I Don’t Need Any Movement to be Me!

I DON’T NEED ANY MOVEMENT TO BE ME!

 

Sejak lahir, saya dibekali sebuah takdir yang harus dibaca dalam kebudayan di mana saya tumbuh. Saya berproses bersamanya, belajar, dan mengenal diri saya sendiri melalui rangkulan tangannya. Saya terbentuk olehnya dan secara alami saya berikan apa yang bisa saya beri kepadanya melalui cara-cara saya sendiri. Saya sangat menikmati cara-cara saya membaktikan diri pada kebudayaan saya, sampai suatu saat, ketika segelintir orang memberikan nama, nilai tempat, dan melabeli cara-cara itu, saya mulai tak nyaman menjalaninya.

Movement, kata mereka. Gerakan. Dan mereka mulai memberikan nama : gerakan A, gerakan B, gerakan P, dll. Garis keras, sayap kanan, sayap kiri, anything. Bergelintir orang dalam kebudayaan saya merasa nyaman dengan identitas-identitas itu. Mereka lalu memantapkan diri dalam gerakan sesuai haluannya, mengorganisasikan diri, membuat sistem sendiri, merumuskan eksistensi. Hebat nian. I impressed, but no thanx, i’m not interested.

Bagi saya, kehidupan sosial yang mantap hanya dapat dicapai bila individu-individu di dalamnya memiliki kualitas yang mantap pula. Karena itu realisasi diri antar individu sangat penting diperhatikan dalam rangka membangun suatu kondisi sosial budaya yang unggul. Dan realisasi diri tidak dapat dicapai dalam suatu rangka yang kita kenal dengan nama gerakan, movement. Apalagi sampai gerakan itu dilembagakan, diorganisasi, disistemkan, dieksiskan.

Organisasi, dan juga sistem, adalah sumber sagala konformitas. Di dalamnya banyak kewajiban moral yang membatasi individu untuk berkehendak. Sistem diciptakan untuk untuk menciptakan ketentraman organisasi dan melindunginya dari kekacauan, bukan untuk mengembangkan individu-individu secara bebas. Para penjaga sistem lalu menjadi pihak yang paling berkuasa dan tak pernah salah. Sebaliknya, individu menjadi pihak yang lemah, sumber kesalahan, dan maksiat. Mengapa individu harus bersedia menerima moralitas seperti itu sementara individu harusnya diberi moralitas bebas agar dapat berkembang mantap dan maksimal?

Lagi pula, eksistensi bukanlah hasil sebuah sistem. Yang dihasilkan sistem bukanlah eksistensi saya, atau anda, tapi eksistensi sistem itu sendiri. Sementara sistem lalu eksis dan settle, saya (juga anda) akan terus berubah. Never settled. Maka saya yakin eksistensi saya sebenarnya ada di luar sistem. Lagipula eksistensi apa yang ada dalam budaya yang dilabeli selain eksistensi label itu sendiri? Dan bukankah secara sadar kita tahu kalau label adalah propaganda industri sehingga suatu saat ia siap beredar di pasar, ditawar, lalu ada di pasar sekenan? Ideologi seken… HaHa!

Saat suatu gerakan sudah ada di pasaran, mereka harus bersaing dengan gerakan lain sehingga ia harus senantiasa bersolek agar laris (persis pelacur!) atau sangar (seperti prajurit!) biar ditakuti. Titik berat utamanya tak lagi dirinya sendiri (dan orang-orang yang bernaung di dalamnya) tapi orang lain. Bentuknya lalu diperkerdil, dipersingkat, dipersimpel, dikompromi, dipergagah, dipoles biar memuaskan semua orang. Shit!

Cukup! Saya tak mau memperpanjangnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: