Beyond Editorial : Menyentil Masalah Penyuntingan dalam Novel Myself : Scumbag Beyond Life and Death

Beyond Editorial :

 

Menyentil Masalah Penyuntingan dalam Novel

 

Myself : Scumbag Beyond Life and Death

 

 

 

oleh YusandiOjel

 

 

 

 

 

 

 

Tatkala ditawari Penulis untuk menyunting naskah buku ini, saya sedikit kaget. Bagaimana tidak? Saya bukan penggemar Burgerkill—musik mereka dan teriakan Ivan terlalu cadas dan memekakkan bagi gendang kuping saya! Tapi, dengan mengesampingkan itu, saya merasa tertantang dan bersemangat. Menurut hemat saya: ini adalah buku “biografi” pertama band lokal bawahtanah yang pernah ditulis di Indonesia (entah kalau sudah ada buku sejenis sebelumnya yang tak saya ketahui).

Saya kenal Ivan di Purnawarman, sekitar 1999. Tapi hingga kematiannya saya tak merasa begitu dekat dengannya, tak seperti “tokoh-tokoh” yang berperan dalam buku yang kini berada di hadapan anda, yang cukup intim dengan Almarhum. Namun, toh, yang diperlukan dalam menyunting terutama adalah masalah kebahasaan, bukan masalah musikalitas (musik ‘ kan buat didengarkan, bukan diperdebatkan, ya, kan ?).

Jujur saja, bahwa yang membikin saya menyanggupi mengedit buku ini adalah pertemanan saya dengan Penulis, bukan karena ketenaran Ivan dan Burgerkill. Kimung merupakan teman yang berwawasan luas, seorang penulis yang haibat dengan gaya tulis yang berkarakter. Dengannya, saya bisa berjam-jam berbincang tentang masalah apa pun—dari musik, sejarah, budaya, filsafat, sastra, agama, dll. Apalagi jika mengingat bahwa ia salah satu pendiri Burgerkill, yang tentunya sangat paham akan “sejarah” Ivan dan band yang dibangunnya. Dan ini: Penulis merupakan sahabat dekat Sang Vokalis sejak mereka masih “ababil” alias ABG labil. Penulis adalah seorang perawi yang kesahihannya lebih dapat dipertanggungjawabkan di hadapan khalayak pembaca. Juga, saya melihat semangat serta pengorbanannya yang tinggi dalam menyusun buku ini.

Saya percaya—seperti diakui Penulis—bahwa tak semua teks cerita dan percakapan langsung yang tertulis dalam buku ini berlangsung seperti yang terjadi sesungguhnya. Mereka yang “bercerita” dan “mengobrol” tentang dan dengan Ivan, memparafrasakan kembali pengalaman mereka. Ingatan merekalah yang membangun kisah-kisah buku ini (selain data-data tertulis dan rekaman suara); dan ingatan manusia bukanlah sesuatu yang seterusnya terang. Apalagi kebanyakan dari mereka—seperti halnya Ivan sendiri—sama-sama pengguna drugs, yang memorinya dapat dipastikan tak sepenuhnya mantap. Jadinya, Penulis dan juga mereka yang diwawancara, memakai kalimat mereka sendiri dalam menyampaikan kenangan-kenangannya bersama Sang Scumbag. Dan itu sah-sah.

Saya memulai penyuntingan pada 26 Juni 2007, tiga hari setelah menerimanya. Ketika menyerahkan naskah pertama, Kimung berkata, “Babat aja!” Dan dengan wewenang tersebut saya memang ternyata lumayan banyak membabatnya. Banyak pengulangan narasi dan deskripsi yang saya buang, dan terutama saya sering menyempurnakan tanda baca pada kalimat-kalimat langsung. Ada beberapa masalah yang perlu disampaikan di sini, yakni masalah peristilahan, terutama penulisan jargon dan genre (orang Indonesia menyebutnya “aliran”) musik. Sebutlah grindcore, hardcore, punk rock, riff, scene, lead. Saya dan Penulis sempat kebingungan, mana kata yang harus dimiringkan, mana yang tidak; mana frasa yang harus disatukan, mana yang tidak. Kita—orang Indonesia —sayangnya belum memiliki kata padanan untuk kata-kata tersebut. Untuk istilah underground kami memutuskan menerjemahkannya menjadi “bawahtanah”, bukan “bawah tanah”. Ya, kami menyatukannya menjadi sebuah kata mandiri, semandiri para pelakunya dalam bergerilya memperjuangkan idealisme mereka dalam bermusik. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan 2005, misalnya, belum juga mencantumkan kata padanan atau serapan untuk istilah-istilah tersebut. Ini memperlihatkan secara jelas bahwa Pemerintah dan ahli-ahli bahasa tak penuh perhatian terhadap perkembangan budaya anak muda secara global!

Belum lagi kata-kata “gaul-slengean” dan “bahasa Sunda jalanan” (bahkan beberapa berbentuk “bahasa kode” yang hanya dimengerti oleh komunitas bersangkutan) yang memenuhi percakapan-percakapan dan narasi dalam buku ini. Kata “gua” atau “nggak” belum juga dianggap sebagai bagian dari “bahasa Indonesia” oleh Pemerintah. Saya jadinya bertanya-tanya: apakah Pemerintah benar-benar telah belajar dari era Balai Pustaka buatan kolonial Hindia Belanda yang mengagungkan “Melayu Tinggi” yang dipakai para penulis Melayu-Riau dan merendahkan “Melayu Pasar” yang digunakan oleh rakyat kebanyakan di Batavia ? Bukankah lingua franca yang dijadikan “bahasa Indonesia” berasal dari para pedagang-pelaut yang notabene rakyat jelata yang tak semuanya pandai tulis-baca (baik Cina, India, Arab, Parsi, atau Pribumi), bukan dari kalangan sultan dan brahmana?

Ah, maaf, saya sudah terlalu banyak bicara. Selamat membaca saja! Bagi pembaca yang masih berusia belasan atau berjiwa remaja yang labil secara emosional, harap ingat: buku adalah salah satu bentuk sugesti yang terbesar dalam memandang, merespon, dan menyikapi hidup. Jadilah pembaca yang arif!

 

 

 

 

 

 

Bandung, 23 Agustus 2007

 

 

 

 

Yusandi alias Ojel adalah musisi, pemimpin Hitheroad Publishing,

 

penyunting Myself : Scumbag Beyond Life and Death

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: