Pasar Sejarah Instan

PASAR SEJARAH INSTAN

 

Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai;

dan di mana pasar mulai, mulai pulalah

riuh rendah para aktor besar dan desau kerumunan lalat beracun

 

Lalat-lalat di Pasar, F.W. Nietzsche

 

I

 

St. Sunardi pernah membuat sebuah telaah yang cemerlang mengenai Lalat-lalat di Pasar karya Nietzsche. Menurut St. Sunardi, pasar dalam budaya klasik bukan hanya tempat kegiatan jual beli serta tukar menukar barang dan jasa, melainkan dikenal sebagai forum, yakni sebuah arena di mana orang-orang melakukan kegiatan kultural dan politik. Para pemimpin dan orator besar dilahirkan di forum. Retorika dikumandangkan di pasar. Para remaja dikirmkan ke pasar, meniti karir politiknya melalui forum. St. Sunardi mencontohkan Cicero yang tampil cemerlang di mimbar forum untuk merebut simpati massa dan di forum juga secara tragis ia dicincang tubuhnya oleh musuh politiknya untuk menimbulkan efek toror bagi massa. Di forum yang ada hanya para aktor dan massa. Aktor satu berusaha menggulingkan aktor lain, dan massa dijadikan rebutannya. Mereka yang menguasai massa pasti menguasai forum. Dengan menguasai forum, maka dengan mudah mengatur ke mana arah pasar. Tak cuma pasar politk dan budaya, tapi sisi-sisi strategis pasar lainnya yang pada kelanjutannya akan menguasai sektor-sektor kemanusiaan, termasuk sejarah.

Mungkin di satu sisi penulisan sejarah akan bertambah ramai. Tapi apa artinya sebuah keramaian tanpa isi dan komposisi. Pada akhirnya keramaian tak lebih dari dengung-dengung lalat saja yang tak jelas dan berisik. Dengung-dengung itulah sejarah di tengah pasar. Arah-arah penulisannya telah ditentukan dan dibentuk sehingga produk-produknya merangsek ke tatanan kesejarahan masa kini, menenggelamkannya, dan menempatkannya begitu terasing. Terpisah dari hakikatnya sebagai sebuah kisah ‘sebenarnya’ sebuah masa lampau. Mengenai model sejarah yang mendengung-dengung ini, Nietzsche membagi sejarah menjadi tiga yaitu sejarah monumental, sejarah antikuarian, dan sejarah kritis.

Sejarah monumental menghamba pada kejayaan masa lalu dan berambisi mengembalikan kejayaan itu. Model kasusnya dapat kita lihat di arah mode dan musik masa kini yang cenderung kembali ke masa-masa 60s, 70s, 80s, 90s. Yang lebih heroik dan mendunia mungkin serangan Irak ke Kuwait, invasi Israel atas Palestina, atau gerakan separatisme di Indonesia yang selalu mengatasnamakan sejarah.

Sejarah antikuarian berambisi melestarikan kebudayaan. Model kasusnya jelas. Belakangan ketika protes-protes menentang RUU APP di Indonesia marak ada pihak-pihak yang mengatasnamakan pelestarian budaya bangsa. Katanya budaya kita sejak dulu tak lepas dari porno. Tengok lingga, tengok yoni. Tengok centhini. Ini menurut saya kebablasan. Zaman toh selalu berubah dan kita tak hidup di zaman dulu. Saya juga menentang RUU APP tapi jelas dengan alasan yang berbeda dengan mereka.

Pendekatan terakhir adalah sejarah kritis. Pendekatan sejarah ini mempertanyakan dan menilai kembali sejarah. Dalam istilah St. Sunardi, sejarah kritis memperkarakan masa lampau ke pengadilan, memeriksanya dengan seksama, dan akhirnya menghukumnya dengan nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Sejarah ini, lanjutnya, ibarat lembaga atau komisi kebenaran dan keadilan yang bertugas mengupas masa lampau sampai di bawah kulit kebesaran yang dikagumi para sejarawan monumental dan kesakralan yang dihormati para sejarawan antikuarian. Dalam titik ini sejarah kritis justru dipakai untuk melupakan masa lalu. Tentu saja masa lalu yang membebani orang masa sekarang untuk hidup karena pada akhirnya prioritas utama adalah terus hidup apaun resikonya.

Sejarah monumental dengan terang melupakan jiwa budaya (kultuurgebundenheit). Sedangkan sejarah antikuarian menenggelamkan jiwa zaman sebuah peristiwa (zeitgeist). Sementera itu sejarah kritis yang mempertanyakan segala sesuatu selalu diam pada sisi stagnan dan cenderung mengancam hidup peradaban manusia. Semua fenomena pemikiran itu kini mencuat dan merongrong eksistensi manusia hingga taraf akut. Ya, peradabanpun meradang. Ia menderita demam karena sejarah. Dan apa virus yang menyebarkan demam itu? Tentu saja pasar sejarah! Celakanya seperti yang kita singgung di atas, pasar selalu dikuasai para penguasa forum. Dalam hal ini selalu ada kepentingan-kepentingan yang lalu melatari penulisan sejarah.

Dalam praktik-praktik penulisan sejarah, hal ini adalah suatu hal yang berbahaya. Sangat riskan bagi sejarah untuk selalu menuruti kemana angin berhembus. Ini menyuburkan kredo kuno ‘Sejarah adalah Milik Para Pemenang’. Setiap pihak yang memenangi perebutan kuasa atas ilusi massa berhak menuliskan suatu sejarah baru versinya sendiri. Sejarah sebelumnya direvisi dan penulisan sejarah yang bertentangan dengannya dijabel. Bagian-bagian yang buruk disensor, disimpan di suatu tempat yang antah berantah dalam rak-rak file top-secret. Peristiwa banyak yang dihilangkan, cerita direkonstruksi ulang, kisah-kisah dibengkokkan. Sejarah dibiaskan. Ini adalah ciri-ciri penulisan sejarah politik yang tumbuh subur di zaman-zaman uzur di mana sejarah tak lebih dari mitologi dan fungsinya menjustifikasi kuasa atas pihak yang duduk bertampuk di singgasana. Bahkan mungkin lebih parah lagi, lantaran di zaman tradisi lisan dan mitologi tak sembarangan orang bisa menulis sejarah. Hanya para brahmana dan penguasa Sansekerta yang dapat menuliskan sejarah.

Sejarahpun dekaden. Ia instanlah. Dibuat dengan sangat mudah. Semua orang bisa dan berhak menjadi sejarawan. Penulisannyapun tak harus tertata metode dan metodologis. Dalam rangkaian kepenulisan sejarah Indonesia, sempat dikenal adanya ‘Sejarawan Meja’. Mereka adalah para penulis Belanda yang menuliskan segala sesuatu tentang Indonesia tanpa pernah tahu bagaimana kondisi Indonesia yang sebenarnya. Sumber-sumber yang mereka gunakan adalah sumber lisan dan tulisan para pelaut sekitar abad 15 dan 16 yang sempat melancong ikut kongsi-kongsi dagang ke Indonesia. Mungkin sumber itu akurat. Namun dapatkah sidang pembaca yang budiman membayangkan bagaimana seseorang dapat merangkai cerita tentang suatu daerah tanpa pernah sekalipun mengunjungi daerah yang ditulisnya? Bagaikan saya yang tak pernah ke Amsterdam tapi saya ngotot menuliskan sejarah Amsterdam berdasarkan file-file dari internet saja. Mungkin sah-sah saja saya berimajinasi mengenai Amsterdam. Tapi dapatkah kiranya tulisan saya dipercaya sebagai suatu sejarah akurat mengenai Amsterdam? Dan ironisnya, tulisan-tulisan para sejarawan meja ini laris manis di pasar zaman itu dan kerap dijadikan acuan orang Belanda yang ingin tahu tentang Indonesia..

Kemudian kita juga pasti mahfum mengenai penulisan sejarah spekulatif gaya orde lama, misalnya 600 Tahun Sang Merah Putih-nya Moh. Yamin. Atau penyelewengan-penyelewengan sejarah zaman orde baru. Atau biografi tokoh-tokoh politik yang tiba-tiba marak di era reformasi. Yang jelas, jika ceritanya berpihak pada sang penguasa atau tokoh-tokoh penguasa forum, maka jadilah. Jika isinya kritik pada penguasa atau penguasa forum, maka jangan harap sekali-kali akan muncul di permukaan. Kisah-kisah ini hanya akan mengendap sebagai wacana diskusi di ruang-ruang kuliah yang sempit dan tidak populis. Penulisan dan penerbitan sebuah kisah sejarah tidak tergantung lagi pada koridor penulisan sejarah. Asal direstui sang penguasa, maka terbitlah! Kalau tidak berkenan dengan sang penguasa forum maka bersiaplah diteriaki massa pendukung para penguasa forum.

Ini jelas bukan suatu kondisi yang sehat, baik bagi kesejarahan juga bagi mentalitas. Iklim penulisan seperti ini hanya akan menumbuhkan mentalitas penjilat, populis kompromistis yang setia berpihak pada pasar, bukan pada kesejarahan itu sendiri. Di zaman yang serba kritis ini kita mungkin dapat mengolah data-data yang tercantum dalam penulisan-penulisan sejarah itu dengan kritis. Namun mengacu pada pandangan Nietzsche mengenai sejarah kritis maka penulisan sejarah ini tidak dapat dipercaya juga atas dasar premis awal mengenai sejarah kritis yang telah kita bahas di atas.

Penerbitan dan penulisan sejarah independen (selajutnya indie saja) sebenarnya dapat, mampu, dan berkesempatan melawan kondisi sakit ini. Indie yang bergerak sendiri dan mandiri tentu tidak pernah bergantung pada pihak-pihak yang berkuasa, tidak berpihak maupun bertentangan, tidak juga mau berkompromi dengan kepentingan-kepentingan pemesan sejarah. Mengesampingkan masalah subyektivitas dan obyektivitas, penulisan sejarah independen, penulis yakin tak mau melacur pada kepentingan-kepentingan itu dan selalu setia mendedikasikan diri pada penulisan sejarah yang memang didedikasikan untuk kesejarahan itu sendiri. Namun demikian, adalah hal yang penting jika sejarah ditulis oleh pihak-pihak independen yang sama sekali tidak bersentuhan dengan kompromi-kompromi kepentingan para penguasa forum/pasar. Penulisan dan penerbitan sejarah independen mungkin saja dapat menjadi jawaban atas pertanyaan Goenawan Mohamad ‘bagaimana menciptakan Sils Maria di tengah-tengah pasar dan kerumunan’.

 

II

 

Nietzsche pernah melukiskan sebuah kerumunan dan mentalitasnya dalam Der Tolle Mensch (The Madman) : “Tidakkah kau dengar orang gila yang menyalakan pelita di pagi yang cerah. Dia berlari menuju alun-alun kota dan tak henti-hentinya berteriak : ‘Aku mencari Tuhan! Aku mencari Tuhan!’ Ketika orang banyak datang mengerumuninya, orang gila itu mengundang banyak gelak tawa. ‘Apakah dia ini orang yang hilang?’, tanya seorang. ‘Apakah dia tersesat seperti anak kecil? Apakah dia baru saya mengadakan pelayaran? Apakah dia seorang perantau?’ Demikianlah mereka saling bertanya sinis dan tertawa. Orang gila itu lalu melompat dan menyusup ke tengah-tengah kerumunan lalu menatap mereka dengan pandangan yang tajam. ‘Mana Tuhan?’ serunya. ‘Aku hendak berkata pada kalian. Kita telah membunuh Tuhan—kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuh Tuhan!” Selanjutnya diceritakan dalam aforisma itu orang-orang dalam kerumunan terbengong-bengong mendengarkan kata-kata panjang lebar si Orang Gila mengenai kematian Tuhan. Akhirnya si Orang Gila membuang pelitanya ke tanah hingga hancur dan padam. “Aku datang terlalu awal’, katanya.

Ataukah kesadaran yang selalu datang terlambat? Atau kita yang selalu tak berdaya di depan sebuah pasar dan kerumunan?//kimsyalalahahaha, februari 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: