Ketika Saya Memutuskan untuk Meninggalkan Masjid

KETIKA SAYA MEMUTUSKAN MENINGGALKAN MESJID

 

Mesjid adalah tempat paling berpengaruh bagi saya semenjak saya kecil, dan juga bagi kebanyakan kawan-kawan saya. Bagi kami yang tumbuh besar di daerah pegunungan tahun 1980an awal, mesjid adalah tempat utama bersosialisasi selain tegalan sangat luas yang umumnya ada di setiap kampung. Mesjid saya adalah mesjid yang dikelola penngurus Dewan Keluarga Mesjid RT yang sangat asri. Di halaman mesjid terbentang lapangan yang luas tempat anak-anak bermain sepanjang sore, sepanjang malam. Di sekeliling lapangan depan mesjid, ada kebun singkong kecil. Kita boleh mencabut beberapa pohon untuk dibakar dan dinikmati bersama kawan-kawan.

Seingat saya, sejak umur tiga lima tahun saya begitu betah main di mesjid. Saya dulu sangat malas masuk TK dan lebih memilih main bersama kawan-kawan sebaya di lapangan halaman mesjid. Masuk SD, ayah mulai sering mengajak saya untuk menunaikan ibadah shalat berjamaah di mesjid. Biasaya shubuh dan magrib. Masih begitu jelas dalam ingatan saya, ayah menunjukkan rasi bintang sehabis kami dzikir sehabis shalat shubuh. Saya mengamatinya dengan takjub. Semakin takub saja saya, ketika ayah lalu mendongengkan mitos-mitos seputar bagai mana rasi bintang itu ada di langit. Kini saya tahu yang didongengkan ayah adalah kisah-kisah tragedi dewa-dewi Yunani-Romawi.

Masuk SD, saya semakin betah tinggal di mesjid. Biasanya saya dan kawan-kawan sebaya mulai berkumpul di halaman mesjid ketika waktu ashar akan tiba. Biasanya kami bermain perang-perangan atau sekedar berburu capung di ilalang yang tumbuh di pingiran lapangan. Hingga kemudian beduk adan ashar tiba, kami berebutan mengambil air wudlu dan ramai-ramai shalat berjamaah. Ba’da ashar, kami tak lantas bubar. Kami shalawatan, melantunkan puji-pujian kepada rasulullah dan menyebut asma Allah, asmaul husna. Belakangan, ketika kami sudah semakin besar, sekitar kelas tiga SD dan kawan-kawan yang ikut berumpul bersama kami di mesjid semakin banyak, kami mulai pindah shalawatan ke lapangan halaman mesjid. Saat itu kai berpikir alangkah asiknya jika shalawatan tersebut diiringi dengan alunan musik. Kami pikir musik yang menghentak bertalu-talu dinamis, variatif, namun konstan adalah musik paling cocok untuk shalawat yang selalu kami lantunkan.

Pertengahan tahun 1980an, di kaki Gunung Manglayang, sangat terbatas bagi kami untuk mendapatkan alat-alat musik. Kalaupun ada harganya sangat mahal. Tapi, itu tak mengganggu kami. Kalau alat musik tak ada, sudah kami buat saja alat musik kami sendiri. Maka, sepulang sekolah di siang hari, kami beramai-ramai pergi ke sawah mencari kaleng bekas, kain bekas, dan tanah liat. Kami olah sampah-sampah itu jadi dogdog, semacam genderang kecil, yang kemudian jadi perkusi yang mengiringi alunan shalawatan kami. Tak kurang sekitar tiga puluh dogdog kami buat saat itu. Suasana shalawatan sehabis ashar hingga menjelang masgrib semain ramai saja. Banyak kemudian kawan sebaya yang ikut gabung. Mesjid kamipun semakin ramai. Ketika Ramadhan tiba, keramaian anak-anak dan remaja mesjid bisa sepuluh kali lebih hebat. Hampir sepanjang hari anak-anak dan remaja berkumpul di lapangan halaman mesjid untuk sekedar berbincang menunggu waktu berbuka puasa, bershalawat, dan akhirnya ramai-ramai memainkan rampak dogdog kami.

Bosan dengan shalawatan yang itu-itu saja, kami mulai menciptakan lagu sendiri. Lagu-lagu yang kami ciptakan tak jauh isinya degan shalawatan yang setiap hari kami senandungkan diiringi dentuman rampak dogdog buatan kami sendiri. Semuanya pujian kepada Rasulullah, pujian kepada Allah SWT. Kami juga mengaransemen ulang asmaul husna dalam versi kami sediri. Menghentak, mengasikan. Seingat saya, lagu-lagu yang kami ciptakan lillahita’ala karena Allah SWT dan atas kecintaan kami yang polos kepada Rasulullah SAW. Begitu murni.

Tradisi ini terus berlangsung hingga saya lulus SD dan mulai masuk SMP tahun 1990. Saat itu, tradisi ini kami lakukan tak hanya ba’da ashar hingga menjelang maghrib saja. Tradisi ini kami lakukan juga ketika bulan Ramadhan tiba. Setiap waktu ashar hingga maghrib tiba kami tabuh genderang dogdog kami dan bersahut-sahutan, senandungkan shalawat, asmaul husna, dan juga lagu-lagu pujian kami kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sepanjang shaum bahkan, saya dan kawan-kawan sepakat untuk sahur lebih awal dan keluar sebelum jam setengah empat shubuh dan mulai marching dogdog kami keliling kompleks untuk meramaikan sahur bulan Shiam. Sekali lagi, lagi-lagi seingat saya, kami melakukannya karena kecintaan kami terhadap Allah SWT dan Rasululah SAW. Puncak kreasi kami adalah pawai dogdog di malam takbiran. Kami keliling kompleks, menelusuri kampung-kampung di sekitar kompleks untuk menampilkan kesenian yang kami mainkan. Jika lelah, kami kembali ke lapangan mesjid dan memulai gelaran musik religius kami di sana.

 

***

 

Namun, tradisi itu ternyata tak lama kami gelar. Ketika sekelompok orang—pendatang yang kabarnya adalah penyebar Islam, modernis yang punya pemikiran maju dalam mengembangkan Islam sekaligus giat memurnikan Islam, dan berkomitmen tinggi meramaikan mesjid—datang dan mulai mengkritik kegiatan kami, katanya berisik, tak menggunakan mesjid seperti mestinya, dan mulai mendengung-dengungkan isu bid’ah. Kami was-was. Namun, atas kecintaan kami kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada musik, kami tetap melakukan ritual kami itu. Hingga akhirnya di malam takbiran tahun 1992, setelah kami lelah menggelar rampak dogdog, bedug, dan senandung shalawatan keliling kampung dan kompleks, dan kami yang lelah memutuskan untuk menggelar musik religius kami di lapangan halaman mesjid, seorang pendatang baru, bapak-bapak botak, dengan wajah merah padam menghampiri kami. Saat itu, malam hampir berakhir dan takbiran dari speaker mesjid sedang ramai-ramainya kami iringi dengan talu-talu perkusi kami. Sang bapak turun dari jalan raya dan bergegas menghampiri kami.

“Hentikan!” serunya. “Ini nggak bener! Talu-talu yang kalian lakukan adalah praktek penyembahan matahri. Ini bid’ah! Ini musrik! Jelas-jelas musrik!!!” teriaknya. Kami terdiam. Kami terpana. Sebelum kami menjawab teriakan amarah si bapak, ia sudah melanjutkan dengan berbusai-busai ludah keluar dari sudur-sudut bibirnya, mengguar hadist-hadist dan ayat-ayat Al-Qur’an yang lalu meruntuhkan semua argumen yang tentu saja belum sempat kami ungkapkan. Dan seingat kami, baru saat itulah kami dimarahi sedemikian mendasar dan melaklak dasar oleh orang asing. Bahkan orang tua-orang tua kamipun belum pernah memarahi kami seperti itu.

Kami terpana dituduh melakukan prosesi penyembahan matahari. Demi Allah, tuhan yang kami junjung tinggi dan selalu kami puji dalam alunan msuik yang kami ciptakan untuk-Nya, kesenian yang kami ciptakan sama sekali tidak ditujukan untuk menyembah matahari tapi untuk menyembah Allah SWT dan menghormati Rasulullah SAW semata. Hingga saat itu, baru kami tahu jika talu-talu genderang adalah alat yang digunakan untuk menyembah matahari. Bahkan, kami tak pernah berpikir jika matahari adalah dzat yang harus disembah. Wallahualam.

Setelah peristiwa itu, kegiatan kami di mesjid mulai dibatasi. Tak boleh ini, tak boleh itu. Orang-orang tua kami pun tak bisa berbuat banyak. Kata mereka, orang-orang pendatang baru ini adalah bagian dari mereka yang menginginkan pemurnian Islam serta kaum modernis Islam. Kami tak betah di mesjid saat itu. Mesjid sudah bukan lagi tempat yang menyenangkan. Allah sepertinya mereka rebut dengan paksa dari kami. Yang kami rasakan, ketika kami mainkan rampak dogdog dan memuji-Nya serta Rasul-Nya, kami merasa begitu dekat dengan-Nya. Tak berbatas. Kini Ia dicabut cerabut dengan paksa dan tak ada lagi yang boleh kami lakukan di mesjid, rumah-Nya. Bukan rumah mereka.

Perlahan, saya dan kawan-kawan meninggalkan mesjid. Mesjid kamipun sepilah. Jarang ada anak-anak dan remaja yang diam di mesjid. Hanya orang-orang tua yang asik bertekun dalam sepinya mesjid……..

 

***

 

Tiba-tiba kami mendapati diri kami terlempar di jalanan. Bermain musik mengenang masa kecil kami, masa indah kami. Lalu mereka, yang mengusir kami dari mesjid, mulai berkata : “Kalian kaum muda bergajulan! Jauh dari Allah! Nongkrong di pinggir jalan, brang-breng-brong ga jelas! Bukannya meramaikan mesjid malah menyumpeki pinggiran jalan! Kalian Sampah!” //kims, drinkim_beam@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: