menggeber lagu grindcore sampai dua sosok setan itu lari terbirit-birit karena berisiknya.

 “Demo Reviewed” adalah rubrik band-band serta rilisan mereka. Masa itu masih jarang band yang merilis album, kebanyakan masih demo. Band yang diangkat adalah Tympanic Membrane dengan segala informasi dan demonya Pisau Bedah, berisi tiga lagu “Pain in Vivid”, “Shaman Untenment”, dan “Pembusukan Keturunan”; Mortheis dan demonya Ritual of Satanic, berisi tiga lagu “Pray to God”, “Riyual of Satanic” dan “Biadab”; serta Fatal Death dan demonya, berisi dua lagu “Penjajah” dan “Problem Sosial”. Di akhir review, tim redaksi memuat catatan kecil : “Bagi bands yang punya demo dan ingin masuk ke majalah ini, kirim segera data biography bands dan personil, photo, dan kaset demo kepada kami.” Untuk rubrik ini, tim redaksi menyediakan tiga halaman sebagai upaya mendukung band lokal.

Informasi berikutnya mengenai band-band luar negeri, juga disajikan karena dianggap penting sebagai wawasan bagi khalayak pembaca Revograms. Kali ini Tim Redaksi menyediakan dua halaman untuk rubrik “Black Issue”, memuat kilasan kabar dari Stone Temple Pilots, Biohazard, Suicidal Tendencies, Rage Against the Machine, Entombed, Dismember, Cannibal Corpse, Paradise Lost, Deicide, Carcass, Kirk Hammett, Les Claypool, Hullaballoo II, Sacrilegious, dan Mortir. Datu pergelara local dan dua band terakhir adalah band lokal yang sengaja disusupkan Tim Redaksi atas nama kesetaraan anata scene local dan global.

Rubrik berikutnya adalah “Minded Mania”, berisi informasi band lokal, khususnya band-band Ujungberung dan ENG. Tim Redaksi menyediakan dua halaman untuk memuat tiga band dalam terbitan perdananya. Ada Jasad, Mocker Shit, dan Rotten Soul—kita kenal sebagai Forgotten kini—yang dimuat dalam rubrik ini. Informasi mengenai band dalam rubrik ini lebih simpel, dikemas per poin terdiri dari keterangan tentang personil, lagu-lagu, dan kontak band. Rubrik ini bertujuan untuk memperkenalkan band-band metal ENG kepada khalayak. Tim Redaksi menutup rubrik ini dengan catatan : “Untuk group band yang ingin masuk ke kolom ini diharapkan bersedia hadir dalam latihan di Palapa Studio (sebagai bahan pertimbangan).

Rubrik terakhir adalah “Dealer”. Rubrik ini sebenanya rubrik khusus iklan dan hanya dipungut biaya 1000 perak kepada siapapun yang akan beriklan. Revograms benar-benar ditutup oleh back-cover propaganda merchandise ENG yang saat itu diurus oleh Panji dan Alan (Tympanic Membrane).

 

***

 

Revograms hanya bertahan terbit empat kali hingga tahun 1997. Setelah Revograms, menjamur kemudian zine-zine di Ujungberung Rebels. Ada Ujungberung Update, Loud n’ Freaks, Crypt of the Abyss, The Evening Sun, NuNoise, Rottrevore Magz, MinorBacaanKecil, dan Totalokal. Kini kaummuda Ujungberung sedang merencanakan penerbitan zine baru. Pisces Zine namanya. Kita tunggu kiprahnya!

 

 

Penulis adalah rekreasioner,

menulis di MinorBacaanKecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: