SCENE BAWAHTANAH INDONESIA 1980an-2000an

Posted in Uncategorized with tags , on September 20, 2008 by kimun666

SCENE BAWAHTANAH INDONESIA 1980an-2000an

By Kimung

Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik…

Wenk Rawk, 2007

Inilah propaganda informasi paling diminati mengenai wajah indsutri musik baru Indonesia. Essay yang ditulis scenester pionir Wenk Rawk ini menggambarkan dengan gamblang bagaimana kini label rekaman meluaskan ekspansi bisnis mereka dalam industri musik tanah air, yaitu dengan membuka divisi manajemen artis di label rekaman. Ini adalah sebuah jalan pintas yang dilakukan perusahaan rekaman untuk mengeksploitasi artis-artisnya, ketika bisnis utama mereka semakin terpuruk akibat maraknya pembajakan di tanah air. Jelas fenomena manajemen artis di sebuah label bukan suatu yang sehat karena label label rekaman jelas tidak kompeten untuk urusan manajemen artis, berpotensi merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait—artis, manajemen, label, dan rentannya konflik kepentingan tingkat tinggi, saat manajernya bingung harus membela kepentingan siapa bila terjadi bentrok antara artis dan label.

Memang sistem manajemen artis dalam sebuah label rekaman bukanlah fenomena umum dan hanya beberapa gelintir perusahaan rekaman yang telah menerapkan hal ini. Namun itu sudah menjadi tak penting, karena yang terpenting adalah mengapa kondisi seperti ini bisa terjadi.

Rawk menganalisis, penyebab kondisi tak sehat ini terjadi akibat semakin parahnya praktek pembajakan di Indonesia dan juga peran pemerintah yang berkesan main-main saja dalam mengatasi hal ini. Musisi-musisi independen jelas gerah dengan kondisi ini. Dengan kreatif, mereka lalu melawan sistem pembajakan dengan cara yang sama : pembajakan pula, namun kini yang membajak adalah musisi kreator karya mereka sendiri. Dan kemudian meledaklah fenomena yang mengguncang industri musik tanah air itu—penggratisan album oleh para musisi atau band.

Koil, menjadi band pionir fenomena ini. Mereka bekerja sama dengan sebuah perusahaan minuman dalam merilis album mereka dan juga menjalin kerjasama dengan majalah Rolling Stone untuk mendistribusikan album terbaru mereka, Blacklight Shines On secara gratis. Tak hanya itu, mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris.

Dan demikianlah, maka Otong dkk, tanggal 21 September 2007, tampil di sebuah studio di bilangan Cililitan, Jakarta Timur, untuk memperkenalkan album Blacklight Shine On, sekaligus juga pembuatan video klip “Semoga Kau Sembuh Part II” yang disutradarai Rizal Mantovani dan juga merupakan soundtrack film Kuntilanak 2. ini adalah sebuah tonggak baru yang ditancapkan Koil setelah rilisnya album Megaloblast enam tahun lalu, album yang berhasil menembus angka fantastis. Album Megaloblast re-mix tahun 2003 berhasil menembus angka penjualan hingga 30.000 keping.

Blacklight Shine On dalam hal ini tak berpretensi memecahkan rekor Megaloblast. Album ini sangat penting karena menggunakan sistem baru dalam pendistribusiannya : penggratisan album. Otong memaparkan bahwa Blacklight Shine On, “…menyasar penikmat musik Indonesia dari lapisan menengah ke bawah. Kami menyajikan musik bagus dengan kualitas suara yang bagus pula, tapi dapat dibeli dengan harga murah.” papar Otong, menjelang syuting video klip yang disutradarai Rizal Mantovani.

Blacklight hine On, secara musikalitas memang snagat spektakuler. Namun yang tak kalah hebat adalah pengemasan lirik-lirik khas yang ditulis Otong. Beberapa lagunya, “Kenyataan dalam Dunia Fantasi”, “Semoga Kau Sembuh”, “Ajaran Moral Sesaat”, “Aku Lupa Aku Luka”, dan “Hanya Tinggal Kita Berdua” banyak menyoroti ketimpangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Otong yang menulis semua syair memberikan komitmen, “Kita butuh sesuatu untuk bangsa ini. Dari sinisme yang saya kemukakan di beberapa lagu awal, akhirnya toh saya tetap akan membela negara ini, apapun akibatnya.” Selain menggratiskan CD mereka, Koil juga membagikan album paling ditunggu pecinta musik bawahtanah ini dalam format MP3. untuk mempromosikan album mereka, Koil juga menggelar serangkaian tur mulai November di Jakarta, Bandung, Yogyakata, Surabaya, dan Denpasar.

***

Namun, itu adalah kini. Jauh sebelumya, Koil yang didirikan tahun 1993 oleh Otong, Doni, Imo, dan Leon dirintis dari awal di titik nol. Band yang sejak awal berdiri memutuskan memainkan lagu-lagu ciptaan sendiri itu, merekam 8 lagu mereka dan merilisnya dalam single berjudul Demo From Nowhere dalam format kaset yang dijual terbatas, hanya di Studio Reverse.

Musik Koil adalah musik rock yang dipenuhi sampling suara yang tidak hanya berasal dari instrumen musik tapi juga dari suara-suara yang ada di sekitar kita seperti suara air, besi dipukul, suara-suara binatang, suara orang pidato, dan lain-lain. Dari segi lirik, penulisan lirik-lirik yang mengekspresian rasa marah, kegelapan dan cinta, dituangkan dalam bait-bait lirik berbahasa Indonesia yang tertata apik. Ini adalah suatu nilai plus karena lirik bahasa Indonesia masih jarang dipakai untuk jenis musik rock seperti Koil. Hal inilah yang menarik perhatian Budi Soesatio dari label Project Q untuk merilis album-album Koil. Maka September 1996, KOIL merilis full album pertama yang berjudul Koil. Lagu-lagunya sebagian diambil dari singel Demo From Nowhere. Album ini mendapat tanggapan positif dari khalayak musik Indonesia terutama pencinta musik rock, karena musik dan liriknya dianggap tonggak baru dalam kancah musik rock Indonesia.

Tahu 1998 Koil keluar dari Project Q dan merilis singel Kesepian ini Abadi di bawah label Apocalypse Record, label yang dibuat oleh Otong (Koil) dan Adam (Kubik). Kaset ini diedarkan melalui jaringan distro-distro bawahtanah yang saat itu sudah mulai banyak bermunculan di kota-kota besar. Seiring dengan itu, Koil mencoba konsep baru dalam pertunjukannya, yaitu dengan memasukan unsur-unsur lain dalam pertunjukannya yaitu fashion dan tarian. Kostum dari kulit, berwarna hitam, penuh asesoris logam, boots tinggi, ditambah dengan aksi para penari wanita berpakaian seksi membuat pertunjukan musik Koil menarik dan berbeda dengan yang lain. Koil sempat bereksperimen meremix lagu-lagu Puppen, Burgerkill, dan Jasad, serta ikut dalam berbagai kompilasi sebelum akhirnya merilis Megaloblast, bulan Februari 2001 di bawah label Apocalypse Record. Saat pertama dirilis, distribusi kaset ini dilakukan hanya lewat jaringan distro-distro bawahtanah di Jakarta dan Bandung, pemesanan melalui pos, dan beberapa toko kaset.

Cara ini ditempuh oleh Koil untuk menekan biaya distribusi. Sementara untuk promo, Koil membuat poster-poster dan baligo yang di pasang di jalan-jalan utama—untuk promosi ini, Koil dibantu banyak pihak seperti distro-distro, radio, majalah, restoran—serta memaksimalkan penggunaan internet. Koil juga membuat video klip lagu “Mendekati Surga” dan mengirimkannya ke MTV. Tak disangka ternyata sambutan dari khalayak sangatlah antusias. MTV—kala itu belum menayangkan klip band indie—menyebutkan respon terhadap klip Koil bahkan lebih besar daripada klip Linkin Park. Hal itu membuat pihak MTV mengundang Koil untuk tampil dalam acara MTV Musik Award 2003.

Megaloblast kemudian dirilis ulang oleh Alfa Records bulan Desember 2003 dengan penambahan dua lagu remix dan pendistribusian luas mencakup seluruh Indonesia. Terjadi juga perubahan artwork kover menjadi berwarna hitam gelap. Karenanya, album ini sering disebut juga sebagai album Megaloblack. Untuk promo, Koil menambah dua klipnya, yaitu untuk lagu “Kita Dapat Diselamatkan” dan “Dosa Ini Tak Akan Berhenti.” Prestasi Koil ini mendapat perhatian dari majalah Times Asia, sehingga dalam salah satu tulisannya menyebut Koil sebagai salah satu band rock masa depan Indonesia.

Juni 2005, Koil merilis 2 buah singel terbarunya yang berjudul “Hiburan Ringan Part 1” dan “Hiburan Ringan Part II.” Singel ini masuk dalam soundtrack film horor berjudul 12:00 AM. Masih di bulan yang sama, Koil membuat klip dari lagu “Hiburan Ringan Part II” dan akhirnya September 2007 Koil merilis semua lagu-lagunya dalam album fenomenal Blacklight Shine On.

Scene Bandung

Studio Reverse, tempat di mana Koil pertama kali menitipkan demo mereka untuk dijual, dapat dikatakan sebagai salah satu tonggak kebangkitan scene musik bawahtanah Bandung. Studio ini berdiri tahun 1994, oleh Richard Mutter—saat itu drummer PAS—Dxxxt, dan Helvi Syarifuddin. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris impor lainnya. Richard membangun label independen 40.1.24, rilisan pertamanya adalah kompilasi CD “Masaindahbangetsekalipisan” tahun 1997, berisi band-band indie masa itu, antara lain Burgerkill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya band asal Jakarta. Dapat dikatakan, masa-masa inilah tonggal awal populerisasi wacana Do It Youself (DIY), yaitu sebuah bentuk pemikiran yang mementingkan inisiatif individu dalam membangun gerakan budaya tandingan.

Melalui wacana DIY pula Richard dan bandnya PAS pada tahun 1993, PAS menorehkan sejarah sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka Four Through The S.A.P sebanyak 5000 kaset ludes terjual dalam waktu singkat. Kesuksesan PAS tak lepas dari peran ‘mastermind’ yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut. Ia adalah (alm) Samuel Marudut, Music Director Radio GMR, stasiun radio di Bandung yang khusus memutar musik rock/metal. Radio ini juga memiliki program khusus memutarkan demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Band yang juga kemudian memanifestasikan wacana DIY sejak awal kemunciulan merka dan konsisten adalah Puppen, Pure Saturday, dan Kubik.

Beberapa tahun sebelum berdirinya Puppen, terdapat komunitas lain yang berkumpul di lantai 3 pusat pertokoan Bandung Indah Plaza. Komunitas ini menamakan diri Bandung Death Metal Area, atau Badebah, kebanyakan adalah para pecinta musik thrash, death metal, dam grindcore. Pionir komunitas ini adalah Uwo, vokalis band Funeral, band yang berdiri Sukaasih, Ujungberung. Badebah berkembang pesat. Yang ikut nongkrong kemudian bukan cuma anak-anak metal, tapi juga berbaur dengan punks, hardcore, dan lain-lain. Marchell, penabuh drum Puppen di dua album awal mereka adalah salah satu anggota Badebah yang termuda. Selain Funeral, band yang juga tergabung dalam komunitas ini adalah Necromancy dan Jasad. Sementara itu di Kota Bandung secara umum, band yang seangkatan dengan Funeral adalah Rebels Youth, Succubuss, Insanity, dan Mortir. Badebah juga sempat menjadi program siaran radio Salam Rama Dwihasta di Sukaasih, Ujungberung antara tahun 1992 hingga 1993. Program ini bahkan memiliki rating yang tinggi. Dalam seminggu para penyiar kita—Agung, Dinan, Uwo, Iput—bisa mendapatkan surat dan kartu pos lebih dari dua ratus hingga tiga ratus pucuk.

Di sudut lain, anak-anak Ujungberung yang lebih muda, mulai membentuk komuitas sendiri-sendiri atau bergabung dengan komunitas-komunitas metal yang baru lahir saat itu. Mereka nongkrong di Jogja Kepatihan, Kings, dan Palaguna. Semakin intens bertemu, mereka kemudian sepakat membentuk organisasi pecinta metal ekstrim. Organisasi tersebut kemudian berdiri dengan nama Bandung Lunatic Underground (BLU) tahun 1993. Sosok di baliknya antara lain adalah scenester Ipunk, Romy, Gatot, Yayat, dan Dani.

Di Ujungberungnya sendiri, komunitas kemudian berkembang. Sebelunya di sana sudah ada band Orthodox yang didirikan Yayat (Revolt! Records), Dani (Jasad), AyiOto (Sacrilegious), dan Agus (Sacrilegious) tahun 1988. Band-band kemudian tumbuh semakin subur di Ujungberung ketika Studio Palapa berdiri. Band-band Ujungberung pula yang kemudian rajin merilis album mereka secara independen. Dari sepuluh rilisan scene indie Indonesia tahun 1995 yang berhasil didokumentasikan Majalah Hai, tiga rilisan di antaranya berasal dari Ujungberung, mereka adalah Sacrilegious degan album Lucifer’s Name Be Pray, Sonic Torment album Haatzaai Artikelen, dan Jasad dengan album C’st La Vie. Pergerakan scene Ujungberungan semakin solid ketika mereka membentuk organisasi jaringan kerja sama komunitas metal Indonesia, Exteme Noise Grinding (ENG). Program ENG adalah melakukan propaganda pergelaran musik Ujungberung yang kemudia kita kenal dengan Bandung Berisik, dan membuat zine. Revograms edisi pertama, Maret 1995 buatan ENG disebut-sebut sebagai zine pertama di scene musik bawahtanah Indonesia.

Ujungberung segera menjadi episentrum musik metal bawahtanah Bandung, bahkan Indonesia. Dinamika perkembangan mereka didukung penuh oleh studio latihan da rekaman, Palapa Studio yang dirintis oleh kang Memet Sjaf. Bersama Yayat, Kang Memet pula yang kemudian membangun karakter sound awal Ujungberungan yang khas dan powerfull. Dari studio ini juga lahir band-band yang kini menjadi ikon scene musik metal bawahtanah yang lahir setelah era Orthodox-Funeral-Necromancy-Jasad. Mereka adalah Three Side of Death, Analvomit, Disinherit, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Forgotten, Burgerkill, Naked Truth, Embalmed, Beside, dan sebagainya.

ENG kemudian melebur menjadi lebih cair. Program kegiatan perahan beralih secara alami sesuai dengan kebutuhan saat itu : kru pendukung band-band yang manggung. Maka dimulailah tradisi pembinaan kru di Ujungberung. Mereka kemudian disebut sebagai Homeless Crew, nama yang dibuat oleh Ivan Scumbag, Kimung, dan Addy Gembel sebagai manifestasi dari menolak gaya hidup mapan. Gaya hidup jalanan kemudan mewarai keseharian dan pada giliranya, pola pikir Homeless Crew. Sementara itu, semakin intensnya anak-anak Homeless Crew belajar sound dan alat-alat, memuat mereka semakin bergairah unutk membentuk band. Hingga tahun 1997 setidakya ada enam belas band di Homeless Crew. Mereka sepakat untuk mengumpulkan karya mereka dalam satu komplasi yang mereka namakan Ujungberung Rebels. Tahun 1998 kompilasi itu dirilis oleh Independen Records dengan judul Independen Rebels. Kompilasi ini mendapat sorotan yang baik dari berbagai kalangan. Anak-anak Homeless Crew pun pelan-pelan punya sebutan baru untuk komunitasnya : Ujungberung Rebels.

Pada masa ini, di daerah perkotaan pertumbuhan scene musik indie juga semakin pesat. Berbagai genre lahir dan berkembang, berbagai pertunjukan musik bawahtanah silih berganti digelar di gedung pergeraran musik bawahtanah saat itu, Gor Saparua. Tak tanggung-tanggung hampir setiap minggu sejak Hullaballo I—event musik bawahtanah pertama di Kota Bandung tahun 1994—pertunjukan musik bawahtanah digelar. Namanya macam-macam, Bandung Underground, Gorong-Gorong Bandung, Campur Aduk, Bandung Berisik, Boomer, Master of Underground, dan lain-lain. Pergelaran ini stereotip : menampilkan band-band lokal Bandung, kadang juga mengundang band-band luar Bandung, yang memainkan jenis musik berbeda-beda. Dari panggung inilah besar band-band ikonik semacam Puppen, Jasad, Burgerkill, Forgotten, Sacrilegious, Full of Hate, Pure Saturday, Closeminded, Koil, Motordeath, Noise Damage, Hellgods, Homicide, Nicfit, Rutah, The Clown, Turtles Jr., Noin Bullet, Agent Skins, Jeruji, Helm Proyek, Cherry Bombshell, Sieve, dan lain-lain.

Perlahan setiap komunitas kemudian membangun sebuah jejaring yang mewarnai seluruh aspek kehidupan orang-orang yang hidup di dalamnya. Wujud dari jaringan ini adalah maraknya ompilasi yang dirilis label dalam indie dalam negeri maupun luar negeri yang menyertakan band-band lokal. Tidak berhenti di situ, tahun 1999, FastForward Records merilis beberapa album band luar negeri seperti The Chinkees (Amerika), Cherry Orchard (Perancis), dan 800 Cheries (Jepang). Pada kelanjutannya, malah band-band local Bandung yang kemudian banyak dirilis label asing. Beberapa di antaranya adalah Forgotten, Jasad, Homicide, Domestik Doktrin, dan yang paling aktual adalah Bugerkill.

Perkembangan band yang menggembirakan ini juga ditambah dengan mulai maraknya pembuatan merchandise yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan industri kloting di Kota Bandung. Bisnis distro kecil-kecilan yang telah dirintis Reverse menelurkan banyak embrio lain. Maka kemudian lahirlah klotingan dan distro seperti Rebellion Shop, 347 Boardrider & Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, Riotic, Anonim, Harder, Monik, dan sebagainya. Kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan scene anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan sebagainya.

Selain musik, olah raga ekstrim, dan fashion, literasi juga berkembang pesat di Kota Bandung. Sejak kemunculan Revograms tahun 1995, puluhan zine—media berbagi informasi dan berkomunikasi antar komunitas berupa selembaran atau majalah kecil format fotokopian—lahir bagai jamur di musim hujan. Dapat dikatakan, era zine bisa disebut sebagai kebangkitan kedua literasi Bandung setelah era Majalah Aktuil tahun 1970an yang dibangun oleh Sonny Suriaatmadja, Denny Sabri Gandanegara, dan Remy Sylado. Zine-zine ini diedarkan di distro-distro. Ada yang gratisan, ada juga yang dijual. Isinya memuat berbagai kabar dan isu mengenai dinamika komunitas yangbersangkutan dengan zine dan scene indie Bandung, Indonesia, dan internasional secara umum.

Tak lama setelah kemunculan Revograms, kemudian lahirlah fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie Bandung. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestylenya. Trolley akhirnya kolaps tahun 2002, sementara Ripple berubah dari pocket magazine ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis.

Pada masa pertengahan1990an hingga tahun 2000an, ketika industri fashion masih dalam taraf perkembangan, distro-distro masih menyediakan ruang bagi scenester untuk saling bertemu, berdiskusi, dan saling berbagi informasi. Distro menjadi semacam ruang sosial tempat bertemu komunitas dan tempat peredaran zine. Ini terlihat dari isi zine yang hampir semuanya memuat kabar-kabar berkaitan dengan dinamika komunitas. Ketika orientasi distro tahun 2000an semakin meleceng dari pendukungan dinamika komunitas menuju ‘dagang murni’, ruang-ruang diskusi semakin terbatas. Zine pun bermutasi bentuknya, bukan lagi media propaganda pengembangan komunitas, tempat berbagi informasi, dan saling berkomunikasi, tetapi hanya berperan sebagai katalog dagang semata.

Namun demikian, hal itu tak mengganggu teakd pengembangan literasi di scene bawahtanah Bandung. Puncaknya adalah tahun 2000an dengan berdirinya toko-toko buku yang diawali dengan berdirinya Tobucil, Ultimus, Rumah Buku, dan Omuniuum. Tempat-tempat diskusi dan ruang peredaran zine yang dulu menggunakan ruang-ruang distro, kini beralih ke toko buku. Selain toko buku, yang kemudian berkembang adalah penerbitan independen yang tumbuh dari kultur komunitas musik. Minor Books adalah salah satu penerbitan yang berkomitmen mengangkat karya-karya dan sejarah komunitas. Buku terbitannya, Myself : Scumbag Beyond Life and Death karya Kimung tahun 2007 dapat disebutkan sebagai karya pertama yang mendokumentasikan scene musik bawahtanah secara komprehensif dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir. Yang patut dicermati adalah bahwa buku ini merupakan buku pertama dari rangkaian buku trilogi sejarah scene bawahtanah Bandung yang akan digarap Minor Books. Buku kedua rencananya berjudul Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels, dan buku ketiga rencananya Bawahtanah Bandung 1980-2010.

Sementara itu, perkembangan fashion di Kota Bandung ternyata tak tumbuh hanya di kloting saja. Berbagai macam bentuk perayaan di ruang-ruang publik menyumbangkan hal yang besar bagi dinamika pertumbuhan fashion. Dari mulai acara-acara semacam konser musik, Pasar Seni ITB, Dago Festival sampai pada kegiatan demontrasi politik dan balapan motor yang sering muncul dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir di jalan-jalan utama kota Bandung memfasilitasi orang-orang Bandung untuk keluar rumah dan mempertontonkan dirinya. Hal inilah yang agaknya kemudian membawa berkah istimewa bagi perkembangan musik, juga termasuk perkembangan street fashion di Bandung, yang kemudian sedikit banyak juga ikut mendorong pertumbuhan distro-distro yang ada untuk terus berkembang biak. Selain itu, warga Kota Bandung juga mendapatkan sarana fashion daur ulang di wilayah Tegalega yang konon dihuni sekitar 3000 lapak penjaja pakaian bekas pakai yang kebanyakan diimpor dari luar negeri. Berbeda dengan distro, bisnis impor pakaian bekas yang sejak tahun ’95-an berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain semisal daerah Cibadak, Kebun Kelapa, sampai akhirnya di daerah Tegalega ini terlihat jauh lebih sederhana. Walaupun sekarang aktifitas di Tegalega sudah dipindahkan ke tempat yang lain (daerah Gedebage, Ujungberung), tempat ini tetap memiliki pengaruh yang khusus bagi perkembangan fashion di kota Bandung.

Sementara itu, sebuah fenomena baru merebak di awal tahun 2000an ketika Gor Saparua akhirnya dilarang digunakan untuk konser-konser musik. Setelah itu, pertunjukan musik bawahtanah juga semakin jarang diadakan karena semakin dipersulitnya masalah perizinan dan kendala dalam soal dana. Dapat dikatakan ini adalah sebuah fase yang paling memprihatinkan dalam perkembangan scene musik indie Bandung di mana kota yang dinasbihkan sebagai barometer musik Indonesia ini ternyata sama sekali tak mempunyai sarana yang memadai sebagai gedung konser, juga tak memiliki regulasi yang baik yang dapat mengembangkan potensi seni warga masyarakatnya. Pergelaran yang kemudian marak adalah pergelaran setingkat pensi-pensi yang umumnya menyasar musik-musik yang lagi tren. Pertengahan tahun 2000 rock n’ roll modern dan emocore semakin merajai panggung-panggung musik Bandung.

Namun demikian, militansi kaum bawahtanah bagaikan tak ada habisnya. Tak bisa manggung di kelas Saparua, scene ini muali bergerak perkomunitas. Mereka menggelar pertunjukan-pertunjukan kecil, di tempat-tempat yang lebih kecil, dengan audiens yang lebih sedikit, eksklusif, dari mereka-oleh mereka-untuk mereka. Bebrapa tempat yang sering digunakan adalah TRL Bar di Braga, diskotik Nasa di Jalan Asia Afrika, dan Gedung AACC di Braga. Pertunjukan-pertunjukan juga kadang digelar di ruang-ruang inisiatif semacam Commonroom, selain juga curi-curi di ruang publik manapun yang mau bekerja sama dengan komunitas. Anak punk misalnya, biasa menggelar gigs di Villa Putih, Lembang. Atau anak-anak Ujungberung Rebels dengan faksi baru mereka Bandung Death Metal Syndicate yang menggelar Bandung Deathfest berkolaborasi dengan kelompok kaum adat Sunda. Ujungberung Rebels sendiri adalah satu-satunya komunitas bawahtanah yang mendapatkan pengakuan sebagai kampong adapt oleh kelompok adat Sunda. Mereka diberi nama “Kelompok Kampung Sunda Underground.”

Untunglah, kondisi yang tidak kondusif ini diimbangi dengan berkembangnya teknologi media dan informasi. Salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi rekaman yang memungkinkan band-band merekam musik mereka dengan menggunakan komputer, sehingga tidak lagi harus bersandar pada industri mainstream dan produk impor. Saat ini, industri musik di Bandung sudah biasa diproduksi di studio-studio kecil, rumah, maupun di kamar kost. Selain itu, perkembangan di bidang teknologi informasi juga memudahkan setiap komunitas yang ada untuk berhubungan dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Melalui jaringan internet yang sudah berkembang sejak tahun 1995-an, Kota Bandung saat ini sudah menjadi bagian dari jaringan virtual yang semakin membukakan pintu menuju jaringan global.

Kehadiran MTV pun setidaknya memiliki peran yang tidak sedikit, karena melalui stasiun inilah beberapa band underground Bandung mendapat kesempatan untuk didengar oleh publik secara lebih luas. Selain itu, para presenter MTV siaran nasional pun tidak segan-segan untuk memakai produk-produk dari kloting lokal yang berasal dari Kota Bandung, sehingga produk mereka menjadi semakin populer. Dampaknya tentu saja tidak kecil. Selama beberapa tahun terakhir warga Kota Bandung mungkin sudah mulai terbiasa dengan jalan-jalan yang macet pada setiap akhir minggu. Selain menyerbu factory outlet, para pengunjung yang datang ke Kota Bandung pun biasanya ikut berbondong-bondong mendatangi distro-distro yang ada, sehingga memicu pola pertumbuhan yang penting, terutama dari segi ekonomi.

Pertumbuhan ini ternyaa tidak berbanding lurus dengan penyediaan sarana-sarana yang dapat menunjang kreativitas anak muda Bandung untuk terus berkarya. Tidak adanya gedung konser lambat laun terasa menjadi kendala yang menghambat perkembangan dinamika musik di Kota Bandung. Hal ini kemudian mencuat ketika tanggal 9 Februari 2008, sebelas orang penonton meninggal di pergelaran launching album band Beside di Gedung AACC. Selama konser, semua berjalan dengan sangat tertib hingga akhirnya dua puluh menit setelah konser berakhir dan para penonton yang berebut untuk keluar bentrok dengan para penonton yang berebut ingin masuk ke dalam arena pertunjukan tanpa tahu kalau gig telah berakhir. Akhirnya, sebelas orang mati lemas dan terinjak-injak dalam tragedi tersebut.

Tragedi ini pada kelanjutannya membukakan mata banyak pihak bahwa betapa kita sudah terlalu asyik sendiri tanpa menyadari jika komunitas ini semakin berkembang dan perlu untuk dibina. Betapa komunitas ini semakin besar dan karenanya diperlukan sebuah ruang yang lebih besar untuk menunjang perkembangan mereka. Tragedi ini juga kemudian dijadikan sebagai ajang konsolidasi antar komunitas kreatif di Kota Bandung untuk maju bersama dalam sebuah pergerakan ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang inklusif, integratif, aplikatif, dan strategis. Dua di antara banyak sekali simpul yang terbentuk secara alami dalam proses ini adalah Solidaritas Independen Bandung (SIB) dan Bandung Creative City Forum (BCCF) yang di dalamnya terdiri dari komunitas berbagai disiplin keilmuan, dari musisi, perupa, penulis, teknokrat, desainer, arsitek, bikers, ahli hukum, pengusaha, mahasiswa, aktivis lingkungan, penggiat film dan literasi, kelompok kampung adat Sunda, dan lain-lain. Salah satu manifestasi simpul-simpul komunitas ini adalah digelarnya Helarfest 2008 yang merupakan sebuah rangkaian 31 event yang diikuti komunitas-komunitas kreatif Kota Bandung yang digelar sepanjang Juli hingga Agustus 2008.

Scene Jakarta

Di Jakarta, komunitas music bawahtanah pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal—demikian mereka disebut karena saat itu istilah ‘underground’ atau ‘indie’ masih belum popular—biasa nongkrong di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Krisna J. Sadrach pentolan Sucker Head mengenang, anak-anak yang nongkrong di sana oleh Tante Esther, pemilik Pid Pub, sering diberi kesempatan untuk bisa manggung. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal. Beberapa band pasti tak asing bagi kita, seperti Roxx, Sucker Head, Commotion Of Resources, Painfull Death, Rotor, Razzle, Parau, Jenazah, Mortus hingga Alien Scream. Beberapa band kemudian bereinkarnasi di sini, misalnya Commotion Of Resources yang merupakan cikal bakal Getah dan Parau yang merupakan embrio Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama sutradara Rudi Soedjarwo. Rotor sendiri dibentuk tahun 1992 setelah Irvan Sembiring merasa kurang ekstrim bermain di Sucker Head.

Saat itu, Jakarta juga memiliki stasiun radio yang khusus memutarkan lagu-lagu rock dan metal. Radio tersebut adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya, Radio SK, dan yang paling legendaris, Radio Mustang. Mereka punya program bernama Rock N’ Rhythm yang mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain radio, media massa yang kerap mengulas berita-berita rock/metal pada waktu itu adalah Majalah HAI, Tabloid Citra Musik dan Majalah Vista.

Tempat nongkrong yang lain adalah di pelataran Apotik Retna, daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng anak-anak metal ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Ayu Azhari bahkan sempat dipersunting (alm) Jodhie Gondokusumo (vokalis Getah dan Rotor) menjadi istri. Lokasi lainnya adalah, tentu saja, Studio One Feel. Hampir semua band bawahtanah Jakarta pasti pernah berlatih di sini. Sementrara itu, tempat khusus manggung selain Pid Pub adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café). Di luar itu, di paling pentas seni SMA dan acara musik kampus band-band bawahtanah Jakarta sering unjuk gigi kemampua mereka. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), musik kampus Universitas Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong), dan Universitas Jayabaya (Pulomas).

Konser Sepultura (1992) dan Metallica (1993) di Jakarta memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band metal sejenis, terutama di Jakarta. Banyak band-band bawahtanah kemudian dilirik mayor label dan dirilis albumnya. Di antaranya adalah Roxxx self-tittled, Rotor album Behind The 8th Ball (AIRO), dan Sucker Head dengan album The Head Sucker.

Setelah era inilah baru benar-baner terbentuk scene-scene bawahtanah dalam arti yang sebenarnya di Jakarta. Konsolidasi scene sering dilakukan di lantai 6 game center Blok M, di sebuah resto waralaba, dan sebagian lainnya memilih nongkrong di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah. Aktifitas mereka selain nongkrong dan bertemu kawan-kawan sehasrat adalah bertukar informasi tentang band-band lokal dan global, barter CD, jual-beli t-shirt, hingga merencanakan pergelaran konser. Di era ini hype musik metal digandrungi adalah death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang tumbuh dari scene ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan masih banyak lagi. Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta dengan judul It’s A Proud To Vomit Him.

Tahun yang sama juga mencatatkan kelahiran fanzine musik bawahtanah pertama di Jakarta, Brainwashed Zine yang dirilis oleh Wenk Rawk. Edisi pertamanya terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer berbasis sistem operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n’ paste tradisional, Brainwashed diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara Wenk Rawk. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk, bahkan ska. Tahun 1997, Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover penuh warna. Brainwashed hanya bertahan hingga edisi ke tujuh tahun 1999, sebelum akhirnya di tahun 2000 Wenk Rawk menggagas e-zine di internet dengan nama http://www.bisik.com. Media-media yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta adalah Morbid Noise zine, Gerilya zine, Cosmic zine, dan Rottrevore zine. Rottrevore merupakan kerja sama Rio dari Jakarta dengan Ferly, scenester pionir Ujungberung Rebels.

Tanggal 29 September 1996 adalah tanggal bersejarah bagi scene musik bawahtanah Jakarta. Hari itu, Poster Café milik rocker gaek Ahmad Albar pertama kali menggelar acara musik bawahtanah “Underground Session”. Acara ini kemudian dirutinkan tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Dari café inilah kemudian lahir band indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif, hingga ke ranah musik brit/indie pop, hingga ska. Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang’ manggung di sana. Dari Bandung, Burgerkill adalah salah satu langganan Poster Café. “Underground Session” Poster Café juga yang merupakan panggung scene bawahtanah bagi Burgerkill.

Setelah kerusuhan besar akibat bentrok anak-anak punk dengan warga dan kepolisian dalam acara Subnormal Revolution tanggal 10 Maret 1999, Poster Café akhirnya ditutup. Tutupnya Poster Café di luar dugaan malah menyuburkan venue-venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie. Café Kupu- Kupu di Bulungan misalnya identik dengan scene musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 café dan Café Gueni di Cikini untuk scene Brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super- sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut, Devotion dan banyak lagi. Di antara semuanya, mungkin yang paling `netral’ dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yang terletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat inilah, 13 Januari 2002, Puppen `menghabisi riwayat’ mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen : Last Show Ever”.

Scene Yogyakarta

Para scenester Yogyakarta ternyata tidak ketinggalan dalam mengembangkan scene indie di kotanya. Berbagai komunitas tumbuh di kota ini antara awal hingga pertengahan tahun 1990an, mulai dari komuitas musik metal, punk, hardcore, musik elektronik, dan industrial. Salah satu komunitas yang paling menonjol mungkin adalah Jogja Corpse Grinder. Dari tangan scenester-scenester komunitas inilah, sempat lahir fanzine metal Human Waste, majalah Megaton, serta pergelaran musik metal bawahtanah legendaris di Yogyakarya, Jogja Brebeg. Dari pergelaran-pergelaran musik metal bawhatanah yang digelar komunitas inilah kemudian lahir band-band metal bawahtanah lawas yang kemudian mewarnai scene kota ini. Mereka antara lain adalah Death Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis, dan Ruction.

Menginjak tahun 1997, scene punk, hardcore, industrial di Yogyakarta mulai bernai menampakkan taringnya. Sebutlah band-band yang kemudian begitu menginspirasi kaum-kaum muda di Yogyakarta seperti Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black Boots, DOM 65, Teknoshit hingga yang paling terkini, Endank Soekamti. Di ranah scene indie rock/pop, beberapa nama yang patut di beri highlight adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry’s Pop, sampai The Monophones. Dari Yogyaarta pula lahir band ska yang sangat keren, Shaggy Dog. Band yang dikontrak Sony ini pernah juga menjajal panggung Eropa dalam tur Eropa mereka selama tiga bulan penuh!

Dalam hal pergelaran musik, selain Jogja Brebeg, Yogyakarta juga tercatat memiliki pergelaran khas lainnya, yaitu Parkinsound. Gelaran ini adalah ajang unjuk gigi band-band yang menganut aliran musik elektronik. Bisa dikatakan, Parkinsound merupakan festival musik elektronik yang pertama di Indonesia. Beberapa band yang besar dari festival Parkinsound adalah Bangkutaman, hingga Garden Of The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch dan Mesin Jahat.

Scene Surabaya

Scene musik bawahtanah Surabaya mulai tumbuh subur sejak lahirnya band-band independen beraliran death metal dan grindcore sekitar pertengahan tahun 1995. Band-band ini tumbuh dari kultur festival tahunan Surabaya Expo di mana band-band metal bawahtanah seperti Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, dan Bushido manggung di sana. Surabaya Expo pada kelanjutannya ternyata mempersatukan band-band tersebut. Setelah event itu, band-band tersebut sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen.

Organisasi ini bermarkas di daerah Ngagel Mulyo, bertujuan untuk mewadahi band, sekaligus menjadi pemersatu dan sarana sosialisasi informasi antara musisi, band-band, atau pecinta msuik metal bawahtanah. Markas Independen juga merupakan sebuah studio milik band metal berpersonil cewek semua, Retribeauty, di mana band-band metal bawahtanah Surabaya sering berlatih di sana. Anggota-anggota organisasi merupakan cikal bakal terbentuknya scene bawahtanah metal di Surabaya di masa-masa selanjutnya. Organisasi ini sangat serius dalam mengembangkan komunitasnya. Mereka malah memiliki divisi label rekaman sendiri. Independen juga sempat merencanakan sebuah pergelaran msuik metal bawahtanah se-Surabaya di taman Remaja, namun karma kurang konsolidasi ke dalam organisasi, terpaksa rencana pergelaran ini batal. Independen sendiri kemudian bubar bulan Desember 1997 ketika dinamika musik bawahtanah Surabaya semakin hebat. Organisasi ini dibubarkan sebagai upaya memperluas jaringan agar semakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotak komunitasnya.

Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya Independen, divisi record label mereka tercatat sempat merilis beberapa buah album milik band-band death metal/grindcore Surabaya, misalnya debut album milik Slowdeath yang berjudul From Mindless Enthusiasm to Sordid Self-Destruction, September 1996, debut album Dry berjudul Under The Veil of Religion yang rilis tahun 1997, album Carnal Abuse milik Brutal Torture, Wafat album Cemetery of Celerage, dan debut album Fear Inside yang berjudul Mindestruction. Tahun-tahun berikutnya barulah bawahtanah metal di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisan album milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.

Organisasi pecinta metal ekstrim setelah Independen adalah Surabaya Underground Society (SUS). Organisasi ini dideklarasikan tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 1945, saat diselenggarakannya pergelaran Amuk I. Hingga saat itu, Surabaya sedang demam band black metal. Bahkan salah satu pionir death metal Surabaya, Dry, berubah aliran musik menjadi black metal dan semakin memberikan nuansa baru di kancah musik bawahtanah Surabaya. Masa ini black metal menguasai scene musik metal bawahtanah Surabaya.

Merasa semakin kuat, anak-anak black metal Surabaya meutuskan untuk memisahkan diri dari SUS dan mendirikan organisasi tersendiri khusus untuk anak-anak black metal. Organisasi anak-anak black metal tersebut akhirnya berdiri dengan nama Army of Darkness, bermarkas di daerah Karang Rejo. Organisasi ini juga yang kemudian menyebabkan SUS bubar beberapa bulan setelah deklarasi pendiriannya. Army of Darkness juga menyumbangkan semagat indie kepada scene musik bawahtanah Surabaya. Didukung oleh massa yang sangat banyak, black metal kemudian mendominasi scene ekstrem metal di Surabaya. Mereka juga lebih intens dalam menggelar event-event musik black metal karena banyaknya jumlah band black metal yang muncul. Tercatat kemudian event black metal yang sukses digelar di Surabaya seperti Army of Darkness I dan Army of Darkness II.

Berbeda dengan black metal, band-band death metal selanjutnya memutuskan tidak ikut membentuk organisasi baru. Namun tak berarti pergerakan mereka melempem. Di bulan September 1997 Amuk II kembali digeber, kini digelar di di IKIP Surabaya. Event ini kemudian mencatat sejarah sendiri sebagai event paling sukses di Surabaya kala itu. 25 band death metal dan black metal dari dalam dan luar kota tampil memeriahkan gelaran itu sejak pagi hingga sore hari dan ditonton oleh kurang lebih 800 – 1000 orang.

Dengan dinamika tersebut, anak-anak death metal kembai terpacu untuk membuah sebuah wadah perkumulan pecinta death metal yang baru. Tanggal 1 Juni 1998 berdirilah komunitas bawahtanah Inferno 178 yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada, kawasan Jl. Prof. DR. Moestopo. Di sinilah mereka bergabung membuat divisi-divisi pengembangan komunitas mereka sendiri. Ada distro, studio musik, indie label, fanzine, warnet, serta event-event organizer yang secara intens menggarap berbagai pergelaran musik bawahtanah Surabaya. Event-event yang pernah di gelar oleh Inferno 178 antara lain adalah, Stop the Madness, Tegangan Tinggi I dan II, hingga Bluekhutuq Live. Dari pergelaran-pergelaran musik tersebut kemudian mencuat nama-nama yang kini tak asing lagi bagi kita, seperti Slowdeath, The Sinners, Severe Carnage, System Sucks, Freecell, dan Bluekuthuq. Inferno 178 juga menggagas terbitnya fanzine Surabaya bernama Post Mangled yang pertama—dan terakhir—kali terbit sebagai sebuah isu di pergelaran Tegangan Tinggi I di kampus Universitas Airlangga. Acara ini tergolong kurang sukses karena pada waktu yang bersamaan juga digelar sebuah event black metal.

Karena Post mangled tak juga terbit, para scenester Surabaya kemudian menerbitkan Garis Keras Newsletter sebagai antisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjangan informasi di dalam scene. Newsletter ini terbit pertama kali bulan Februari 1999 dengan format fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman. Isinya mengulas berbagai aktivitas musik bawahtanah metal, punk hingga hardcore di tingkat local Surabaya dan Indonesia, serta scee global dunia. Garis Keras Newsletter bertahan hingga edisi ke dua belas.

Di ranah label, hingga tahun 2000 Inferno 178 masih menggunakan nama Independen sebagai nama label mereka. Memasuki tahun 2000 label Inferno 178 Productions resmi memproduksi album band punk tertua di Surabaya, The Sinners denga albumnya Ajang Kebencian. Selanjutnya label Inferno 178 Production ini kemudian lebih terfokus untuk menggarap rilisan-rilisan berkategori non-metal. Untuk mendukung rilisan album band-band metal Surabaya, mereka membentuk sebuah label tersendiri yang diberi nama Bloody Pigs Records. Label rekaman ini diurus oleh Samir, kini gitaris Tengkorak, dengan album kedua Slowdeath yang berjudul Propaganda sebagai proyek pertamanya. Proyek ini kemudian dilengkapi dengan pergelaran konser promo tunggal Slowdeath di Café Flower bulan September 2000.

Scene Malang

Scene musik bawahtanah Malang muali bagkit dari kubur sejak awal hingga pertengahan tahun 1990an. Tak namun, tak diragukan kebangkitan scene metal bawahtanah lah yang pertama kali enstimulasi pergerakan scene indie di Malang. Adalah komuntas musik metal bawahtanah Total Suffer Community (TSC) yang menjadi motor penggerak bagi kebangkitan komunitas rock bawahtanah di Malang sejak awal 1995. Disebut-sebut juga, pergerakan scene musik bawahtanah Malang sangat mirip dengan dinamika scene yang terjadi di Kota Bandung. Hal ini dpat ditelaah dari persamaan kondisi kedua kota. Baik Malang maupun Bandung sama-sama beriklim sejuk, didesain oleh desainer kota yang sama untuk kepentingan pemukiman orang Eropa dan pusat kegiatan militer, dan ini : banyak scenester Malang yang digembleng langsung di kantung-kantung komunitas musik bawahtanah Bandung decade awal dan pertangahan 1990an.

Sebut saja Samack yang sempat “magang” di Ujungberung serta klaster-klaster lain seperti Cihapit, Cihampelas, dan Tamansari—pusat-pusat metal di Kota Bandung. Atau scenester lain seperti Afril, Budi, dan Arfan yang setia berhubungan dengan scenester-scenester Bandung di masa-masa awal kebangkitannya. Merekalah yang kemudian membangun TSC yang merangkul seluruhpecinta musk metal secara umum. Alhasil, anggota TSC terdiri dari berbagai macam musisi lintas-scene, walau tetap saja didominasi anak-anak metal. Konser rock bawahtanah yang pertama kali digelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini. Acara bertajuk Parade Musik Bawahtanah tersebut digelar di Gedung Sasana Asih YPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-band lokal Malang seperti Bangkai, Ritual Orchestra, Sekarat, Knuckle Head, Grindpeace, No Man’s Land, The Babies, dan juga band-band asal Surabaya seperti Slowdeath dan The Sinners.

Beberapa band Malang lainnya yang patut di beri kredit antara lain Keramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya Rotten Corpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor style brutal death metal di Indonesia. Album debut mereka yang berjudul Maggot Sickness saat itu menggemparkan scene metal di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan kualitas rekamannya yang top.

Belakangan band ini pecah menjadi dua dan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth, hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untuk kedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast Zine yang diterbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samack pada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis band Grindpeace yang kemudian eksis di band crust-grind gawat, Extreme Decay. Kini, arek-arek Malang punya webzine sendiri yang digagas para pionir tadi. Namanya www.apokalip.com yang menawarkan tempat lebih luas untuk berbagi informasi dan menjalin komunikasi antara sesame scenester di manapun berada.

Scene Bali

Tak jauh dengan di Bndung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang, di Bali pun yang menjadi motor penggerak dinamika perkembangan scene bawahtanah, maka kita akan melihat scene metallah yang pertama kali menyodok permukaan. Salah satu komunitas metal awal yang lahir di Bali adalah komunitas 1921 Bali Corpsegrinder di Denpasar. Di sinilah para scenester awal seperti Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan Sabdo Moelyo berkumpul dan membangun scene Bali. Dede adalah editor majalah metal Megaton yang terbit di Yogyakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine metal Indonesia Corpsegrinder (kemudian hijrah ke Anorexia Orgasm), Age adalah pengusaha distro yang pertama di Bali sejak tahun 1998, dan Moel adalah gitaris sekaligus vokalis band death metal etnik, Eternal Madness yang aktif menggelar konser bawahtanah di sana. Nama “1921” diambil dari durasi siaran program musik metal mingguan di Radio Cassanova, Bali yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.

Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalan sendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise, tanggal 20 Oktober 1996 menggelar konser musik bawahtanah besar pertama di Bali bernama Total Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil diantaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium, Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- band luar Balinya adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal, Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Yogyakarta). Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hingga sekarang menjadi festival rock bawahtanah tahunan di sana. Salah satu alumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seantero nusantara adalah band punk asal Kuta, Superman Is Dead. Mereka malah menjadi band punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 album oleh Sony Music Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang stand out di antaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyes dan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis album ke tiga mereka dalam waktu dekat.

Memasuki era 2000-an scene indie Bali semakin menggeliat. Kesuksesan S.I.D memberi inspirasi bagi band-band Bali lainnya untuk berusaha lebih keras lagi, toh S.I.D secara konkret sudah membuktikan kalau band `putera daerah’ pun sanggup menaklukan kejamnya industri musik ibukota. Untuk mendukung band-band Bali, drummer S.I.D, Jerinx dan beberapa kawannya kemudian membuka The Maximmum Rock N’ Roll Monarchy (The Max), sebuah pub musik yang berada di jalan Poppies, Kuta. Seringkali diadakan acara rock reguler di tempat ini.

Yang fenomenal mungkin adalah pencapaian Rudolf Dethu, sosok scenescter kawakan dari Bali yang sukses membawa S.I.D, band punk rockabilly dari Bali dari band kecil kelas indie menjadi raksasa punk nomer satu di Indonesia saat meriilis album Kuta Rock City dan menjual albumnya sampai 300 ribu keping lewat Sony BMG. Dethu boleh dibilang adalah seorang Malcom McLaren untuk band Sex Pistols, seorang manajer yang sukses juga membenahi fashion dari band miliknya. Selain karena dirnya adalah pemilik kloting Suicide Glam dengan desain bergaya punk dan rockabilly yang saat ini butiknya tersebar sampai di Australia dan Wurzburg, Jerman.

***

Maka demikianlah, semnagat bawahtanah terus menerus hidup hingga hari ini. Beberapa konsep refleksinya berevolusi dari underground di era 1990 awal, ke DIY di era 1990 pertengahan, hingga independen/indie di era 2000an. Akses internet yang semakin cepat hari ini juga sangat mendukung dinamika perkembangan scene ini. Akses informasi dan komunikasi yang terbuka lebar membuat jaringan antar komunitas seluruh Indonesia bahkan dunia semakin mudah dan terbuka lebar. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak bermunculan dengan menawarkan gaya musik yang lebih beragam. Trend indie label berlomba-lomba merilis album band-band lokal juga merupakan dinamika yang menggembirakan. Ratusan band baru lahir, puluhan indie label ramai-ramai merilis album, ratusan distro/kloting dibuka di seluruh Indonesia, ruang-ruang inisiatif semakin gencar membuaka ranah-ranah kreativitas scene, dan jejaring semakin mantap meneguhkan potensi politik, social, ekonomi, dantentu saja scene ini.

Namun itu adalah hasil. Yang tetap tak boleh dilupakan adalah proses menuju itu semua. Di dalamnya terkandung prinsip kebebasan dalam berkarya, kemandirian dalam mencipta, otonom dalam bersikap, berdiri tegak bicara lantang, dan sisanya, biarlah sejarah yang mencatat semuanya. Seperti kata Jim Morrison, each day is a drive thru history

Penulis adalah rekreasioner dan adiktivis akut, editor MinorBacaanKecil dan Minor Books

Bacaan Lebih Lanjut :

Heryanto, Yulli. 2001. Sejarah Musik Underground Bandung, 1990-2000, skripsi. Bandung : Fakultas Sastra, Unpad.

Iskandar, Gustaff H. 2003. “Fuck You, We are From Bandung”, makalah untuk disampaikan di Kongres Kebudayaan VII di Bukitinggi tanggal 20-22 Oktober 2003, pada sesi “Budaya Industri dan Pergulatan Identitas”. http://www.hetero-logia.blogspot.com

Kimung. 2007. Myself : Scumbag Beyond Life and Death. Bandung : Minor Books

Pratama, Wahyudi. 2007. A Little “Underground Music History” In Indonesia. www.mumet.shemut.net

_____­­­­___. 2006. Sejarah Musik Rock Indonesia. http://www.first-things-first.blogspot.com

http://www.apokalip.com

www.burgerkillofficial.com

www.commonroom.info

www.kimun666.wordpress.com

www.megaloblast.blogspot.com

http://www.musikator.com

www.reno-asnanda.blogspot.com

www.supri-online.com

Ayo Kita ke Mana!

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

AYO KITA KE MANA!

 

Ayo kita ke mana! Katanya BBM naik tapi pom bensin kok makin banyak aja. Dan amboy.. itu motor kok makin marak aja dijual bak pisang goreng, ditendai di pinggir jalan di tengah ramai kampanye lingkungan hidup. Dan saat lingkungan hidup berbanding lurus dengan sarana publik, kok Taman Dago 34 diklaim Taman Flexi. Ayo kita ke mana!

Katanya rokok menyebabkan kanker paru-paru, impotensi, dan gangguan kehamilan dan jantung, tapi milyaran batang rokok diproduksi dan dikonsumsi manusia seluruh dunia setiap pagi. Katanya mari berantas pornografi dan pornoaksi, tapi tabloid mesum kok makin marak dan mudah dibeli bahkan oleh anak-anak SD, jua lihat itu penari latar dangdutan yang bodies all i see, hingga remaja belajar ciuman yang disinetronkan. Ayo kita ke mana!

Katanya berantas teroris tapi kenapa Amerika yang hobi perang kok dibiarkan langlangi buana kita. Katanya mari perhatikan pendidikan anak-anak kita tapi kok biayanya makin melambung aja. Katanya mari hidup bersahaja dan prihatin di zaman sulit ini tapi kenapa pak menteri yang mobilnya puluhan kok masih aja minta naik gaji. Katanya akses layanan sosial dipermudah tapi kok mentok jargon ‘kalo bisa dipersulit kenapa dipermudah’. Ayo kita ke mana!

Katanya media independen tapi kok nyerang ke sana ke mari, takut sama ini sama itu, parno lirik kiri kanan, ga jalan lurus dan akhirnya kejerembab. Brukkk! YuHuu! Katanya nasionalis tapi berlevis, bercoca cola, dan bermarlboro. Katanya patriotisme tapi kurikulum ga pernah ramah sama potensi anak. Semua pukul rata, yang low adalah si bodoh. Hebat nian! Katanya mari lestarikan budaya tradisional tapi kok bentuknya direduksi di sana sini menurut kepentingan wisatawan. Ayo kita kemana!

Katanya demokrasi tapi beda kentut dikit aja diprotes habis-habisan terus dibungkam bahkan dibom diluluhlantakkan. Katanya mari perhatikan petani kok masih aja ngimpor beras. Katanya tegakkan hukum kok koruptor bebas merdeka sih. Katanya merdeka kok masih dicurigai sih. Katanya dicurigai kok disuburkan sih. Katanya disuburkan kok setelah tumbuh banyak dibantai abis sih. Katanya dibantai abis kk disisain sih. Katanya disisain kok ngggak ada sih. Katanya ada kok nggak ada sih. Ayo kita ke mana!

Katanya mari berantas AIDS tapi kok ngelegalin seks bebas dengan bagi-bagiin kondom dan ngesahin injecting drugs dengan ngasi-ngasiin jarum gratis. Katanya berantas premansime, tapi di pos-pos pelayanan sosial dari layanan akte lahir, KTP, KTM, SIM, STNK, SKKB, dll., jutaan calo (berseragam dan tidak) menyeringai “duit siap semua beres”. Ayo kita ke mana!

Katanya khotbah tapi kok isinya gak nyejukkin hati malah kayak manas-manasin mempovokasi. Katanya berantas korupsi tapi yang ngebrantas malah terima suap. Katanya kampanye pelestraian penyu tapi kok di Bundaran HI. Katanya seni kok mesum. Katanya mesum kok legal. Katanya legal kok deg-degan. Katanya deg-degan kok dijalani juga. Katanya dijalanin, kok gantel gituh. Ah, kamu mah! Ayo kita ke mana!

Katanya berani beda, kok pada sama sih. Katanya sama, kok gak mau di samain sih. Katanya ke mana, kok nggak ke mana-mana sih.

Ayo kita ke mana!!! Kaleuuuummm..

Aahhh… instanlah hirup mah… babari! Tong rea nanya!

Maka instanlah hidup kita.. Serba cepat, serba cepat, serba cepat… Saking cepat kita sepertinya lupa gimana merenung dan syukuri hari ini.. Cepat, cepat, cepat!

Ayo Kita Kemana!!! Kaleuuuuuummmmm……http://kimun666.multiply.com//kimsyalalala…

Pantun Sunda

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

PANTUN SUNDA

 

Seni pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu yang serupa sisindiran dalam tradisi Sunda (puisi yang terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi). Pantun Sunda merupakan seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan dinyanyikan. Seni pantun dilakukan seorang juru pantun diiringi kacapi yang dimainkannya sendiri.

Dalam naskah Siksa kandang Karesian (1518M) dipaparkan pantun digunakan sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi. Asalnya cerita pantun seputar kisah kegagahan raja-raja di atas. Pada perkembangannya cerita pantun terus bertambah. Kita pasti tak asing dengan Lutung Kasarung, Langgasari, Ciung Wanara, Mundinglayadikusumah, Dengdeng Pati Jayaperang, Ratu Bungsu Kamajaya, Sumur Bandung, Demung Kalagan, dll. Seni tua usianya ini melahirkan beberapa ahli pantun seperti Rd. Aria Cikondang dari Cianjur (abad 17), Aong Jaya Lahiman dan Jayawireja (abad 19), Uce dan Pantun Beton Wikatmana dari Bandung (awal abad 20) dan Ki Buyut Rombeng dari Bogor.

Seni pantun Sunda umumnya merupakan kisah yang disampaikan oleh pendongeng profesional pada zamannya yang seringkali berkelana dari desa ke desa untuk menyampaikan ceritanya kepada semua orang. Tujuan sang juru pantun bertutur adalah untuk mengajarkan agama, kepercayaan, sejarah, mitologi, moral, dan tata krama. Sepanjang abad ini, dongeng-dongeng para juru pantun lambat laun berubah menjadi cerita anak-anak. Salah satu pantun Sunda yang sangat terkenal adalah Lutung Kasarung. Dengan syair yang panjangnya lebih dari 1000 baris, kisah yang berasal dari abad 15 ini begitu populer hingga termasuk kisah pertama yang difilmkan di Indonesia pada 1926.

Pantun disajikan dalam dua bentuk. Yang pertama sajian untuk hiburan dan yang kedua merupakan sajian ritual (ruwatan).Sebagai sajian hiburan, pantun diceritakan atas permintaan penaggap. Sebagai sajian ruwatan, pantun ditampilkan sama dengan cerita wayang, seperti Batara Kala, Kama Salah, atau Murwa Kala.  Pertunjukan pantun, baik dalam fungsi hiburan maupun ritual, tidak disajikan sembarangan. Sifatnya yang sakral dipertahankan karena bagi masyarakat Sunda membaca dan mendengarkan pantun berisi cerita raja-raja atau leluhur mereka merupakan bentuk penghormatan tersendiri kepada nenek moyang.

Pola pertunjukan pantun tak pernah berubah: penyediaan sesajen, ngukus (membakar kemenyan), mengumandangkan rajah pamunah, babak cerita dari awal hingga akhir, dan penutupan dengan mengumandangkan rajah pamungkas. Pertunjukan biasanya diiringi alat jusik kacapi. Awalnya, kacapi yang dipergunakan sangatlah sederhana seperti kacapi Baduy yang hanya berdawai 7 kawat. Seiring dengan pertumbuhan seni Cianjuran, kacapi kecil itu digantikan dengan kacapi gelung (tembang) dan akhirnya kacapi siter. Laras yang dimainkan mengiringi pantun biasanya adalah laras pelog dan salendro.

Sebagai kesenian yang hidup di tatar Sunda sejak zaman Hindu sampai Islam dan menjadi anutan masyarakat, tak heran jika ungkapan, ajaran, dan petuah ki juru pantun yang terdapat dalam isi pantun adalah pembauran kedua zaman itu. Selain banyak ungkapan-ungkapan yang berasal dari budaya Islam seperti istighfar, takbir, dll., terdapat pula ungkapan khas Hindu-Budha seperti ka dewata, ka pohaci, ka para karuhun, buyut, dll.

Harus diakui, dewasa ini, kondisi seni pantun sangat memprihatinkan. Walaupun seni pantun masih dapat bertahan sebagai seni yang adiluhung, tetap saja telah terjadi pergeseran terutama dalam fungsinya dari yang sakral menjadi profan.//kims

Jaleuleu Ja! Hayu Urang Ulin!

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

Jaleuleu Ja! Hayu Urang Ulin!P

 

Oleh Kimung

 

Senja. Langit bersih dan cerah. Terlihat para petani bersiap pulang. Sementara itu, di tengah pematang yang mengering membentuk tegalan terdengar sorak-sorai dan tawa anak-anak sedang bermain. Sesekali terdengar nyanyian mengiringi permainan mereka.

Di antara keramaian, terlihat sekitar 10 anak bersiap-siap bermain Oray-orayan (Indonesia: Ular-ularan). Mereka baris ke belakang. Tangan memegang bahu atau pinggang teman di depannya. Anak yang paling tinggi berada di posisi terdepan, berperan sebagai kepala ular. Yang berperan sebagai ekor dipilih anak terkecil tetapi paling gesit. Sang kepala ular harus menangkap ekor ular. Ekor sedapat mungkin harus menghindari tangkapan kepala ular.

Barisan bergerak meliuk-liuk seperti gerakan ular sambil bernyanyi riang:

Oray-orayan luar leor mapay sawah – Entong ka sawah parena keur sedang beukah – Mending ge teuleum di leuwi loba nu mandi – Saha nu mandi, anu mandina pandeuri.

Setiap nyanyian usai, kepala ular berusaha menangkap ekor sambil mengeluarkan bunyi kok…kok…kok…Sementara itu, badan ular berlari-lari kecil menurutkan ke mana kepala ular mengejar sang ekor.

Ada kalanya badan ular terputus. Riuhlah anak-anak tertawa-tawa dan kembali menyusun barisan untuk memulai kembali permainan. Bila sang ekor tertangkap, ia harus keluar dari barisan. Makin lama permainan berlangsung, badan ularpun semakin pendek. Saat badan ular tinggal tiga atau lima orang, anak-anak kembali mengulang permainannya dari awal

Di sisi lain, terlihat lima anak bermain Anyam-anyaman. Mereka membentuk lingkaran, posisi tubuh saling membelakangi, tangan saling berpegangan, dan saling mengaitkan sebelah kaki. Sambil bergerak berputar-putar mereka menyanyikan syair :

“Pakait-kait suku – Bitisna patumpang-tumpang – Anyaman masing pageuh – Tacan lesot ulah reureuh – Pakait-kait suku – Bitisna patumpang-tumpang – Anyaman masing kuat – Tacan lesot ulah lumpat – Pakait-kait suku – Bitisna patumpang-tumpang – Nganyamna ulah rusuh – Mun rusuh sok gampang labuh”

Sebagian anak-anak yang lainnya saling bekejaran dan bersorak-sorai gembira menyanyikan syair: Jaleuleu ja – tulak tuja eman gog – seureuh leuweung bay – ucing katunggang songsong ngek. Mereka berlari-lari saling berkejaran. Tertawa-tawa bahagia.

 

***

Permainan anak desa (kaulinan urang lembur) tersebar hampir di seluruh pedesaan di Jawa Barat sebagai bentuk kebudayaan rakyat. Setiap permainan, selalu diiringi nyanyian (kakawihan barudak) yang berbeda-beda. Nyanyian tersebut digemari anak-anak karena syairnya yang lucu, sederhana, dan gembira. Lebih dari itu, lagu-lagu memuat pesan nilai-nilai luhur kebudayaan rakyat tradisional.

Dalam lagu Oray-orayan, misalnya, dapat ditemukan pesan untuk senantiasa bergotong royong dan bahu membahu. Pesan itu juga terlihat dari permainan, terutama dari bentuk barisan. Setiap anak dituntut untuk mempertahankan dirinya agar dapat menjaga keharmonisan barisan, tidak terlepas dan menceraiberaikan barisan. Permainan ini mendidik ketangkasan, dan tanggung jawab memainkan peran.

Pesan-pesan di atas juga tercermin dalam Anyam-anyaman. Simbol saling kait mengait betis mengandung pesan menjaga persaudaraan, tidak bercerai-berai, dan tidak melepaskan diri dari tanggung jawab individu dalam masyarakat. Lagu Anyam-anyaman juga mengandung nasihat agar selalu hati-hati dan teratur dalam mengerjakan segala sesuatu. Selain itu, irama lagu ini juga enak dinyanyikan. Pola iramanya yang ceria melatih semangat dan membangkitkan ekspresi gembira anak-anak.

Lain Oray-orayan dan Anyam-anyaman, lain pula Jaleuleu Ja. Lagu ini mempunyai latar belakang sejarah. Diperkirakan muncul pada zaman revolusi, diciptakan sebagai kode rahasia dalam menyampaikan berita tentang perang. Sang pembawa berita menyanyikan lagu dengan lantang di atas pohon dengan maksud agar berita rahasia itu akan terdengar oleh pejuang-pejuang yang lain. Pejuang yang mendengar meneruskan nyanyian tersebut bersahut-sahutan.

Dalam permainan anak-anak, Jaleu-eu Ja adalah panggilan bagi anak-anak agar berkumpul untuk melakukan permainan. Anak yang menyanyikan lagu ini akan ditimpal oleh anak lain yang mendengar. Nyanyian pun akan dilantunkan bersahut-sahutan mengesankan suasana yang ramai dan gembira. Bila dikaji lebih jauh, lagu tersebut mengandung pesan-pesan luhur seperti kebersamaan, gotong-royong, mencita-citakan dunia yang bersatu, dan menumbuhkan kecintaan terhadap hewan dan tumbuhan (alam).

 

***

 

 Masih banyak jenis kaulinan serta kawih lainnya di Jawa Barat. Sebagai suatu kebudayaan rakyat, selain berperan sebagai alat rekreasi, kaulinan dan kawih berperan sebagai alat pedagogik yang mendidik anak-anak untuk berjiwa sportif dan menyiapkan mereka agar selalu siap berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat kelak.

Sayang, perkembangan teknologi informasi dan semakin menghilangnya lahan-lahan bermain anak-anak perlahan telah mengikis (hampir) habis kebudayaan rakyat itu. Jarang sekali masa kini ditemukan anak-anak memainkan permainan rakyat di lapangan-lapangan atau di tempat-tempat permainan lainnya. Mereka mungkin lebih enjoy bermain Play Station, video game, atau alat-alat permainan lainnya yang berbau teknologi dan sangat mengurangi nilai utama dalam permainan, yaitu interaksi dan sosialisasi.

Semakin merosotnya peran seni permainan ini dikhawatirkan akan menciptakan suatu kondisi erosi budaya, di mana nilai-nilai tradisi rakyat akan semakin mengalami degradasi dan kepunahan. Pada gilirannya, kekhawatiran itu akan berpengaruh besar pada perubahan cara berpikir, pandangan hidup atau cara bertindak generasi sekarang ke sisi individual yang sama sekali tidak mencerminkan nilai utama kerakyatan, suatu tempat akar rumput di mana mereka lahir, tumbuh, dan berkembang. Atau inikah salah satu sebab kenapa fisik, psikis, dan toleransi anak-anak kota cenderung lebih jongkok daripada anak-anak kampong? Kim#5


The Truth is Out There

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

THE TRUTH IS OUT THERE

Oleh Iman Rahman A.K., S.S.

 

Tiga tahun mengajar ilmu sosial di tingkat dasar, lanjutan pertama, hingga lanjutan atas pertanyaan yang selalu tertuju kepada saya dari murid-murid adalah : “apakah ilmu sosial itu dan mengapa saya harus belajar ilmu sosial?” Saya dibuat terdiam, speechless, dan tak bisa menjawab pertanyaan itu di awal-awal masa mengajar saya. Saya rasa, mungkin saya sendiri belum tahu apa sebenarnya ilmu sosial dan mengapa saya mempelajarinya. Itulah pekerjaan rumah pertama saya ketika pertama kali mengajar secara profesional. Pekerjaan rumah yang lama sekali saya kerjakan, hingga kini dari jawaban utuh yang saya bayangkan, mungkin hanya potongan kecil yang sudah berhasil saya rangkaikan.

 

Saya masih juga belum bisa menjawab pertanyaan mengapa murid-murid saya harus belajar ilmu sosial selain jawaban klasik : “karena manusia, selain mahluk yang bersifat hablum minallah, juga bersifat hablum minannas, mahluk sosial yang diciptakan Allah SWT untuk selalu membutuhkan orang-orang yang lain. Bentuk hubungan itulah yang akan kita pelajari dalam ilmu sosial….” Namun, dalam rentang waktu tiga tahun saya perlahan belajar dari kawan-kawan sesama pengajar, juga dari murid-murid saya. Ada beberapa hal penting yang bisa dilakukan untuk membuat murid-murid saya, begitu mencintai pelajaran ilmu sosial.

Beberapa hal penting tersebut adalah memberikan pemahaman materi pengajaran yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari sesuai kurikulum yang ditetapkan, membuka jaringan dengan komunitas-komunitas budaya, lingkung-lingkung seni, ruang-ruang inisiatif, dan media massa untuk membuka wawasan bergaul yang kreatif bagi siswa, melatih keahlian siswa, terutama di bidang teknologi, serta membangun keberanian berpendapat dan keahlian menulis melalui praktek pembuatan media ekspresi siswa.

Pemahaman materi pengajaran yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari sesuai kurikulum mutlak diperlukan. Ini adalah salah satu upaya awal mendekatkan siswa dengan lingkungan sehingga kepekaan sosial mereka perlahan terbentuk. Untuk itu, guru harus peka dengan kondisi lingkungan di mana sekolah berada, juga peka dengan potensi setiap siswa yang ia tangani. Kepekaan guru ini akan menjembatani kebutuhan lingkungan dengan penyaluran potensi siswa dalam koridor kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Pengajaran yang aplikatif juga akan mempermudah siswa dalam belajar. Mereka terlibat secara langsung sehingga mendapatkan kesan mendalam dalam diri mereka, juga lebih mengerti mengapa mereka harus mempelajari sebuah obyek studi dalam ilmu sosial. Pembuatan organisasi siswa di kelas yang mengelola sebuah rumah-dhuafa dari hasil shadaqah yang lalu disumbangkan adalah salah satu contohnya.

Hal kedua yang patut diperhatikan adalah membuka jaringan dengan komunitas-komunitas budaya, lingkung-lingkung seni, ruang-ruang inisiatif, dan media massa untuk membuka wawasan bergaul yang kreatif bagi siswa. Bandung sebagai pusat industri kreatif di Indonesia, bahkan di Asia, memiliki ratusan komunitas kreatif yang terbuka bagi siapapun untuk belajar mengembangkan potensi diri. Kondisi ini perlu diperkenalkan kepada siswa semenjak dini sehingga siswa mengetahui bahwa di sekitar mereka begitu banyak ruang yang baik untuk mengembangkan diri dan berbaur bersama kawan-kawan menurut minat dan bakat mereka. Menjalin hubungan dengan komunitas kreatif juga akan memperkaya wawasan guru dan pada gilirannya akan mempermudah prigram-program pendidikan yang dibuat oleh sekolah.

Hal yang tak kalah penting adalah melatih keahlian siswa di bidang teknologi. Tak dapat dipungkiri, teknologi adalah bagian dari dinamika sosial yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan siswa, juga dalam belajar. Bahkan melalui teknologi, bisa jadi mereka akan lebih senang untuk mempelajari ilmu-ilmu sosial. Pembuatan film dengan tema sosial yang dibuat dan dibintangi mereka sendiri akan membuat mereka semakin semangat belajar. Atau praktek pendokumentasian melalui teknologi foto adalah contoh yang lainnya.

Pendidikan sosial yang baik juga tidak dapat dilepaskan dari upaya membangun keberanian mengemukakan pendapat dan keahlian menulis. Keberanian dalam mengemukakan pendapat adalah hal mendasar dalam belajar. Dengan berani maka siswa akan mengeksplorasi lingkungan,obyek pengajaran, dan juga potensi dirinya sendiri secara total. Hal mendasar yang bisa dimulai adalahberani mengemukakan pendapat mereka, baik secara lisan maupun tulisan. Tentu saja keberanian tersebut harus diiringi juga dengan tanggung jawab, dalam arti jika mereka berpendapat maka harus dalam koridor yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu contoh media ekspresi yang dapat dilakukan misalnya melalui praktek pembuatan media ekspresi siswa semacam majalah dinding.

Hal-hal itulah yang kemudian saya laukan di kelas bersama murid-murid saya. Tidak selalu semua hal tersebut saya lakukan sempurna, tapi kami meluangkan banyak sekali waktu bersama dan itu sangat menyenangkan. Saya sangat menghargai waktu yang mereka berikan untuk saya, begitupun saya yakin mereka begitu meghargai waktu yang telah kami luangkan bersama untuk belajar, berbincang, membuat sesuatu bersama-sama.

Pernah saya dan murid-murid membuat sebuah proyek pendokumentasian sejarah Bandung melalui foto dan film dokumenter. Selama satu bulan kami turun ke lapangan untuk riset dan pengamatan. Saking aksyiknya murid-murid saya mengerjakan proyek ini, salah seorang murid, namanya Edo, datang kepada saya secara pribadi dan berkata : “Pak, saya jadi suka sejarah dengan mengerjakan proyek ini…” Proyek kami selesai, dipublikasikan secara luas, dan mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak di luar sekolah. Film kami bahkan sempat diputar di sebuah event khusus Bandung yang digelar di sebuah pusat perbelanjaan dan diapresiasi oleh orang banyak. Sangat membanggakan bagi saya. Namun yang selalu membanggakan bagi saya, dan selalu saya rindukan sampai sekarang adalah ucapan polos Edo : “Pak, saya jadi suka sejarah…”

 

Iman R.A.K., S.S. adalah guru dan penulis.

Pasar Sejarah Instan

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

PASAR SEJARAH INSTAN

 

Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai;

dan di mana pasar mulai, mulai pulalah

riuh rendah para aktor besar dan desau kerumunan lalat beracun

 

Lalat-lalat di Pasar, F.W. Nietzsche

 

I

 

St. Sunardi pernah membuat sebuah telaah yang cemerlang mengenai Lalat-lalat di Pasar karya Nietzsche. Menurut St. Sunardi, pasar dalam budaya klasik bukan hanya tempat kegiatan jual beli serta tukar menukar barang dan jasa, melainkan dikenal sebagai forum, yakni sebuah arena di mana orang-orang melakukan kegiatan kultural dan politik. Para pemimpin dan orator besar dilahirkan di forum. Retorika dikumandangkan di pasar. Para remaja dikirmkan ke pasar, meniti karir politiknya melalui forum. St. Sunardi mencontohkan Cicero yang tampil cemerlang di mimbar forum untuk merebut simpati massa dan di forum juga secara tragis ia dicincang tubuhnya oleh musuh politiknya untuk menimbulkan efek toror bagi massa. Di forum yang ada hanya para aktor dan massa. Aktor satu berusaha menggulingkan aktor lain, dan massa dijadikan rebutannya. Mereka yang menguasai massa pasti menguasai forum. Dengan menguasai forum, maka dengan mudah mengatur ke mana arah pasar. Tak cuma pasar politk dan budaya, tapi sisi-sisi strategis pasar lainnya yang pada kelanjutannya akan menguasai sektor-sektor kemanusiaan, termasuk sejarah.

Mungkin di satu sisi penulisan sejarah akan bertambah ramai. Tapi apa artinya sebuah keramaian tanpa isi dan komposisi. Pada akhirnya keramaian tak lebih dari dengung-dengung lalat saja yang tak jelas dan berisik. Dengung-dengung itulah sejarah di tengah pasar. Arah-arah penulisannya telah ditentukan dan dibentuk sehingga produk-produknya merangsek ke tatanan kesejarahan masa kini, menenggelamkannya, dan menempatkannya begitu terasing. Terpisah dari hakikatnya sebagai sebuah kisah ‘sebenarnya’ sebuah masa lampau. Mengenai model sejarah yang mendengung-dengung ini, Nietzsche membagi sejarah menjadi tiga yaitu sejarah monumental, sejarah antikuarian, dan sejarah kritis.

Sejarah monumental menghamba pada kejayaan masa lalu dan berambisi mengembalikan kejayaan itu. Model kasusnya dapat kita lihat di arah mode dan musik masa kini yang cenderung kembali ke masa-masa 60s, 70s, 80s, 90s. Yang lebih heroik dan mendunia mungkin serangan Irak ke Kuwait, invasi Israel atas Palestina, atau gerakan separatisme di Indonesia yang selalu mengatasnamakan sejarah.

Sejarah antikuarian berambisi melestarikan kebudayaan. Model kasusnya jelas. Belakangan ketika protes-protes menentang RUU APP di Indonesia marak ada pihak-pihak yang mengatasnamakan pelestarian budaya bangsa. Katanya budaya kita sejak dulu tak lepas dari porno. Tengok lingga, tengok yoni. Tengok centhini. Ini menurut saya kebablasan. Zaman toh selalu berubah dan kita tak hidup di zaman dulu. Saya juga menentang RUU APP tapi jelas dengan alasan yang berbeda dengan mereka.

Pendekatan terakhir adalah sejarah kritis. Pendekatan sejarah ini mempertanyakan dan menilai kembali sejarah. Dalam istilah St. Sunardi, sejarah kritis memperkarakan masa lampau ke pengadilan, memeriksanya dengan seksama, dan akhirnya menghukumnya dengan nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Sejarah ini, lanjutnya, ibarat lembaga atau komisi kebenaran dan keadilan yang bertugas mengupas masa lampau sampai di bawah kulit kebesaran yang dikagumi para sejarawan monumental dan kesakralan yang dihormati para sejarawan antikuarian. Dalam titik ini sejarah kritis justru dipakai untuk melupakan masa lalu. Tentu saja masa lalu yang membebani orang masa sekarang untuk hidup karena pada akhirnya prioritas utama adalah terus hidup apaun resikonya.

Sejarah monumental dengan terang melupakan jiwa budaya (kultuurgebundenheit). Sedangkan sejarah antikuarian menenggelamkan jiwa zaman sebuah peristiwa (zeitgeist). Sementera itu sejarah kritis yang mempertanyakan segala sesuatu selalu diam pada sisi stagnan dan cenderung mengancam hidup peradaban manusia. Semua fenomena pemikiran itu kini mencuat dan merongrong eksistensi manusia hingga taraf akut. Ya, peradabanpun meradang. Ia menderita demam karena sejarah. Dan apa virus yang menyebarkan demam itu? Tentu saja pasar sejarah! Celakanya seperti yang kita singgung di atas, pasar selalu dikuasai para penguasa forum. Dalam hal ini selalu ada kepentingan-kepentingan yang lalu melatari penulisan sejarah.

Dalam praktik-praktik penulisan sejarah, hal ini adalah suatu hal yang berbahaya. Sangat riskan bagi sejarah untuk selalu menuruti kemana angin berhembus. Ini menyuburkan kredo kuno ‘Sejarah adalah Milik Para Pemenang’. Setiap pihak yang memenangi perebutan kuasa atas ilusi massa berhak menuliskan suatu sejarah baru versinya sendiri. Sejarah sebelumnya direvisi dan penulisan sejarah yang bertentangan dengannya dijabel. Bagian-bagian yang buruk disensor, disimpan di suatu tempat yang antah berantah dalam rak-rak file top-secret. Peristiwa banyak yang dihilangkan, cerita direkonstruksi ulang, kisah-kisah dibengkokkan. Sejarah dibiaskan. Ini adalah ciri-ciri penulisan sejarah politik yang tumbuh subur di zaman-zaman uzur di mana sejarah tak lebih dari mitologi dan fungsinya menjustifikasi kuasa atas pihak yang duduk bertampuk di singgasana. Bahkan mungkin lebih parah lagi, lantaran di zaman tradisi lisan dan mitologi tak sembarangan orang bisa menulis sejarah. Hanya para brahmana dan penguasa Sansekerta yang dapat menuliskan sejarah.

Sejarahpun dekaden. Ia instanlah. Dibuat dengan sangat mudah. Semua orang bisa dan berhak menjadi sejarawan. Penulisannyapun tak harus tertata metode dan metodologis. Dalam rangkaian kepenulisan sejarah Indonesia, sempat dikenal adanya ‘Sejarawan Meja’. Mereka adalah para penulis Belanda yang menuliskan segala sesuatu tentang Indonesia tanpa pernah tahu bagaimana kondisi Indonesia yang sebenarnya. Sumber-sumber yang mereka gunakan adalah sumber lisan dan tulisan para pelaut sekitar abad 15 dan 16 yang sempat melancong ikut kongsi-kongsi dagang ke Indonesia. Mungkin sumber itu akurat. Namun dapatkah sidang pembaca yang budiman membayangkan bagaimana seseorang dapat merangkai cerita tentang suatu daerah tanpa pernah sekalipun mengunjungi daerah yang ditulisnya? Bagaikan saya yang tak pernah ke Amsterdam tapi saya ngotot menuliskan sejarah Amsterdam berdasarkan file-file dari internet saja. Mungkin sah-sah saja saya berimajinasi mengenai Amsterdam. Tapi dapatkah kiranya tulisan saya dipercaya sebagai suatu sejarah akurat mengenai Amsterdam? Dan ironisnya, tulisan-tulisan para sejarawan meja ini laris manis di pasar zaman itu dan kerap dijadikan acuan orang Belanda yang ingin tahu tentang Indonesia..

Kemudian kita juga pasti mahfum mengenai penulisan sejarah spekulatif gaya orde lama, misalnya 600 Tahun Sang Merah Putih-nya Moh. Yamin. Atau penyelewengan-penyelewengan sejarah zaman orde baru. Atau biografi tokoh-tokoh politik yang tiba-tiba marak di era reformasi. Yang jelas, jika ceritanya berpihak pada sang penguasa atau tokoh-tokoh penguasa forum, maka jadilah. Jika isinya kritik pada penguasa atau penguasa forum, maka jangan harap sekali-kali akan muncul di permukaan. Kisah-kisah ini hanya akan mengendap sebagai wacana diskusi di ruang-ruang kuliah yang sempit dan tidak populis. Penulisan dan penerbitan sebuah kisah sejarah tidak tergantung lagi pada koridor penulisan sejarah. Asal direstui sang penguasa, maka terbitlah! Kalau tidak berkenan dengan sang penguasa forum maka bersiaplah diteriaki massa pendukung para penguasa forum.

Ini jelas bukan suatu kondisi yang sehat, baik bagi kesejarahan juga bagi mentalitas. Iklim penulisan seperti ini hanya akan menumbuhkan mentalitas penjilat, populis kompromistis yang setia berpihak pada pasar, bukan pada kesejarahan itu sendiri. Di zaman yang serba kritis ini kita mungkin dapat mengolah data-data yang tercantum dalam penulisan-penulisan sejarah itu dengan kritis. Namun mengacu pada pandangan Nietzsche mengenai sejarah kritis maka penulisan sejarah ini tidak dapat dipercaya juga atas dasar premis awal mengenai sejarah kritis yang telah kita bahas di atas.

Penerbitan dan penulisan sejarah independen (selajutnya indie saja) sebenarnya dapat, mampu, dan berkesempatan melawan kondisi sakit ini. Indie yang bergerak sendiri dan mandiri tentu tidak pernah bergantung pada pihak-pihak yang berkuasa, tidak berpihak maupun bertentangan, tidak juga mau berkompromi dengan kepentingan-kepentingan pemesan sejarah. Mengesampingkan masalah subyektivitas dan obyektivitas, penulisan sejarah independen, penulis yakin tak mau melacur pada kepentingan-kepentingan itu dan selalu setia mendedikasikan diri pada penulisan sejarah yang memang didedikasikan untuk kesejarahan itu sendiri. Namun demikian, adalah hal yang penting jika sejarah ditulis oleh pihak-pihak independen yang sama sekali tidak bersentuhan dengan kompromi-kompromi kepentingan para penguasa forum/pasar. Penulisan dan penerbitan sejarah independen mungkin saja dapat menjadi jawaban atas pertanyaan Goenawan Mohamad ‘bagaimana menciptakan Sils Maria di tengah-tengah pasar dan kerumunan’.

 

II

 

Nietzsche pernah melukiskan sebuah kerumunan dan mentalitasnya dalam Der Tolle Mensch (The Madman) : “Tidakkah kau dengar orang gila yang menyalakan pelita di pagi yang cerah. Dia berlari menuju alun-alun kota dan tak henti-hentinya berteriak : ‘Aku mencari Tuhan! Aku mencari Tuhan!’ Ketika orang banyak datang mengerumuninya, orang gila itu mengundang banyak gelak tawa. ‘Apakah dia ini orang yang hilang?’, tanya seorang. ‘Apakah dia tersesat seperti anak kecil? Apakah dia baru saya mengadakan pelayaran? Apakah dia seorang perantau?’ Demikianlah mereka saling bertanya sinis dan tertawa. Orang gila itu lalu melompat dan menyusup ke tengah-tengah kerumunan lalu menatap mereka dengan pandangan yang tajam. ‘Mana Tuhan?’ serunya. ‘Aku hendak berkata pada kalian. Kita telah membunuh Tuhan—kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuh Tuhan!” Selanjutnya diceritakan dalam aforisma itu orang-orang dalam kerumunan terbengong-bengong mendengarkan kata-kata panjang lebar si Orang Gila mengenai kematian Tuhan. Akhirnya si Orang Gila membuang pelitanya ke tanah hingga hancur dan padam. “Aku datang terlalu awal’, katanya.

Ataukah kesadaran yang selalu datang terlambat? Atau kita yang selalu tak berdaya di depan sebuah pasar dan kerumunan?//kimsyalalahahaha, februari 2005

Ujungberung dalam Legenda Sangkuriang

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

UJUNGBERUNG DALAM LEGENDA SANGKURIANG*

 

 

“Sesuatu yang olehnya manusia menjadi apa yang terwujud,

sesuatu yang olehnya manusia mempunyai karakteristik yang khas,

sesuatu yang olehnya ia merupakan sebuah nilai yang unik.”

Leahy, 1985

 

Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis pada daun palem yang berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi[1]. Dalam naskah tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Jawa dan Bali akhir abad ke-15. Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang menjadi kota Bandung. Dia menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat ini beserta legendanya. Laporannya adalah sebagai berikut:

 

Leumpang aing ka baratkeun

datang ka Bukit Patenggéng 

Sakakala Sang Kuriang

Masa dék nyitu Ci tarum

Burung tembey kasiangan [2]

 

Berdasarkan legenda tersebut diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan, Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun cariang (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya, para raja saling berperang di antara sesamanya.

Merasa tidak enak dengan situasi tersebut, Dayang Sumbi atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu. Dia berjanji, siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama Sangkuriang.

Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan, disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak. Serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka.

Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur, akhirnya sampailah ia di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi–ibunya sendiri. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja, Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian, Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan sebuah talaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tunggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkubanparahu.

Melihat itu, Dayang Sumbi segera melarikan diri. Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai bunga Jaksi. Adapun Sangkuriang, akhirnya menghilang kea lam gaib (ngahiyang) setelah sampai di sebuah tempat yang disebut Ujungberung.

***

Legenda bukanlah kisah historis, tetapi berupa mitos yang menjadi acuan hidup masyarakat pendukung kebudayaannya. Demikian pula yang terjadi pada legenda Sangkuriang, Gunung Tangkubanparahu, dan Ujungberung, ruang yang melatari kisah di dalam buku ini. Sebelum kita benar-benar beranjak dari legenda dan mitologi dan masuk ke pembahasan yang lebih komprehensif mengenai sejarah Ujungberung dan komunitas Ujungberung Rebels, ada baiknya kita memahami lebih jauh makna di balik legenda Sangkuriang.

Di bawah ini adalah nama-nama dan tempat-tempat serta aspek lainnya yang terdapat dalam legenda Sangkuriang, yaitu “Sungging Perbangkara”, “babi hutan Si Wayungyang”, “Dayang Sumbi atau Rarasati”, “anjing Si Tumang”, “Sangkuriang”, “taropong (torak)”, “Citarum”, “Sanghyang Tikoro”, “Gunung Putri”, “Gunung Manglayang”, “Talaga Bandung”, “kembang Jaksi”, “boeh raring“, “Gunung Bukit Tungggul”, “Gunung Burangrang”, “Gunung Tangkuban Parahu”, dan akhirnya “Ujungberung.”

- SUNGGING PERBANGKARA. Artinya : Sungging = ukiran,ornamen. Perbangkara (Prabhangkara) = Prabha = cahaya. > ‘ng = penanda hormat, honorifik. > kara = matahari. Maknanya “Penanda dari kebaikan/kebenaran sebagai cahaya pencerahan bagi yang menyimaknya”

- Babi hutan WAYUNGYANG. Artinya: Wayungyang > w(b)ayeungyang = perasaan yang tidak tenteram, gundah gula. Maknanya: Seseorang yang masih berada dalam sifat kehewanan tetapi telah mulai bimbang dan menginginkan menjadi seorang manusia seutuhnya (berperi-kemanusiaan).

- DAYANG SUMBI (DANGHYANG). Artinya : > Dang = penanda hormat, honorifik. Yang < Hyang = gaib. > Sumbi = 1) tendok = alat untuk menusuk hidung kerbau agar menurut. 2) Bagian ujung terdepan dari perahu sebagai penunjuk arah dalam berlayar. Maknanya: Petunjuk gaib sebagai kendali manusia dalam menentukan arah dalam melayari kehidupannya. Bisa dimaknai pula sebagai kata hati, nurani yang mendapat pencerahan hidayah Allah Swt.

- RARASATI nama lain dari Dayang Sumbi. Artinya : > Raras = perasaan yang sangat halus. > ati = hati, qalbu. Maknanya: Hati atau qalbu yang penuh dengan kehalusan budi karena mendapat pancaran sinar Ilahi.

- Si TUMANG. Artinya: > tumang = 1) Peti yang tertutup (b. Kawi), 2) mangmang = sumpah (b.Kawi) tu-mang-mang = orang yang terkena sumpah karena waswas. Maknanya: karakter seseorang yang selalu asal bersumpah, waswas, akhirnya termakan sumpahnya sendiri, hatinya seperti peti yang tertutup rapat tidak mendapat pencerahan.

- SANGKURIANG. Artinya: > 1) Sang = penanda hormat, honorifik. > Kuriang .. saya, ego. 2) Sang = penanda hormat, honorifik. > Kuriang < guru + hyang = ego yang gaib. Maknanya: Sangkuriang = Jiwa (ego) non material yang menjadi dasar tumbuhnya kesadaran mental manusia yang selalu mendapat cobaan dan ujian kualitas dirinya.

- TAROPONG. Artinya : 1) Alat bertenun dari sepotong bambu kecil (tamiang) tempat benang pakan (torak); 2) Alat untuk melihat sesuatu agar lebih jelas (teropong). Maknanya: Kegiatan (semangat) manusia dalam menata perilaku kehidupan agar terusun tertib sesuai dengan kualitas dirinya serta mampu melihat dengan jelas alur (visi) kehidupannya.

- Sungai CITARUM. Artinya: > Ci .. air. > Tarum = sejenis tumbuhan, daunnya untuk memberi warna indigo tua (hampir hitam) pada kain/benang tenun. Maknanya: Kehidupan adalah seperti air mengalir dalam perjalanannya akan mengalami beragam celupan kehidupan, kebahagiaan, keprihatinan dan juga hal-hal negatif lainnya sebagai ujian keteguhan hatinya.

- SANGHYANG TIKORO. Artinya: > Sang = penanda hormat, honorifik. > Hyang = gaib. >Tikoro = saluran di leher untuk bernafas dan berbicara (tenggorokan) atau saluran di leher untuk makan (kerongkongan). Maknanya : Kemampuan manusia dalam berbicara tentang apa pun yang baik atau pun yang jelek serta sering dilalui makanan entah yang halal atau yang haram.

- Gunung PUTRI. Artinya > Putri = gadis, wanita cantik jelita, bangsawan. Maknanya: Karakter manusia yang dihiasi nilai keindahan dan cinta kasih. Dimaknai sebagi sifat kewanitaan (feminim, jamalliyah, rohimmi) yang penuh rasa kasih sayang.

- Gunung MANGLAYANG. Artinya: > Manglayang = 1) ngalayang, melayang. 2) Mang-layang > palayangan = Saluran untuk pembuangan air kolam/talaga. Maknanya : Kemampuan manusia untuk menguras dan membersihkan dirinya dari karakter yang kotor.

- Kembang JAKSI . Artinya: 1) Jaksi > bisa dimaknai jadi saksi . 2) Jaksi = bunga sejenis pohon pandan. Maknanya: Segala sesuatu yang dikerjakan seseorang akhirnya akan menjadi saksi pula bagi dirinya.

- BO’EH RARANG. Artinya : > Bo’eh = kain kafan. > rarang = suci, mahal. Maknanya: Semuanya akan berakhir bila satu saat mau tidak mau harus memakai kain kafan yang suci, yaitu datangnya waktu kematian mungkin secara fisik atau secara psikis.

- Gunung BUKIT TUNGGUL. Artinya : > Bukit = Bentuk gunung yang lebih kecil. > Tunggul = pokok pohon. Maknanya: Siapapun orangnya, kaya-miskin, pembesar atau pun rakyat kecil semuanya mempunyai pokok sejarah dirinya (leluhur) dan juga mempunyai pokok jati dirinya.

- Gunung BURANGRANG. Artinya > Burangrang > Bukit + rangrang. > rangrang adalah ranting. Maknanya : Siapa pun orangnya tetap akhirnya akan ada sangkut pautnya dengan keturun dan masyarakat yang akan dating, yang pada gilirannya semuanya akan hilang ditelan masa (ngarangrangan).

- Gunung TANGKUBANPARAHU. Artinya: >Tangkuban = tertelungkup, menelungkup. > Parahu = perahu. > Gunung Tangkubanparahu = gunung yang bentuknya seperti perahu yang tertelungkup. Maknanya: Dalam kosmologi Sunda, gunung dimaknai sebagai tubuh manusia. Gunung Tangkubanparahu dimaknai sebagai manusia yang sedang menelungkupkan dirinya dan itu menandakan suasana hati yang sedang bingung penuh penyesalan.

- TALAGA BANDUNG. Artinya: > talaga = danau. >bandung = 1) perahu atau dua buah rakit yang disatukan dan di atasnya dibuat tempat berteduh. 2) bandung > bandung + an = memperhatikan, menyimak. Maknanya: Talaga dimaknai sebagai alam kehidupan di dunia ini. Talaga Bandung = Dalam kehidupan di dunia ini kita ibarat perahu yang dirakit berpasangan dengan sesama makhluk lain, seyogyanya dapat membangun kehidupan bersama, yaitu kehidupan yang saling memperhatikan, silih asih, silih asah dan silih asuh, interdependensi (saling ketergantungan yang harmonis), equaliter (setara di depan hukum), dan egaliter (setara di dalam kehidupan)

- UJUNGBERUNG. Artinya: > ujung = akhir. >berung > ngaberung = menurutkan hawa nafsu. Maknanya : Berakhirnya gejolak hawa nafsu yang negatif.

***

Legenda atau sasakala Sangkuriang dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (sungging perbangkara) bagi siapa pun manusianya (tumbuhan cariang) yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan menemukan jatidiri kemanusiannya (Wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (Dayang Sumbi, Rarasati). Tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (toropong), maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus menerus (digagahi si Tumang) yang akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (Sangkuriang). Ketika Sang Nurani termakan lagi oleh kewas-wasan (Dayang Sumbi memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (kepala Sangkuriang dipukul). Kesombongannya pula yang mempengaruhi “Sang Ego Rasio” untuk menjauhi dan meninggalkan Sang Nurani. Ternyata keangkuhan Sang Ego Rasio yang berlelah-lelah mencari ilmu (kecerdasan intelektual) selama pengembaraannya di dunia (menuju ke arah Timur). Pada ahirnya kembali ke barat yang secara sadar maupun tidak sadar selalu dicari dan dirindukannya yaitu Sang Nurani (Pertemuan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).

Walau demikian, ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (Sangkuriang) dengan Sang Nurani yang tercerahkan (Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya Sang Ego Rasio (Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependensi–silih asih, silih asah, dan silih asuh—yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam perangainya (Citarum). Sementara itu, keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego Rasio sendiri (pembuatan perahu). Keberadaan Sang Ego Rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (Bukit Tunggul, pohon sajaratun) sejak dari awal keberada-annya (timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang Ego Rasio pun harus pula menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul, penada diri) dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yang akan datang dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (Gunung Burangrang).

Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (boeh rarang atau kain kafan). Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego Rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada “dirinya”. Maka ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (Gunung Tangkubanparahu).

Walau demikian lantaran sang Ego Rasio masih merasa penasaran, dikejarnya terus Sang Nurani yang tercerahkan dambaan dirinya (Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani. Tetapi ternyata Sang Nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego Rasio (bunga Jaksi).

Akhir kisah yaitu ketika datangnya kesadaran dan berakhirnya kepongahan rasionya (Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio (gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (Sanghyang Tikoro atau tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu yang halal bersih dan bermanfaat. (Sanghyang Tikoro = kerongkongan, genggerong).

Konsep Kearifan di Balik Legenda Sangkuriang

Beragam interpretasi yang muncul dilatarbelakangi oleh pemaknaan terhadap konsepsi yang terkandung pada pesan yang disampaikan dari rangkain cerita yang dituturkan. Konstruksi konsep yang disampaikan ini tidak terlepas dari milieu untuk mengatasi ruang dan mendudukkan kemanusiaan pada tempat yang tak terjajah oleh kepanaan. Konsep yang utuh mengandaikan semua bagian yang dibutuhkan untuk menyokong tegaknya teori terpenuhi, baik dari akar, cabang sampai kepada rantingnya.

Kacamata tersebut mengidentifikasikan bahwa “Sangkuriang” adalah sebuah konsep kepercayaan atau filsafat hidup masyarakat sunda buhun. Ada keterkaitan yang erat antara realitas “hyang” dengan “sang kuring”, “sang kuring” dengan Citarum, dan “sang kuring” dengan gunung dan si Tumang. Secara sederhana ini adalah gambaran dari “sang kuring” secara personal dan mandiri tidak terlepas dari tiga hakekat yaitu ketuhanan (Hyang), sosial (Citarum dan Talaga Bandung), dan alam. Aspek kedirian “sang kuring” tidak terlepas dari unsur kemanusiaan yaitu problem kehidupan dan kematian, nurani dan rasio, ego, dan superego. “Sang kuring” hidup bebas dengan segala potensinya dalam batasan dunia yang meliputinya. Dua konsep yang terkandung dalam mitologi tersebut yaitu konsep ketuhanan/ teologis dan kemanusiaan akan coba digali dibawah ini:

 

Konsep teologis

Menurut Jakob Sumardjo (2002), dalam lintasan sejarah kerohanian Indonesia dikenal adanya hirarki tiga dunia, yaitu; dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah. Dunia atas adalah dunia “hyang”, dunia tengah adalah dunia perantara yang bersifat gaib dan ambivalen, dan dunia bawah adalah dunia manusia. Manusia berasal dari dunia atas, dari sang hyang. Oleh karena itu, dalam kepercayaan Sunda, istilah yang merujuk kepada tuhan adalah “hyang” atau “sanghiang”. Istilah hyang dianggap sebagi istilah universal yang dipercaya sebagai perwujudan logos, kata tersebut pararel dengan tuhan Allah dalam Islam dan Kristen, Tian dalam Konghucu. Perbedaan pelafalan dan kata kalau dianalisa secara semiotis terletak pada aspek lingua, bukan pada penanda absolutnya.

Gambaran ketuhanan dalam mitologi diwakili oleh sosok raja Perbangkara/Prabhangkara. Raja adalah sesuatu yang dikenal dalam budaya manusia. Hal ini untuk menunjukkan keberadaan tuhan yang tidak jauh dengan kemanusiaan. Tuhan yang aktif, yang tanggap akan doa hamba-Nya. Tuhan yang memberikan wayungyang atau cahaya pencerahan kepada manusia baik dalam bentuk wahyu, ilham, alam sebagai sebuh pegangan.

Komunikasi antara dunia atas dan dunia bawah yang disimbolkan melalui Dayang Sumbi atau Danghyang Sumbi dapat dianalisa bahwa Danghyang Sumbi berposisi di dunia tengah, yang dalam kepercayaan Sunda dianggap memiliki aspek metafisis “Hyang” sebagai representasi dari dunia atas. Perkawinan yang diharapkan bukan perkawinan dengan Dayang Sumbi tetapi perkawinan dunia atas dan dunia bawah atau ber-tajalli-nya manusia dengan Tuhan. Danghyang Sumbi adalah perantara yang bisa menyatukan antara kedua dunia tersebut, atau bisa disejajarkan dengan ajaran cinta ketuhanan yang bisa mengantarkan kedekatan manusia dengan Tuhan.

Dalam alur diceritakan bahwa ketika Sangkuriang hendak membuat perahu untuk berlayar ia menebang sebuah pohon, bekas pohon tersebut kemudian menjadi tunggul. Tunggul bisa dipahami sebagai asal pohon atau ditarik kepada tataran yang luas adalah asal dari segala sesuatu, termasuk awal dari manusia itu sendiri. Manusia lahir dari proses hidup alami yang awalnya adalah dari satu eksistensi.

Kata tunggul dalam analisa semiotik secara ponetis dekat dengan kata tunggal/ nunggal/ tutunggul/ tanggul/ tanggal. Tunggul identik dengan tunggal, awal sesuatu adalah tunggal kemudian menjadi tunggul. Asal dan akhir sesuatu inilah yang merepresentasikan hakekakat ketuhanan. Hakekat ketuhahan dalam mitologi tersebut bisa dipahami sebagai Tuhan yang tunggal atau monotheis.

 

Konsep kemanusiaan

Sangkuriang atau “sang kuring” dalam legenda tersebut apabila dianalisa lebih lanjut menujukkan bagaimana sebuah konsep kesundaan tentang manusia sunda atau filsafat manusia Sunda dikemas, digambarkan, dan disampaikan kepada kita sebagai sebuah prinsip yang mapan dan utuh baik sebagai manusia psikologis, sosial, maupun spritual. Berbicara inti manusia, alam kodratnya dan strukturnya yang fundamental. Bukan hanya manusia dilihat sebagai suatu makhluk, sebuah benda, tapi suatu prinsip adanya (principe d’etre).

Manusia yang “sang kuring” ini pertama digambarkan sebagai mahluk biologis (Sangkuriang lahir dari ibunya Dayang Sumbi) yang mempuyai hasrat seksual (ingin mengawini perempuan), makan dan minum (berburu untuk makan). Ilustrasi ini menunjukkan bahwa sang kuring bukan dewa, tetapi manusia biasa. Sang kuring secara biologis adalah manusia yang berkaitan dengan unsur material, manusia secara otomatis tunduk kepada takdir tuhan di alam semesta.

Sang kuring apabila dibandingkan dengan makhluk lainnya (anjing Si Tumang) mempunyai kelebihan karena ia diberi Nurani dan Akal. Lewat akalnya manusia diberi kemampuan mengembangkan daya nalarnya (Sangkuriang mengembara). Melalui potensi akalnya inilah manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Nurani selalu membimbing manusia untuk taat dan patuh pada cahaya tuhan. Tetapi karena potensi akalnya, manusia bebas mengikuti atau melepaskan diri dari-Nya.

Manusia juga adalah makhluk sosial. Permintaan Danghyang Sumbi membuat Talaga Bandung adalah manifestasi dari pentingnya kehidupan sosial. Bukan hanya itu, sang kuring kemudian bukan hanya membuat telaga kehidupan–membangun tatanan masyarakat, tetapi juga mengarungi telaga tersebut dengan perahu yang kokoh supaya tidak tenggelam dalam riuh dan ributnya arus air. Melepaskan tabir individualitas dan kesombongannya dengan menjaga tikoro atau kerongkongannya dari hal yang mencelakakan.

Manusia yang diilustrasikan mitologi Sangkuriang memperlihatkan manusia dalam ketegangan antara predisposisi negatif dan positif. Dorongan nafsu mendorong manusia untuk terjun ke lembah syahwatiah dan mengabaikan nilai-nilai cahaya pencerahan; sedangkan nurani menuntun manusia senantiasa mengakrabi tuhan dan kebenaran. Manusia dituntut untuk memenangkan predisposisi positif yaitu mengikuti fitrah kemanusiaan.

Manusia secara kongkrit dituntut harus menyeimbangkan atau mengawinkan antara rasio dan nurani dengan tulus. Melakukan perintah dengan ikhlas dan penuh tanggungjawab. Sehingga manusia menemukan dirinya nunggal dalam kesatuan eksistensi.

 

***

 

Demikianlah sekelumit kearipan pandangan hidup Sangkuriang dalam melayari kehidupannya baik sebagi manusia lahir ataupun manusia transenden. Tentu saja tafsir ini bukanlah satu-satunya karena dalam mitologi tersebut masih menyimpan beribu tafsir kearipan yang dapat kita ambil dan hayati.

Kini, jelaslah sudah posisi “ujungberung” dalam ranah dan alur hidup manusia yang sedang mencari jati diri. Semoga dari Ujungberung Rebels kita bisa paham ujung perjalanan kita yang tak berujung.

 

 

 * Tulisan ini diambil dari karya Hidayat Suryalaga di Bandung, 18 April 2004, Kajian Hermeneutika terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu dengan Segala Aspeknya, disampaikan dalam orasi ilmiah wisuda mahasiswa Itenas, Bandung, 28 Mei 2005, dan termuat di situs www.wikipedia.org.  Tafsiran konsep kearifan di balik legenda Sangkuriang diambil dari karya Mang ManAR, “Eksistensi Sufistik Sangkuriang”, Cisela, 12 April 2008, termuat di www.sundanet.com.

 

[1] Beberapa karya sastra bertemakan legenda Sangkuriang dan Gunung Tangkubahparahu adalah :

   – Sang Koeriang, A.C. Deenik diambil dari Pleyte. Tt.

   – Gunung Tangkuban Parahu, R. Satjadibrata, 1946

   – “Babad Sangkuriang” dalam Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Edi S. Ekadjati, 1983.

   – Gending karesmen Sangkuriang Larung, Hidayat Suryalaga, 1973.

   – Sangkuriang, Hasan Wahyu Atmakusumah, 1955

   – Sang Kuriang, Kusnadi Prawirasumantri, 1992

   – Ngabendung Situ, Ajip Rosidi, 1962

   – Sang Kuriang, Beni Setia, 1972

   – Tapak Sangkuriang, Dadan Bahtera, 1989

   – Sangkuriang Kabeurangan, Wahyu Wibisana, 1992

   – Pergeseran Fungsi Mitos Sangkuriang dari Cerita Sangkuriang ke dalam Sajak Sunda, Suhandi,     Fakultas Sastra Unpad, 1994.

[2] Aku berjalan ke arah barat

   Kemudian datang ke Gunung Patenggeng

   Tempat legenda Sang Kuriang

   Waktu akan membendung Citarum

   Tapi gagal karena kesiangan

Revograms Vol.1, Zine Pertama di Scene Musik Bawahtanah Indonesia

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

REVOGRAMS VOL. 1, ZINE PERTAMA DI SCENE MUSIK BAWAHTANAH INDONESIA

 

Dalam segala keterbatasan, tahun 1995, para metalhead Ujungberung sepakat berkumpul dan membentuk sebuah wadah yang dapat membawahi kreativitas musisi-musisi muda Ujungberung. Mereka mendirikan Extreme Noise Grinding (ENG). Lembaga yang bertujuan propaganda musik metal dan semangat Ujungberung. Manifestasi dari propaganda itu adalah Bandung Berisik Demo Tour I dan Revograms Zine. Dua manifesto inilah yang merekam awal dinamika pergerakan scene metal bawahtanah Ujungberung, Bandung, bahkan Indonesia. Revograms—singkatan dari Revolution Programsvolume 1 terbit Maret 1995 sebagai propaganda awal Bandung Berisik dan ENG. Zine ini disebut-sebut sebagai zine pertama di scene musik bawahtanah Indonesia.

 

Oleh Kimung

 

Revograms Vol.1 terbit Maret 1995. Kavernya gambar tangan buatan Dinan, seringai wajah monster ular from beyond dikelilingi tegkorak-tengkorak dan wajah-wajah jiwa yang tersiksa. Aura kelam membakar jiwa gambar itu. Kuat dan betenaga. Di bawahnya ada tulisan, diukir dengan teknik rugos : Total Local Underground Info.

Revograms Vol.1 digarap tim redaksi beranggotakan Ivan, Kimung, Dani, Dadan, Agus, Yayat, dan Gatot. Ivan sebagai pemred menamai tim ini “Tim Krucil Revograms”. Tim ini dibantu Agus (iklan), Ipunk dan Yayat (penjualan), Dadan sebagai (fotografer), serta Soleh “Koeple” Rustandi dan Budi “Bey” (kontributor). Dinan sebagai editor, mengawasi kerja tim ini. Markas tim redaksi ada di Jl. Rumah Sakit No.72 Ujungbeurng, sementara markas tim distibusi di Palapa Photo Studio, Jl. Raya Ujungberung No.118. Di bawah identitas tim, Ivan menggoreskan sebuah gambar komik pemuda metal gondrong, berkalung metal, berjaket kulit, mengacungkan kedua jari tengahnya. Tulisan No Posers! No Drugs! No Violence, Peace & Get a Better Life! Mengelilingi sang pemuda.

Revograms Vol.1 memuat sembilan rubrik, “Graveyard Sound”, “The Intruder”, “Live Interview”, “Cartoon Crew”, “Demo Review”, “Black Issue”, “Minded Mania”, “Dealer”, dan “Kolom ENG”. “Graveyard Sound” adalah kata-kata awal dari redaksi. Kata-katanya dikonsep Kimung dan ditulis tangan oleh Ivan dengan gaya penulisan anak kecil. Cerminan Revograms,sebuah zine yang baru saja belajar. Berikut adalah isi redaksional edisi perdana Revograms :

Akhirnya terwujud sudah sebuah obsesi. Memang sederhana, memang seadanya, memang amatiran…tapi setidaknya jangan cuma berharap semuanya bisa berubah tanpa kita sendiri mau merubah sistem yang seharusnya perlu dirobah…

Mengapa mesti ragu untuk membuat karya sendiri? Mengapa terbelenggu oleh sistem? MENGAPA?

Karena kita selalu dijerat oleh konsep untung rugi, karena kita tak pernah bangga akan karya sendiri, maka mari kita rubah sedikit demi sedikit apa yang telah hilang dalam diri kita. Semoga lembaran kertas ini memenuhi impian bagi para musisi local underground agar tidak hanya dijadikan konsumen dunia luar dan buklet ini mungkin hanya sekedar informasi pemacu keinginan. Tidak ada maksud “terselubung”. Maka mengapa mesti sendirian?

Karena di sini kita bicara seadanya, sejujurnya, asalkan bisa saling menghargai maha karya kita sendiri. Kami menunggu karya besarmu.

Nebeng : Jika lo pada punya uneg2, kakesel, saran, atau ide/kahayang…jangan takut, malu atawa sungkan untuk diungkapkan pada tim redaksi Revograms. Fuck the sistem. Tim Krucil REVOGRAMS.

“The Intruder” adalah rubrik wawancara Revograms dengan tokoh musik lokal. Dalam Revograms Vol.1, tokoh musik yang diwawancara adalah Andre, pemain gitar Full of Hate. Tata letak latar rubrik ini juga digambar Dinan, sementara isi wawancara ia tik di komputer Agus-Jlaroes, kemudian diguntingi, disusun, dan ditempel denga teknik kolase yang artistik. Wawancara menggali kabar personel Full of Hate, pengalaman manggung paling menarik, latar belakang musik, harapan ke depan, proyek selanjutnya, pandangan tentang anak-anak death metal, panggung-panggung, minuman favorit, dan tempat ngumpul Full of Hate. Bahasa yang digunakan campuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda dan tidak disensor.

Di “Live Review”, Revograms Vol.1 memuat liputan pergelaran Hullaballoo I 1994. Liputanya dibuat oleh Ivan dan lagi-lagi ditulis tangan. Liputan diawali dengan essay foto bertema macam-macam gaya stage-diving yang dilakukan penonton Hullaballoo I serta keriuhan audiens dalam pergelaran itu. Ada delapan foto yang dipajang eksklusif oleh tim redaksi Revograms. Foto-foto dicetak kemudian digunting dan ditempel di latar desain tata letak yang telah ditentukan. Lagi-lagi kolase. Di akhir essay foto, Ivan menuliskan liputannya dengan tulisan tangan yang sangat artistis, mengingatkan kita akan gaya gelombang air di cover album Nevermind-nya Nirvana. Ivan menulis liputannya dengan singkat namun jelas. Liputannya enak dibaca dan orang tak perlu susah membayangkan dengan adanya delapan foto penunjang suasana Hullaballoo I.

Rubrik “Cartoon Crew” diasuh oleh Kimung dan Ivan. Ada dua komik, yang pertama kritik sosial dan yang kedua komik fun. Komik pertama di Revograms Vol.1 adalah gambar sebuah pergelaran musik metal. Dari kejauhan digambarkan sebuah band dengan empat personil sedang manggung sementara para penonton menyemut di panggung sedang berheadbang. Di latar panggungnya ada tulisan “Fuck The Sistem!!! Underground Showtime”. Pusat komik sekaligus pusat kritik digambar oleh Ivan. Gambar percakapan dua tokoh—pria dan wanita—yang pria sepertinya personifikasi dari Glen Benton atau Chris Barnes (musisi-musisi favorit Ivan saat itu) dan yang wanita mengingatkan kita kepada Lina, kekasih Ivan yang berambut kriwil-kriwil. Sang pria, mengenakan kaos Suffocation bertanya kepada sang wanita : “Mpo, kenapa ya, band2 underground kita susah banget majunya. Padahal gua brani taruhan bahwa mereka itu punya potensi yang perlu dibanggakan disbanding grup2 posers yang sering nongol di tv…” Sang wanita, mengenakan kacamata hitam dan kaos  Deicide menjawab : “Kita tinggal di sini sih! Nyang terlalu banyak kemunafikan budaya & sistem yg kolot. Jadi sekarang mah kita musti punya motivasi & dedikasi yg bener biar orang2 tau bahwa kita bermusik itu menggunakan hati, bukannya dgn duit…

Komik kedua lebih fun. Masih digambar oleh Kimung, judulnya “Grinding Against the Daemon—One Way to Piss Off the Demon from Life”. Digambarkan seorang pemuda yang ketakutan setengah mati lagi dikejar-kejar oleh dua sosok setan. Ia berlari, berlari, tapi kemudian ia mengambil gitar, amplifier, dan menggeber lagu grindcore sampai dua sosok setan itu lari terbirit-birit karena berisiknya.

 “Demo Reviewed” adalah rubrik band-band serta rilisan mereka. Masa itu masih jarang band yang merilis album, kebanyakan masih demo. Band yang diangkat adalah Tympanic Membrane dengan segala informasi dan demonya Pisau Bedah, berisi tiga lagu “Pain in Vivid”, “Shaman Untenment”, dan “Pembusukan Keturunan”; Mortheis dan demonya Ritual of Satanic, berisi tiga lagu “Pray to God”, “Riyual of Satanic” dan “Biadab”; serta Fatal Death dan demonya, berisi dua lagu “Penjajah” dan “Problem Sosial”. Di akhir review, tim redaksi memuat catatan kecil : “Bagi bands yang punya demo dan ingin masuk ke majalah ini, kirim segera data biography bands dan personil, photo, dan kaset demo kepada kami.” Untuk rubrik ini, tim redaksi menyediakan tiga halaman sebagai upaya mendukung band lokal.

Informasi berikutnya mengenai band-band luar negeri, juga disajikan karena dianggap penting sebagai wawasan bagi khalayak pembaca Revograms. Kali ini Tim Redaksi menyediakan dua halaman untuk rubrik “Black Issue”, memuat kilasan kabar dari Stone Temple Pilots, Biohazard, Suicidal Tendencies, Rage Against the Machine, Entombed, Dismember, Cannibal Corpse, Paradise Lost, Deicide, Carcass, Kirk Hammett, Les Claypool, Hullaballoo II, Sacrilegious, dan Mortir. Datu pergelara local dan dua band terakhir adalah band lokal yang sengaja disusupkan Tim Redaksi atas nama kesetaraan anata scene local dan global.

Rubrik berikutnya adalah “Minded Mania”, berisi informasi band lokal, khususnya band-band Ujungberung dan ENG. Tim Redaksi menyediakan dua halaman untuk memuat tiga band dalam terbitan perdananya. Ada Jasad, Mocker Shit, dan Rotten Soul—kita kenal sebagai Forgotten kini—yang dimuat dalam rubrik ini. Informasi mengenai band dalam rubrik ini lebih simpel, dikemas per poin terdiri dari keterangan tentang personil, lagu-lagu, dan kontak band. Rubrik ini bertujuan untuk memperkenalkan band-band metal ENG kepada khalayak. Tim Redaksi menutup rubrik ini dengan catatan : “Untuk group band yang ingin masuk ke kolom ini diharapkan bersedia hadir dalam latihan di Palapa Studio (sebagai bahan pertimbangan).

Rubrik terakhir adalah “Dealer”. Rubrik ini sebenanya rubrik khusus iklan dan hanya dipungut biaya 1000 perak kepada siapapun yang akan beriklan. Revograms benar-benar ditutup oleh back-cover propaganda merchandise ENG yang saat itu diurus oleh Panji dan Alan (Tympanic Membrane).

 

***

 

Revograms hanya bertahan terbit empat kali hingga tahun 1997. Setelah Revograms, menjamur kemudian zine-zine di Ujungberung Rebels. Ada Ujungberung Update, Loud n’ Freaks, Crypt of the Abyss, The Evening Sun, NuNoise, Rottrevore Magz, MinorBacaanKecil, dan Totalokal. Kini kaummuda Ujungberung sedang merencanakan penerbitan zine baru. Pisces Zine namanya. Kita tunggu kiprahnya!

 

 

Penulis adalah rekreasioner,

menulis di MinorBacaanKecil

Ketika Saya Memutuskan untuk Meninggalkan Masjid

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

KETIKA SAYA MEMUTUSKAN MENINGGALKAN MESJID

 

Mesjid adalah tempat paling berpengaruh bagi saya semenjak saya kecil, dan juga bagi kebanyakan kawan-kawan saya. Bagi kami yang tumbuh besar di daerah pegunungan tahun 1980an awal, mesjid adalah tempat utama bersosialisasi selain tegalan sangat luas yang umumnya ada di setiap kampung. Mesjid saya adalah mesjid yang dikelola penngurus Dewan Keluarga Mesjid RT yang sangat asri. Di halaman mesjid terbentang lapangan yang luas tempat anak-anak bermain sepanjang sore, sepanjang malam. Di sekeliling lapangan depan mesjid, ada kebun singkong kecil. Kita boleh mencabut beberapa pohon untuk dibakar dan dinikmati bersama kawan-kawan.

Seingat saya, sejak umur tiga lima tahun saya begitu betah main di mesjid. Saya dulu sangat malas masuk TK dan lebih memilih main bersama kawan-kawan sebaya di lapangan halaman mesjid. Masuk SD, ayah mulai sering mengajak saya untuk menunaikan ibadah shalat berjamaah di mesjid. Biasaya shubuh dan magrib. Masih begitu jelas dalam ingatan saya, ayah menunjukkan rasi bintang sehabis kami dzikir sehabis shalat shubuh. Saya mengamatinya dengan takjub. Semakin takub saja saya, ketika ayah lalu mendongengkan mitos-mitos seputar bagai mana rasi bintang itu ada di langit. Kini saya tahu yang didongengkan ayah adalah kisah-kisah tragedi dewa-dewi Yunani-Romawi.

Masuk SD, saya semakin betah tinggal di mesjid. Biasanya saya dan kawan-kawan sebaya mulai berkumpul di halaman mesjid ketika waktu ashar akan tiba. Biasanya kami bermain perang-perangan atau sekedar berburu capung di ilalang yang tumbuh di pingiran lapangan. Hingga kemudian beduk adan ashar tiba, kami berebutan mengambil air wudlu dan ramai-ramai shalat berjamaah. Ba’da ashar, kami tak lantas bubar. Kami shalawatan, melantunkan puji-pujian kepada rasulullah dan menyebut asma Allah, asmaul husna. Belakangan, ketika kami sudah semakin besar, sekitar kelas tiga SD dan kawan-kawan yang ikut berumpul bersama kami di mesjid semakin banyak, kami mulai pindah shalawatan ke lapangan halaman mesjid. Saat itu kai berpikir alangkah asiknya jika shalawatan tersebut diiringi dengan alunan musik. Kami pikir musik yang menghentak bertalu-talu dinamis, variatif, namun konstan adalah musik paling cocok untuk shalawat yang selalu kami lantunkan.

Pertengahan tahun 1980an, di kaki Gunung Manglayang, sangat terbatas bagi kami untuk mendapatkan alat-alat musik. Kalaupun ada harganya sangat mahal. Tapi, itu tak mengganggu kami. Kalau alat musik tak ada, sudah kami buat saja alat musik kami sendiri. Maka, sepulang sekolah di siang hari, kami beramai-ramai pergi ke sawah mencari kaleng bekas, kain bekas, dan tanah liat. Kami olah sampah-sampah itu jadi dogdog, semacam genderang kecil, yang kemudian jadi perkusi yang mengiringi alunan shalawatan kami. Tak kurang sekitar tiga puluh dogdog kami buat saat itu. Suasana shalawatan sehabis ashar hingga menjelang masgrib semain ramai saja. Banyak kemudian kawan sebaya yang ikut gabung. Mesjid kamipun semakin ramai. Ketika Ramadhan tiba, keramaian anak-anak dan remaja mesjid bisa sepuluh kali lebih hebat. Hampir sepanjang hari anak-anak dan remaja berkumpul di lapangan halaman mesjid untuk sekedar berbincang menunggu waktu berbuka puasa, bershalawat, dan akhirnya ramai-ramai memainkan rampak dogdog kami.

Bosan dengan shalawatan yang itu-itu saja, kami mulai menciptakan lagu sendiri. Lagu-lagu yang kami ciptakan tak jauh isinya degan shalawatan yang setiap hari kami senandungkan diiringi dentuman rampak dogdog buatan kami sendiri. Semuanya pujian kepada Rasulullah, pujian kepada Allah SWT. Kami juga mengaransemen ulang asmaul husna dalam versi kami sediri. Menghentak, mengasikan. Seingat saya, lagu-lagu yang kami ciptakan lillahita’ala karena Allah SWT dan atas kecintaan kami yang polos kepada Rasulullah SAW. Begitu murni.

Tradisi ini terus berlangsung hingga saya lulus SD dan mulai masuk SMP tahun 1990. Saat itu, tradisi ini kami lakukan tak hanya ba’da ashar hingga menjelang maghrib saja. Tradisi ini kami lakukan juga ketika bulan Ramadhan tiba. Setiap waktu ashar hingga maghrib tiba kami tabuh genderang dogdog kami dan bersahut-sahutan, senandungkan shalawat, asmaul husna, dan juga lagu-lagu pujian kami kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sepanjang shaum bahkan, saya dan kawan-kawan sepakat untuk sahur lebih awal dan keluar sebelum jam setengah empat shubuh dan mulai marching dogdog kami keliling kompleks untuk meramaikan sahur bulan Shiam. Sekali lagi, lagi-lagi seingat saya, kami melakukannya karena kecintaan kami terhadap Allah SWT dan Rasululah SAW. Puncak kreasi kami adalah pawai dogdog di malam takbiran. Kami keliling kompleks, menelusuri kampung-kampung di sekitar kompleks untuk menampilkan kesenian yang kami mainkan. Jika lelah, kami kembali ke lapangan mesjid dan memulai gelaran musik religius kami di sana.

 

***

 

Namun, tradisi itu ternyata tak lama kami gelar. Ketika sekelompok orang—pendatang yang kabarnya adalah penyebar Islam, modernis yang punya pemikiran maju dalam mengembangkan Islam sekaligus giat memurnikan Islam, dan berkomitmen tinggi meramaikan mesjid—datang dan mulai mengkritik kegiatan kami, katanya berisik, tak menggunakan mesjid seperti mestinya, dan mulai mendengung-dengungkan isu bid’ah. Kami was-was. Namun, atas kecintaan kami kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada musik, kami tetap melakukan ritual kami itu. Hingga akhirnya di malam takbiran tahun 1992, setelah kami lelah menggelar rampak dogdog, bedug, dan senandung shalawatan keliling kampung dan kompleks, dan kami yang lelah memutuskan untuk menggelar musik religius kami di lapangan halaman mesjid, seorang pendatang baru, bapak-bapak botak, dengan wajah merah padam menghampiri kami. Saat itu, malam hampir berakhir dan takbiran dari speaker mesjid sedang ramai-ramainya kami iringi dengan talu-talu perkusi kami. Sang bapak turun dari jalan raya dan bergegas menghampiri kami.

“Hentikan!” serunya. “Ini nggak bener! Talu-talu yang kalian lakukan adalah praktek penyembahan matahri. Ini bid’ah! Ini musrik! Jelas-jelas musrik!!!” teriaknya. Kami terdiam. Kami terpana. Sebelum kami menjawab teriakan amarah si bapak, ia sudah melanjutkan dengan berbusai-busai ludah keluar dari sudur-sudut bibirnya, mengguar hadist-hadist dan ayat-ayat Al-Qur’an yang lalu meruntuhkan semua argumen yang tentu saja belum sempat kami ungkapkan. Dan seingat kami, baru saat itulah kami dimarahi sedemikian mendasar dan melaklak dasar oleh orang asing. Bahkan orang tua-orang tua kamipun belum pernah memarahi kami seperti itu.

Kami terpana dituduh melakukan prosesi penyembahan matahari. Demi Allah, tuhan yang kami junjung tinggi dan selalu kami puji dalam alunan msuik yang kami ciptakan untuk-Nya, kesenian yang kami ciptakan sama sekali tidak ditujukan untuk menyembah matahari tapi untuk menyembah Allah SWT dan menghormati Rasulullah SAW semata. Hingga saat itu, baru kami tahu jika talu-talu genderang adalah alat yang digunakan untuk menyembah matahari. Bahkan, kami tak pernah berpikir jika matahari adalah dzat yang harus disembah. Wallahualam.

Setelah peristiwa itu, kegiatan kami di mesjid mulai dibatasi. Tak boleh ini, tak boleh itu. Orang-orang tua kami pun tak bisa berbuat banyak. Kata mereka, orang-orang pendatang baru ini adalah bagian dari mereka yang menginginkan pemurnian Islam serta kaum modernis Islam. Kami tak betah di mesjid saat itu. Mesjid sudah bukan lagi tempat yang menyenangkan. Allah sepertinya mereka rebut dengan paksa dari kami. Yang kami rasakan, ketika kami mainkan rampak dogdog dan memuji-Nya serta Rasul-Nya, kami merasa begitu dekat dengan-Nya. Tak berbatas. Kini Ia dicabut cerabut dengan paksa dan tak ada lagi yang boleh kami lakukan di mesjid, rumah-Nya. Bukan rumah mereka.

Perlahan, saya dan kawan-kawan meninggalkan mesjid. Mesjid kamipun sepilah. Jarang ada anak-anak dan remaja yang diam di mesjid. Hanya orang-orang tua yang asik bertekun dalam sepinya mesjid……..

 

***

 

Tiba-tiba kami mendapati diri kami terlempar di jalanan. Bermain musik mengenang masa kecil kami, masa indah kami. Lalu mereka, yang mengusir kami dari mesjid, mulai berkata : “Kalian kaum muda bergajulan! Jauh dari Allah! Nongkrong di pinggir jalan, brang-breng-brong ga jelas! Bukannya meramaikan mesjid malah menyumpeki pinggiran jalan! Kalian Sampah!” //kims, drinkim_beam@yahoo.com

BIROKRASI KOMPLIT MOTHERFUCKER!

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

 

Birokrasi Komplit Motherfucker!

Kalo Bisa Dipersulit Kenapa Dipermudah HaHaHa…(ketawa pemerkosa, sambil nyeletingin sleting celana setelah ngerjain chick!)

 

Ketika komunitas kreatif Bandung beristighfar dan menjadikan insiden AACC sebagai ajang introspeksi dan konsolidasi ke dalam dengan berkomitmen melakukan perubahan, terutama pembelajaran mengenai kultur musik metal dan underground terutama kepada kaum-kaum muda, malah merebak isu-isu yang meresahkan komitmen itu. Isu-isu mengenai pencekalan, masalah perizinan, standarisasi EO, diskriminasi musik, merebak meresahkan. Dalam logika sederhana, pembelajaran mengenai kultur musik metal harus diaplikasikan dalam metode sederhana : bermusik dan berkecimpung di dunia musik. Namun, bagaimana bisa belajar dengan baik jika ada teman sebelah kita yang nggak punya kerjaan terus menerus merongrong mengganggu?

Baru-baru ini saya ngadu bako sama kawan-kawan. Kebanyakan mengeluh mengenai masalah perizinan. Beberapa hari sebelumnya ada anak-anak SMA yang curhat kalau pensi mereka di-cut lantaran prosedur yang ada tak ditepati. Beberapa minggu sebelumnya mereka sibuk dengan counter opini di media2, dan sebulan sebelumnya, 9 Februari 2008, sebuah insiden terjadi di Gedung AACC. Ngumpul danbertukar kisah adalah hiburan bagi kami.

Salah satu kawan bercerita, ia juga terganjal masalah izin ketika akan mengadakan sebuah acara reguler di rumahnya. Dengan heran ia bertanya :”Acara-acara aing, di imah aing, make duit aing, nu riweuh aing, naha ulah nya?” Kawan saya yang lain, yang juga acara-acaanya nggak jadi digelar krn perizinan, bertanya dengan nada yang sama. Kami manggut-manggut saja dengan prihatin. Keprihatinan kami semakin dalam ketika ada kabar bahwa sebuah diskusi telah digelar di sebuah tempat terkemuka, oleh tokoh yang katanya terkenal (tapi saya ga tau dia), dan hasilnya mereka membuat sebuah rempugan. Forum yang mengatur standarisasi EO. Jadi  untuk menggelar sebuah acara, penyelenggara hrs sesuai standar forum ini. Duh, saya pikir kayak zaman VOC aja, maen monopoli.

Dalam benak kami muncul hal-hal lucu. Kami bayangkan kalo acara pendidikan, workshop, seminar, bedah buku, dll.dll.dll. berarti harus izin ke dispen selain ke polisi, dan desk-desk dan sebagainya di pemerintahan dan lain-lain, selain ke forum tersebut. Kalo acara musik harus ke disbudpar (?) terus ke polisi, dan desk-desk dan sebagainya di pemerintahan dan lain-lain, selain ke forum tersebut. Kalo acara breketeketeketek harus ke dinas  breketeketeketek. “Heuh! Iraha nyieun acarana atu mun terus nguruskeun masalah perizinan mah!” keluh kawan saya. Pusing? Sama, saya juga pusing!

Pembicaraan juga merambah ke isu perizinan litas sektoral. Jadi jika band YYY asal kecamatan QWERTYU provinsi ASDFGHJ akan manggung di kecamatan LKJHGFDS provinsi POIUYTR, maka ia harus memiliki rekomendasi dari polsek kecamatan QWERTYU provinsi ASDFGHJ agar bisa manggung di kecamatan LKJHGFDS provinsi POIUYTR. Kalo rekomendasi terhadap band YYY asal kecamatan QWERTYU provinsi ASDFGHJ sudah keluar barulah band band YYY asal kecamatan QWERTYU provinsi ASDFGHJ bisa manggung di kecamatan LKJHGFDS provinsi POIUYTR. Pusing? Sama, saya juga pusing!

Aneh aing mah, pan maranehna teh digajih ku duit aing, gawe maranehna teh kusuna ngagampangkeun urusan aing, naha jadi hararese kieu nya?!” Nya, lur. Tapi mereka adalah orang-orang yang menganggap suatu yang gaya bukanlah suatu yang sederhana, tapi yang rumit-rumit. Mereka begitu pintar mengurai masalah, tapi selalu gagal melihat sesuatu secara sederhana dan utuh. Seorang kawan lain nyeletuk, geus kudeta weh! Tapi mau ngudeta apa ya? Negaranya aja nggak ada…//kims

 

 

 

Zine-zine di Ujungberung Rebels

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

ZINE-ZINE DI UJUNGBERUNG REBELS

 

Salah satu indikator perkembangan sebuah komunitas dpt diukur dr keberadaan zine sbg salah satu alat informasi & komunikasi antar & antara komunitas. Dinamika perkembangan komunitas dpt ditelusuri dr sgl yg diberitakan dalam zine, baik bersifat jurnalisme ataupun wacana & sejarah.

Di Ujungberung Rebels (selanjutnya Uberebels), dlm kurun waktu 12 thn setidaknya ada 9 buah zine yg merekam dinamika perkembangan scene. Zine2 tsb adalah Revograms (1995-1997), Ujungberung Update (1998-1999), Loud n’ Freaks (1999), Crypt of the Abyss (1999), The Evening Sun (1999), Rottrevore Magz (1999-2004), New Noise (2000-2003), MinorBacaanKecil (2003-…), dan Totalokal (2005-…).

Revograms

Revograms selalu disebut2 sbg zine pertama di scene musik bawahtanah Indonesia. Zine ini digagas Dinan sbg salah satu manifestasi Extreme Noise Grinding, selain jg sbg corong propaganda event Bandung Berisik I.Revograms#1 terbit Maret 1995. Covernya gambar tangan Dinan, wajah monster ular dikelilingi tengkorak2 & wajah2 jiwa yg tersiksa di sekelilingnya. Di bawahnya ada tulisan dr rugos : Total Local Underground Info. Edisi ini digarap tim redaksi yg beranggotakan Ivan, Kimung, Dani, Dadan, Agus, Yayat & Gatot. Ivan, sang pemred menamai tim ini Tim Krucil Revograms. Dinan, editor, mengawasi tim ini, jg lini advertising (Agus), product sales (Ipunk & Yayat), editor foto (Sule), dan kontributor (Kang Soleh & Kang Bey). Markas redaksi di Jln Rumah Sakit No.72 Ujungberung dan markas distibusi di Palapa Photo Studio, Jl. Raya Ujungberung No.118. Di bawah informasi kru Revograms, Ivan menggambar komik pemuda metal mengacungan 2 jari simbol peace, dgn tulisan “No Posers! No Drugs! No Violence, Peace & Get a Better Life!”

Revograms#1 memuat 9 rubrik : “Graveyard Sound” (pengantar redaksi), “The Intruder” (wawancara), “Live Review” (liputan), “Cartoon Crew” (komik), “Black Isssue” (info band2 luar negeri), “Minded Mania” (info band2 lokal), dan “Dealer” (kolom iklan dgn biaya 1000 perak per-iklan). Revograms Vol.1 ditutup oleh back-cover propaganda merchandise ENG. Edisi ini 98% pengerjaannya kolase handmade. Pengantar redaksi dan live review benar-benar ditulis tangan oleh Ivan. Foto2 & artikel yg ditik dan print dilayout dgn sistem gunting-tempel di atas latar hitam, hlmn majalah horror luar negeri, atau kertas bergambar tangan Dinan.

Revograms#2 terbit Juli 1995. Di lini editor, kini Dinan didampingi Yayat, Dani (bendahara), Kang Soleh & Kang Bey (kontributor), advertising (Agus), editor foto (Sule), sementara tim redaksi kini adalah Ivan, Ipunk, Gatot & Georgy. Produk2 merchandise ditangani ENG Co. & distribusi ditangani Palapa Studio. Revograms#2 msh memuat rubrik yg sama, dgn penambahan rubrik ENG, Quiz & Demo Tape Promotion. Proses kreatifnya tdk jauh berbeda. Masih kolase gunting-tempel.

Di edisi#4, Revograms bersinergi dgn Graveyard Production-nya Mas Harry Surabaya, terbit Juli 1997 bbrp waktu sblm Bandung Berisik II. Pergelaran ini jg yg menjadi fokus utama Dinan dgn memajang iklan Bandung Berisik II yg provokatif di halaman depan & tengah. Dr iklan tsb, terlihat bgmn sinergi ENG yg telah menggurita dgn komunitas-komunitas di lain seluruh Indonesia. Sinergi ini diperkuat dgn pemuatan informasi Most Wanted Distributors musik metal bawahtanah di Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Yogyakarta & Bali. Jaringan ini, selain mencakup peredaran merchandise band, jg kerja sama event musik & sharing media informasi & komunikasi. Di edisi ini Dinan kini menangani semua sendirian, hanya dibantu Mas Harry dr Surabaya. Dinan bahkan mengerjakan produksi Revograms#4 Juni 1997 di Surabaya. Ia jg memindahkan alamat Revograms ke rumahnya di Jl. Riung Karya Juang I No.12 Bandung 40295.

Revograms#4 dibagi tanpa rubrikasi, hanya menuliskan daftar bahasan & liputan. Ia mengulas band Rotten Corpse, Retribeauty, Trauma, Anti Septeic & Step Forward, mewawancara Burgerkill, meresensi kaset2 Forgotten, Grausig, Rotten Corpse, Perish, Eternal Madness, Turtles Jr., menuliskan essay mengenai sejarah Ujungberung dlm artikel “Bandung Timur Most Wanted”, serta memajang reaksi musisi dari kota-kota di Indonesia atas fitnah yang dimuat media besar Tabloid Adil yang memuat berita mengenai satanisme di kalangan musisi bawahtanah Indonesia. Ia jg memajang poster2 propaganda, terutama yg berkaitan dgn Bandung Berisik II. Di akhir essay “Bandung Timur Most Wanted”, Dinan menuliskan semangat juang para pentolan komunitas musik bawahtanah Ujungberung :

Community bawah tanah Bandung Timur People yg hidup di bawah standar umum sosial tidak membuat mereka mengeluh kelamaan. Orang-orang spt Yayat (Jasad), Amank (Embalmed), Andries (Sonic Torment), Ara (Naked Truth), & Addi (Forgotten), mereka adalah orang-orang yang tanpa lelah terus berusaha & berkarya mendedikasikan seluruh hidupnya untuk musik & community dunia bawah underground Bandung. mereka memang bukan yang pertama & yg terbaik, tapi mereka yakin bahwa mereka tidak mau jadi yg terakhir… How about you?

 

Ujungberung Update

Ujungberung Update digagas Addy Gembel, Amenk & Sule. Update dibuat sbg corong propaganda kompilasi Ujungberung Rebels & berbentuk selembaran A3. Ketika terbit Juni 1998, Update#1 lsg menghajar dgn kritik sosial thd kondisi krisis moneter & bgt banyak politisi oportunis, seniman, musisi, dll yg bagi anak2 Uberebels tak lebih di pahlawan kesiangan yg cuma posing belaka. Essay yg ditulis Addy Gembel itu jg memepertanyakan kembali nilai2 & komitmen yg kuat dlm kutur musik bawahtanah serta perkenalan konsep & prinsip2 komunitas Ujungberung Rebels. Di akhir wacana, Gembel memperkenalkan 14 band Ujungberung Rebels, yaitu Burgerkill, Impure, Dining Out, Disinfected, Restless, Jasad, The Cruels, naked Truth, Disorder Lies, Sacrilegious, Suffer Remains, Beside, Forgotten, Bedebah, dan Ekstrim Kanan. Di hlmn selanjutnya Update memuat dua rubrik, yaitu “BISU”(Brutal Issue Selebritis Ujungberung), dan “Rebel Attitude”. Keduanya merupakan kolom gosip kalangan anak2 Ujungberung. Dua kolom ini lalu tenar dgn sebutan “Gogon” atau “Gosip-gosip Underground.”

Di edisi kedua, Maret 1999, Gembel kembali menghajar tatanan pemikiran komunitas dgn

Intro “Manusia Dikutuk untuk Bebas.”, sebuah propaganda yang lain tentang memutuskan sendiri bagaimana cara untuk hidup sekaligus menyoroti cap band komersil kepada band2 Uberebels hanya krn mrk meminta bayaran kepada pihak penyelenggara event atas nama slogan yg penyeleggara bikin sendiri : “Support Your Local Underground Bands!”  Di hlmn belakang, Gembel mempublis surat cintanya “Surat Cinta Homeless Crew”, yg pd hakikatnya pengenalan eksistensi attitude bawahtanah, sgala pertentangan & kompleksitas hubungan sosialnya dgn masyarakat banyak, hingga ke hubungan yg paling personal : percintaan.

 

Loud n’ Freaks

Loud n Freaks digagas Toto Burgerkill (editor), Feby Balcony (desain), & Pam Runtah (kontributor). Ini adalah zine khusus penggemar hardcore & memuat info2 ttg hardcore serta gaya hidupnya dgn markas di Jl. Golf D2/1B Cisaranten Ujungberung.. Edisi#1 terbit Januari 1999 dgn rubrik Core (redaksional), Essay2 (ada empat “Underground kembali ke Do It Yourself”, “Jangan Gunakan XXX Sembarangan”, “Anarki Apakah Bisa Eksis di Republik Indonesia”, dan “Borok Attitude Masih Perlukah Dianggap Rendah”), World Wide Hardcore Scene (info scene hardcore dunia), Wawancara (Forgotten, Savor of Filth, Turtles Jr., Reportase Show, Bandung Underground Info, Review Band (Take A Stand & Disinfected), Review Musik (Balcony, CoreTex, Friday 13th, Forgotten, Grill Salmon, Impious, Jeruji, Kekal, Naked Truth, Noin Bullet, Turtles Jr.) Review Fanzine (Tigabelas#1, Pangcore#3&4, Over the Edge#9, Revolted#1, The Kan Du#1, In Effect, International Straight Edge Bulletin, Reflection, Lion City Skins, Neptune), dan Ending. Di Ending, Toto menulis : “Kami benar-benar ingin mempertahankan fanzine ini sehingga kita akan kembali bekerja untuk edisi mendatang. Mudah-mudahan kami tidak mendapat banyak masalah yang berarti dan dengan cepat dapat menjumpai kalian semua. Kalian yang mendukung penuh dan antusias, tunggu apa lagi… Label, distro, band, individu, atau siapa saja, ditunggu kontribusinya. See you…” Loud n’ Freaks memang hanya bertahan satu terbitan lagi, namun dari struktur penempatan rubrikasi para penggagas semakin menyetarakan scene lokal dan scene global.

 

Crypt of the Abyss

Crypt of the Abyss digagas Opik Sacrilegious, berisi info2 black metal. Di edisi pertama tanpa tedeng aling2 Opik membuka Crypt dengan What the Hell Inside this Isuue (isi), sebuah Introduction (pengantar dengan ilustrasi bintang porno Asia Carerra) dan The Enlightment. Crypt mereview band Incantation, Arcanum (lokal), Celestral (lokal), Point Blank (lokal), Virus Politik (lokal), Vile Intent, Jasad (lokal), Conceal, dan Nocturnal Orchestra (lokal). Dari set ini kita tahu jika pd masa ini pemuatan rubrikasi review band telah lepas dari batasan Negara. Segalanya sudah semakin mencair dan band2 lokal sudah dianggap sejajar dengan band2 luar negeri.

Untuk dukungannya terhadap scene musik local, Cryp punya rubrik Disorderly Trunks of Unusually Crypt Tempest, mereview band The Abyss, Marduk, Disinfected, Decay, Sacrilegious, Amalthea, v.a Brutally Sickness Vol.2,  Forgotten, Victim of Rage, Injected Sufferage, Naked Truth, Sepultura, Motor Death, Unseen Darkness, Embalmer, Dimmu Borgir, dan v.a Death is Just the Beginning Vol.4. Crypt jg memuat review zine-zine lokal seperti Morbid Noise Zine & Gerilya Underground Fanzine, selain mengiklankan The Evening Sun.

Untuk berita, Crypt punya rubric News, Whole Sale Price List June-July 1999 Focflame Records Bandung, dan Scene Report Ujungberung Rebels yang memuat kabar2 terbaru anak2 Uberrebels. Crypt juga memuat iklan Rebel Sound & Rebelliondgn produksi merchandise Burgerkill Every Mother’s Nightmare dan Everything Sucks, Disinfected logo dan Within Subsconcious Mind, serta Forgotten Obsesi Mati.

 

The Evening Sun

Majalah gothic pertama di Indonesia yang digagasDani, salah satu pionir Uberebels, penabuh drum Jasad dan pendiri band gothic, Restless. The Evening Sun memuat artikel mengenai sejarah gothic, musik, scene gothic lokal dan luar negeri, dan perkembangannya kini. Memuat wawancara Within Temptation, Pilori, ulasan mengenai Theater Tragedy, Sirrah, dan segala macam pergothikan. The Evening Sun hanya satu kali terbit pada Oktober 1999.

 

Rottrevore Magz

Rottrevore adalah majalah tergaya di di Uberebels. Inilah satu2nya zine yg dicetak dgn kualitas baik. Rotrevore digagas Ferly, Rio, dan Andre. Rottrevoe juga dapat disebut sebagai zine metal bawahtanah terbaik yang pernah ada di Indonesia baik dalam sisi tataletak maupun dalam isi. Wacana yang diangkat lebih mendalam santai, namun tak mengurangi kegaharan sebuah zine metal yang seharusnya. Rottrevore selalu menggunakan kertas buram, dan di siniliah pemberontakan itu ada. Sebagai zine yang berpihak kepada musik bawahtanah, Rottrevore memang yg terbaik.

 

 

 

New Noise

Setelah Loud n Freaks tak berjalan, Toto berkolaborasi dengan Eben untuk menerbitkan sebuah zine hardcore, metal, dan punks. Zine mereka berdua adalah New Noise, menampilkan kabar-kabar terbaru mengenai scene metal, hardcore, dan punk. New Noise terbit lima kali sepanjang 2000 hingga 2003. Formatnya sudah jauh lebih baik dari zine-zine yang sudah pernah terbit. Dilayout oleh Eben dalam Adobe Photoshop dan CorelDraw.

 

MinorBacaanKecil

MinorBacaanKecil—selanjutnya Minor saja—sebenarnya tdk bersinggungan lsg dgn Uberebels, selain dibuat o/ Kimung yg notabene besar di Uberebels. Minor dibuat tahun 2003 oleh Norvan, Kimung, Congor, Popup, Danive, Hana, Nyda, dan Sundea di Negeri di Awan, Sastra Unpad. Setelah edisi ke 9 barulah Minor bersinggungan dengan Uberebels, ketika Minor memuat Ujungberung Update sebagai rubrik tetapnya. Pemuatan ini adalah salah satu upaya dukungan Minor thd penerbitan buku Panceg Dina Jalur : Ujungberung Rebels yg akan ditulis Kimung & Addy Gembel dan diterbitkan Minor Books 2008. Sebelumnya, Uberebels sempat bersinergi juga dgn Minor melalui sayap penerbitannya, Minor Books. Minor Books memulai debutnya dgn menerbitkan buku kumpulan cerpen karya Addy Gembel, Minor Books 14 Agustus 2004. Yang paling update dan fenomenal, tentu saja penerbitan buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death, sebuah biografi Ivan Scumbag karya Kimung yang diterbitkan Minor Books, 11 November 2007.

 

Totalokal

Totalokal digagas Pei, Aas, dan Asmo sejak Februari 2007, sebagai manifestasi dari propaganda “Never Grow Up” yang digagas Distribute. Edisi pertamanya mengangkat judul Totalokal Listen to the Children. Totalokal punya rubrik Band Highlight,  di edisi pertama memuat review Pitfall dan wawancara Bedaxsaripohacy. Totalokal lalu memulai propaganda merchandise mereka dgn desain2 merchandise utk bayi & anak2, semua produk Parental Advisory dan Distrubute. Namun tak lama beriklan, Totalokal segera menghajar dgn Issue : “Lawan Human Trafficking” dan essay

“NGU#4 the Newsletter on Children Behalf : What’s Beyond Growing Up” yang merupakan perkenalan propaganda Never Grow Up. Totalokal#1 juga memuat sebuah hotspot seni di Bandung, Jendela Ide Kids Percussion dan sk8par anak, The Neverlands, di depan markas Distribute, Baranangsiang, Kosambi, Bandung.

Di edisi lainnya, terbit Februari 2008, Totalokal A Never Grow Up Zine hadir menyikapi tragedi AACC dan menjadi salah satu informasi yang banyak dibaca selain Minor. Totalokal menjadi salah satu propaganda penggalangan dana sekaligus media ucapan belasungkawa & pengguliran wacana mengenai subkultur “underground”.Edisi ini Totalokal jg memuat info Yayasan Adikaka, The Neverlands, wawancara bomber lokal Kiddy, essay “History of Grafitti 1960-1980”, review:D’Army, Rabies, Koil, Burgerkill, Superabundance, & buku karya Kimung, Myself Scumbag Beyond Life and Death, Minor Books, November 2007, dan reportase National Skateboarding Championship 2007,  Margo City, Depok, 25 Nov 2007.

 

***

 

Iraha aya zine anyar deui atuh euy??? Asa barosen yeuh!!!//kims, drinkim_beam@yahoo.com

They Got the Gun but We Got the Number

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

THEY GOT THE GUN BUT WE GOT THE NUMBER

 

Kimung

 

 

They got the gun but we got the number

Gonna win, yeah, we’ll take it over!

C’mon!

Five to One, The Doors

 

Menyikapi Tragedi AACC Sabtu Kelabu 9 Februari 2008, Solidaritas Independen Bandung melakukan dua solusi, yaitu dengan cara litigasi dan non-litigasi. Litigasi berkaitan dengan hukum, sementara non-litigasi berkaitan dengan pendataan kembali kondisi sosial-budaya yang berkaitan dengan terjadinya tragedi tersebut. Saya termasuk dalam tim non-litigasi. Ada satu hal yang saya kritisi dalam pernyataan-pernyataan dari komunitas menyikapi Tragedi AACC. Kebanyakan pernyataan-pernyataan adalah respon yang lebih mengkonfrontasi pernyataan kepolisian dan pemerintah. Satu lagi wacana yang merebak, menuding pemerintah lalai dalam menangkap gejala global di kalangan pemuda teruatama dalam gairah musik metal di Kota Bandung yang ujung-ujungnya meminta fasilitas gedung kesenian kepada pemerintah.

Untuk memandang masalah ini lebih jernih, bekerja sama dengan Jurusan Sastra Jerman, saya, AddyGembel, dan UcokHomicide menggelar diskusi Si Kumis dan Begundal di Ujungberung Rebels, Nihilisme Nietzsche, Ivan Scumbag, dan Dinamika Ujungberung Rebels. Diskusi ini awalnya akan membedah dinamika komunitas Ujungberung Rebels sebagai salah satu komunitas musik metal bawahtanah tertua dan tertangguh dari perspektif filsafat nihilisme dan ubermensch-nya Nietzsche.

Satu hal yang sangat penting untuk dicatat dalam diskusi ini ternyata adalah kesadaran akan sejarah komunitas. Ujungberung Rebels tumbuh sejak akhir 1980an. Awal 1990an mereka sudah membentuk sebuah komunitas bernama Bedebah, singkatan dari Bandung Death Metal Area—walau pada kenyataannya, tak cuma anak-anak detah metal yang ikut bergabung degan mereka. Punk rock, thrash metal, death metal, grindcore, black metal, industrial dll saling berbaur. Nama Bedebah sendiri diambil dari program siaran di Radio Salam Rama Dwihasta, Taruna Parahyangan, Ujungberung. Bedebah memutar lagu-lagu Carcass, Napalm Death, Terrorizer, Deicide, Sepultura, dll ketika radio-radio lain masih menyiarkan heavy metal. Era ini ada empat band metal yang menjadi ikon Ujungberung, Funeral, Necromancy, Jasad, dan Orthodox.

Mereka menggebrak berbagai panggung di Kota Bandung . dari panggung-panggung festival, hingga pensi-pensi sekolahan. Mereka minoritas tetapi sangat solid. Berbegerak dari satu panggung ke panggung yang lain bersama-sama, dengan attitude metal, dengan semangat kebersamaan. Generasi ini pula yang pertama kali membuka keran informasi mengenai permetalan dunia dengan menggencarkan pemesanan majalah metal internasional, kaos, kaset atau cd band-band metal, merekam ulang, dan memperbanyak serta menyebarkannya di kalangan mereka. Mereka juga telah berai membawakan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri.

Apa yang telah mereka rintis menginspirasi generasi selanjutnya. Di Ujungberung, inspirasi ini menemukan wadahnya ketika Studio Palapa berdiri tahun 1993. Berdiri dua band baru, Analvomit dan Three Side of Death.Kemudian berdiri Disinherit, Sonic Torment, Sacrilegious, Forgotten, Burgerkill, Infamy, Naked Truth, Beside, Embalmed, Disinfected, Injected Sufferage,dll. Perkembangan ini kemudian diolah dalam sebuah organisasi bernama Extreme Noise Grinding (ENG). Berdiri tahun 1995, ENG merancang dua program propaganda metal Ujungberung, yaitu dengan penerbitan zine dan pergelaran musik. Zine yang kemudian berdiri adalah Revolution Programs atau kita kenal sebagai Revograms (Mei 1995), sementara pergelaran yang digeber adlah Bandung Berisik Demo Tour atau kita kenal sebagai Bandung Berisik I. Semua band yang manggung di event ini telah memiliki lagu sendiri dan merekamnya ke dalam sebuah demo. Tradisi mencipta lagu semakin kuat di sini. Majalah Hai tahun 1995 mencatat dari 10 band indie Indonesia, tiga di antaranya berasal dari Ujungberung (Jasad, Sonic Torment, Sacrilegious).

Dua propaganda terseut berhasil dengan gemilang. KOmunitas musik metal bawahtanah Ujungberung semakin menggurita. Studio Palapa yang asalnya mampu menampung para musisi muda, kini terasa semakin sempit saja.. Tak lama kemudian, mereka, dengan kaos hitamnya segera memenuhi trotoar jalan raya Ujungberung. Era ini, pembelajaran komunitas akan bermusik sedang gencar dilakukan. Eksplorasi sound yang mantap, aksesoris-aksesoris instrument, hingga pembinaan kru, tehnisi, sound engineer, dan manajerial. Kita kemudian kenal nama Homeless Crew dari Ujungberung. Sebuah nama yang juga merepresentasikan menolak kemapanan dan kenyamanan. Jiwa-jiwa yang resah lahir saat ini.

Segala keresahan itu mereka tuangkan menjadi karya. Setidaknya telah ada empat belas band di Ujungberung tahun 1997. Mereka kembali berkumpul untuk menggelar Bandung Berisik II dan merencanakan rilisan kompilasi lagu-lagu band-band metal bawahtanah Ujungberung. Kompilasi ini rencananya dijuduli Ujungberung Rebels. Namun, ketika dirilis Aquarius tahun 1998, judulnya berubah menjadi Independen Rebels. Ujungberung Rebels sendiri sejak itu lekat menjadi identitas komunitas musik metal bawahtanah Ujungberung.

Komunitas ini kemudian banyak melahirkan, tak hanya band-band metal terbaik di Indonesia , atau mungkin di Asia , tetapi juga kru berkomitmen dan berkualitas tinggi. Komunitas ini perlahan namun pasti berkembang. Salah satu faktor yang menunjang perkembangan terseut adalah situasi pergelaran yang menunang berkembangnya band-band metal, terutama dengan hadirnya Generasi Muda Radio (GMR) dan Gelora Saparua sebagai tempat pergelaran musik.

Setelah berbagai masa susah dan senang, kini Ujungberung Rebels diwarnai setidaknya tiga sektor ekonomi kreatif di dalamnya, yaitu fesyen, label, dan literasi. Di ranah fesyen, Ujungberung Rebels punya MediaGraph, Chronic, Distribute, Reek, Melted, dan Scumbag Premium Throath. Di ranah label rekaman Ujungberung Rebels memiliki Pisces Records, Rottrevore Record, dan Revolt! Records. Sementara di bidang literasi ada MinorBacaanKecil, Minor Books, Totalokal, dan toko buku Omuniuum. Selain itu, ada juga ranah perekonomian lainnya seperti warnet dan sentra kuliner.

Segala pencapaian tersebut rasa-rasanya benar-benar dilakukan sendirian. Sama sekali tak ada campur tangan pihak-pihak lain selain komunitas Ujungberung Rebels sendiri secara khusus, dan Bandung Underground serta komunitas-komunitas musik metal bawahtanah luar kota seluruh dunia pada umumnya. Tak ada campur tangan pemerintah, lembaga pendidikan, institusi agama, kepolisian, parpol, ormas. Kita berdikari! Berdiri di atas kaki sendiri!

 

***

 

Menjadi sesuatu yang aneh jika kemudian kita sekarang meminta-minta sebuah gedung pertunjukan kepada pemerintah. Dari sejarah komunitas Ujungberung Rebels yang juga berhubungan erat dengan komunitas-komunitas independen lainnya di Kota Bandung , tak pernah ada kisahnya kita meminta-minta apapun kepada pemerintah. Jangan karena sebuah tragedi, hati kita lalu lantas lembek, enggan mengakui jika ini adalah tanggung jawab kita bersama : seluruh komunitas di Kota Bandung itu sendiri. Menyalahkan pemerintah atau polisi bukanlah sebuah solusi yang bijak karena dengan demikian kita sudah mengakui adanya eksistensi lembaga-lembaga tersebut dalam perkembangan kesejarahan kita.

Maka demikian, Tragedi AACC hendaknya menjadi ajang instrospeksi diri kita sebagai komunitas. Mungkin selama ini kita lengah, terlalu egois memikirkan diri sendiri higga lupa bahwa kondisi sosial budaya kita secara tak sadar semakin membesar dan membesar dan di jalanan sana ribuan atau bahkan jutaan remaja menanti untuk kita raih, untuk kita ajak berkreasi, maju bersama-sama, berkembang bersama-sama. Tragedi AACC dalam halini dapat kita jadikan sebagai momentum untuk bersatu mengonsolidasikan diri masing-masing bersama kawan-kawan dalam sebuah barisan yang rapat dan kuat. Satu tujuan bersama : membesarkan komunitas. Itu omitmen yang harus tetap teguh dipegang oleh setiap individu dalam komunitas.

Untuk mendapatkan tempat pertunjukan, misalnya, sebenarnya kita bisa menggunakan kekuatan massa . Perkiraan kawan-kawan di Ujungberung Rebels, massa mereka di Bandung saja sudah bisa mencapai sepuluh ribu jiwa. Jika dari satu orang saja dapat menyumbang lima puluh ribu, berarti setidaknya jika seluruhnya ikut menyumbang akan terkumpul dana 500.000.000. Lima ratus juta! Ini adalah sebuah potensi yang sangat besar jika dapat dikelola dengan baik oleh pihak komunitas sendiri. Belum pihak-pihak yang saya yakin akan sangat mendukung program ini dan sedapat mungkin membantu kita merelisasikannya. Kita beli tanah lapang, rawat sebagai lapangan di kota yang juga difungsikan sebagai taman kota, youth center, pusat riset dan dokumentasi, skatepark, dan tentu saja tempat pergelaran kesenian dengan baya sewa paling rendah.

Saya yakin 700% tempat ini akan aman dan dirawat bersama oleh komunitas. Rasa memiliki mereka akan lapangan ini akan besar dan karenanya tanggung jawab mereka untuk merawat dan menjaga juga akan sangat kuat. Dan jika ini berhasil, saya kira juga dapat dijadikan percontohan pendidikan kewarganegaraan yang baik bagi warga Bandung pada umumnya.

Maka kini terserah kepada kita. Akan lari dari tanggung jawab telah merintis dan mengembangkan komunitas ini? Atau tetap membangkang menghajar jalanan, membantai setan yang berdiri mengangkang?

Saya? Seluruh jiwa saya ada dalam tulisan ini!

 

 

Penulis adalah editor MinorBacaanKecil

I Don’t Need Any Movement to be Me!

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

I DON’T NEED ANY MOVEMENT TO BE ME!

 

Sejak lahir, saya dibekali sebuah takdir yang harus dibaca dalam kebudayan di mana saya tumbuh. Saya berproses bersamanya, belajar, dan mengenal diri saya sendiri melalui rangkulan tangannya. Saya terbentuk olehnya dan secara alami saya berikan apa yang bisa saya beri kepadanya melalui cara-cara saya sendiri. Saya sangat menikmati cara-cara saya membaktikan diri pada kebudayaan saya, sampai suatu saat, ketika segelintir orang memberikan nama, nilai tempat, dan melabeli cara-cara itu, saya mulai tak nyaman menjalaninya.

Movement, kata mereka. Gerakan. Dan mereka mulai memberikan nama : gerakan A, gerakan B, gerakan P, dll. Garis keras, sayap kanan, sayap kiri, anything. Bergelintir orang dalam kebudayaan saya merasa nyaman dengan identitas-identitas itu. Mereka lalu memantapkan diri dalam gerakan sesuai haluannya, mengorganisasikan diri, membuat sistem sendiri, merumuskan eksistensi. Hebat nian. I impressed, but no thanx, i’m not interested.

Bagi saya, kehidupan sosial yang mantap hanya dapat dicapai bila individu-individu di dalamnya memiliki kualitas yang mantap pula. Karena itu realisasi diri antar individu sangat penting diperhatikan dalam rangka membangun suatu kondisi sosial budaya yang unggul. Dan realisasi diri tidak dapat dicapai dalam suatu rangka yang kita kenal dengan nama gerakan, movement. Apalagi sampai gerakan itu dilembagakan, diorganisasi, disistemkan, dieksiskan.

Organisasi, dan juga sistem, adalah sumber sagala konformitas. Di dalamnya banyak kewajiban moral yang membatasi individu untuk berkehendak. Sistem diciptakan untuk untuk menciptakan ketentraman organisasi dan melindunginya dari kekacauan, bukan untuk mengembangkan individu-individu secara bebas. Para penjaga sistem lalu menjadi pihak yang paling berkuasa dan tak pernah salah. Sebaliknya, individu menjadi pihak yang lemah, sumber kesalahan, dan maksiat. Mengapa individu harus bersedia menerima moralitas seperti itu sementara individu harusnya diberi moralitas bebas agar dapat berkembang mantap dan maksimal?

Lagi pula, eksistensi bukanlah hasil sebuah sistem. Yang dihasilkan sistem bukanlah eksistensi saya, atau anda, tapi eksistensi sistem itu sendiri. Sementara sistem lalu eksis dan settle, saya (juga anda) akan terus berubah. Never settled. Maka saya yakin eksistensi saya sebenarnya ada di luar sistem. Lagipula eksistensi apa yang ada dalam budaya yang dilabeli selain eksistensi label itu sendiri? Dan bukankah secara sadar kita tahu kalau label adalah propaganda industri sehingga suatu saat ia siap beredar di pasar, ditawar, lalu ada di pasar sekenan? Ideologi seken… HaHa!

Saat suatu gerakan sudah ada di pasaran, mereka harus bersaing dengan gerakan lain sehingga ia harus senantiasa bersolek agar laris (persis pelacur!) atau sangar (seperti prajurit!) biar ditakuti. Titik berat utamanya tak lagi dirinya sendiri (dan orang-orang yang bernaung di dalamnya) tapi orang lain. Bentuknya lalu diperkerdil, dipersingkat, dipersimpel, dikompromi, dipergagah, dipoles biar memuaskan semua orang. Shit!

Cukup! Saya tak mau memperpanjangnya.

Jazz Break Thru the Ages#2

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

Jazz : Break thru’ the Ages II

 

Cool Jazz

Awal 1940-an, saksofonis tenor Lester Young, Count Basie, gitaris Charlie Christian & Benny Goodman melakukan ekspreimen yg hebat dlm musik jazz. Eksperimen tsb terutama dlm sound & style improvisasi yg lebih lembut Gaya permainan mrk dikenal sebagai Cool Jazz.

Pada 1948, saksofonis Stan Getz merekam solo Ralph Burn & Woody Herman band yg lembut & romantis berjudul Early Autumn. Rekaman ini berpengaruh besar thd musisi2 muda. Pd 1949 & 1950 pemain trompet Miles Davis, saksofonis Lee Konitz, saksofonis bariton Gerry Mulligan & aranger Gil Evans merekam beberapa komposisi lagu yg begitu kental cool jazz : sound instrumen yg lembut, beat yg lambat, serta menghadirkan orkestra yg terdiri dari french horn & tuba. Titi mangsa direkamnya komposisi2 tsb kemudian dikenal sebagai “The Birth of the Cool”.

 

Persebaran Jazz

Pd 1940-an dan 1950-an bentuk2 cantik bebop dan cool jazz mulai disukai secara luas oleh masyarakat terutama kaum intelektual & para mahasiswa. Konser2 jazz pun menjadi populer. Kelompok2 jazz mengadakan konser2 yg disebut Jazz at the Pilharmonic. Perkembangan ini dibantu oleh teknologi rekaman 331/3 rpm long-playing (LP) yg menyempurnakan teknologi rekaman 78 rpm (ada sejak 1930-an). Selama 1950-an musisi2 dr berbagai negara membuktikan diri sebagai jazz performer melalui rekaman2 dan konser2. Musisi2 jazz dr Swedia, Prancis, Jerman, Jepang, dll berbondong2 masuk ke AS. Yg lalu terkenal adalah gitaris Django Reinhardt dari Belgia & George Shearing, pianis tunanetra kelahiran Inggris yg berimigrasi thn 1947.

Pd 1954 festival jazz se-Amerika pertama kali diadakan di Newport, Rhode Island. Setelah itu secara berturutan festival serupa diselenggarakan di Monterey-California, New Yor City, Chicago, Nice-Prancis, Montreux-Switzerland, Warsaw-Polandia, Berlin-Jerman, & tempat2 lainnya di seluruh dunia.

 

New Directions

Sejak 1950-an jazz berkembang lebih eksperimental. Jazz mulai mengetengahkan permainan instrumen non-tradisional seperti french-horn & bass flute. Aransemen pun tdk melulu western. Nada2 Afrika, India & Timur Jauh mulai dieksplorasi.

Akhir 1950-an, John Lewis, pemimpin Modern Jazz Quarter, berkerja sama dgn komposer musik klasik Gunther Schuller menulis & memainkan musik klasik yg dikombinasikan dgn elemen jazz modern. Jenis musik tsb dinamai third stream music. Periode ini ditandai juga dgn disusunnya teori model2 jazz oleh George Russell & direkamnya komposisi band kombo Miles Davis bersama pianis Bill Evans serta saksofonis John Coltrane & Cannonball Adderley pd 1959.

Pd 1960, saksofonis Ornette Coleman membentuk ide baru ttg jazz dgn merilis album Free Jazz. Dlm hal komposisi, ia mengesampingkan harmoni, melodi, ritmik, juga mengeksplorasi improvisasi jazz tanpa kunci nada yg jelas. Gaya ini lalu dikenal sbg atonally. Musisi2 lainnya adalah pianis Cecil Taylor & basis Charles Mingus. Segera, gaya ini membentuk paradigma baru ttg jazz terutama di kalangan musisi muda.

Dipelopori John Coltrane, pd 1960-an musik tradisional India menjadi pengaruh yg besar bagi perkembangan jazz. Selain itu, musisi2 jazz jg mulai menggunakan ukuran kord yg tdk biasa spt 5/4, 7/4, dan 9/8.

 

Fusion

Pd 1970-an musisi jazz bereksperimen mencampurkan jazz dgn rock menjadi suatu bentuk baru yg dinamakan fusion. Bentuk ini adalah campuran melodik & improvisasi jazz dgn rhythm & instrumen musik rock. Musik elektronik lalu menjadi bagian penting dlm fusion. Para pianis jazz cenderung mengeksplorasi sound2 synthesizer. Para pemain horn dan string mulai memperguakan instrumen elektrik utk menghasilkan sound yg lebih variatif, distortif & intens. Banyak musisi jazz baru yg terkenal krn memainkan fusion. Beberapa di antaranya adalah gitaris George Benson, pemain trompet Donald Byrd & Miles Davis, pianis Herbie Hancock, serta 2 band kombo Weather Report & The Mahavishnu Orchestra.

Di saat bersamaan, beberapa musisi veteran jazz kembali populer dgn memimpin band2 mrk sendiri yg memainkan swing, bebop & cool jazz. Mrk adalah Stan Getz, Dizzy Gillespie, Woody Herman, Gerry Mulligan & Oscar Peterson.

 

Perkembangan Selanjutnya

Selama 1980-an musisi2 muda muncul memainkan mainstream jazz. Bentuk ini mencakup elemen swing, bebop & cool jazz. Dua di antaranya adalah pemain trompet Wynton Marsalis & saudaranya Brandford Marsalis yg terkenal brilyan memainkan jazz dan musik klasik. Beberapa musisi muda tetap memainkan fusion dan memunculkan nama2 spt pemain trompet Randy Brecker & saksofonis Michael Brecker serta saksofonis tenor Jane Ira Bloom yg juga terkenal dgn permainan syn-nya.

Memasuki 1990-an, jazz lebih didominasi ‘nilai2 lama’ yg dimodif gaya baru. Mereka memilih memainkan instrumen akustik drpd elektrik, menggunakan struktur patern formal drpd permainan yg total freedom, serta cenderung kembali ke akar jazz drpd mengejar jazz modern. Musik yg pernah dimainkan para musisi tua kembali diminati secara luas. Musisi2 veteran spt pemain trombone J.J. Johnson serta saksofonis Joe Henderson & Sony Rollins memiliki audiens baru di kalangan kaum muda. Selain itu, musisi muda yg pernah menonjol pd era 1980-an seperti pemain trompet Roy Hargrove & Wynton Marsalis, gitaris Pat Metheney, pemain trombon Steve Turre & Ray Anderson, serta pianis Chick Korea kembali terkenal di akhir 1990-an.

Bbrp musisi muda populer memainkan “straight-ahead jazz” yg merefleksikan gaya mainstream. Mrk adalah saksofonis Joshua Redman & Donald Harrison, basis Christian McBride, pemain trompet Terence Blanchard, serta pianis Marcus Robert. Pd saat bersamaan, free jazz style yg berkembang era 1960-an kembali muncul digawangi oleh saksofonis Steve Lacy & Roscoe Mitchell serta pianis John Zorn.

Kini, jazz dimainkan dgn bermacam2 gaya. Bbrp musisi tetap memainkan jazz klasik spt swing dan bebop. Yg lain mencari terobosan baru dgn bereksperimen. The Art Ensamble of Chicago, misalkan, mencampur free jazz, musik tradisional Afrika, instrumen2 eksotis, dan teknik2 musik teatrikal. Grup musik Prime Time, band-nya musisi jazz handal Ornette Coleman, memainkan jazz yg sama sekali bergaya baru.

Di sisi lain perkebangan teknologi juga memegang kunci perkembangan jazz. Komposer jazz muda Michael Daugherty membuktikan bahwa musik jazz juga dapat berinteraksi aktif dgn sound2 komputer. Beberapa musisi jazz bahkan mengawinkan jazz dgn rap yg kental nuansa instrumen elektronik modern.//kims

Jazz Break Thru the Ages#1

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

Jazz : Break on thru’ the Ages

 

Jazz pertama muncul di selatan Amerika Serikat pd 1800-an. Awalnya, musik ini dipengaruhi lagu2 & tarian2 rakyat kulit hitam AS. Sejak1890-an, jazz dipengaruhi ragtime—jenis musik St. Louis yg mengutamakan piano sbg penjaga komposisi—dan blues. Aroma muram & harmonisasi sederhana yg berulang2 dlm blues membentuk karakter jazz. Menyediakan ruang bagi para instrumentalis utk berimprovisasi.

Jazz lalu berkembang di New Orleans awal 1900-an. Gaya New Orleans merupakan perpaduan musik gospel dgn musik jalanan. Skrg dikenal sbg jazz kalsik, jazz tradisional, atau Dixieland jazz. New Orleans melahirkan musisi2 jazz hebat. Di antaranya adalah Fate Marable & band yg bermain di atas perahu menyusuri sungai Mississippi, King Oliver yg menyebarkan jazz di Chicago, Jelly Roll Morton yg tur ke hampir seluruh Amerika, serta Dixieland Jass Band, 5 musisi kulit putih New Orleans tur keliling Chicago & New York City lalu merekam fonograf jazz pertama pd 1917. Rekaman fonograf jazz kedua dilakukan Mamie Smith pd 1920 dgn judul Crazy Blues.

Dapat dikatakan tahun 1920-an adalah era keemasan jazz. Stasion2 radio memutar jazz. New Orleans, Memphis, St. Louis, Kansas, Chicago, Detroit & New York merupakan kiblat2 musik jazz. Pd era ini, musisi2 muda dr Midwest & Chicago’s Austin High Shool mencipta gaya baru, chicago style. Mrk adalah Jimmy McPartland & Muggsy Spanier (terompet); Bix Beiderbecke (cornetist); Frank Teschemacher, Pee Wee Russell, Mezz Mezzrow & Benny Goodman (klarinet); Frankie Trumbauer & Bud Freeman (saksofon), Dave Tough (drum), George Wettling & Gene Krupa; serta Eddie Condon (gitar).

Di New York, James P. Johnson mempopulerkan gaya jazz berakar dr ragtime stride piano. Dlm gaya ini, tangan kiri pianis memainkan nada satu-satu dgn chord turun naik. Sementara itu, tangan kanan memainkan solo melodi, diiringi rhythm & chord2 yg menarik. Gaya Johnson mempengaruhi pianis jazz lain spt Count Bessie, Duke Ellington, Art Tatum, Fats Waller & Teddy Wilson.

Pd 1923 muncul Various Henderson, big-band jazz terdiri dr brass section, reed & rhythm. Dipimpin oleh Fletcher Handerrson & Don Rodman yg dikenal sbg aranger pionir teknik jazz utk big band, band ini mengorbitkan saksofonis Benny Carter, Coleman Hawkins & Louis Armstrong. Armstrong yg terkenal dgn scat singing—bernyanyi tanpa kata2—merekam hits2nya pd 1925 – 1928 bersama bandnya, Hot Five and Hot Seven.

Antara 1920-an hingga 1930-an, jazz berkembang menjadi musik yg simpel. Masa ini melahirkan musisi2 terkenal spt saksofonis Benny Carter, Coleman Hawins & Johnny Hodges; kelompok violin Joe Venuti & gitaris Eddie Lang; serta panis Art Tatum yg dikenal sbg the most inspired and technically gifted improviser in jazz history.

 

Swing

Pd 1932, Duke Ellington merekam It don’t mean a Thing if It Ain’t Got that Swing. Lagu tsb menjadi sangat populer karena menawarkan gaya baru dlm bermain jazz. Gaya 4 beat dlm 1 bar ini lalu dinamakan Swing Style. Swing berkembang 1930-an hingga 1940-an, didominasi oleh big-band. Sebut saja para raksasa swing dlm big band spt Count Basie, Duke Ellington & The King of Swing Benny Goodman.

Pd 1934, Goodman menyebarkan swing ke seluruh Amerika melalui distribusi rekaman, pertunjukan ballroom, dan jaringan radio. Goodman jg dikenal sbg kulit putih pertama pemimpin sebuah band yg terdiri dari negro & bule. Pd 1936 Goodman memperkenalkan 2 solois hitam—pianis Teddy Wilson & vibrafonis Lionel Hampton. 2 thn kemudian, Goodman & band-nya menyajikan pertunjukan jazz di Carnegie Hall. Ini merupakan kali pertama musisi jazz bermain di panggung besar setingkat hall.

Para pelopor swing lainnya adalah Benny Carter, Bob Crosby, Jimmy Dorsey, Tommy Dorsey, Woody Herman, Earl Hines, Andy Kirk, Jimmie Lunceford, Glenn Miller, Artie Shaw, Chick Webb & Stan Kenton. Band2 di Kansas City, Mo., terutama band-nya Count Basie memiliki gaya berbeda. Mrk memainkan blues 12 bar dgn melodi sederhana yg diulang2. Aransemennya tak terlalu berat, drive ritmik lebih santai dgn menonjolkan improvisasi solo. Para vokalis menjadi sangat menonjol pd era swing. Penyanyi2 seperti Mildred Bailey, Ella Fitzgerald, Billie Holiday, Nat “King” Cole, Carmen McRae & Sarah Vaughan meroketkan lagu2 populer. Jazz blues dapat terdengar dlm nyanyian Jimmy Rushing, Jack Teagarden, Joe Turner & Dinah Washington. 2 musisi menonjol pd era ini adalah pianis Nat King Cole & trombonis Jack Teagarden.

Bentuk lain yg populer selama 1930-an adalah Boogie Woogie. Musik ini menampilkan patern2 blues tradisional dgn permainan piano 8 ketukan dlm 1 bar. Musik ini diusung oleh Albert Ammons, Pete Johnson, Meade Lux Lewis, dan Pinetop Smith.

 

Bebop dan Hard Bop (funky)

Awal 1940-an,  sekelompok musisi muda bereksperimen dgn patern2 kord melodi kombo yg lebih rumit. Mereka adalah Dizzie Gillespie (trompet), Charlie Parker (alto-akso), Buddy Powell & Thelonious Monk (piano), serta Kenny Clark & Max Roach (drum). Gaya permainan mereka kemudian disebut bebop atau bop.

Walau para musisi bebop memiliki teknik tersendiri, tapi umumnya bebop dimainkan long-play dgn not2 yg complicated, interval2 rumit, jeda lagu yg janggal, & alunan melodi yg tdk umum. Hanya musisi2 lihai yg dpt memainkan bebop dgn baik. Pendengarnya pun biasanya dari kalangan berkelas secara intelektual.

Dlm bebop, para musisi memainkan melodi2 tak terduga yg disusul solo improvisasi yg lama. Sang basis bermain dgn gaya permainan bass yg cepat berpindah2. Sang drumer mengeksplorasi beat pukulan2 stik & bruishes pada simbal, snare & tom-tom dgn ketukan tak terduga yg disebut bombs. Sang pianis menjelajahi kord2 dlm interval yg tdk biasa, jauh berbeda dgn harmonisasi yg telah mapan sebelumnya.

1950-an bebop berkembang jadi hard bop atau funky. Funky dipengaruhi gospel & blues, dgn mengutamakan kebebasan eksplorasi aransemen ritmik. Para pelopor hard bop adalah drumer Art Blakey & pianis Horace Silver. Blakey memimpin band kombo Jazz Messengers yg eksis sejak 1950-an hingga 1990 ketika ia meninggal. Band ini melahirkan musisi2 jazz hebat spt pemain trompet Clifford Brown & drumer Max Roach.//kims

Panceg Dina Galur : Ujungberung Rebels

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

PANCEG DINA JALUR :  UJUNGBERUNG REBELS

 

Oleh Kimung

 

Ujungberung adalah sebuah kota kecamatan di bandung bagian paling timur. Daerah ini berada pada ketinggian 668 m di atas permukaan laut, berbatasan dengan Kecamatan Cibiru di timur, Kecamatan Arcamanik di barat, Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung di utara, dan Kecamatan Arcamanik di Selatan. Kecamatan Ujungberung mempunyai luas wilayah 1.035,411 Ha, dengan jumlah penduduk 67.144 jiwa. Sejak dulu, Ujungberung terkenal sangat kental dengan seni tradisionalnya, terutama seni bela diri benjang, pencak silat, angklung, bengberokan, dan kacapi suling.

Kultur kesenian rupanya tak lekang dari generasi muda Ujungberung walau Ujungberung kemudian dibom oleh kultur industri. Daya eksplorasi kesenian yang tinggi membuat tipikal seniman-seniman muda Ujungberung terbuka terhadap segala pengaruh kesenian. Salah satu yang kemudian berkembang pesat di Ujungberung selain seni tradisional adalah musik rock/metal.

 

Ujungberung 1990

Masih tak jelas kapan rock/metal masuk ke Ujungberung. Agaknya, sejak booming Guns n Roses, Metallica, dan Bon Jovi di Indonesia, Ujungberung tak ketinggalan tren ini. Walau dalam kondisi yang sangat terbatas beberapa gelintir kaum muda Ujungberung membentuk band dan memainkan lagu-lagu band rock favorit mereka. Di kalangan komunitas Ujungberung Rebels sekarang, Kang Koeple (kakak Yayat-produser Burgerkill) dan Kang Bey (kakak Dani-Jasad) bisa disebutkan sebagai generasi awal pemain band rock di Ujungberung. Pertengahan tahun 1980an hingga awal 1990an, mereka memainkan lagu-lagu rock semacam Deep Purple, Led Zeppelin, Queen, dan Iron Maiden selain juga menciptakan lagu sendiri.

Era ini kultur panggung yang berkembang Ujungberung, dan juga di Bandung, adalah kultur festival. Band tandang-tanding di sebuah festival musik dan band yang menang akan masuk dapur rekaman. Kita mungkin masih ingat Rudal Rock Band, salah satu band rock yang lahir dan sukses dari kultur ini. Saat itu saya masih kelas lima SD ketika tercengang-cengang melihat penampilan pemain bass-nya yang membetot dawai bass penuh energi. Mirip Cliff Burton. Sejak itu saya bercita-cita menjadi seorang pemain bass dan memainkan musik metal sekencang-kencangnya!

Agaknya ketercengangan yang sama menginspirasi generasi adik-adik Kang Koeple dan Kang Bey untuk mendirikan band. Tahun 1990 di Ujungberung, Yayat mendirikan Orthodox bersama Dani, Agus, dan Andris. Orthodox memainkan Sepultura album Morbid Vision dan Schizophrenia. Sementara itu di Ujungberung sebelah barat, Sukaasih, berdiri Funeral dan Necromancy. Funeral digawangi AamVenom, Uwo, Iput. Mereka memainkan lagu-lagu Sepultura, Napalm Death, Terrorizer. Sementara itu, Necromancy memainkan lagu-lagunya Carcass dan Megadeth. Band ini dua kali merombak personilnya berdasarkan musik yang mereka mainkan. Era crossover Necromancy terdiri dari Dinan (Vox), Oje (gtr), Aria (bass), Punky (dr). Era metal terdiri dari Dinan (vox), Oje (gtr), Andre (gtr), Boy (bass), Punky (Dr). Andre kini kital kenal sebagai gitaris Full of Hate.

Di Ujungberung sebelah timur, tepatnya di daerah Cilengkrang I, Tirtawening, berdiri Jasad yang digawangi Yulli, Tito, Hendrik, Ayi. Mereka membawakan lagu-lagu Metallica dan Sepultura. Pertama kali saya melihat Jasad ketika saya kelas 2 SMP ketika mereka manggung di sebuah festival rock di Alun-alun Ujungberung. Masih terkenang bagaimana Alun-alun dipenuhi pemuda gondrong berstelan hitam-hitam. Ingar bingar menghajar atmosfer sore itu. Jasad memainkan lagu Metallica saat itu dan untuk kedua kalinya saya tercengang melihat penampilan band rock. Sementara itu, di Cilengkrang II kawasan Manglayang, berdiri band Monster yang membawakan heavy metal ciptaan sendiri dengan motor gitaris Ikin, didukung Yadi, Abo, Yordan, Kenco, dan Kimung.

Yang unik, perkenalan para pionir ini berawal dari tren anak muda saat itu : main brik-brikan. Dinan (Necromancy) pertama kali kenal dengan Uwo-Agus (Funeral) dari jamming brik-brikan. Pun di kawasan Manglayang. Para personil Monster adalah para pecandu brik-brikan. Mereka berbincang mengenai musik, saling tukar informasi, dan akhirnya bertemu, membuat band, dan membangun komunitas. Selain brik-brikan, faktor kawan sesekolah juga menjadi stimulan terbentuknya sebuah band. SMP 1 Ujungberung—kini SMP 8 Bandung—menyumbangkan Toxic—Addy-Ferly-Cecep-Kudung—yang merupakan cikal bakal dari Forgotten. Band anak-anak SMP ini berdiri sekitar tahun 1991 atau 1992. Addy kita kenal sebagai vokalis Forgotten. Sementara Ferly adalah gitaris Jasad sekarang. Belum lagi band-band di SMA 1 Uungberung—kini SMA 24 Bandung—yang tak tercatatkan saking banyaknya.

Yang sangat mengagumkan di era ini adalah mereka telah memiliki radio komunitas yang dibuat dan diurus sendiri. Radionya bernama Salam Rama Dwihasta, di kawasan Sukaasih, berdiri tahun 1992 ketika metal semain menggila di Ujungberung. Radio ini radio biasa, tapi memilki program khusus lagu-lagu metal/death metal/grindcore. Nama programnya “Bedebah” dan mengudara setiap sore. Ketika permetalan didominasi heavy metal, “Bedebah”-nya Salam Rama Dwihasta sudah menggeber gelombang dengan Napalm Death, Carcass, Terrorrizer, Morbid Angel. Dua penyiarnya adalah Agung dan Dinan. Kabarnya, Dinan masih berseragam putih abu saat itu. Di balik usia belia mereka, saya merasakan semangat luar biasa dari para pionir ini dalam upaya menyebarkan musik metal di Ujungberung dan Bandung. Salut lur! Generasi ini juga tumbuh dalam kultur festival. Mungkin selain festival, panggung kecil agustusan dan event-event sekolah semacam kelulusan atau samen adalah ajang mereka berunjuk gigi.

 

Generasi Pendobrak : Homeless Crew dan Ujungberung Rebels

Kultur festival yang dirasa kurang bersahabat membuat gerah segelintir musisi muda. Dalam festival mereka harus memenuhui banyak syarat. Harus memainkan lagu band anu-lah, harus jadi gini lah, jadi gitu lah, pendeknya festival menuntut band untuk menampilkan wajah sama, bermanis muka agar menang di depan sponsor atau produser. Hal itu memangkas semangat ekspresi rock/metal juga semangat terdalam dan manusiawi dalam diri seorang seniman untuk berkarya. Dengan kesadaran baru itu gelintiran musisi muda Ujungberung maju dan merangsek jalanan.

Akhir tahun 1993, muncul kekuatan baru dari Ujungberung. Masa ini berdiri Studio Palapa, sebuah studio latihan musik milik Kang Memet yang dikelola Yayat dan Dani (Orthodox). Studio ini kemudian menjadi kawah candradimuka band-band Ujungberung hingga melahirkan band-band besar, kru-kru yang solid, dan musisi-musisi jempolan. Studio Palapa juga yang kemudian melahirkan rilisan-rilisan kaset pertama di Indonesia. Mereka merekam lagu-lagu dengan biaya sendiri, mendistribusikan sendiri, melakukan semua dengan spirit Do It Yourself. Dari sepuluh band independen di Indonesia yang tercatat Majalah Hai tahun 1995, tiga di antaranya berasal dari Ujungberung. Mereka adalah Sonic Torment, Jasad, dan Sacrilegious. Label dan perusahaan rekamanyang mereka kibarkan adalah Palapa Records.

Tahun 1995, di Ujungberung berdiri sebuah perkumpulan anak-anak metal bawahtanah yang menamakan diri sebagai Extreme Noise Grinding (ENG). Organisasi inilah cikal bakal segala dinamika Ujungberung Rebels, hingga hari ini. ENG digagas para pionir seperti Yayat dan Dinan sebagai wadah kreativitas anak-anak Ujungberung. Propaganda awal mereka adalah membuat sebuah media sharing antar dan inter komunitas musik metal bawahtanah berbentuk zine dengan nama Revograms. Zine ini disebut-sebut sebagai zine pertama di komunitas musik bawahtanah dan juga komunitas independen Indonesia. Revogram digagas Dinan dan dilaksanakan Tim Redaksi Revogram beranggotakan Ivan, Kimung, Yayat, Dandan, Sule, Gatot. Propaganda selanjutnya adalah membuat acara musik Bandung Berisik Demo Tour yang lalu dikenal sebagai Bandung Berisik I. Di acara ini lima belas band Ujungberung unjuk gigi, ditambah bintang tamu Insanity dari Jakarta. Hingga kini, Bandung Berisik tetap diusung masyaraat metal Ujungberung selain tiga pergelaran khas Ujungberung lainnya, Death Fest, Rottrevore Death Fest, dan Rebel Fest.

Setelah Bandung Berisik, propaganda dilanjutkan dengan merencanakan sebuah kompilasi band-band Ujungberung sebagai manifestasi atas eksistensi komunitas. Kompilasi tersebut memuat 16 band metal Ujungberung dan bertajuk Ujungberung Rebels. Kompilasi ini dirilis Musica dengan judul Independen Rebels dengan nilai transaksi 14 juta tahun 1998. Namun demikian, nama Ujungberung Rebels tak lantas pudar. Nama ini kemudian menjadi identitas komunitas musik metal bawahtanah Ujungberung, berdampingan dengan nama Homeless Crew yang merujuk pada gaya hidup musisi Ujungberung yang hidup di jalanan dan bohemian.

Keuntungan kompilasi Independen Rebels kemudian dijadikan modal mendirikan sebuah distro yang menampung hasil kreativitas anak-anak Ujungberung dan Indonesia pada umumnya, oleh Yayat selaku produser. Distro yang lalu berdiri bernama Rebellion, bertempat di jl. Rumah Sakit. Kabarnya, Rebellion adalah distro kedua di Indonesia setelah Reverse Outfit. Belakangan,Rebellion pindah, bersinergi dengan Pisces Studio. Pisces adalah studio milik Dandan ketika Kang Memet akhirnya memutuskan menjual alat-alat band Studio Palapa, Februari 1997.

Sementara dinamika rilisan kaset menggila, begitu juga dengan zine dan media. Zine kedua setelah Revogram adalah Ujungberung Update. Mereka yang berada di balik Ujungberung Update adalah Addy Gembel, Amenk, dan Sule. Merekalah yang kemudian membuat istilah tren saat itu : Gogon, singkatan dari Gosip-gosip Underground. Setelah Ujungberung Update, kemudian lahir Crypt from the Abyss yang diasuh oleh Opick Dead, gitaris Sacrilegious saat itu, Loud n’ Freaks yang diasuh oleh Toto, penabuh drum Burgerkill, dan The Evening Sun yang diasuh Dandan sang drummer Jasad. Belakangan, tahun 2000an, Toto bersinergi dengan Eben membuat zine NuNoise, salah satu zine progresif yang mengkover pergerakan musik termutakhir. Zine lainnya yang fenomenal dan terus bergerak hingga kini adalah Rottrevore yang diasuh oleh Rio serta Ferly, gitaris Jasad, merupakan media propaganda musik metal. Belakangan, Rottrevore berkembang menjadi perusahaan rekaman khusus musik metal. Rottrevore dimiliki grinder Jakarta, Rio, tapi dikelola oleh anak-anak Ujungberung Rebels.

 

Achievements & Events

Baby Riots adalah sebutan anak-anak Ujungberung Rebels bagi pasukan tempur bentukan Butchex, pentolan band The Cruels dan Mesin Tempur. Awalnya, karena perkembangan Ujungberung Rebels yang semakin pesat secara kualitas maupun kuantitas maka mulai terasa konflik dan gesekan dengan masyarakat sekitar. Ujungberung yang berkultur indsutri dan merupakan daerah peralihan yang gantel—kampung bukan, kotapun bukan—melahirkan banyak juga komunitas lain yang serba tanggung dan kemudian lazim kita namakan preman. Mereka kurang senang melihat anak-anak Ujungberung dengan segala totalitasnya, wara-wiri di jalanan mulai dari Pasar Ujungberung hingga jl. Rumah Sakit. Bentrokan dengan preman-preman pun mulai terjadi. Awalnya hanya hangat-hangat tahi ayam, namun ketika semakin kompleks dan merambah ke kekerasan dan perkelahian, maka Ujungberung Rebels merasa harus membuat pasukan sendiri yang di dalamnya terdiri dati mesin-mesin tempur berdaya ledak tinggi. Maka terbentuklah Baby Riots. Baby Riots tak lantas hanya berperan sebatas mesin tempur. Mereka juga ngeband dan banyak menghasilkan karya-karya. Band-band punk Ujungberung asuhan The Cruels adalah beberapa di antaranya selain juga metalhead-metalhead muda yang gejolaknya selalu membara. Musikalitas dan attitude mereka juga tak diragukan lagi.

Musikalitas pula, serta berbagai pencapaian mereka, yang semakin mengokohkan eksistensi anak-anak Ujungberung Rebels. Berbagai rekaman dirilis di komunitas ini dan mewarnai dinamika pergerakan msik metal bawahtanah di Indonesia. Beberapa band sempat dirilis di luar negeri seperti Jasad yang dirilis di Amerika dan Forgotten di Jerman dan Eropa Timur. Pencapaian fenomenal lainnya jelas diraih Burgerkill yang kemudian menjebol label besar, Sony Music Indonesia untuk kontrak enam album, sekaligus mendapatkan penghargaan prestisius di bidang musik dalam ajang Anugerah Musik Indonesia 2004 dengan menyabet kategori Best Metal Production untuk albumnya Berkarat. Belakangan, Burgerkill meninggalkan label besar mereka setelah merasa tak bisa lagi jalan bersama. Ini pula yang menjadi titik lahirnya label Revolt! Records yang menaungi album ketiga Burgerkill, Beyond Coma and Despair. Album ini sangat sukses dan fenomenal dalam pencapaian Burgerkill, dan jelas komunitas Ujungberung Rebels. Berbagai kritik positif dan penghargaan datang menyambut album ini. Terakhir, Beyond… dinobatkan majalah Rolling Stone sebagai salah satu dari 150 album sepanjang masa di Indonesia. Dan Burgerkill memang layak mendapatkan itu, setelah sebelumnya mereka membayar dengan harga yang sangat tak terhingga mahal : meninggalnya sang vokalis, Scumbag Begundal Hardcore Ugal-ugalan.

Kuatnya para musisi Ujungberung dalam memegang prinsip membuat komunitas ini tetap hidup dan dinamis hingga sekarang. Idealisme itu kemudian mereka manifestasikan dalam pergelaran-pergelaran musik yang mereka garap sendiri dan pada akhirnya membuaka ruang juga untuk musisi-musisi di luar Ujungberung untuk ikut berpartisipasi dalam dinamika Ujungberung Rebels. Tiga pergelaran musik yang khas Ujungberung Rebels selain event legendaries Bandung Berisik, adalah Rebel Fest, Rottrevore Death Fest dan Death Fest. Yang menarik, dari pergelaran ini adalah fakta bahwa pergelaran menjadi salah satu ajang regenerasi komunitas Ujungberung Rebels. Selain itu, anak-anak Ujungberung menajdikan pergelaran mereka sebagai ajang mempertunjukan kesenian tradisional sebagai pembuka atau penutup acara. Salah satunya adalah kesenian debus yang ditanggap anak-anak Ujungberung di ajang Death Fest II tahun 2007. Yang paling mengagumkan dari pergelaran yang digelar anak-anak Ujungberung adalah prestasi mereka mengumpulkan 25.000 penonton dalam acara Bandung Berisik IV di Stadion Persib, Bandung tahun 2004. Pencapaian ini diklaim memecahkan rekor pergelaran musik bawahtanah terbesar se-Asia oleh majalah Time Asia.

 

Ekonomi Kreatif Ujungberung Rebels

Dinamika pergerakan Ujungberung Rebels semakin menggurita saja dari hari ke hari. Kini setidaknya ada tiga lahan garapan ekonomi kreatif yang berkembang di komunitas Ujungberung Rebels, yaitu fesyen, rekaman, dan literasi. Yang paling subur adalah indsutri fesyen. Setidaknya ada enam industri fesyen yang digagas para pentolan Ujungberung Rebels, mulai dari Media Graphic dan distro Chronic Rock yang dijalankan Eben, Distribute yang dijalankan Pey, Reek yang dijalankan Ferly dan Man, Melted yang dijalankan Amenk dan Andris, CV Mus yang dijalankan Mbie, serta Scumbag Premium Throath yang ini diteruskan Erick sepeninggal Ivan.

Di bidang industri rekaman, Ujungberung memiliki dua perusahaan rekaman yang sangat dinamis, Rottrevore Records yang dijalankan Rio dan Ferly serta Revolt! Records yang dijalankan Eben. Rottrevore bahkan memiliki media literasi berupa majalah metal kencang bernama Rottrevore Magazine. Pentolan Ujungberung lainnya yang aktif di dunia literasi adalah Iit dengan toko buku Omuniuum-nya serta Kimung dengan zine MinorBacaanKecil dan penerbitan Minor Books yang menerbitkan biografi Ivan, Myself : Scumbag Beyond Life and Death, sebuah buku fenomenal, bagian dari trilogi sejarah Ujungberung Rebels dan Bandung Underground.

Tentu selain tiga lahan garapan tersebut masih banyak yang lainnya seperti bisnis warnet yang dikelola Kudung atau toko musik atau sentra kuliner. Semua lahan garapan pentolan-pentolan anak-anak Ujungberung Rebels tersebut jelas membuka lebar perbaikan perekonomian minimal di kalangan internal Ujungberung Rebels sendiri, maksimal ya…mungkin membayarkan hutang Indonesia raya yang bejibun itu.

Segala pencapaian itu tak datang dengan sendirinya. Segala datang bersama daya konsistensi yang sangat tinggi dan idealisme yang teguh digenggam satu tangan, sementara tangan yang lain menghajar jalanan dengan senjata kreativitas. Tapi kunci dari segalanya adalah keteguhan prinsip. Panceg dina jalur, tidak gamang menghadapi perubahan. Membaca segala perubahan sebagai kulit saja bukan sebuah inti, sehingga ketika harus menyesuaikan diri dengan perubahan tak lantas kehilangan diri tenggelam dalam euforia di permukaan.

Segala pencapaian itu juga harus dikelola dengan sinergi yang positif di antara lahan-lahan garapan kreativitas sehingga akan terus berkembang dan pada gilirannya menyumbangkan hal positif bagi masyarakat kebanyakan. Sebuah sentra bisnis dan pusat pengembangan budaya di Ujungberung pasti akan menjadi wadah yang menampung segala aspirasi dan hasil kreativitas mereka menuju totalitas yang paling maksimal. Mininal gedung konser yang di dalamnya terdapat juga youth center, dan pusat dokumentasi dan pengembangan riset sosial budaya yang memadai. Berangan-angan? Tidak juga! Panceg dina jalur!

 

 

Penulis adalah editor MinorBacaanKecil

Who Said There will be Quiet after the Storms?

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

Who Said There will be Quiet after the Storms?

Based on Myself : Scumbag Beyond Life and Death

Oleh Kimung*

Everything turns so disgust

when I stayed at home

No more shelter or anything called salvation

Away from home prove I’m a real scumbag

So I begin to hate all of my family

Cross the line – Revolt!

It’s time to – Revolt!

“Revolt!”, Burgerkill, 1995

 

Sindanglaya, siang-siang terpanas musim kemarau 1995. Kamar Eben berantakan berat. Sick of It All album Just Look Around menghajar gendang telinga ikut memeriahkan siang bolong yang panas itu. Ivan terlihat tekun menuliskan lirik. Sementara Kimung berkutat di sampingnya dengan gitar kopong kepunyaan Eben. Marlboro tak lepas-lepas dari bibir keduanya, sementara botol arak cap Orang Tua berdiri hijau anggun. Isinya tinggal setengah. “Jadi euy!” begitu teriak Ivan dengan wajah sumringah ketika akhirnya ia berhasil menyelesaikan lagunya. “Revolt!”, begitulah Ivan menjuduli itu. Lirik pertama yang ia buat untuk Burgerkill. Dan benar saja. Sepanjang tahun 1995 hingga 1999, “Revolt!” adalah sebuah ledakan. Lagu ini adalah lagu wajib Burgerkill di setiap panggung era itu. Ribuan penonton singalong berteriak seiring beat-beat ganas Burgerkill. Yang berteriak tak cuma anak hardcore, tapi juga anak-anak grunge, death metal, grindcore, hingga punk rock. Mereka meruyak ke bibir panggung ketika Ivan berteriak, “Cross the line… “, kemudian mereka bersama-sama teriak “Revolt!!!” Ivan sangat menikmati saat-saat itu. Bagi Ivan, “Revolt!” adalah proklamasi awal sosok dirinya sebagai seorang “scumbag” kepada khalayak hardcore Bandung, dan juga Indonesia. Away from home prove I’m a real scumbag! teriaknya. Namun, hingga saat itu, ia belum utuh menjelmakan sosoknya sebagai “Scumbag”.

Pada corat-coret artistik di buku hariannya tahun 1995 hingga 1999, ia masih menggoreskan paraf “ Ivan BKHC” di bawah karyanya. Ivan benar-benar memproklamirkan diri sebagai ”Scumbag” ketika ia bereaksi atas munculnya ’faksi-faksi’ dalam pergerakan hardcore bawahtanah di Bandung. Ketika faksi-faksi seperti positif youth, straight edge, vegan, negative youth, dan lain-lain semakin merajalela, Ivan menjadi bingung atas orientasi hardcore yang ada di Indonesia. Baginya, hardcore sederhana saja. Sesuatu yang keras, kondisi yang sulit, dan perjuangan yang tanpa henti. Musik yang harus dimainkan sebaik mungkin, sebuah karya seumur hidup. Karya yang baik dan inspiratif akan menggugah orang dan jika seseorang sudah tergugah maka munculah pergerakan. Maka, bagi Ivan berkarya sebagus mungkin dalam musik hardcore, itulah pergerakan yang sebenarnya. Pergerakan-pergerakan yang muncul bersama musik hardcore bagi Ivan bukan sesuatu yang esensial. Itu cuma kulit saja. Permukaan. Bukan inti. Bukan core.

Tapi Ivan bukan tipe reaktif yang eksplosif. Ia bereaksi dengan jahil dan tengil. Ketika orang berlomba-lomba membangun citra hardcore yang macho dan positif, Ivan menggebrak panggung dengan nama gaya ”Ivan Scumbag” dengan bandnya yang bengal ”Burgerkill Begundal Hardcore Ugal-ugalan!”. ”Da aing mah sagala dihakan, rék ngimum, ciméng, dados, hayu! Jiga wadah runtah wéh héhéhé!” Secara harfiah, scumbag memang berarti ’tempat sampah’. Ini adalah sebuah langkah yang sangat tidak populer, jika kita melihat kondisi scene hardcore saat itu. Namun, memang tak selalu keputusan populer yang biasa diambil Ivan selama hidupnya. Homeless Crew’s Revolt!

Ivan, lahir di Sarijadi, Bandung, 19 April 1978, adalah sulung dari lima bersaudara, laki-laki semua. Ayah dan ibunya adalah guru. Semenjak kecil ia sudah tertarik ke pelajaran menggambar, musik, dan matematika. Ivan adalah murid yang pandai. Ia juga riang dan gampang bergaul. Walau irit bicara, ia sangat disenangi kawan-kawannya. Ivan memiliki senyum yang sangat menawan. Kelas lima sekolah dasar ia pindah ke Ujungberung dan tinggal bersama neneknya. Di sini Ivan mendapat pengajaran agama yang ketat. Ia ikut sebuah pengajian remaja Ikatan Remaja Nurul Islam. Anggota-anggotanya tidak asing bagi kita sekarang. Ada Dani—Jasad, Andris—Burgerkill, Disinfected dan Mesin Tempur, Sule—Restless, Yayan—eks-Sacrilegious, Opik, dan Engkus. Salah satu guru mengaji mereka adalah Yayat—eks-Jasad, produser Burgerkill.

Setahun kemudian Ivan kembali ke Sarijadi. Ia tinggal di rumah uwak-nya, beberapa blok dari rumah orang tuanya. Masa inilah ia pertama kali mengenal musik metal. Ia bertemu drummernya yang pertama, Bebi—Beside, yang juga kawan sekelasnya. Dengan Bebi dan anak-anak SMP 12 Bandung, Ivan sempat membentuk band Cannibalism, membawakan Sepultura dan Lawnmower Deth. Ia juga menggalang pecinta grindcore di SMP 12 Bandung dan SMP 2 Bandung dalam sebuah aliansi, Corpse Grinder Foundation Bandung atau CGFB. Masa ini Ivan bersentuhan pertama kali dengan rokok, alkohol, dan kemudian pil-pil jalanan. Ivan kembali ke Ujungberung tahun 1993, ketika ia masuk SMA Ujungberung. Ia kembali bertemu kawan-kawan pengajiannya dulu, namun kini dalam atmosfer yang berbeda. Death metal sedang menggila di Ujungberung dan kawan-kawan pengajiannya dulu tak ketinggalan menggilai musik ini. Yayat, Dani, Ayi, dan Agus bahkan membentuk band, Orthodox, yang lumayan disegani. Selain Orthodox, Ujungberung awal tahun 1990an juga terkenal dengan ikon-ikon musik metal lainnya seperti Funeral, Necromancy, dan Jasad. Ujungberung juga terkenal dengan spot nongkrong, sekaligus tempat latihan legendaris, Studio Palapa milik Kang Memet, engineer terbaik masa itu. Merasakan gairah death metal yang membara, Ivan mengajak kawan-kawannya untuk membentuk band. Analvomit adalah bandnya yang pertama di Ujungberung (1994) bersama Kimung dan Yayan. Ketika Analvomit bubar, ia sempat bersession dengan Kimung, Toto, dan Dody membawakan Deicide dalam band Blasphemous Nazarene (1995), sebelum kemudian membentuk Disinherit (1995) bersama Kimung, Ferly, dan Bebi, dan kemudian Infamy (1995) bersama Aji, Toto, dan Ramdhan. Semuanya band death metal dengan corak yang cenderung satanik atau gore. Musisi favoritnya saat itu adalah Glen Benton—Deicide, Chris Barnes—Cannibal Corpse, dan Frank Mullen—Suffocation. Salah satu manifestasi yang ia bangun mengenai eksistensinya adalah jargon “Anak Tuhan Asuhan Setan” yang sering ia tulis di buku hariannya. Satanik yang penuh penghujatan namun juga kontemplatif, berpengaruh besar terhadap musikalitas Ivan, terutama terhadap kepiawaiannya merangkai lirik.

Dinamika komunitas Ujungberung semakin berkembang saat itu. Banyak band baru lahir. Anak-anak yang nongkrong di Ujungberung juga semakin banyak. Ivan yang saat itu tinggal di rumah neneknya, membuka pintu lebar-lebar bagi kawan-kawannya. Segera saja rumah Kaum Kidul itu menjadi markas anak-anak Ujungberung, selain jalanan raya Ujungberung dan rumah Dani Jasad. Rumah Ivan juga yang membidani lahirnya Extreme Noise Grinding, Revograms, dan event monumental Bandung Berisik. Di tataran ideologis, rumah ini juga yang menjadi naungan anak-anak Ujungberung ketika mereka berdiskusi mengenai totalitas di musik, independensi, hingga masalah-masalah spiritual, idealisme, dan filosofi yang kontemplatif. Bisa dikatakan, Kaum Kidul, selain jalanan Ujungberung, adalah embrio awal munculnya radikalisme di komunitas Ujungberung. Masa itu, Ivan dekat dengan Dinan, Sonic Torment. Ketika Dinan menggalang komunitas Ujungberung dalam membentuk organisasi anak-anak metal Ujungberung, ENG, Ivan dengan bersemangat membantunya. Pun ketika Dinan memelopori penerbitan Revograms, sebuah fanzine anak-anak ENG, Ivan ikut serta aktif di dalamnya. Bersama, Kimung, Yayat, Dani, Gatot, dan Sule, Ivan adalah tim redaksi Revograms edisi pertama.

Masa ini juga menandai awal gaya hidup Ivan yang flamboyan dan bohemi. Dengan kawan-kawannya sesama musisi, Ivan mulai lebih sering meluangkan waktu di jalanan. Mengobrol banyak hal, diskusi hingga larut malam, menggoda cewek, merokok, mabok, hingga akhirnya tidur di jalanan. Gaya hidup itu berlangsung terus dan pengikutnya semakin bertambah setiap saat. Belakangan, Ivan, Kimung, dan Addy Gembel menamai “genk” anak-anak Ujungberung tersebut sebagai Homeless Crew.

Homeless Crew adalah sebuah penghargaan bagi kru yang mendukung panggung band-band Ujungberung. Kenyataannya tak ada yang benar-benar kru saat itu. Semua adalah para pemain band yang saling belajar dari kawan-kawannya dalam mengeset sebuah gig. Karena gaya hidup para kru yang jalanan banget, Ivan menamai mereka Homeless Crew. Nama ini juga plesetan jahil Ivan menertawakan tren yang merebak saat itu di kalangan anak-anak hardcore : menambahkan kata “hardcore” di belakang nama bandnya, kemudian diinisialkan. Misalnya ada band Anak Baonk. Maka Anak Baonk akan menambahkan kata hardcore di belakang namanya, kemudian menyingkat diri jadi ABHC. Ivan sempat menjahili tren itu dengan menyebutkan bandnya sebagai Burgerkill Hardcore Ugal-ugalan tapi tetap menyingkatnya jadi BKHC. Tapi kini ia butuh sesuatu yang lebih “ugal-ugalan” untuk mengganti singkatan dari HC. Homeless Crew kemudian benar-benar menggantikan HC hardcore di belakang Burgerkill. Homeless Crew bagi Ivan juga adalah sebuah representasi gaya hidup Burgerkill dan kru Ujungberung yang menolak untuk “berumah”. Simbol penolakan untuk tinggal dalam satu taraf kemapanan lalu tenggelam di dalamnya.

Di titik lain, Homeless Crew juga merepresentasikan kondisi kesadaran komunitas musik bawahtanah Ujungberung bahwa mereka tidak punya apa-apa. Segala yang ada dan melekat dalam tubuh setiap individu adalah bukan apa-apa. Dalam taraf ini, Homeless Crew menegaskan kenyamanan jiwa yang bebas berekspresi atau melakukan apapun dari kungkungan tubuh sebagai ‘rumah’nya. Awak mah bangké! teriak mereka. Hitheroad and never stop! Dengan semangat yang semakin menggila Ivan dan Burgerkill—kala itu Eben, Ivan, Kimung, Toto—menghajar puluhan gigs pergelaran musik bawahtanah sepanjang tahun-tahun pertengahan 1990an hingga tahun 2000. Tahun 1996, Burgerkill ikut serta sebuah proyek kompilasi 401204 Records yang digawangi Richard, Helvi, dan kru Reverse Studio. Album kompilasinya tersebut ditajuki Masaindahbangetsekalipisan. Burgerkill mendapat kehormatan besar. ”Revolt!” adalah lagu pertama dalam kompilasi ini. Ivan adalah orang yang paling bangga dengan rilisan kompilasi tersebut. Ke mana pun ia pergi, CD Masaindahbangetsekalipisan selalu ia bawa dan distel di mana pun ia singgah. Sementara ”Revolt!” dirilis 401204 Records, dua lagu Burgerkill lainnya, ”Myself” dan ”Offered Sux!” dirilis oleh Manifest Record yang digawangi Aris, Deadly Ground, dalam album kompilasi Breathless tahun 1996.

Tahun 1997 Ivan sempat kuliah di Jurusan Editing, Fakultas Sastra, Unpad. Ia senang kembali sekolah dan mendapatkan kawan-kawan baru. Di kampus ia segera mendapatkan banyak kawan. Bersama Manik Laluna dan tujuh orang kawannya yang lain Ivan sempat membentuk genk ATB, singkatan dari Anak Tak Berbudaya. Pada saat yang sama, di Ujungberung, Ivan kembali membuka pintu rumah tinggalnya lebar-lebar bagi anak-anak ENG karena saat itu mereka sedang merencakan gebrakan metal bawahtanah Ujungberung selanjutnya : Bandung Berisik II dan album kompilasi Ujungberung Rebels. Ketika Bandung Berisik II sukses dan proyek kompilasi segera dimulai, Ivan dan Burgerkill sedang memantapkan beberapa lagu terbaru mereka yang kelak menjadi lagu-lagu monumental Burgerkill. Masa ini, Burgerkill menciptakan ”Blank Proudness”, ”Rendah”, dan ”Sakit Jiwa”.Lagu yang kemudian direkam Burgerkill dan dimasukan ke dalam kompilasi Ujungberung Rebels adalah ”Blank Proudness”. Ivan sangat bangga akan kompilasi Ujungberung Rebels—kemudian dirilis dengan judul Independen Rebels, Musica, 1998. Ia juga aktif membantu Yayat mengurus Rebellion, distro yang dibangun Yayat dari keuntungan Independen Rebels. Rebellion menampung barang-barang kreasi anak-anak Ujungberung Rebels. Ivan sempat tinggal beberap alam di Rebellion. Ia membaca Sayap-Sayap Patah-nya Kahlil Gibran, menggambar, dan menulis. Ia juga belajar menyablon dan mendesain kaos dari kakak Yayat, Kang Koeple. Desain awal Ivan terdapat di kaos-kaos produksi Rebellion : Burgerkill’s Every Mother’s Nightmare dan kaos kru Rebellion, bertuliskan Drink Togetha’ Rock Togetha’, Always be My Brotha’.

Di saat yang bersamaan, Burgerkill juga mulai masuk studio dan merekam lagu-lagu mereka. Album Burgerkill yang pertama Dua Sisi akhirnya rilis tahun 2000 di bawah bendera Riotic Records. Namun Dua Sisi harus dibayar mahal dengan hengkangnya Kimung dari Burgerkill akibat tindakan indisipliner dan masalahnya dengan drugs. Ditinggal Kimung membuat Ivan uring-uringan. “Kapan Dua Sisi teh antara urang-si Kimung jeung Eben-si Toto. Mun euweuh si Kimung atuh lain Dua Sisi! ” gerundel Ivan. Dua Sisis memang merepresentasikan dua kubu ‘terang’ dan ‘kelam’ di dalam Bugerkill. Kubu terang diwakili Eben dan Toto, sementara kubu ‘kelam’ diwakili Ivan danToto. Buregrkill adalah band yang secara eksplisit menyebutkan bahwa terang dan kelam bukan lawan, namun konsep yang harus disinergikan demi hasil yang total dan maksimal. Masa-masa selanjutnya adalah masa-masa paling kelam dalam kehidupan Ivan. Ia tenggelam dalam drugs dan alkohol, berkeliaran di mana-mana : Jatinangor-Dago-Purnawarman-Rajawali-Padalarang, hingga akhirnya ketika lelah itu menyergapnya, Ivan kembali ke rumahnya : Ujungberung.

Tahun 2001 dan 2002, Ivan semakin sering tinggal di Ujungberung. Ia kembali tinggal di Kaum Kidul, di kamar yang sama ia pertama kali tinmggal di sana. Kini, kamarnya tak seramai dulu. Ivan mulai menatanya labih nyaman, lebih hangat. Kita akan semakin betah tinggal di dalamnya. Masa ini, Ivan mulai menuliskan lirik-lirik lagu baru. Kecenderungan penulisan lirik yang ia rintis melalui “Revolt!”, kemudian “Rendah”, dan “Sakit Jiwa” semakin berkembang. Lirik-liriknya berkembang sangat sarkas, tapi tidak ia tunjukan ke luar, namun ke relung-relung terjauh dalam diriya. Ivan memulai pengembaraan panjang lain menuju ke dalam dirinya sendiri. Sebuah fase psikedelik, karena saat itu Ivan juga masih menggunakan drugs. Pengaruh grunge—Ivan sangat mengidolakan Kurt Cobain dan Eddie Vedder—juga nampak, terutama dalam ambiguitas lirik, setajam, seeksplisit, dan se-straight apapun Ivan mengemas liriknya tersebut. Di album ini,cita-cita Ivan untuk berduet dengan musisi favoritnya Fadly, Padi, tercapai. Ivan bersession dengan Fadly dalam lagu “Tiga Titik Hitam”. Lagu yang juga mengantar Burgerkill ke ranah permainan paling jauh bagi band underground : major label. Burgerkill sign kontrak dengan Sony Music Indonesia tahun 2003 dan merilis Berkarat di bawah bendera label besar itu. “Sarua wéh jeung gawé, urang mah ngarasana. Manéh dikontrak ku Sony keur genep albumeun. Mun misalna saalbum satauneun berarti genep tauneun manéh di kontrak ku hiji perusahaan keur gawé ka manéhna. Sarua wé jeung manéh dikontrak gawé genep tauneun di hiji perusahaan. Éta hiji léngkah gedé. Nya keur urang, nya keur si BK..Urang nyadar urang kudu nyiapkeun sagalana sahadé-hadéna.” Ivan bercerita. Ivan dan juga para personil Burgerkill melihat sebuah peluang yang patut dijajal. Sebuah peluang yang baik untuk mempelajari banyak hal, terutama mengenai produksi sebuah rekaman, distribusi, hingga faktor-faktor lain yang biasanya luput diperhatikan oleh orang-orang kebanyakan, dan tentunya peluang untuk ekspansi musik Burgerkill ke dalam wilayah yang lebih luas. Mungkin sebuah utopis, tapi sesuatu akan tetap menjadi utopia jika kita hanya diam dan bermain-main di tataran itu-itu saja tanpa berani menjajal tataran lain di luar diri kita, di luar komunitas kita, di luar lingkungan kita. Pemikirannya yang lain, dengan bekerja sama dengan label besar, ia mengharapkan akan terjadi perbaikan dalam kehidupannya, terutama di ranah perekonomian. Ivan sangat mengharapkan, dengan kerja sama ini pendapatannya akan naik dan ia akan semakin mantap berjalan di jalur musik, jalur yang selalu ia junjung tinggi dan cita-citakan. “Aing mah rék meuli imah nu gedé, ngarah bisa nampung barudak kabéh, meuli mobil nu gedé, ngarah bisa ngajak barudak kabéh ulin ka mana-mana!” angan-angan Ivan saat ia membayangkan penghasilannya tentu akan naik seiring kerja samanya dengan Sony. Naif memang, namun begitu jujur. Ivan tak ambil pusing ketika begitu banyak media yag menyidir akan langkah Burgerkill—dan Ivan yag (lagi-lagi tidak populer). “Emang saha marenehna ngomong nu lain-lain tentang urang? So’ tau. Emang maranehna nu nanggung hirup aing?” katanya selalu.

Dan Berkarat memang prestisius. Album ini banyak mendapatkan pujian dari kritikus musik dan puncaknya adalah sebuah penghargaan dari blantika musik Indonesia sebagai Best Metal Production Anugerah Musik Indonesia 2004. Ivan sangat bangga dengan pencapaian itu. Bagi Ivan, ini adalah sebuah pembuktian totalitas dan komitmennya yang tinggi untuk berjalan di jalur musik. Ini membuat semangatnya semakin menyala. Ivan dan Burgerkill kembali membuktikan totalitas dan komitmen mereka bersama lewat Burgerkill Hellshow “A Give Back” 10th Anniversary 1995 – 2005. Ribuan fans dan kawan-kawan Burgerkill dari berbagai daerah datang dan berteriak bersama Ivan di ulangtahun Burgerkill ke-10 itu. Dengan segala euphoria itu, sempat terbit keinginan Ivan untuk menuliskan sebuah buku mengenai sejarah Burgerkill dan buku lirik-liriknya. Ia juga terinsipirasi buku kumpulan cerpen Tiga Angka Enam karya kawan karibnya, Addy Gembel, Forgotten. Ivan sempat mengobrol panjang dengan Kimung dan mereka sepakat untuk menuliskan buku itu berdua. Ivan yang membuat kerangka, Kimung yang mengolahnya menjadi sebuah narasi. Kimung juga menyanggupi menerbitkan karya Ivan melalui Minor Books. Namun setelah Hellshow dan sepanjang 2005, Ivan semakin sibuk dengan album terbaru Burgerkill. Masalah kesehatan juga merundung Ivan. Dadanya sering sesak dan ia sering batuk berkepanjangan. Ivan juga semakin sulit tidur dan ia sudah mulai sering merasa sakit kepala. Masalah kesehatan juga mengganggunya dalam berkerya. Dengan berbagai rongrongan tersebut, Ivan sering merasa kesulitan dalam menulis lirik. Sering kali, akibat Ivan mandeg, Eben terpaksa menculik Ivan untuk begadang bersamanya, memantapkan lagu. Stok lagu Burgerkill saat itu sudah lumayan banyak dan Ivan harus segera mengisikan pola vokalnya di lagu-lagu tersebut. Belum juga Ivan benar-benar pulih dari gangguan kesehatan, cobaan lain datang menerpa Burgerkill. Band ini memutuskan untuk hengkang dari Sony Music Indonesia karena mereka merasa kecewa dengan label tersebut. Mulai dari jadwal rekaman yang dimundur-mundurkan hingga anggaran rekaman yang tidak masuk akal.

Akhirnya, November 2005, Burgerkill cabut dari Sony. Bersama, para personil Burgerkill dan kru berkumpul dan kembali mengucapkan komitmen bersama untuk berjalan sendirian. Komitmen itu juga pada kelanjutannya menegaskan kedisiplinan, toleransi, dan tanggung jawab yang kuat terhadap segala langkah yang akan ditempuh. Ini adalah fase pendewasaan buat Ivan. Kondisi ini sangat menyentil sendtimentalitas Ivan untuk bangkit. Dalam beberapa catatannya ia sering menuliskan kata-kata “reborn” dan “back to the street”. Agaknya Ivan mempersiapkan dirinya utuk kembali ke semangat yang sama ketika ia membangun Homeless Crew dan Ujungberung Rebels di jalanan. Ia membuat sebuah perusahaan pakaian, Scumbag Premium Throath bersama sang kekasih, Mery dan merencanakan untuk menikah bulan Desember 2006. Sayang, kedewasaan ini tidak ditunjang dengan kondisi tubuh yang sehat. Beban mental dari perubahan ini tak tertanggungkan tubuh Ivan yang ringkih. Komitmennya telah teruji. Ia mematuhi ‘ikrar’ bersama Burgerkill. Ia membereskan rekaman dengan hasiol yang maksimal, bahkan di saat-saat terlemah dirinya. Keingkihan tubuhnya bagaikan semakin membiaskan semangat ang menyala-nyala hebat dalam dirinya. Beyond Coma & Despair rilis 20 Agustus 2007 tiga minggu setelah Ivan meninggal akibat radang otak, Legacy Lives On and On… Setelah launching party Beyond Coma and Despair Burgerkill melakukan tur Jawa dan bali. Sebuah fase bermusik yang selalu dirindukan Ivan. Setelah itu, Burgerkill yang mulai bangkit dari schock Ivan, menyeleksi puluhan calon vokalis.

Kini Vicky berdiri garang di barisan Burgerkill memegang panji-panji yang sempat diusung Ivan. Namun, itu adlah sebuah perjalanan panjang. Jauh sebelumnya, Eben sempat uring-uringan : “Bubarkeun wae kitu si Burgerkill teh?” Tapi bukan itu yang diingini Ivan. ia telah berkorban segalanya untuk melihat band ini sukses—bukan bubar. Maka jalanan harus terus dihajar dan BUrgerkill harus tetap digarda terdepan. Berhenti berarti mati! Tahun 2007, Beyond Coma and Despair, album biografis, hidup matinya Ivan, masuk sebagai 20 album terbaik tahun 2006 versi majalah Rolling Stone. Album ini juga masuk ke daftar rilisan terbaik tahun 2006 Ripple Magz. Tahun ini album ini juga masuk 150 album sepanjang masa majalah Rolling Stone. Sementara perusahaan pakianyang Ivan rintis, Scumbag Premium Throath, juga tidak pada. Perusahaan pakaian ini kini ditangai sang adik sebagai bisnis keluarga. Mana kata siapa hanya akan ada kesunyian setelah badai berakhir? Ivan mungkin kini telah tiada, namun kata siapa yang tiada benar-benar menghilang? Ivan tetap hidup. kita bisa merasakan semangatnya dalam sepak terjang dan dobrakan-dobrakan Burgerkill, Scumbag Premium Throath, Homeless Crew, Ujungberung Rebels dan ribuan lainnya yang selama hidupnya terinspirasi darinya. Teriakannya tetap menggema di sudut-sudut kota di mana suaranya didengarkan dan tetap hidup dalamjiwa generasi-generasi muda yang kelak akan menjadi ‘ivan-ivan’ baru bagi perkembangan scene musik bawahtanah Indonesia tercinta.

All hair Scumbag! All hail Scumbag! All hail Scumbag!

*Penulis buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death

Beyond Editorial : Menyentil Masalah Penyuntingan dalam Novel Myself : Scumbag Beyond Life and Death

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

Beyond Editorial :

 

Menyentil Masalah Penyuntingan dalam Novel

 

Myself : Scumbag Beyond Life and Death

 

 

 

oleh YusandiOjel

 

 

 

 

 

 

 

Tatkala ditawari Penulis untuk menyunting naskah buku ini, saya sedikit kaget. Bagaimana tidak? Saya bukan penggemar Burgerkill—musik mereka dan teriakan Ivan terlalu cadas dan memekakkan bagi gendang kuping saya! Tapi, dengan mengesampingkan itu, saya merasa tertantang dan bersemangat. Menurut hemat saya: ini adalah buku “biografi” pertama band lokal bawahtanah yang pernah ditulis di Indonesia (entah kalau sudah ada buku sejenis sebelumnya yang tak saya ketahui).

Saya kenal Ivan di Purnawarman, sekitar 1999. Tapi hingga kematiannya saya tak merasa begitu dekat dengannya, tak seperti “tokoh-tokoh” yang berperan dalam buku yang kini berada di hadapan anda, yang cukup intim dengan Almarhum. Namun, toh, yang diperlukan dalam menyunting terutama adalah masalah kebahasaan, bukan masalah musikalitas (musik ‘ kan buat didengarkan, bukan diperdebatkan, ya, kan ?).

Jujur saja, bahwa yang membikin saya menyanggupi mengedit buku ini adalah pertemanan saya dengan Penulis, bukan karena ketenaran Ivan dan Burgerkill. Kimung merupakan teman yang berwawasan luas, seorang penulis yang haibat dengan gaya tulis yang berkarakter. Dengannya, saya bisa berjam-jam berbincang tentang masalah apa pun—dari musik, sejarah, budaya, filsafat, sastra, agama, dll. Apalagi jika mengingat bahwa ia salah satu pendiri Burgerkill, yang tentunya sangat paham akan “sejarah” Ivan dan band yang dibangunnya. Dan ini: Penulis merupakan sahabat dekat Sang Vokalis sejak mereka masih “ababil” alias ABG labil. Penulis adalah seorang perawi yang kesahihannya lebih dapat dipertanggungjawabkan di hadapan khalayak pembaca. Juga, saya melihat semangat serta pengorbanannya yang tinggi dalam menyusun buku ini.

Saya percaya—seperti diakui Penulis—bahwa tak semua teks cerita dan percakapan langsung yang tertulis dalam buku ini berlangsung seperti yang terjadi sesungguhnya. Mereka yang “bercerita” dan “mengobrol” tentang dan dengan Ivan, memparafrasakan kembali pengalaman mereka. Ingatan merekalah yang membangun kisah-kisah buku ini (selain data-data tertulis dan rekaman suara); dan ingatan manusia bukanlah sesuatu yang seterusnya terang. Apalagi kebanyakan dari mereka—seperti halnya Ivan sendiri—sama-sama pengguna drugs, yang memorinya dapat dipastikan tak sepenuhnya mantap. Jadinya, Penulis dan juga mereka yang diwawancara, memakai kalimat mereka sendiri dalam menyampaikan kenangan-kenangannya bersama Sang Scumbag. Dan itu sah-sah.

Saya memulai penyuntingan pada 26 Juni 2007, tiga hari setelah menerimanya. Ketika menyerahkan naskah pertama, Kimung berkata, “Babat aja!” Dan dengan wewenang tersebut saya memang ternyata lumayan banyak membabatnya. Banyak pengulangan narasi dan deskripsi yang saya buang, dan terutama saya sering menyempurnakan tanda baca pada kalimat-kalimat langsung. Ada beberapa masalah yang perlu disampaikan di sini, yakni masalah peristilahan, terutama penulisan jargon dan genre (orang Indonesia menyebutnya “aliran”) musik. Sebutlah grindcore, hardcore, punk rock, riff, scene, lead. Saya dan Penulis sempat kebingungan, mana kata yang harus dimiringkan, mana yang tidak; mana frasa yang harus disatukan, mana yang tidak. Kita—orang Indonesia —sayangnya belum memiliki kata padanan untuk kata-kata tersebut. Untuk istilah underground kami memutuskan menerjemahkannya menjadi “bawahtanah”, bukan “bawah tanah”. Ya, kami menyatukannya menjadi sebuah kata mandiri, semandiri para pelakunya dalam bergerilya memperjuangkan idealisme mereka dalam bermusik. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan 2005, misalnya, belum juga mencantumkan kata padanan atau serapan untuk istilah-istilah tersebut. Ini memperlihatkan secara jelas bahwa Pemerintah dan ahli-ahli bahasa tak penuh perhatian terhadap perkembangan budaya anak muda secara global!

Belum lagi kata-kata “gaul-slengean” dan “bahasa Sunda jalanan” (bahkan beberapa berbentuk “bahasa kode” yang hanya dimengerti oleh komunitas bersangkutan) yang memenuhi percakapan-percakapan dan narasi dalam buku ini. Kata “gua” atau “nggak” belum juga dianggap sebagai bagian dari “bahasa Indonesia” oleh Pemerintah. Saya jadinya bertanya-tanya: apakah Pemerintah benar-benar telah belajar dari era Balai Pustaka buatan kolonial Hindia Belanda yang mengagungkan “Melayu Tinggi” yang dipakai para penulis Melayu-Riau dan merendahkan “Melayu Pasar” yang digunakan oleh rakyat kebanyakan di Batavia ? Bukankah lingua franca yang dijadikan “bahasa Indonesia” berasal dari para pedagang-pelaut yang notabene rakyat jelata yang tak semuanya pandai tulis-baca (baik Cina, India, Arab, Parsi, atau Pribumi), bukan dari kalangan sultan dan brahmana?

Ah, maaf, saya sudah terlalu banyak bicara. Selamat membaca saja! Bagi pembaca yang masih berusia belasan atau berjiwa remaja yang labil secara emosional, harap ingat: buku adalah salah satu bentuk sugesti yang terbesar dalam memandang, merespon, dan menyikapi hidup. Jadilah pembaca yang arif!

 

 

 

 

 

 

Bandung, 23 Agustus 2007

 

 

 

 

Yusandi alias Ojel adalah musisi, pemimpin Hitheroad Publishing,

 

penyunting Myself : Scumbag Beyond Life and Death

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Balik Penulisan Novel Myself : Scumbag Beyond Life and Death

Posted in Uncategorized with tags on September 11, 2008 by kimun666

Di Balik Penulisan Novel
Myself : Scumbag Beyond Life and Death

Oleh Kimung

I
Maret 2005, ketika itu Minor Books baru merintis penerbitan buku dengan debutnya Tiga Angka Enam karya Addy Gembel.. Untuk itu, saya meminta bantuan Ivan menggoreskan ilustrasi-ilustrasinya bagi cerpen-cerpen Addy Gembel. Ivan dipilih karena saya tau banget kalau karya-karya freehandnya pol! Selain itu, ia kawan Gembel sejak abg dan tau banget karakter Gembel. Ivan tak menyanggupi, karena saat itu ia sedang sibuk menggarap Beyond Coma and Despair. Tapi tak juga menolak. Ia bilang akan mencobanya dan baru menyelesaikan satu rancangan untuk cerpen “Republik Bintang Tengkorak”. Ketika Ivan memang tak bisa menyelesaikan ilustrasi-ilustrasinya, lini ilustrasi untuk Tiga Angka Enam langsung ditangani Bob-Yudo—sang penggila freehand dan desain gothic—yang gambarnya tak kalah mantap. Ivan memang tak jadi bekerja sama, namun selama proses penggarapan Tiga Angka Enam, saya melihat minatnya yang besar di bidang penulisan dan penerbitan.
Ia memelihara harapan besar untuk menuliskan sebuah buku mengenai lirik-lirik yang ia buat. Mirip buku lirik The Beatles : lirik dimuat, lantas ada keterangan siapa yang bikin, kapan, pas dalam kondisi gimana, nyeritain apa, dll. Pada kelanjutannya, seiring dengan percakapan kami di kamar Ivan-Mery dikawani minuman-minuman ringan dan musik-musik keras, ide itu berkembang semakin liar. Ivan ingin menuliskan sejarah Burgerkill, band yang telah membesarkannya, membesarkan komunitas Ujungberung Rebels, semakin mengangkat nama Bandung sebagai barometer musik Indonesia, sekaligus band metal pertama yang menjebol label besar, kemudian berani meninggalkan label raksasa itu demi mengejar idealismenya yang semakin menggebu, serta seabrek pencapaian yang baginya sendiri-dan juga jelas buat kita-sangat fenomenal.
Untuk itu, Ivan meminta saya membantunya dalam proses penulisan sejarah Burgerkill. Saya menyanggupinya. Dan sepertinya, Ivan sangat serius dengan ambisinya. Dalam beberapa buku catatan hariannya, ia menuliskan corat-coret kerangka utama sejarah Burgerkill yang akan ia tuliskan. Saya sendiri sangat percaya akan kepandaian Ivan dalam menyusun sebuah rancangan naskah. Karenanya, saya memutuskan untuk menunggu Ivan menyelesaikan rancangannya sebelum kepenulisan buku itu digarap bersama-sama. Namun, cita-cita adalah cita-cita. Belum selesai Ivan merampungkan rancangannya, ia keburu dipanggil oleh-Nya. Saya sangat terpukul. Saya merasakan ada satu hal di antara kami yang belum usai. Maka, di detik-detik terakhir hidup Ivan, saya membisikkan sebuah janji di telinga Ivan :”Van, ku aing béréskeun kahayang manéh! Ku aing tuliskeun biografi si Bé-Ka téh! Ku sorangan Van! Manéh boga lakonna!”
Maka inilah janji itu. Sebuah biografi Ivan, Myself : Scumbag Beyond Life and Death. Saya begitu lelah mengerjakannya. Tapi saya juga begitu ngotot menyelesaikannya sampai saya tidak peduli dengan letih itu. Mungkin karena sebenarnya saya tidak sendiri mengerjakannya. Saya dibantu Ivan ‘dari sana’ dalam menuangkan segala kisah dalam biografi ini.

II
November 2006. Bangkit dari shock akibat meninggalnya Ivan ternyata tak segampang yang saya kira. Tak ada yang mudah menyadari orang yang sangat dekat dengan kita telah tiada. Berat dan menyakitkan. Di atas segalanya, mengumpulkan keberanian dalam menuliskan biografi ini adalah proses paling berat yang saya rasakan. Betapa tidak, tokoh yang saya tulis adalah kawan saya, saudara di jalanan yang membangun sebuah komunitas dan scene bersama-sama, sekaligus orang besar yang tetap membumi di tengah kebesarannya. Kami memiliki begitu banyak kenangan terbaik dan terburuk bersama yang kadang begitu sulit saya ungkapkan. Kisah hidupnya yang keras membuat miris dan kadang saya tak berani berempati kepadanya.
Namun saya ngotot. Maka semua berkas yang saya kumpulkan beberapa hari setelah Ivan meninggal dari Mery dan Jimbo mulai saya telaah. Sekali lagi ini bukan sebuah pekerjaan yang gampang karena ketika membaca kata-demi kata dalam syair, puisi, atau goresan gambarnya, Ivan bagai mau menyeret saya agar ikut merasakan betapa gila emosi sepanjang hidupnya. Dan betapa emosi ini menyiksanya seumur hidup, Tapi di sisi lain, mengangkat derajatnya sebagai seniman papan atas karena justru yang emosional inilah curahan hidupnya, kejujuran, dan ekspresi dirinya. Saya juga membongkar kembali dus-dus berisi foto-foto dan buku-buku harian tebal yang sering kami—saya, Ivan dan kawan-kawan Ujungberung Rebels—tulisi bersama sejak masa putih abu hingga tahun 2001an.
Januari 2007 saya mulai menulis. Awalnya saya targetkan terbit April untuk mengejar ulang tahun Ivan tanggal 19 hingga buku yang bagi saya personal ini semakin personal. Tapi sekali lagi, bukan hal mudah meyelami gejolak jiwa Ivan. Saya jadi banyak sakit sendiri dan terbawa-bawa emosional dalam menuliskannya. Kadang saya berhenti di tengah penulisan yang bergejolak dengan napas terengah-engah lelah, atau tanpa sadar air mata menetes. Saat itulah saya harus berhenti. Biasanya saya pergi ke gunung dulu sebelum kembali dapat mengumpulkan energi, keberanian, kengototan saya. Terima kasih kepada kawan-kawan yang mendampingi saya kemping selama penulisan buku ini.
Buku ini awalnya saya rancang tujuh bab. Pada kelanjutannya satu bab berjudul ”Jatinangor Blues, Purnawarman Fever” saya pecah menjadi tiga bab : “Tattoed Everything”, mengisahkan meninggalnya ayah Ivan, “Jatinangor Blues, Dua Sisi”, mengisahkan masa kuliah Ivan dan album Dua Sisi, dan “Purnawarman Fever”, mengisahkan Ivan ketika di Purnawarman. Pemecahan ini karena saya rasakan kurangnya eksplanasi histories dan pendekatan psikologis yang saya bangun sehingga hasil penulisan terasa datar. Saya juga kemudian menambahkan satu bab pendek sebagai penutup. Bagian yang sulit dari buku ini adalah menuliskan bab pertama, bab “Berkarat”, “Beyond Coma and Despair”, dan “The End”. Hal ini karena sulitnya saya berempati atas gaya hidup Ivan yang tidak jelas, penuh diwarnai gejolak emosi yang tidak stabil, penggunaan drugs yang berlebihan, serta penyakit yang mendera tubuh dan jiwanya. Namun di atas segalanya, bagian tersulit dalam penulisan buku ini adalah bagian “The End” yang mengisahkan awal jatuhnya kondisi Ivan hingga ia meninggal. Bab ini tak sebanyak bab-bab yang lain tapi melibatkan emosi yang dalam di jiwa saya. Sering saya tak kuat dan berhenti menulis. Lalu saya teruskan lagi sedikit, lalu berhenti lagi. Lebih dari dua bulan saya bereskan bab ini, walau Mery yang berada di samping Ivan selama masa ini hingga akhir hidupnya, begitu banyak membantu saya, bahkan menuliskan kesan-kesannya agar saya jauh lebih mudah mengolah kata-kata. Kendala saya adalah saya tak sanggup menggambarkan kesakitan Ivan dengan kata-kata. Sepertinya tak ada kata-kata yang dapat mewakili perasaan Ivan dan saya mentok. Saya yang semakin tak sangggup akhirnya hanya mengcopy-pastekan saja tulisan Mery. Dan itu menurut saya lebih mewakili semua tulisan yang saya rangkai. Bab lain yang tak kalah sulit adalah bab pertama. Bab ini baru selesai saya tulis setelah dummy pertama beres diedit oleh Ojel, editor saya. Saya menulisnya secara spontan dalam waktu kurang dari setengah jam. Saya tak mau mengulang-ulang lagi dan hasil tulisan saya untuk bab satu tak pernah saya lihat lagi. Saya, dalam hal ini percaya sebuah spontanitas. Begitu pula bab terakhir. Saya menuliskannya lebih singkat. Mungkin hanya sepuluh menit, ketika semua bab telah usai dilayout oleh Popup. Sekali lagi, saya percaya dengan spontanitas.

III
25 Agustus 2007 naskah sebetulnya sudah beres dan karenanya, saya, Popup, dan Ojel memutuskan untuk liburan ke Kutoarjo dan Jogja sambil menghadiri pernikahan BobYudo&Monik-forever partner dan sahabat terbaik Mino. Pikir kami sekalian liat-liat kondisi di Kutoarjo-Jogja, sekalian promo dan buka jaringan distribusi. Sepanjang perjalanan saya baca buku Heavier Than Heaven, biografinya Kurt Cobaim dan saya membandingkan dengan biografi Ivan. Wah! pikir saya. ternyata banyak hal lolos dalam penulisan biografi Ivan. Saya memutuskan untuk kembali menggarap naskah sepulang tur Kutoarjo-Jogja. Selama dua minggu saya tak keluar rumah. Konsentrasi penuh pada revisi hingga akhirnya beres dan saya kembali menghubungi Popup untuk segera melayout naskah terbaru. Untunglah Pak Dosen Popup punya kelihaian yang mumpuni. Dengan cepat ia membereskan layout. Namun dasar saya! Ada saja yang saya robah hingga tata letak penuh footnote yang sangat menyulitkan itu berkali-kali robah pula.
Akhirnya, proses layout yang lumayan panjang selesai tanggal 29, 30 September, serta 1 Oktober 2007. Beberapa minggu sebelum layout selesai, Gustaff yang saya minta menuliskan “Afterwor(l)d” untuk buku ini mengirimkan tulisannya dan itu menjadi cambuk buat saya dan kawan-kawan untuk segera membereskan buku ini. Gustaff bukan orang baru dalam proses penyusunan buku ini. Beberapa minggu setelah meninggalnya Ivan dan ucapan ikrar saya untuk menuliskan kisah hidupnya, saya menemui Gustaff di Commonroom. Kepadanya saya mengutarakan niat itu. Bisa dikatakan ia termasuk orang pertama yang tahu akan niatan saya, selain istri saya, anak saya, Mery, Jimbo, Eben dan Burgerkill yang lain, Yayat, Addy Gembel, serta Deni dari Lawangbuku. Gustaff sangat mendukung. Dukungannya memacu saya, membesarkan semangat saya. Dan saya sangat berterima kasih atas itu. Karenanya, saya lalu memutuskan untuk memberikan penghormatan kepada Gustaff untuk menuliskan sepatah kata dalam buku Myself : Scumbag….
Asalnya saya akan meminta sahabat saya Addy Gembel untuk menuliskan kata-kata di “Afterwor(l)d”, namun sepertinya ada beberapa ketidaksesuaian mengenai visi mendasar dalam penulisan buku sejarah ini. Saya terpukul dengan pernyataannya yang dimuat secara luas di Majalah Ripple mengenai komersialisasi Ivan atau pendewaan yang berlebihan. Tidak, Dy! Sama sekali ini bukan komersialisasi atau pemitosan. Bagi saya ini personal. Entah bagi Addy yang memandang dari sisi sosialis atau kapitalis atau paham-paham yang sama sekali tidak saya mengerti. Sempat saya akan membalas tulisan sahabat saya tersebut, namun saya kira energi saya terlalu kecil dan akan habis jika saya menggulung-gulung hal-hal yang itu-itu saja. Maka saya segera melupakan kekecewaan saya dan memulai proses menulis. Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Lagi pula, ketika saya pikirkan matang-matang dan positif, ternyata kritikan dari Addy lalu menjadi dasar pemikiran penerbitan buku ini : keluar dari sisi komersialisasi yang kini marak meruak di ranah penerbitan dan menghancurkan ideologi serta idealisme seorang penulis dalam menulis. Saya lalu memandang kritikan itu sebagai rasa sayang seorang sahabat kepada sahabat lainnya, atau kekecewaan mendalam dan rasa rindu atas sebuah kehilangan seorang sahabat. Tiba-tiba, saya merasa semakin dekat dengan Addy Gembel…
Sementara itu, untuk cover buku, awalnya saya memiliki beberapa opsi. Akan diambil dari artwork Ivan, atau meminta tolong kepada Eben, Asmo, BobYudo, atau kepada kawan saya Azizah melukiskan wajah Ivan. Namun akhirnya karya Eben datang pertama kali dan saya langsung jatuh cinta melihatnya. Lagi pula Eben dari awal memang sudah menegaskan jika ia akan membantu apa saja yang sekiranya dapat ia Bantu selama ia mampu. Dari desain covernya saja saya tau dia sangat berasungguh-sungguh.
Masalah lainnya yang lalu harus saya pikirkan adalah biaya. Banyak pihak yang lalu menyarankan agar saya minta saja kepada Burgerkill, toh, ini adalah biografi Burgerkill juga. Saya tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Saya sangat tidak setuju jika karya ini mengenai Burgerkill walau saya akui, saya mengambil periodisasi hidup Ivan dari karya-karya Burgerkill. Sekali lagi ini karya personal dan saya tak mau merepotkan Burgerkill, walau dalam kenyataannya, mereka dengan sangat luar biasa mendukung dan membantu saya selama proses penggarapan biografi ini. All hail Burgerbrothers! Maka untuk sponsor saya mencoba mengotak kawan-kawan lama. Saya mendapat dukungan dari Chronic Rock, Scumbag, Commonroom, Eat, 347, http://www.burgerkillofficial.com, Dis.tribute dan Yayasan Adikaka-nya, Obscene, Godinc., Omuniuum, Migraph, dan Arena Experience. All hail ya!
Maka inilah buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death. Saya persembahkan buku ini untuk semua kawan-kawan Ivan dan juga begundal disertai sebuah penggalan kalimat dari Omar Khayyam yang dimuat dalam buku Samarkand sebagai pembuka salah satu bab : “Bangkitlah! Untuk tidur terenatang keabadian di depan kita!” Dan memang, Ivan yang begitu jarang tidur tahu banget kalau hidup adalah untuk tetap bangkit—istilah Johnny SID : ‘berdiri tegak menantang!’ dan terus berkarya, sampai akhir hayat.
Selamat membaca, Semoga karya ini mengispirasi dan semakin menumbuhkan minat baca dan tulis, hingga budaya menulis kita semain maju, tak kalah berdampingan dengan tradisi lisan kita yang luar biasa! Kabarnya ini adalah penulisan pertama tokoh lokal. Whaddahell! Ini adalah persembahan paling pribadi saya buat Ivan : sahabat saya, pejuang yang paling patut mendapatkan sebuah penghormatan dari kita semua! All hail Scumbag!

Kimung adalah penulis buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death

JURNAL KARAT # 13, 16 APRIL 2010, NICE BOYS DON’T PLAY ROCK N’ ROLL

Posted in Uncategorized with tags on April 18, 2010 by kimun666

JURNAL KARAT # 13, 16 APRIL 2010, NICE BOYS DON’T PLAY ROCK N’ ROLL

Asuhan Jon 666

Minggu, 11 April, Obrolan dgn Yayat di nikahan Buyung

Di nikahan Buyung ini Karat & Burgerkill dijadwalkan manggung. Namun sayang ternyata cuaca sangat tidak memungkinkan karena hujan turun deras disertai dordar gelap. Sambil kongkow menikmati kebersamaan kawan-kawan lama dan kebahagiaan pernikahan Buyung – Risma, anak-anak Ujungberung Rebels ngobrol.

Ada Yayat, Bu Ika, Kimung, Hendra, Agung, istrinya Agung, Ugunk, dan beberapa kawan lainnya. Obrolan awalnya adalah antusias dan apresiasi Yayat pada kolaborasi Burgerkill Berkarat di Tiga Titik Hitam, MTV Studio kemarin. Obrolan berkembang ke rekaman Karat. Bicara ini juga Yayat tak kalah antusias. Ia menanyakan sejauh mana kesiapan Karat untuk merekam lagu-lagunya kepada Kimung. Kimung segera cerita tentang rencana-rencana persiapan rekaman si Karat, termasuk hal teknis seperti system rekaman live atau track dan penggunaan metrpnom. Di luar dugaan Yayat menyebutkan jika proses rekaman terbaik untuk si karat adalah dengan sistem live, namun dengan pemisahan ruang para musisi sesuai karakter suara yang dimainkan dari waditra. Penyekatan dilakukan antara pemain karinding, celempung, dan waditra lain seperti toleat, suling, dan vokal. Nuansa live bagi Yayat akan mendokumentasikan secara utuh nuansa kebersamaan dan spontanitas yang dibangun dari proses kreatif waditra tradisional, termasuk karinding dan celempung. Itu juga sebabnya Yayat cenderung tidak menyarankan untuk memakai metronom walaupun tetap ini bisa dilakukan.

“Urang ngiluan heula latihan lah, haying ingali heula uy. Mun latihan bejaan heeuh..” tandas Yayat saat itu.

Antusiasme, Yayat tularkan ke Agung untuk menyelipkan permainan karinding yang dimainkan bersama ebow. Agung memperlihatkan antusiasme yg tinggi  dengan ini dan ia akan pikirkan itu. Yayat juga mengutarakan keinginanya untuk merecycle “Tiga Titik Hitam”dalam aransemen Burgerkill vs Karat. Agung sangat bersemangat dengan ide ini. Hajar terus rekaman Burgerkill!!!! Ya guys rockkkk!!!!

Selasa Ceria, 13 April

Berkumpul di GIM untuk beberes markas rahasia berlatih komposisi Karat!!!

Jumat Kramat, 16 April

Ada banyak agenda :

-          Berkumpulnya tiga film maker yang berencana membuat video tentang karinding. Yang pertama Esa & Yoko dari Stisi yang pengen bikin video documenter karinding secara global, trus genk Unikom yang membuat TA bikin klip “Hampura Ma” dan juga beberapa footage mengenai perkembangan karinding di Kota Bandung, trus Viki Rascall dari Bandung Oral History yang berencana menggarap film Karat untuk diikutsertakan dalam Eagle Award. Kimung yang juga berencana bikin film dokumen karinding bersama Tatarukur harus mundur dan bangga melihat antusiasme anak2 muda itu.

-          Bahas rancangan klip “Hampura Ma” oleh anak-anak Unikom : Konsep sudah oke brayy, sok atuh geura hancas!!! Pesan Karat mah omat jangan lebay klipnya, ap lg pas eksplorasi teatrikal. Meliuk-liuk boleh tapi jangan berlebihan yess ^^ I believe ya guys gonna rock the vid, so carry on sex pistols!!!

-          Bahas rencana rekaman : akan merespon keinginan Boyat buat garap Karat. Sebuah kebanggaan dapat digarap si seukeut ceuli Yayat Boyat legenda engineering music metal Bandung. Dan karenanya akan mulai melibatkan Boyat di setiap latihan sebelum masuk studio.

-          Brifing buat gig tgl 18 April di Unpas : Tak ada kata sepakat hahahahahaaa…

-          Garap lagu baru. Yang tergarap cuma “Burial Buncelik”. Awesome poll poll!! Ini duet Man & Okid. Pirigan celempung Mang Hendra juga poll poll!!! Ada tiga lagu lainnya yang masih menanti segera diselesaikan.

Jumat Kramat ini juga sangat ramai. Karat Cuma Ki Amenk yang absen, banyak kawan berkunjung, selain esa dari Stisi, anak2 Unikom, Viki, ada juga Andra Ziggie Wiggy yang akhirnya bergabung ikut latihan celempungan sama si Karat, dan juga silaturahmi anak-anak Buah Batu yang hadir dalam seragam jaket yang kokiks mang, dan menjelang malam datang Elisa dengan kue cengkehnya yang yuummiiee ^^ O iya, Elisa, Andra, Kate, dan Reggie rencananya jadi model klip “Hampura Ma” kayanyaa.. Rame ajah pokonya hheuu…

Minggu manggung di Unpas Taman Sari…  Smoga lancars smuahh muaahh muaahh… Yuuuuu ^^

Bersambung!

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Frans Ferdinand, Burgerkill, Lighthouse Family, Avril Lavigne, Nat King Cole, Rolling Stones, Carcass, Deicide

Books : Pamali 2 asuhan Kak Norvan Pecandupagi, naskah buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels by Kimun666

Movie : The US vs John Lennon

JURNAL BOH FORUM KEMISAN 11 MARET 2010 Diskusi Sejarah GMR FM, Workshop BOH Gelombang 2, Historiografi Tradisional

Posted in Uncategorized with tags on March 16, 2010 by kimun666

JURNAL BOH  FORUM KEMISAN 11 MARET 2010
Diskusi Sejarah GMR FM, Workshop BOH Gelombang 2, Historiografi Tradisional

Oleh Kimun666

Ada tiga agenda utama yang dibahas BOH dalam Forum Kemisan kesempatan kali ini. Tiga agenda tersebut adalah rencana diskusi dua bulanan BOH yang rencananya kali ini akan ngaguar sejarah GMR FM, sebuah riset yang dilakukan Dian AQ Maulana, rencana workshop BOH gelombang ke dua, dan materi mengenai Historiografi Indonesia. Mari kita ikuti satu-satu.

Diskusi Publik Dua Bulanan BOH : Sejarah GMR FM

Sejarah GMR FM adalah tema yang digarap oleh Dian AQ Maulana sebagai ranah risetnya di BOH. Tema ini sudah ia kerjakan selama setahun ini dans ejak akhir 2009 disepakati menjadi salah satu tema yang akan dikedepankan dalam diskusi dua bulanan BOH. Awalnya diskusi tema sejarah GMR FM ini akan urung dilaksanakan karena Dian AQ Maulana berkali-kali menegaskan ketidaksiapannya. Kimung juga awalnya mengiyakan ketidaksiapan itu. Namun demikian ketika bercakap lagui dengan reggie hari selasa tanggal 9 Maret 2010 mengenai revitalisasi program BOH tahun ini, semangat Kimung untuk mengangkat sejarah GMR FM di Forum Kemisan kembali menyala. Dalam jurnalnya Reggi menegaskan pentingnya diskusi mengenai sejarah GMR FM sebagai titik tolak perkembangan scene musik rock di Kota Bandung awal tahun 1990an.

Disoroti, masa itu perkembangan musik rock di Kota Bandung sangatlah pesat dan GMR adalah salah satu sumber informasi yang paling penting dalam mendukung perkembangan ini. Dibandingkan dengan banjir informasi masa kini, dinamika perkembangan tahun 1990an dengan ikon GMR FM nya memang sangat fenomenal. Stasiun radio ni mampu membuat sebuah pergeseran nilai yang pada gilirannya membentuk wajah music rock Bandung seperti hari ini. Hari ini, walau begitu banyak informasi di luaran sana mengenai msuik rock dan metal, dinamika perkembangan kaum muda di Kota bandung tak pernah bisa segairah zaman GMR lagi. Fenomena inilah yang menarik untuk dibahas dan dipelajari bersama dalam diskusi sejarah GMR ini.

Forum Kemisan minggu ini—dihadiri Kimung, Reggi, Addy Gembel, Zia, Arief, Viki, dan Andri—membahas latang belakang pembahasan diskusi sejarah GMR FM meliputi latar belakang diskusi, berbagai topik yang akan diangkat, hingga penyusunan kepanitiaan yang kemudian sepakat memilih Zia untuk menjadi head project diskusi ini. Diskusi ini rencananya akan digelar 25 Maret 2010 di Commonroom, mengetengahkan sumber pembicara Arin, Ridwan, Bey, Ugun, Dian AQ maulana, serta beberapa scenester senior yang seangakatan dengan GMR FM. Untuk lebih lengkapnya report diskusi akan segera diupload.

Untuk sementara, simaklah abstrak penelitian Dian AQ maulana mengenai sejarah GMR FM,

“GMR DAN PENGARUHNYA TERHADAP SCENE MUSIK ROCK DI BANDUNG 1991-1999

Radio dan musik adalah dua buah sisi mata uang yang berbeda, tapi merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa dilepaskan. Radio dan musik memiliki simbiosis yang saling berkaitan dan memiliki dinamika yang tidak dapat dipisahkan antara keduanya. Radio akan selalu membutuhkan berbagai lagu untuk playlist ataupun untuk memperkuat image mereka dan di sisi lain band membutuhkan radio untuk memperkenalkan karya mereka.

“Generasi Muda Radio Rock Station” adalah sebuah radio swasta di Bandung, metamorfosis dari radio sebelumnya ”YG; Young Generation”. GMR dalam perkembangannya selalu memutarkan lagu-lagu rock, beberapa acara yang menjadi legenda dalam dinamika GMR diantaranya Sixsix dan Sunday Rock. Dalam biografi Ivan Scumbag ”My Self SCUMBAG; beyond life and death ” di halaman 26 kimung menulis, bagaimana GMR khususnya acara Sixsix sangat mempengaruhi ivan CS di kala itu/ tahun 1993.
Berdasarkan dari sanalah saya pribadi ingin menulis bagaimana sebenarnya pengaruh GMR radi ini terhadap scene music rock di kota Bandung. Karena seperti kita ketehaui pas band, sebuah band pioneer indie kota Bandung, terlahir dikarenakan adanya radio ini.”

Uraian di atas adalah sebuah hal yang penting dan menarik untuk dikaji lebih mendalam, agar sebuah dinamika yang lahir dari GMR dalam jenjang tahun 1991-1999 ini tidak hanya diingat segelintir orang apalagi bila hanya jadi sebuah sejarah saja.

Workshop Gelombang Ke Dua Bandung Oral History April 2010

Pembahasa kemudian berlanjut ke rencana workshop gelombang ke dua BOH yang rencananya akan digelar sepanjang April. Pembicaraan focus kepada target peserta workshop yang masih ditentukan random, namun mengerucut pada mahasiswa, remaja, dan diutamakan para perempuan. Hal ini ditegaska Reggi untuk lebih memperbanyak peran kaum wanita di scene independen ini, terutama di ranah riset. Perempuan difokuskan karena bagitu banyak sudut pandang yang berbeda akan muncul dari visi feminin. Agar mengikat para perempuan ini untuk terus berada di scene, maka BOH juga menilai harus ada atmosfer baik yang diciptakan oleh BOH agar aspirasi para perempuan bisa difasilitasi.
Masih belum ada perbincangan lebih jauh mengenai workshop ini, namun demikian secara materi pengajaran Kimung sudah beres 90 %, tinggal meikirkan teknis pelaksanaan workshop dan pengajarannya saja. So, pantau saja terus kabar-kabar terbaru dari BOH!!

Historiografi Tradisional

Materi mengenai historiografi tradisional akan di upload secara terpisah dalam tag Materi BOH. So just wait and see oks!

Sampai jumpa Kamis depan!!!

JURNAL KARAT # 6, JUMAT KRAMAT, BURGERKILL VS KARAT DIUNDUR, KOLABORASI EUROEPE IN DE TROPPEN DI LAGU NEW YORK

Posted in Uncategorized with tags on March 2, 2010 by kimun666

JURNAL KARAT # 6, JUMAT KRAMAT
BURGERKILL VS KARAT DIUNDUR, KOLABORASI EUROEPE IN DE TROPPEN DI LAGU NEW YORK

asuhan jon 666

Minggu, 21 Feb 2010
Musyawarah bandung Death Metal!!! Ada beberapa keputusan penting berkaitan dengan jkoordinasi pergerakan death metal Bandung dan Indonesia. Laporan simak di blog www.kimun666.wordpress.com dan www.bandungoralhistoryproject.wordpress.com hari Selasa 2 Maret 2010.
Karat juga ngumpul karena ada wacana hari itu karat ultah. Awalnya mau numpeng, tapi nggak jadi. Sore itu Karat berkumpul dengan semua kawan-kawan yang datang untuk berkumpul dan saling bertemu. Yang lain berlatih tatabeuhan berbagai lagu, terutama lagu “Tiga Tititk Hitam” Burgerkill. Well happy b’day karat!!!

Selasa, 23 Feb 2010
Karat lengkap malam itu. Latihan mulai dari jam delapan malam hingga pukul sepuluh. Burgerkill vs Karat di “Tiga Titik Hitam” mengalami penyempurnaan aransemen. Semua mengalami taraf rasa yang sama da perlahan penyempurnaan music di masing-masing musisi yang bermain mengalir dengan sendirinya. Hamper semua lini instrumen di Karat perlahan mulai bersatu, ngawin seiring dengan begitu banyak perubahan yang terasa sebagaimana mestinya. Sesi rekaman todong yang dilakukan Eben, Man, dan Kimung melalui voice recorder masing-masing bisa dikatakan mencapai kualitas terbaik pula dibandingkan dengan yang sebelumnya karena masing-masing sudah bisa meraba di posisi mana rekorder disimpan sesuai dengan kapasitas penangkapan recorder tersebut.
Lalu biarkan mengalir…
“Tiga Titik Hitam” semakin mendekati bentuknya Selasa itu.

Rabu, 24 Februari 2010
Kimung menginventarisasi beberapa kawih murangkalih (lagu anak-anak) dari buku Pepereni yang ia pinjam dari Bu Winda, guru bahasa Sunda di Sekolah Cendekia Muda. Ini hasil inventarisasi yang dilakukan Kimung,
AYANG-AYANG GUNG
Ayang-ayang gung
Gung goongna rame
Menak Ki Wastanu
Nu jadi wadana
Naha maneh kitu
Tukang olo-olo
Loba anu giruk
Ruket jeung kompeni
Niat jadi pangkat
Katon kagorengan
Ngantos Kangjeng Dalem
Lempa lempi lempong
Ngadu pipi jeung nu ompong
Jalan ka Batawi ngemplong

BULANTOK
Bulantok bulantok
Bulan gede bulan montok
Moncorong sagede batok

Bulantok-bulantok
Aya bulan sagede batok
Bulanting bulanting
Aya bulan sagede piring

CINGCANGKELING
Cingcangkeling
Manuk cingkleung cindeten
Plos ka kolong
Bapa satar buleneng

EUNDEUK EUNDEUKAN
Eundeuk eundeukan
Taraju bawang
Kalmia cipe jae ulae
Sangkayo
Cabok cinde mende
Dodomoyo

Eundeuk eundeukan
Jamparing pegat talina
Aleut-aleutan
Nu kawin euweuh walina

Euleung euy euleung barudak urang ka jami
Embung euy embung sieun badak nu kamari
Euweuh euy euweuh
Geus dibedil ku si Sedet
Detong, det detong
Si Sedet kari sapotong

Jung jae
Balakatanjung jae
Pucuk menyan
Mangsoyi godong malati, riri
Riri nyandung ka putra dalem
Tumenggung Bandung
Bandung tipung polongpong
Saunda-saendo poho
Poho tadi lalajo teu mawa simbut butut!

EUNDEUK EUNDEUKAN LAGONI
Eundeuk eundeukan lagoni
Meunang peucang sahiji
Leupas deui ku nini
Beunang deui ku aki

Eundeuk-eundeukan cangkuang
Bale bandung paseban
Meunang peucang pa ujang
Leupas deui ku akang

JALEULEU
Jaleuleu ja
Tulak tuja eman gog
Seureuh leuweung bay
Jambe kolot bug
Ucing katingang songsong
Ngek!

KALI-KALI KONENG
Kali-kali koneng
Naha koneng aing dikali?
Piubareun budak
Naong budakna?
Hulu lisung
Naon pangasuhna?
Jurig beureum dikukuncung

KALONGKING
Kalongking kalongking
Bapa sia hudang ngising
Dibura ku madu ucing
Madu ucing meunang maling

Kalongking kalongking
Bapa sia Utah ngising
Beak samak beak samping
Teu cageur waktu sapeuting

MARGALUYU
Bang kalmia lima gobang, bang
Bangkong di tengah sawah, wah
Wahey tukang najigur, gur
Guru sakola desa, sa
Saban poe ngajar, jar
Jarum paranti ngaput, put
Putrid nu gareulis, lis
Lisung kapal udara, ra
Ragrag di Jakarta, ta
Taun opat hiji, ji
Haji rek ka Mekah, kah
Kahar tujuh rebu, bu
Buah meunang ngala, la
Lauk meunang nyobek, bek
Beker meunang muter, ter
Terus ka Citapen, pen
Pena gagang kalam, lam
Lampu eujeung dammar, mar
Mari kueh hoho, ho
Hotel pamandangan, ngan
Ngantos kangjeng dalem, lem
Lempa lempi lempong
Ngadu pipip jeung nu ompong

PUNTEN
Pun ten mangga
Ari ga, gatot kaca
Ari ca, cau ambon
Ari bon, bonteng asak
Ari sak, sakit perut
Ari rut, rujak asem
Ari sem, sempal sempil
Ari pil, pilem rame
Ari me, meja makan
Ari kan, kantong kosong
Ari song, songsong lampu
Ari pu, puak paok
Ari wok wok candewok

OLE OLE OGONG
Ole-ole ogong melak cabe di Tarogong
Dihakan ku embe ompong
Diteang kari sapotog

Au au aheng
Beuleum cau tutung geheng
Embe embe domba
Anak sapi tutunggulan

Ema ema weya
Si Sahi kabuhulan
Haying geura diinuman
Embe embe domba
Anak sapi tutunggalan
Ema ema weya si Sahi pupundakan
Ku baturna ditumbukan

RAT-RAT GURISAT
Rat-rat gurisat
Nini ingrat paeh diselap
Tiselap kana kuciat
Dibura ku laja tuhur
Laja tuhur meunang ngunun
Meunang ngunun tujuh taun
Kadalapan diburakeun
Nyeh prot nyeh prot nyeh prot

RORO MANYORO
Roro manyoro
Manyoro manjangan ngidul
Anak sia jadi ratu
Diketukan dikenongan
Turunan apung
Karunya si anak sia

TIK TIK TOLEKTAK
Tik tik tolektak
Ari tak, tak tak bareuh
Ari reuh, reuhak cina
Ari na, naya genggong
Ari gong, gongseng panas
Ari nas, nasi baso
Ari so, sorangan bae yeuh…

TOKECANG
Tokecang tokecang
Balagendil tosblong
Angeun kacang angeun kacang
Sapendil kosong

TRANG TRANG KOLENTRANG
Trang-trang kolentrang
Si londok paeh nundutan
Mesat gobang kabuyutan
Tikusruk kana durukan

TUKTUBRUNG
Tuktukbrung tali tanjung
Papagan nyemplung
Pada leutik pada sempung
Patulangtung patungtung brung

Kamis, 25 Feb 2010
Karat manggung di United Zero, Stikom Bandung. Penggarapan acara semakin baik saja. Salut kepada Viki dkk yang menggagas dan menggarap acara ini. Karat manggung dengan list lagu biasa. “Intro, Sampurasun “, dilanjut “Hampura Ma”, lalu “New York”, lalu “Wasit Kehed”, “Lagu Perang” dan ditutup oleh “Kawih Pati”. Di panggung itu, Mang Engkus absen karena suatu urusan. Karat manggung bareng dengan Eyefeelsick, Gugat, Noiin Bullet, Restless, dan band-band lainnya.
Hari ini juga ada kabar bahwa sesi shooting Burgerkill vs Karat di MTV dipending hingga bulan April. Belum jelas kenapa MTV menunda shooting, namun menururt jemi Burgerkill, in karena factor teknis ketaktersediaan studio di Jakarta. “Studiona parinuh…” kata Okid menirukan Jemi. Hmmm…
Ah hell!!! Setelah bentuk “Tiga Titik Hitam” yang semakin menemukan bentuknya yang sempurna, program MTV itu sudah tak se-wah dulu. Kini ada sesuatu yang pelih penting dan lebih besar yang harus dilakukan Karat maupun Burgerkill : mendokumentasikan kolaborasi mereka!! Wacana merekam Burgerkill Berkarat “Tiga Titik Hitam” mulai bergulir di kalangan kru Karat.
Karena positif tanggal 27 tak jadi shooting di MTV, Karat akhirnya menyetujui panggung Fold Offline Magazine di Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Di panggung ini, karat rencanannya akan berkolaborasi dengan Europe In De Troppen. Band ini adalah band elektronik, beranggotakan Ate, Ega, dan Oki, merupakan salah satu punggung komunitas music elektronik Open Labs yang bermarkas di Commonroom. Ate sendiri bukan siosok yang asing di komunitas Sunda Underground. Ia adalah personil Gohgor, bersama Kimung, Gustaff, Jimbot, Jawis, dan Mang Ayi.
Malam Jumat itu Kimung dan Hendra mendapatkan kopian dua lagu Europe In De Troppen yang diset untuk kolaborasi dengan Karat. Dua lagu itu salah satunya akan digarap di latihan Jumat Kramat esok harinya.
Jumat Kramat, 26 Februari 2010
Jumat Kramat ini sepi. Karat yang hadir cuma Kimung, Hendra, Man, Jawis, dan Mang Engkus. Mang Utun absen karena lelah baru pulang dari Ciwidey dalam rangka evakuasi korban longsor. Aki Amenk agak kurang sehat, Jimbot ada acara, Okid pun demikian. Naun demikian jumlah tak menyurutkan semangat berlatih. Malam itu latihan dimulai jam setengah tujuh karena Europe akan berlatih di studio jam sembilan malam. Sebelumnya, disepakati bahwa lagu yang akan dibawakan dalam kolaborasi adalah lagu pertama yang belum diisi karinding oleh Europe. Hendra sebenarnya lebih memilih lagu ke dua yang sudah diberi sesi karinding oleh Europe, namun baik Kimung maupun Europe sepakat jika lagu pertama akan sangat asyik dimainkan di panggung karena lebih ngebeat, lebih menghentak, lebih pol!
Setelah akhirnya disepakati bersama maka lagu pertamalah yang digarap. Lagu ini memang jauh lebih dinamis dari lagu pertama. Setelah bebrapa kali trial and error, akhirnya ketahuan jika pirigan celempung lagu “New York” lah yang paling pas untuk lagu tersebut. Maka beberapa pirigan di lagu “New York” yang pas kemudian diadopsi di lagu kolaborasi. Di tengah kolaborasi Trica bergabung bermain karinding mendukung Karat di sesi latihan itu.
Hasilnyaaa..??? Poll Yeaaaahhhhh!!!! Nantikan dalam report besok yesss!!!! Hahahahahaaa…
Jumat Kramat itu juga Karat mencoba refleksi rencana-rencana ke depan. Ini adalah hasil evaluasi lagu Karat sampai hari ini : “Intro : Rajah Bubuka”, “Hampura Ema”, “Wasit Kehed”, “Lagu Perang”, “Kawih Pati”, “New York”, dan “Blues Kinanti”. Karat berencana menambah emapt lagu lagi, terdiri dari lagu anak-anak atau kawih murangkalih atau kawih kaulinan lembur, lagu berbahasa Indonesia, lagu berbahasa Inggris, lagu yang bersifat parigeuing atau geugeuing atau ajejn nilai-nilai Kasundaan versi karat, dan mempersiapkan “Outro : Doa Panutup”.
Karat juga melist beberapa kolaborasi dan hasrat Karat untuk berkolaborasi. Karya-karya kolaborasi yang sudah atau sedang dilakukan adalah dengan Burgerkill di “Tiga Titik Hitam”, dengan Eyefeelsick di “Barisan Nisan”, lagu “New York” dengan Europe In De Troppen, dan lagu “New York” dengan Diki Beatboxer. Secara personal Karat juga merencanakan berkolaborasi dengan Sally Corita, Ambu Otih, Superabundance, Giri Kerenceng, Markipat, Tika and the Dissident di lagu “Tantang Tirani”, dan Hari pocang dalam “Blues Kinanti”.
Bersambung ahhhhh cuuuuuuuuu….

PS : O iyah, Jon 666 lg ga enak badan sminggu ini. Map kalo aga2 males nulis gtuu yess… Trimakasi buat sgla dukungan dan cinta kasih sayang asmirandah yess!!!
10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, Homicide, Europe In de Troppen, Tika and the Dissident, Burgerkill, Smashing Pumpkin, Faith No More, Reverb n Revolver, Nicfit, Godflesh
Books : Pepereni, Mt Gede pangrango National Park Information Book Seties Vol 2, Secangkir Bintang by Sinta Ridwan
Movie : Chaos, Sex Pistols Secret History – the Dave Goodman Story

BANDUNG ORAL HISTORY Bagian 1

Posted in Uncategorized with tags on March 2, 2010 by kimun666

BANDUNG ORAL HISTORY Bagian 1

Oleh Kimun666

Cikal bakal berdirinya Bandung Oral History dapat dilacak hingga Februari 2006. Saat itu Minor Books menerbitkan buku babon Konsep dan Metode Sejarah Lisan yang ditulis oleh Reiza D. Dienaputra, sejarawan Universitas Padjadjaran yang memiliki perhatian khusus terhadap pengembangan metode sejarah lisan. Sebagai ajang promosi dan pertanggungjawawab publik atas rilisnya buku ini, Minor Books berencana menggelar sebuah workshop menulis sejarah lisan bagi anak-anak sekolah menengah dan mahasiswa. Yang menyambut baik program ini saat itu adalah Tarlen Handayani dari Tobucil. Namun karena begitu padat kesibukan masing-masing, maka workshop tak jadi digelar. Wacana gelaran workshop sejarah lisan bersama Tarlen merebak kembali bulan November 2008 ketika Kimung baru saja merilis buku Myself : Scumbag, biografi Ivan Scumbag almarhum yang menggunakan metode sejarah lisan dalam penulisannya. Sayang, rencana ini juga urung dilakukan karena kesibukan masing-masing. Padahal, di saat ini Kimung sudah mulai merancang workshop keliling sambil promo buku Myself : Scumbag. Yogyakarta dan Malang sudah menyanggupi menyediakan lapak untuk kegiatan workshop.
Wacana workshop sejarah lisan kembali menghangat pasca bedah buku Myself : Scumbag. Dalam bedah buku di Selasar Sunaryo, 19 Januari 2008 itu, Minor Books bekerja sama dengan Commonroom mengetengahkan kampanye kesehatan, diskriminasi sosisal, kolaborasi, dinamika komunitas, dan kampanye menulis serta mendokumentasikan hidup ini, workshop sejarah lisan masuk ke program terakhir. Belum juga kampanmye ini digarap semakin serius, terjadilah Insiden AACC 9 Februari 2008. Sontak perhatian semua elemen scene independen tertuju untuk berjuang melawan stigma dan segala hal teknis yang muncul dan kemudian merebak memberatkan komunitas pasca insiden. Workshop sejarah lisan pun terbengkalai lagi.

Kebutuhan akan workshop kembali mencuat ketika Addy Gembel memutuskan untuk memimpin Solidaritas Independen Bandung (SIB). Sebagai ketua SIB, tentu banyak yang harus diurus Gembel terutama dalam mengatasi masa krisis akibat insiden. Padahal saat itu, Gembel baru saja mulai menggarap buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels bersama Kimung. Buku terusan Myself : Scumbag dan dirancang sebagai buku kedua dari trilogi scene musik independen Bandung ini memang diset oleh Kimung khusus untuk dikerjakan berdua dengan Gembel. Namun apa mau dikata…

Kimung sempat meminta bantuan Sinta Ridwan, tapi Sinta ternyata tidak berminat dengan riset yang dilakukan Kimung. Kimung juga sempat dibantu oleh Osiie selama beberapa lama, namun Osiie kembali pergi karena kesibukan kuliahnya. Jadilah Kimung terlunta-lunta mengerjakan buku ini sendirian. Begitu banyaknya objek historis yang harus diriset dalam kisah sejarah Ujungberung Rebels membuat Kimung mau tidak mau memutuskan untuk membentuk pasukan khusus periset muda dari kalangan scene independen, terutama Ujungberung Rebels. Kimung menggarisbawahi kata ”periset muda” atas pemikiran, segala riset yang dilakukan di scene ini masih jauh dari pemasukan materi yang sifatnya komersial. Riset mengenai scene independen saja baru-baru ini dilakukan dan Myself : Scumbag bahkan bisa dikatakan sebagai biografi pertama yang dirilis oleh scene independen Bandung semenjak kelahiran mereka kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Hanya semangat orang muda yang mampu mengejar idealisme ini. Semangat tua sudah ngoyo harus digaspol dengan iming-iming jodoh atau uang, sesuatu yang tentu saja tak dipunya Kimung yang jauh dari grupis dan uang yang meruah.

Untuk membentuk pasukan riset itu, Kimung curhat ke Gustaff yang selama ini terus membantunya secara moril dan materil. Awalnya mereka merencanakan workshop sejarah lisan bulan Juli sebagai program pengisi liburan. Namun demikian, berbagai dinamika yang terjadi akhirnya membawa mereka ke bulan Desember, bertepatan dengan peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember, yang secara reguler digelar oleh Commonroom.

Untuk itu, Kimung bersama Reggi sepakat untuk malkukan brainstorming berkaitan dengan visi dan misi workshop, tujuan, format, hingga detil acara, termausk juga silabus dan rencana pengajaran perpertemuan agar semuanya bisa terukur dan tangible. Kimung dan Reggi lalu mengundang Addy Gembel, Sinta Ridwan, dan Ucok Homicide dalam merumuskan format workshop. Ucok terutama yang memberikan begitu banyak masukan mengenai apa yang harus dilakukan setelah workshop. Workshopnya sendiri adalah sesuatu yang mudah untuk digarap. Pekerjaan rumah yang jauh lebih berat adalah apa yang harus dilakukan agar hasil dari workshop akan memperlaihatkan kontribusi yang berkesinambungan. Semua yang hadir lalu sepakat untuk membuat semacam forum beranggotakan alumni workshop dan menjaring mereka agar tetap stay connect. Ucok juga mengingatkan tuuan workshop dan forum tersebut, apakah akan dibuat sebuah gerakan populewr atau pembentukan kanon. Kimung memilih pembentukan kanon terlebih dulu sebelum akhirnya dibuka secara luas menjadi sebuah gerakan populer.

Untuk mencapai tujuan membentuk kanon periset muda di komunitas, Kimung mulai mencari sosok-sosok yang sekiranya memiliki semagat, komitmen, dan hasrat yang dahsyat dalam menulis. Melalui bantuan situs jejaring sosial Friendster, Kimung mulai berhubungan dengan banyak anak muda, khususnya dari Ujungberung. Rencananya, Kimung akan mempersiapkan sepuluh orang dari scene independen yang akan ia biayai dalam workshopnya. Untuk membiayai kesepuluh calon tersebut, Kimung meminta bantuan Morbid Nixcotine. Tommy Morbid setuju dan ia bahkan meminta Kimung menyediakan tempat lima untuk kawan-kawan dari berbagai daerah yang akan datang diundang dan dibiayai Morbid Nixcotine. Kesepuluh orang yang terpilih atas seleksi Kimung pribadi dan juga atas referensi dari kawan-kawan dekatnya di scene adalah Fauziah, Okid, Kimo, Uzi Popo, Betty, dan lima orang titipan Morbid Nixcotine dari berbagai daerah distribusi Morbid. Sayang, omongan Tomy Morbid ternyata bohong belaka. Ia sama sekali tidak pernah meng-acc dukungan Morbid Nixcotine untuk program sosial ini dan tak pernah sama sekali menindaklanjuti apa yang pernah ia katakan sebelumnya. Lima tempat kosong kemduian diisi oleh Oki, Ratna, Ranti, dan Akbar.

Akhirnya, peringatan hari HAM Sedunia di Commonroom digelar atas kerja sama dengan Hivos dan Anne Frank Foundation tanggal 6 Desember 2008 sampai 10 Januari 2009 dibuka oleh pameran foto Anne Frank. Dari pameran foto Anne Frank itulah kampanye kesadaran untuk menulis dan mendokumentasikan hidupnya merebak dan menjadi gerbang menuju workshop sejarah lisan. Workshop ini digelar selama satu bulan dari tanggal 13 Desember 2008 hingga 10 Januari 2009 selama empat pertemuan setiap hari sabtu, kecuali dua pertemuan terakhir yang dirancang hari Sabtu 9 Januari 2009 dan hari Minggu 10 Januari 2009.

Pertemuan pertama workshop teknik dan metode sejarah lisan. Sore jam 15.00, dibuka oleh Reggie dan Kimung, menampilkan pembicara tamu, Pak Reiza yang membahas konsep-konsep dasar ilmu sejarah hingga akhirnya masuk ke pembahasan mengenai konsep dasar sejarah lisan. Sebuah penuturan yang sederhana namun sangat menarik dan begitu mudah diikuti oleh para peserta workshop. Minorbacaankecil terbit sebagai materi pendukung untuk para peserta workshop. Total peserta yang hadir dalam pertemuan pertama itu ada tujuh belas orang. Di akhir workshop, semua yang hadir diberi tuga untuk menentukan tema dan rancangan perumusan masalah penelitian.
Minggu depannya, 20 Desember 2009, semua kembali berkumpul dengan tugasnya amsing-masing. Pertemuan dibuka oleh Kimung dengan fokus awal menyoroti review calon tema yang akan diangkat serta skup temporal dalah ilmu sejarah. Hmmm berikut adalah tema yang dipresentasikan para peserta workshop berkaitan dengan tema yang mereka angkat :
- Akbar : sejarah band A Stone A, kisah diangkat dari kisah hidup personil A Stone A yang sudah meninggal.
- Kimo : sejarah benjang dan bangbarongan. Fokus mungkin biografi tokoh, atau lingkung seni.
- Viki, tema dinamika perkembangan musik bawahtanah Bandung, mengambil empat alternatif objek penelitian, kalau tidak hardecore Bandung dan black metal, berarti sejarah dua band favotirnya, Homicide dan Forgotten. Viki dan forum cenderung memilih sejarah black metal.
- Micky dan Gilang, keduanya saudara, memilki bisnis keluarga, berdagang kusen dan meubel. Objek penelitiannya adalah industri rumah tangga, mengangkat bisnis keluarga kusen Mukti jaya dari sudut produksi, distribusi, dan konsumsi.
- Rizal menyoroti tema budaya memakai barang palsu. Ada dua objek penelitiannya, kalau tidak DVD, ia memilih pemalsuan tas. Namun belakangan ia tertarik pada fenomena penyewaan tas dan alat-alat lain yang menentukan status social dalam masyarakat.
- Ami meyoroti tema pengamen mahasiswa di Dago. Ami lebih fokus ke keberadaan pengamen. Modelnya mungkin akan sejarah salah satu tokoh anak jalanan yang tumbuh di daerah Dago. Kimung merekomendasikan sosok Piton.
- Rizki mengambil tema para pedagang di pasar Minggu Gasibu.
- Zia mengambil dua tema, sejarah teater atau pergaulan sesame jenis tahun 1980an hingga 2000an. Zia cenderunglebih memilih fenomena pergaulan sesame jenis di bandung tahun 1980an hingga 2000an.
- Zihan bertahan dengan dua rencana penelitian, punk Bandung yang menjadi obsesinya akibat ditolak oleh scription board jurusannya, serta hooliganisme Persib. Sepertinya Zihan lebih cenderung memilih hooliganisme Persib.
- Betty memilih tema kaum Hawa di scene bawahtanah, peran mereka, hingga masalah-masalah feminisme. Model penulisannya mungkin biografi salah satu atau beberapa tokoh wanita di scene bawahtanah bandung 1990-2000an.
- Ratna memilih tema gerakan kolektif subkultur 1999 sampai 2006. Ada beberapa objek yang rencananya menjadi fokus Ratna, antara lain kompilasi Bandung dan pergelaran musik yang melibatkan beragam komunitas dalam penyelenggaraannya.
- Erfan mengambil tema peta pembentukan atmosfer komunitas di Bandung antara tahun 1990 hingga 2000. tidak seperti peserta lain yang cenderun g mengerucutkan masalah, Erfan akan mencoba memperlebar masalah. Ia sudah diperingatkan akan kesulitan mencari dan mengelola data dan fakta, namun Erfan tetap ngotot untuk mencoba merengkuh semua unsur dan sisi pembentukan atmosfer komunitas di Bandung.
Pertemuan diakhiri dengan penugasan membuat inventarisasi nara sumber/pengkisah, menyeleksi, membuat kendali wawancara, mewawancara, membuat indeks, serta transkripsi dari hasil wawancara metode sejarah lisan.

Satu minggu kemudian, 9 Januari 2009, pertemuan ketiga workshop sejarah lisan kembali digelar. Pertemuan kali ini adalah presentasi calon riset para peserta workshop, lebih ke pengembangan tema yang telah diambil satu minggu sebelumnya. Berikut adalah rancangan calon riset yang diajukan para peserta workshop,

Ami
Karena Aku Ingin Didengar
Bab 1 Siapa Aku?
- nama asli
- kegiatan yang dilakukan sekarang
- tempat ngumpul
- bangga atau tidak menjadi anak jalanan
- anak jalanan di mata priston
- kalimat terakhir …dan aku adalah seorang anak jalanan
Bab 2 Historical Background
- kisah tentang keluarga sehingga menjadi anak yang hidup di jalanan
- perjuangan yang dihadapi di jalanan
- cerita usia 5 sampai 10 tahun
Bab 3 Gelap
- hal yang membuat sakit hati atau terlecehkan
- musuh
- pandangan terhadap orang-orang secara umum
Bab 4 Utopia
- hal menyenangkan selama hidup[ di jalanan
- cita-cita, keinginan, harapan
- jaringan
Bab 5 Karena Hidup adalah Pilihan
- bagaimana dia melihat hidupnya sekarang
- harapan akan anak-anak jalanan lainnya
- pesan-pesan terhadap anak-anak jalanan
- pesan-pesan terhadap masyarakat luas

Gilang dan Micky
Industri Kusen Tiga Generasi
Bab 1 Pendahuluan
- tentang industri kusen
- sejak kapan ada industri kusen di Bandung?
- kegunaan kusen
- mengapa harus industri kusen?
Bab 2 Latar Belakang Keluarga Mendirikan Indutri Kusen
- rintisan awal pendirian usaha kusen, siapa, dimana, dan bagaimana
- perkembangan tren desin dari masa ke masa
Bab 3 Berdirinya Mukti Jaya Kusen
- produk yang dihasilkan
- perkembangan jumlah pekerja
- perkembangan strategi promosi dan marketing
- suka duka yang dialami
Bab 4 Perkembangan Mukti Jaya Kusen dari Tahun ke Tahun
- munculnya pesaing-pesaing
- strategi untuk jalan terus
Bab 5 Perkembangan Industri Kusen di Kota Bandung Akhir-akhir Ini
- Pengaruh Krisis Global terhadap Mukti Jaya Kusen
- Harapan ke Depan Mukti Jaya Kusen

Zihan
Setan Hooligan Datang untuk Menang
Bab 1 Persib nu Aing!
Membahas Persib, awal mula terbentuk, sejarah Persib sebagai latar belakang.
Bab 2 Bobotoh Saalam Dunya
Membahas terbentunya komunitas-komunitas pecinta Persib seperti Viking, Bomber, dan Boboko.
Bab 3 Kami Biru, kami Putih, Kami Persib
Membahas ‘Era Bersih’ bobotoh, kira-kira sebelum tahun 1985
Bab 4 Setan Hooligan Datang untuk Menang
Membahas mulai masuknya hooliganisme sebagai bentuk perkembangan sepak bola modern. Perilaku bonotoh sudah mulai brutal karena setelah menjuarai perseriatan, Persib lebih sering kalah, bahkan di pertandingan kandang.
Bab 5 Bagimu Persib, Jiwa Raga Kami
Membahas perselisihan antar supporter itu sudah lumrah. Perilaku anarki yang dianggap bentuk pengorbanan untuk Persib akan terus dilestarikan demi harga diri Persib dan Bobotoh.

Viki
Membaca Gejala dalam Jelaga—Homicide Melawan Barisan Nisan
Bab 1 Semiotika Raja Tega
Latar belakang, membahas dinamika musik hiphop di Bandung.
Bab 2 Megatukad
Membahas awal terbentuknya Homicide, konflik internal dalam band, split dengan Balcony, serta gis.
Bab 3 Necropolis
Ketika Homicide mulai menulis lirik dan membuat album yang dirilis dengan nama Necropolis. Juga menganalisis berbagai konflik yang merebak.
Bab 4 Barisan Nisan
Homicide memutuskan untuk membubarkan diri karena berbagai hal.
Bab 5 Sajak Suara
Refleksi.

Betty
Ketika Eksistensi Wanita di Musik bawahtanayh Dipertanyakan
Chapter 1 Sekilas mengenai Musik Bawahtanah
- apa itu musik bawahtanah
- ruang lingkup musik bawahtanah
- komunitas musik bawahtanah
- perkembangan wanita pada musik bawahtanah dari tahun ke tahun
Chapter 2 Peran Wanita di Scene Musik Bawahtanah
latar belakang dan alas an mengapa kaum hawa in masuk ke dalam dunia musik bawahtanah
Chapter 3 Orang-orang Biasa dengan Cerita-cerita tak Biasa
- menjadi produser band bawahtanah
- menjadi personil band bawahtanah
- menjadi manajer band bawahtanah
Chapter End
Simpulan dan tanggapan dari kawan-kawan pria di scene musik bawahtanah

Rijal
Barang Bajakan Beyond Good and Evil
Bab 1
Suasana dan konsisi lapak dan lingkungan serta interaksi antara penjual dan pembeli.
Bab 2
- Pengenalan tokoh utama
- Hobi dan komunitas yang diikuti tokoh
Bab 3 Mulai Usaha
- sejarah terbangunnya usaha
- motivasi membangun usaha
- latar belakang pemilihan scene independen dalam produksi CD bajakan
- visi usaha
- target dan reaksi pasar
Bab 4 Perkembangan Usaha
- sistem produksi dan distribusi
- kiblat/referensi dan sumber utama dalam pemilihan album yang akan dibajak
Bab 5 Penutup

Erfan Dayung
Bulatan dalam Bulat
Pendahuluan
- apa itu kmunitas independent di Kota Bandung
- siapa saja merekqa dan bergerak dalam hal apa
- factor yang menstimulan mereka untuk membentuk komunitas
- kenapa mereka bias tumbuh dan di mana mereka tumbuh
- penerimaan lingkungan masyarakat
- kenapa mereka bias menjadi mainstream yang terus bergerak progresif
- bagaimana mereka bias terus berkembang
- factor apa yang membatasi ruang gerak mereka
- bagaimana keadaan mereka saat ini
Bab 1 Komunitas Motor Tua Brotherhood
- apa itu Brotherhood
- bagaimana mereka bias terbentuk
- siapa saja anggotanya
- bagaimana organisasi mereka bias berjalan sampai saat ini
- pergerakan yang sudah dan akan terus dilakukan
- pengaruh mereka terhadap lahirnya gank-gank motor yang meresahkan masyarakat
- konflik yang terjadi dalam tubuh Brotherhood
- perspektif penulis—Refleksi
Bab 2 Komunitas Musik
- Genre apa yang pertama muncul dalam scene indie
- Bagaimana sang pelopor bias muncul
- Faktur yang mempengaruhi mereka
- Perkembangan per fase
- Munculnya generasi kedua dan seterusnya
- Siapa saja mereka saat ini
- Pembahasan sejarah ringan tentang komuitas musik indie yang ada di Bandung dibagi menjadi sub-sub bab dari genre-genre
- Bagaimana akhirnya mereka bias menjadi suatu arus baru di industri musik Indonesia
- Perspektif penulis—Refleksi
Bab 3 Distro dan Clothing
- bagaimana kondisi pasar distro saat ini (Pembahasan mengambil salah satu pelopor yang paking berpengaruh di industri ini, 347)
- bagaimana 347 terbentuk
- fase-fase apa saja yang sudah dilewati 347
- perkembangan 347 saat ini (Kembali ke pembahasan secara luas industri ini)
- kapan dan bagaimana proses menjamurnya clothing dan distro (Mengambil acuan dari Kick, komuitas industri distro dan kloting di Bandung)
- Apa itu Kick
- Bagaimana Kick terbentuk
- Siapa saja anggotanya
- Factor yang mendorong mereka membentuk suatu komunitas dan pergerakan apa yang dilaukan
- Persoalan yang dihadapi Kck saat ini
- Pandangan Kick terhadap industri kloting dan distro yang menjadi semakin mainstream di Indonesia
- Harapan Kick terhadap perkembangan industri ini
- Perspektif penuls—Refleksi
Bab 4 Kesimpulan
Pada pertemuan ini juga Gustaff dan Ryan mengumumkan jika semua hasil riset dan artikel yang ditulis berkaitah dengan sejarah lisan bisa dimasukkan ke dalam www.bandungoralhistory.org. Website ini merupakan dukungan dari Commonroom dalam kampanye menulis dan kesadaran sejarah.

Esoknya, 10 Januari 2009, pertemuan terakhir workshop oral history. Sebetulnya masih begitu bayak materi tenatng ilmu sejarah yang belum tersampaikan, namun khusus program workshop sejaral lisan, semua sudah selesai. Di pertemuan ini hanya dibahas bagaimana arah dan potensi riset sejarah lisan di scene independen Bandung. Pertemuan lebih satai dan Kimung sudah semakin membeaskan para peserta workshop untuk lebih bebas dalam menentukan arah riset mereka. Tujuan awal Kimung yang ingin membentuk pasukan riset yang bisa membantunya dalam buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels luruh selama satu bulan itu ketika melihat antusiasme para peserta workshop terhadap calon objek risetnya.

Kimung merasakan satu hal yang timbul dalam benak para peserta workshop tersebut. Secara material, mereka memang begitu jauh dari pencapaian mahasiswa sejarah pada umumnya yang sangat kental dengan metode dan metodologi sejarah. Namun demikian, Kimung merasa dalam benak para peserta workshop tersebut tumbuh kesadaran sejarah sebagai salah satu dari hak asasi mereka sebagai manusia.

Dalam kesempatan itu, untuk mengikat mereka terus dalam satu forum, Kimung mengajak alumni workshop untuk menggarap riset kompilasi-kompilasi musik scene independen Bandung dari tahun 1995 hingga 2009. Sebuah riset Kimung dan Idhar yangtertunda sejak pertangahan tahun 2008. ternyata, para alumni riset menyambut baik ajakan tersebut. Mayoritas kemudian kembali bersatu dan sepakat melakukan riset bersama mengenai kompilasi scene independen Bandung 1995 – 2009. Untuk mempermudah saling berhubungan, semua sepakat untuk membentuk forum alumni workshop yang berkumpul setiap hari Kamis sore di Commonroom. Forum itu kemudian dinamai Bandung Oral History.

Bersambung…

BANDUNG ORAL HISTORY Bagian 1

Posted in Uncategorized with tags on February 22, 2010 by kimun666

BANDUNG ORAL HISTORY Bagian 1

Oleh Kimun666

Cikal bakal berdirinya Bandung Oral History dapat dilacak hingga Februari 2006. Saat itu Minor Books menerbitkan buku babon Konsep dan Metode Sejarah Lisan yang ditulis oleh Reiza D. Dienaputra, sejarawan Universitas Padjadjaran yang memiliki perhatian khusus terhadap pengembangan metode sejarah lisan. Sebagai ajang promosi dan pertanggungjawawab publik atas rilisnya buku ini, Minor Books berencana menggelar sebuah workshop menulis sejarah lisan bagi anak-anak sekolah menengah dan mahasiswa. Yang menyambut baik program ini saat itu adalah Tarlen Handayani dari Tobucil. Namun karena begitu padat kesibukan masing-masing, maka workshop tak jadi digelar. Wacana gelaran workshop sejarah lisan bersama Tarlen merebak kembali bulan November 2008 ketika Kimung baru saja merilis buku Myself : Scumbag, biografi Ivan Scumbag almarhum yang menggunakan metode sejarah lisan dalam penulisannya. Sayang, rencana ini juga urung dilakukan karena kesibukan masing-masing. Padahal, di saat ini Kimung sudah mulai merancang workshop keliling sambil promo buku Myself : Scumbag. Yogyakarta dan Malang sudah menyanggupi menyediakan lapak untuk kegiatan workshop.
Wacana workshop sejarah lisan kembali menghangat pasca bedah buku Myself : Scumbag. Dalam bedah buku di Selasar Sunaryo, 19 Januari 2008 itu, Minor Books bekerja sama dengan Commonroom mengetengahkan kampanye kesehatan, diskriminasi sosisal, kolaborasi, dinamika komunitas, dan kampanye menulis serta mendokumentasikan hidup ini, workshop sejarah lisan masuk ke program terakhir. Belum juga kampanmye ini digarap semakin serius, terjadilah Insiden AACC 9 Februari 2008. Sontak perhatian semua elemen scene independen tertuju untuk berjuang melawan stigma dan segala hal teknis yang muncul dan kemudian merebak memberatkan komunitas pasca insiden. Workshop sejarah lisan pun terbengkalai lagi.
Kebutuhan akan workshop kembali mencuat ketika Addy Gembel memutuskan untuk memimpin Solidaritas Independen Bandung (SIB). Sebagai ketua SIB, tentu banyak yang harus diurus Gembel terutama dalam mengatasi masa krisis akibat insiden. Padahal saat itu, Gembel baru saja mulai menggarap buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels bersama Kimung. Buku terusan Myself : Scumbag dan dirancang sebagai buku kedua dari trilogi scene musik independen Bandung ini memang diset oleh Kimung khusus untuk dikerjakan berdua dengan Gembel. Namun apa mau dikata…
Kimung sempat meminta bantuan Sinta Ridwan, tapi Sinta ternyata tidak berminat dengan riset yang dilakukan Kimung. Kimung juga sempat dibantu oleh Osiie selama beberapa lama, namun Osiie kembali pergi karena kesibukan kuliahnya. Jadilah Kimung terlunta-lunta mengerjakan buku ini sendirian. Begitu banyaknya objek historis yang harus diriset dalam kisah sejarah Ujungberung Rebels membuat Kimung mau tidak mau memutuskan untuk membentuk pasukan khusus periset muda dari kalangan scene independen, terutama Ujungberung Rebels. Kimung menggarisbawahi kata ”periset muda” atas pemikiran, segala riset yang dilakukan di scene ini masih jauh dari pemasukan materi yang sifatnya komersial. Riset mengenai scene independen saja baru-baru ini dilakukan dan Myself : Scumbag bahkan bisa dikatakan sebagai biografi pertama yang dirilis oleh scene independen Bandung semenjak kelahiran mereka kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Hanya semangat orang muda yang mampu mengejar idealisme ini. Semangat tua sudah ngoyo harus digaspol dengan iming-iming jodoh atau uang, sesuatu yang tentu saja tak dipunya Kimung yang jauh dari grupis dan uang yang meruah.
Untuk membentuk pasukan riset itu, Kimung curhat ke Gustaff yang selama ini terus membantunya secara moril dan materil. Awalnya mereka merencanakan workshop sejarah lisan bulan Juli sebagai program pengisi liburan. Namun demikian, berbagai dinamika yang terjadi akhirnya membawa mereka ke bulan Desember, bertepatan dengan peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember, yang secara reguler digelar oleh Commonroom.
Untuk itu, Kimung bersama Reggi sepakat untuk malkukan brainstorming berkaitan dengan visi dan misi workshop, tujuan, format, hingga detil acara, termausk juga silabus dan rencana pengajaran perpertemuan agar semuanya bisa terukur dan tangible. Kimung dan Reggi lalu mengundang Addy Gembel, Sinta Ridwan, dan Ucok Homicide dalam merumuskan format workshop. Ucok terutama yang memberikan begitu banyak masukan mengenai apa yang harus dilakukan setelah workshop. Workshopnya sendiri adalah sesuatu yang mudah untuk digarap. Pekerjaan rumah yang jauh lebih berat adalah apa yang harus dilakukan agar hasil dari workshop akan memperlaihatkan kontribusi yang berkesinambungan. Semua yang hadir lalu sepakat untuk membuat semacam forum beranggotakan alumni workshop dan menjaring mereka agar tetap stay connect. Ucok juga mengingatkan tuuan workshop dan forum tersebut, apakah akan dibuat sebuah gerakan populewr atau pembentukan kanon. Kimung memilih pembentukan kanon terlebih dulu sebelum akhirnya dibuka secara luas menjadi sebuah gerakan populer.
Untuk mencapai tujuan membentuk kanon periset muda di komunitas, Kimung mulai mencari sosok-sosok yang sekiranya memiliki semagat, komitmen, dan hasrat yang dahsyat dalam menulis. Melalui bantuan situs jejaring sosial Friendster, Kimung mulai berhubungan dengan banyak anak muda, khususnya dari Ujungberung. Rencananya, Kimung akan mempersiapkan sepuluh orang dari scene independen yang akan ia biayai dalam workshopnya. Untuk membiayai kesepuluh calon tersebut, Kimung meminta bantuan Morbid Nixcotine. Tommy Morbid setuju dan ia bahkan meminta Kimung menyediakan tempat lima untuk kawan-kawan dari berbagai daerah yang akan datang diundang dan dibiayai Morbid Nixcotine. Kesepuluh orang yang terpilih atas seleksi Kimung pribadi dan juga atas referensi dari kawan-kawan dekatnya di scene adalah Fauziah, Okid, Kimo, Uzi Popo, Betty, dan lima orang titipan Morbid Nixcotine dari berbagai daerah distribusi Morbid. Sayang, omongan Tomy Morbid ternyata bohong belaka. Ia sama sekali tidak pernah meng-acc dukungan Morbid Nixcotine untuk program sosial ini dan tak pernah sama sekali menindaklanjuti apa yang pernah ia katakan sebelumnya. Lima tempat kosong kemduian diisi oleh Oki, Ratna, Ranti, dan Akbar.
Akhirnya, peringatan hari HAM Sedunia di Commonroom digelar atas kerja sama dengan Hivos dan Anne Frank Foundation tanggal 6 Desember 2008 sampai 10 Januari 2009 dibuka oleh pameran foto Anne Frank. Dari pameran foto Anne Frank itulah kampanye kesadaran untuk menulis dan mendokumentasikan hidupnya merebak dan menjadi gerbang menuju workshop sejarah lisan. Workshop ini digelar selama satu bulan dari tanggal 13 Desember 2008 hingga 10 Januari 2009 selama empat pertemuan setiap hari sabtu, kecuali dua pertemuan terakhir yang dirancang hari Sabtu 9 Januari 2009 dan hari Minggu 10 Januari 2009.
Pertemuan pertama workshop teknik dan metode sejarah lisan. Sore jam 15.00, dibuka oleh Reggie dan Kimung, menampilkan pembicara tamu, Pak Reiza yang membahas konsep-konsep dasar ilmu sejarah hingga akhirnya masuk ke pembahasan mengenai konsep dasar sejarah lisan. Sebuah penuturan yang sederhana namun sangat menarik dan begitu mudah diikuti oleh para peserta workshop. Minorbacaankecil terbit sebagai materi pendukung untuk para peserta workshop. Total peserta yang hadir dalam pertemuan pertama itu ada tujuh belas orang. Di akhir workshop, semua yang hadir diberi tuga untuk menentukan tema dan rancangan perumusan masalah penelitian.
Minggu depannya, 20 Desember 2009, semua kembali berkumpul dengan tugasnya amsing-masing. Pertemuan dibuka oleh Kimung dengan fokus awal menyoroti review calon tema yang akan diangkat serta skup temporal dalah ilmu sejarah. Hmmm berikut adalah tema yang dipresentasikan para peserta workshop berkaitan dengan tema yang mereka angkat :
- Akbar : sejarah band A Stone A, kisah diangkat dari kisah hidup personil A Stone A yang sudah meninggal.
- Kimo : sejarah benjang dan bangbarongan. Fokus mungkin biografi tokoh, atau lingkung seni.
- Viki, tema dinamika perkembangan musik bawahtanah Bandung, mengambil empat alternatif objek penelitian, kalau tidak hardecore Bandung dan black metal, berarti sejarah dua band favotirnya, Homicide dan Forgotten. Viki dan forum cenderung memilih sejarah black metal.
- Micky dan Gilang, keduanya saudara, memilki bisnis keluarga, berdagang kusen dan meubel. Objek penelitiannya adalah industri rumah tangga, mengangkat bisnis keluarga kusen Mukti jaya dari sudut produksi, distribusi, dan konsumsi.
- Rizal menyoroti tema budaya memakai barang palsu. Ada dua objek penelitiannya, kalau tidak DVD, ia memilih pemalsuan tas. Namun belakangan ia tertarik pada fenomena penyewaan tas dan alat-alat lain yang menentukan status social dalam masyarakat.
- Ami meyoroti tema pengamen mahasiswa di Dago. Ami lebih fokus ke keberadaan pengamen. Modelnya mungkin akan sejarah salah satu tokoh anak jalanan yang tumbuh di daerah Dago. Kimung merekomendasikan sosok Piton.
- Rizki mengambil tema para pedagang di pasar Minggu Gasibu.
- Zia mengambil dua tema, sejarah teater atau pergaulan sesame jenis tahun 1980an hingga 2000an. Zie cenderunglebih memilih fenomena pergaulan sesame jenis di bandung tahun 1980an hingga 2000an.
- Zihan bertahan dengan dua rencana penelitian, punk Bandung yang menjadi obsesinya akibat ditolak oleh scription board jurusannya, serta hooliganisme Persib. Sepertinya Zihan lebih cenderung memilih hooliganisme Persib.
- Betty memilih tema kaum Hawa di scene bawahtanah, peran mereka, hingga masalah-masalah feminisme. Model penulisannya mungkin biografi salah satu atau beberapa tokoh wanita di scene bawahtanah bandung 1990-2000an.
- Ratna memilih tema gerakan kolektif subkultur 1999 sampai 2006. Ada beberapa objek yang rencananya menjadi fokus Ratna, antara lain kompilasi Bandung dan pergelaran musik yang melibatkan beragam komunitas dalam penyelenggaraannya.
- Erfan mengambil tema peta pembentukan atmosfer komunitas di Bandung antara tahun 1990 hingga 2000. tidak seperti peserta lain yang cenderun g mengerucutkan masalah, Erfan akan mencoba memperlebar masalah. Ia sudah diperingatkan akan kesulitan mencari dan mengelola data dan fakta, namun Erfan tetap ngotot untuk mencoba merengkuh semua unsur dan sisi pembentukan atmosfer komunitas di Bandung.
Pertemuan diakhiri dengan penugasan membuat inventarisasi nara sumber/pengkisah, menyeleksi, membuat kendali wawancara, mewawancara, membuat indeks, serta transkripsi dari hasil wawancara metode sejarah lisan.
Satu minggu kemudian, 9 Januari 2009, pertemuan ketiga workshop sejarah lisan kembali digelar. Pertemuan kali ini adalah presentasi calon riset para peserta workshop, lebih ke pengembangan tema yang telah diambil satu minggu sebelumnya. Berikut adalah rancangan calon riset yang diajukan para peserta workshop,

Ami
Karena Aku Ingin Didengar
Bab 1 Siapa Aku?
- nama asli
- kegiatan yang dilakukan sekarang
- tempat ngumpul
- bangga atau tidak menjadi anak jalanan
- anak jalanan di mata priston
- kalimat terakhir …dan aku adalah seorang anak jalanan
Bab 2 Historical Background
- kisah tentang keluarga sehingga menjadi anak yang hidup di jalanan
- perjuangan yang dihadapi di jalanan
- cerita usia 5 sampai 10 tahun

Bab 3 Gelap
- hal yang membuat sakit hati atau terlecehkan
- musuh
- pandangan terhadap orang-orang secara umum
Bab 4 Utopia
- hal menyenangkan selama hidup[ di jalanan
- cita-cita, keinginan, harapan
- jaringan
Bab 5 Karena Hidup adalah Pilihan
- bagaimana dia melihat hidupnya sekarang
- harapan akan anak-anak jalanan lainnya
- pesan-pesan terhadap anak-anak jalanan
- pesan-pesan terhadap masyarakat luas

Gilang dan Micky
Industri Kusen Tiga Generasi
Bab 1 Pendahuluan
- tentang industri kusen
- sejak kapan ada industri kusen di Bandung?
- kegunaan kusen
- mengapa harus industri kusen?
Bab 2 Latar Belakang Keluarga Mendirikan Indutri Kusen
- rintisan awal pendirian usaha kusen, siapa, dimana, dan bagaimana
- perkembangan tren desin dari masa ke masa
Bab 3 Berdirinya Mukti Jaya Kusen
- produk yang dihasilkan
- perkembangan jumlah pekerja
- perkembangan strategi promosi dan marketing
- suka duka yang dialami
Bab 4 Perkembangan Mukti Jaya Kusen dari Tahun ke Tahun
- munculnya pesaing-pesaing
- strategi untuk jalan terus
Bab 5 Perkembangan Industri Kusen di Kota Bandung Akhir-akhir Ini
- Pengaruh Krisis Global terhadap Mukti Jaya Kusen
- Harapan ke Depan Mukti Jaya Kusen

Zihan
Setan Hooligan Datang untuk Menang
Bab 1 Persib nu Aing!
Membahas Persib, awal mula terbentuk, sejarah Persib sebagai latar belakang.
Bab 2 Bobotoh Saalam Dunya
Membahas terbentunya komunitas-komunitas pecinta Persib seperti Viking, Bomber, dan Boboko.
Bab 3 Kami Biru, kami Putih, Kami Persib
Membahas ‘Era Bersih’ bobotoh, kira-kira sebelum tahun 1985
Bab 4 Setan Hooligan Datang untuk Menang
Membahas mulai masuknya hooliganisme sebagai bentuk perkembangan sepak bola modern. Perilaku bonotoh sudah mulai brutal karena setelah menjuarai perseriatan, Persib lebih sering kalah, bahkan di pertandingan kandang.
Bab 5 Bagimu Persib, Jiwa Raga Kami
Membahas perselisihan antar supporter itu sudah lumrah. Perilaku anarki yang dianggap bentuk pengorbanan untuk Persib akan terus dilestarikan demi harga diri Persib dan Bobotoh.

Viki
Membaca Gejala dalam Jelaga—Homicide Melawan Barisan Nisan
Bab 1 Semiotika Raja Tega
Latar belakang, membahas dinamika musik hiphop di Bandung.
Bab 2 Megatukad
Membahas awal terbentuknya Homicide, konflik internal dalam band, split dengan Balcony, serta gis.
Bab 3 Necropolis
Ketika Homicide mulai menulis lirik dan membuat album yang dirilis dengan nama Necropolis. Juga menganalisis berbagai konflik yang merebak.
Bab 4 Barisan Nisan
Homicide memutuskan untuk membubarkan diri karena berbagai hal.
Bab 5 Sajak Suara
Refleksi.

Betty
Ketika Eksistensi Wanita di Musik bawahtanayh Dipertanyakan
Chapter 1 Sekilas mengenai Musik Bawahtanah
- apa itu musik bawahtanah
- ruang lingkup musik bawahtanah
- komunitas musik bawahtanah
- perkembangan wanita pada musik bawahtanah dari tahun ke tahun
Chapter 2 Peran Wanita di Scene Musik Bawahtanah
latar belakang dan alas an mengapa kaum hawa in masuk ke dalam dunia musik bawahtanah
Chapter 3 Orang-orang Biasa dengan Cerita-cerita tak Biasa
- menjadi produser band bawahtanah
- menjadi personil band bawahtanah
- menjadi manajer band bawahtanah
Chapter End
Simpulan dan tanggapan dari kawan-kawan pria di scene musik bawahtanah

Rijal
Barang Bajakan Beyond Good and Evil
Bab 1
Suasana dan konsisi lapak dan lingkungan serta interaksi antara penjual dan pembeli.
Bab 2
- Pengenalan tokoh utama
- Hobi dan komunitas yang diikuti tokoh
Bab 3 Mulai Usaha
- sejarah terbangunnya usaha
- motivasi membangun usaha
- latar belakang pemilihan scene independen dalam produksi CD bajakan
- visi usaha
- target dan reaksi pasar
Bab 4 Perkembangan Usaha
- sistem produksi dan distribusi
- kiblat/referensi dan sumber utama dalam pemilihan album yang akan dibajak
Bab 5 Penutup

Erfan Dayung
Bulatan dalam Bulat
Pendahuluan
- apa itu kmunitas independent di Kota Bandung
- siapa saja merekqa dan bergerak dalam hal apa
- factor yang menstimulan mereka untuk membentuk komunitas
- kenapa mereka bias tumbuh dan di mana mereka tumbuh
- penerimaan lingkungan masyarakat
- kenapa mereka bias menjadi mainstream yang terus bergerak progresif
- bagaimana mereka bias terus berkembang
- factor apa yang membatasi ruang gerak mereka
- bagaimana keadaan mereka saat ini
Bab 1 Komunitas Motor Tua Brotherhood
- apa itu Brotherhood
- bagaimana mereka bias terbentuk
- siapa saja anggotanya
- bagaimana organisasi mereka bias berjalan sampai saat ini
- pergerakan yang sudah dan akan terus dilakukan
- pengaruh mereka terhadap lahirnya gank-gank motor yang meresahkan masyarakat
- konflik yang terjadi dalam tubuh Brotherhood
- perspektif penulis—Refleksi
Bab 2 Komunitas Musik
- Genre apa yang pertama muncul dalam scene indie
- Bagaimana sang pelopor bias muncul
- Faktur yang mempengaruhi mereka
- Perkembangan per fase
- Munculnya generasi kedua dan seterusnya
- Siapa saja mereka saat ini
- Pembahasan sejarah ringan tentang komuitas musik indie yang ada di Bandung dibagi menjadi sub-sub bab dari genre-genre
- Bagaimana akhirnya mereka bias menjadi suatu arus baru di industri musik Indonesia
- Perspektif penulis—Refleksi
Bab 3 Distro dan Clothing
- bagaimana kondisi pasar distro saat ini
(Pembahasan mengambil salah satu pelopor yang paking berpengaruh di industri ini, 347)
- bagaimana 347 terbentuk
- fase-fase apa saja yang sudah dilewati 347
- perkembangan 347 saat ini (Kembali ke pembahasan secara luas industri ini)
- kapan dan bagaimana proses menjamurnya clothing dan distro (Mengambil acuan dari Kick, komuitas industri distro dan kloting di Bandung)
- Apa itu Kick
- Bagaimana Kick terbentuk
- Siapa saja anggotanya
- Factor yang mendorong mereka membentuk suatu komunitas dan pergerakan apa yang dilaukan
- Persoalan yang dihadapi Kck saat ini
- Pandangan Kick terhadap industri kloting dan distro yang menjadi semakin mainstream di Indonesia
- Harapan Kick terhadap perkembangan industri ini
- Perspektif penuls—Refleksi
Bab 4 Kesimpulan

Esoknya, 10 Januari 2009, pertemuan terakhir workshop oral history. Sebetulnya masih begitu bayak materi tenatng ilmu sejarah yang belum tersampaikan, namun khusus program workshop sejaral lisan, semua sudah selesai. Di pertemuan ini hanya dibahas bagaimana arah dan potensi riset sejarah lisan di scene independen Bandung. Pertemuan lebih satai dan Kimung sudah semakin membeaskan para peserta workshop untuk lebih bebas dalam menentukan arah riset mereka. Tujuan awal Kimung yang ingin membentuk pasukan riset yang bisa membantunya dalam buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels luruh selama satu bulan itu ketika melihat antusiasme para peserta workshop terhadap calon objek risetnya.
Kimung merasakan satu hal yang timbul dalam benak para peserta workshop tersebut. Secara material, mereka memang begitu jauh dari pencapaian mahasiswa sejarah pada umumnya yang sangat kental dengan metode dan metodologi sejarah. Namun demikian, Kimung merasa dalam benak para peserta workshop tersebut tumbuh kesadaran sejarah sebagai salah satu dari hak asasi mereka sebagai manusia.
Dalam kesempatan itu, untuk mengikat mereka terus dalam satu forum, Kimung mengajak alumni workshop untuk menggarap riset kompilasi-kompilasi musik scene independen Bandung dari tahun 1995 hingga 2009. Sebuah riset Kimung dan Idhar yangtertunda sejak pertangahan tahun 2008. ternyata, para alumni riset menyambut baik ajakan tersebut. Mayoritas kemudian kembali bersatu dan sepakat melakukan riset bersama mengenai kompilasi scene independen Bandung 1995 – 2009. Untuk mempermudah saling berhubungan, semua sepakat untuk membentuk forum alumni workshop yang berkumpul setiap hari Kamis sore di Commonroom. Forum itu kemudian dinamai Bandung Oral History.

Bersambung…

JURNAL KARAT # 5, 19 FEBRUARI 2010 BURGERKILL YANG BERKARAT DI “TIGA TITIK HITAM” DAN ULANG TAUN KARAT

Posted in Uncategorized with tags on February 20, 2010 by kimun666

JURNAL KARAT # 5, 19 FEBRUARI 2010
BURGERKILL YANG BERKARAT DI “TIGA TITIK HITAM” DAN ULANG TAUN KARAT

Oleh Jon 666

Senin, 15 Februari 2010, Burgerkill vs Karat, Studio Burgerkill, “Tiga Titik Hitam” sesi 1.
Senin itu Karat maen di STBA dalam acara Buch Messe. Ini adalah acara tahunan yang digelar Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Jerman STBA. Kimung mencatat Buch Messe 2008 adalah forum pertama yang dipergunakan scene independen untuk kampanye publik pasca Insiden AACC 9 Februari 2008. Di Buch Messe 13 Februari 2008, tampil Kimung, Addy Gembel, dan Ucok Homicide dalam diskusi bertema “Ivan Scumbag, Ujungberung Rebels, dan Nihilisme Nietzsche”. Diskusi ini awalnya adalah bedah buku Myself : Scumbag, namun karena Kimung sudah enek dengan pembahasan buku Scumbag—Kimung baru saja membedah buku itu tgl 19 Januari 2009 di Selasar Sunaryo—maka ia minta agar diskusi digiring saja ke pembentukan opini masa pasca Insiden AACC. Kebetulan sangat dibutuhkan forum untuk menggiring kampanye pasca Insiden AACC.
Nah di tahun 2010 ini, Buch Messe diisi oleh penampilan Karat. Acara yg digelar tgl 15 dan16 Februari 2010 di Kampus STBA YAPARI-ABA Bandung ini menggelar bazar buku umum, talk show dari komunitas Commonroom—Kimung protes mempertanyakan ‘komunitas Commonroom’—lomba musikalisasi puisi dan pidato dalam bahasa Jerman, dan pentas seni budaya & kuliner. Di acara pentas seni inilah Karat mengisi acara bersama dengan kelompok lain, yaitu : Salahsadaya Percussion, Angklung Gentraseba, Teater Ungu, STBA Big Band, Kabumi, Elsie, Maskot, dan penampilan akustik dari Fajar France & Friend. Karat dijadwalkan maen tanggal 15 pukul 13.00. pukul 13 tepat para personil Karat sudah tiba di STBA dan segera bersiap-siap. Hadir juga Bucek bareng York dari Berlin yang kemudian ditodong Man untuk berkolaborasi dalam lagu “Blues Kinanti”, bernanyi lirik “Budak Leutik Bisa Ngapung” dalam bahasa Jerman.
Secara umum Karat bermain baik siang itu. Gig dibuka dengan “Karinding Pamuka”, berlanjut dengan “Hampura Ma” dan “New York” yang menghentak. Karat langsung menghajar dengan “Washed” dan kemudian “Blues Kinanti” yang menampilkan York untuk bernyanyi dengan bahasa Jerman berduet dengan Man. Karat langsung menghajar audiens dengan “Lagu Perang” dan kemudian ditutup dengan “Kawih Pati”. Semua dimainkan dengan baik tanpa kendala kecuali sound system yang bututnya ngga ketulungan hehehe… but it’s okay. Hmmm sedikit kritik mungkin untuk para mahasiswa niiiiiihhhhh…
Sepanjang sy sbagey grupis mengikuti perjalanan panggung Karat, panggung-panggung Karat yang terburuk biasanya di kampus-kampus dehh—kecuali acara ITB (acara di awal-awal Karat mulai manggung) yang memang hebat banget tuh..hellyeah!! Dua panggung terakhir Karat di kampus—Stikom dan STBA—kampus menampilkan performa organisasi mahasiswa atau EO mahasiswa kali yahh yang berantakan. Ini terlihat dari penyajian acara yang seadanya, kurang konsolidasi dengan sesama mahasiswa, kurang konsolidasi sama dosen dan pihak kampus, etc., dll., dsb. Bukannya Karat olo-olo, kolokan, pengen manggung di pentas yang gebyar. Tapi dibandingkan dengan acara RW Sukalilah misalnya, atau acara pemilihan RW di Babakan Asih, atau bahkan Libertad yang sangat seadanya dan digarap di gunung yang sangat jauh dari peradaban, acara-acara kampus terakhir memang butut banget digarapnya, butut banget pula segala hal penataannya, dan akhirnya band sekelas Metallica pun kalo manggung di sana dijamin pasti bakal butut juga gtuu lohh. Nah loh! Daripada dibilang butut, mending kita introspeksi yah.. coba sajikan sesuatu yang baik, hormati tamu kita, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati tamunya. Orayt cskuu!!?? Smoga mahasiswa tak mentang-mentang mahasiswa yang selalu gaya berkutat di bidang idealisme sampai-sampai menjadi naïf, kumuh, dan kehilangan hasrat estetis dalam menyajikan sesuatu. Tidak menarik.
Sehabis dari STBA, Karat langsung menuju Commonroom. Kimung dan Hendra sendiri saat itu sudah sepakat bahwa sehabis panggung STBA jika memungkinkan mereka akan langsung menemui Eben untuk membicarakan masalah kolaborasi “Tiga Titik Hitam”. Setelah Eben konfirmasi kalo dia nyantey, maka Kimung dan Hendra pun bersiap-siap. Tak lupa mereka pamitan dan mengajak Karat yang lain seperti Mang Utun, Mang Engkus, Man Jasad, Jawis, dan Jimbot yang hadir di CR saat itu. Semua juga menyatakan akan ikut ke Eben, kecuali Man Jasad yang harus membuat surat undangan acara peringatan 2 Tahun Insiden Sabtu Kelabu dan Jimbot yang ada acara lagi. Yang tak ikut juga adalah Okid yang juga ada keperluan dan langsung cabut sehabis dari STBA, dan tentunya Aki Amenk yg emang absen sedari awal. Singkat kata jam 4 sore, Kimung, Hendra, Mang Utun, Mang Engkus, dan Jawis sudah berada di Studio Burgerkill. Ketika sampai Abah Andris sudah di Studio. Siap-siap mau nyapu halaman karena banyak daun-daun dan ranting berantakan di halaman akibat hujan besar tanpa ampun beberapa saat sebelumnya. Abah Andris pun sasapu seraya mendongeng mengenai Burgerkill di Aussie.
Setelah semua beres, Abah dan Karat lalu berkumpul di studio membincangkan mengenai kemungkinan musik “Tiga Titik Hitam” format kolaborasi Burgerkill vs Karat. Abah mengungkapkan setidaknya ia sudah punya bayangan di intro lagu dan di sesi chaos tengah lagu ketika lead gitar Agung masuk. Penggambaran Andris sebenarnya tak jauh dengan yang sudah dibayangkan oleh Karat. Namun hingga saat itu masih belum jelas apakah Burgerkill akan memainkan drum atau Andris akan bermain celempung/karinding untuk proyek kolaborasi ini.
Tak beberapa lama, Eben datang, disusul Viki dan kemudian Ramdhan. Setelah sedikit brainstorming, akhirnya Eben dan Burgerkill mengadakan pendekatan pemahaman terlebih dahulu kepada karakter suara dan pola pirigan karinding dan celempung. Maka lagu “New York” kemudian dimainkan. Setelah itu Karat memainkan lagu yang bertempo sangat lambat dan sesuai pakem dasar pirigan celempung karinding. Dan ketika akhirnya Burgerkill memahami karakter karinding dan celempung serta pola permainan Karat, mereka sepakat untuk mulai mencoba memainkan “Tiga Titik Hitam”. Untuk itu Eben memberikan masukan pirigan karinding dan celempung Hendra. Eben juga menegaskan kapada Karat bahwa ini adalah proyek kolaborasi dan karenanya ia tak ingin keberadaan karinding dan celempung hanya sebagai tempelan saja. Karinding dan celempung harus menjadi bagian dari lagu dan karenanya pasti akan ada perubahan aransemen yang besar untuk “Tiga Titik Hitam”. Dan benar saja. Eben dan Abah sepakat untuk tidak menggunakan drum dalam proyek ini. Eben meminta Abah untuk konsentrasi memberikan pola kepada Karat dengan bermain karinding atau celempung. Abah mencoba memainkan keduanya.
Sekali memainkan “Tiga Titik Hitam”, langsung terasa kekuatan lagu ini baik oleh Burgerkill maupun oleh Karat. Mereka langsung bisa merasakan peran mereka masing-masing dalam lagu ini walau tentu saja dalam kesempatan pertama ini masih belum terasa nyawa permainan karinding dan celempung. Masuk putaran ke dua, “Tiga Titik Hitam” dimainkan tambah kacau hahaha… Barulah setelah saling briefing, di putaran ketiga sedikit demi sedikit mereka mulai dapat mengumpulkan nyawa mereka untuk “Tiga Titik Hitam”. Malam itu sekitar lima sampai enam sesi lagu “Tiga Titik Hitam” dimainkan Burgerkill dan Karat. Hingga waktu menunjukkan pukul 20.00, akhirnya latihan dicukupkan demikian dengan janji besok latihan lagi dengan format yang lebih baik dan lengkap.

Selasa, 16 Februari 2010
Burgerkill vs Karat, Studio Burgerkill, “Tiga Titik Hitam” sesi 2.
Hari yang cerah. Hari ini Karat punya jadwal manggung di acara peluncuran komik Pamali#2 karya Kak Norpan Harharhar dari Regu Uncal. Panggung Karat kali ini digelar di Galeri Jeihan, di kawasan Padasuka Atas. Hmmm tempat yang sangat asri! Acaranya di sebuah joglo lumayan besar dan terbuka, dikelilingi dapuran awi yang setia memainkan simfoni alam. Di pinggir joglo ada mesjid yang tak kalah asri, menambah suasana asyik sore hari itu. Para gangster Karat sampai di lokasi bada Ashar sekitar pukul setengah empat. Setelah ngaso sebentar dan kebetulan juga lagi break Ashar saat itu, Karat tampil di panggung.
Karat memainkan list lagu yang sama dengan ketika mereka melabrak STBA sehari sebelumnya. Sususan lagu semuanya sama. Yang membedakan kini adalah suasana. Karat bermain lepas tanpa beban, tanpa sound system juga. Tak butuh sound system di suasana alam seperti itu. Di dapuran awi yang saling berkeresekan indah, musik bambu justru akan semakin gampang melebur tanpa adanya sound system. Maka Karat menghajar semuanya dengan lepas. Dan hal ini juga yang membuat mereka tampil sangat baik. Seusai manggung, semua personil Karat puas. Jauuuuhhh lebih puas dibandingkan dengan gig di STBA sehari sebelumnya (Kimung sampai bete abis dan uring-uringan gag jelas juntrungnya selain karena hilang kupluk warisan Scumbag, juga karena tidak nyaman maen).
Karat masih ingin diam berlama-lama di peluncuran buku Pamali#2 karya Kak Norpan, tapi jam 4 mereka sudah harus berlatih bersama Burgerkill. Maka sesudah maen mereka langsung bersiap-siap berangkat kembali ke Studio Burgerkill. Kini Man ikut ambil bagian bergabung. Amenk, Okid, dan Jimbot kembali absen karena mereka harus mempersiapkan berbagai hal. Man juga awalnya tak bisa karena harus menyelesaikan persiapan Peringatan 3 Tahun Insiden Sabtu Kelabu. Namun demikian, akhirnya Man ikut juga ke studio. Frans yang bertemu Karat di acara launching Pamali#2 ikut serta ke studio karena ingin memotret latihan Burgerkill vs Karat itu. Sebelumnya, hari Sabtu Kimung emang ketemu Frans di Jendela Ide dan Frans mengungkapkan ingin motret proses kolaborasi itu untuk dokumentasinya pribadi.
Sampai di studio, Burgerkill sudah kumplit, minus Agung. Setelah berhahahihi dan kongkow sebatings dua batings rokis dan kopis di halaman yang asri, mereka mulai masuk studio. Latihan Burgerkill vs karat “Tiga Titik Hitam” sesi dua segera digelar. Setelah mereview sebentar, mereka langsung menghajar lagu. Di putaran pertama lagu terdengar jelas karinding dan celempung masih belum bisa ngawin dengan gitar dan bass Burgerkill. Barulah setelah review sebentar dan masuk ke putaran kedua, mereka mulai enjoy dan ngawin dalam memainkan “Tiga Titik Hitam”. Lebih dari sepuluh kali dan break dua kali “Tiga Titik Hitam” dimainkan sebelum akhirnya Agung tiba. Man yang awalnya sudah berisap-siap karena janjian dengan Bebi di Commonroom pun akhirnya urung berangkat dan kembali bergabung memainkan “Tiga Titik Hitam”, kali ini dengan kehadiran Agung.
Benar saja, ada nuansa beda dengan adanya Agung. Melodi semakin kaya dengan dua gitar di lagu ini dan anehnya, semakin kayanya nada yang dimainkan Agung justru semakin memperkuat karakter permainan karinding dan celempung. Burgerkill dan Karat memainkan “Tiga Titik Hitam” dua putaran sebelum akhirnya bersorak dan bertepuk tangan, puas dengan aransemen kolaboratif yang mereka hasilkan.
The pigs have won tonight, now they can all sleep soundly, and everything is all right…

Jumat, 19 Februari 2010, ULANG TAUN KARAT
Jumat yang cerah di musim hujan. Walau gerimis turun namun langit cerah mala mini. Karat sudah berkumpul di Commonroom beserta dulur-dulur sadaya. Ada Zia, Arief, Mang Tahu, Kiki, dll. O iyaa Karat juga kedatangan tamu malam itu, Kang Dede dari Kasepuhan Sinar Resmi. Pupuhu ini yang pada Seren Taun Agustus 2009 menjadi tokoh Kasepuhan di kawasan Cisolok, Banten Kidul meneliti tentang angklung. Kimung mencatat dalam jurnal pribadinya, “Kang Dede adalah tokoh muda kasepuhan kawasan Banten Kidul. Ia dikenal di semua kasepuhan. Selain karena kiprahnya dalam membangun jaringan dengan kasepuhan lain serta kelompok-kelompok yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan tradisional di Jawa Barat, juga karena semua kasepuhan di Cisolok, Banten Kidul memiliki keterikatan darah. Selama tiga hari ini saya makan enak tidur enak. Gule munding dan perawan-perawan yang cantik alami di sekeliling saya hahaha.” Tiga mingu setelah kunjungan Kimung ke kasepuhan Cipta Mulya, giliran tim Commonroom yang mengunjungi Kasepuhan Sinar Resmi. Gustaff, Reina, Jenggot, Kimung, dan Jawis berangkat minggu ke tiga Agustus 2009 memenuhi undangan Kang Dede untukmenghadiri upacara adat Seren Taun Sinar Resmi yang ke 460.
Personil Karat malam itu lengkap. Full team! Latihan malam itu dimulai dengan memantapkan “Tiga Titik Hitam”. Amenk yang baru bergabung dengan “Tiga Titik Hitam” dapat dengan cepat mengikuti pola permainan karinding dan celempung. Ada beberapa kali sesi latihan karinding dimainkan bersama-sama sesuai dengan ketukan lagu. Jimbot ikut mengguide para karindingers Karat dalam membangun dan memainkan pola pirigan “Tiga Titik Hitam” yang memang tak biasa dimainkan. Pirigan dan ketukan karinding dalam lagu “Tiga Titik Hitam” juga harus secara konstan terjaga karena fungsi karinding dalam lagu ini vital. Ia membangun nuansa lagu dan ini hanya bisa dilakukan katika instrument dimainkan berulang-ulang secara bersamaan dalam ketukan dan pirigan yang tepat. Satu kesalahan saja akan dapat merusak nuansa yang terbangun dalam lagu. Dan nuansa karinding di “Tiga Titik Hitam” dapat dikatakan tiga sampai empat kali lebih kelam daripada versi asli atau akustik-drum Burgerkill di “Tiga Titik Hitam”. Hmmm sebetulnya bukan kelam sih… Lebih meditatif. Lebih ke perenungan ke dalam diri sendiri secara bersamaan. Suara-suara yang keluar harus benar-benar jauh dari relung. Beyond consciousness. “Tiga Titik Hitam” dimainkan beberapa putaran sampai dirasakan karinding bisa bermain bersama-sama tanpa ngaremeh.
Lagu berikutnya adalah “New York”. Sampai hari itu “New York” masih belum diberi lirik. Karat masih dalam taraf penyempurnaan pola music dan pirigan lagu ini. Jimbot menyarankan kepada Kimung sebuah pirigan yang jazzy, mengisi ruang-ruang kosong dalam pirigan celempung Hendra dan ketika pirigan itu dicoba. Nuansa “New York” dirasa semakin terbangun. Kimung masih terus melatih pola pirigan Jimbot ini untuk mengisi beberapa bagian “New York” agar lebih variatif lagi. Hendra juga merubah beberapa tepukan di gong celempungnya. Lebih menghentak, lebih rancak. Sesudah itu “Lagu Perang” dan “Wasit Kehed” digeber langsung. Dua lagu ini menghentak dengan sempurna dari Karat.
Latihan berlanjut ke “Barisan Nisan” dari Homicide. Ini memang proyek lama Karat dalam mengaransemen lagu yang baru terwujud. Rencana ini sudah jauh hari dibicarakan oleh Gaya Eyefeelsick untuk berkolaborasi dengan Karat membawa lagu “Barisan Nisan” sebagai tribute to Homicide. Gaya mengemukakan ia ingin membuat versi lain dari “Barisan Nisan” dengan komposisi music yang jauh lebih pelan. Gaya sendiri ngerap seperti seorang dalang yang bercerita penuh dengan cengkok dan lekak lekuk permainan kata yang memang dengan baik ditulis Ucoxxx. Secara umum, pola music yang akan dimainkan sudah terbayang. Ketukannya sangat lambat. Pola pirigan celempung “Kawih Pati” dicoba ke “Barisan Nisan” dan ternyata pas! Jadi lagu ini akan sangat ngemplad dalam segala kekerasan dan kegroovyannya hahahaaa.. tunggu sajah tanggal mainnyahh fellas!!!
Jumat yang cerah memang dan semakin malam, Commonroom semakin ramai. Datang Eddi Brokoli dkk yang sudah lama ga ketemu. Kamana wae atuu mang? Hahaha kangen sama Eddi. Dia lagi garap sebuah kuis dan minta ide game kepada yang hadir untuk dia mainkan esok harinya dalam sebuah kuis yang berhadiah sebuah rumah dan uang total 100 juta rupiah hahahaa.. Work on bro!! Imahna keur kami lah xixixii…
Dan sosok Eddi Brokoli juga tak bisa dipisahkan dari Karat. Tepat hari ini satu tahun yang lalu, ia dan gengsternya Gimmick sedang bersiap menggeber sebuah event di Commonroom. Event bertajuk Secret Garden Re-Revisited ini digagas oleh Elank Polyester Embassy dan dievakulasi Elank dan Gimmick ini adalah Secret Garden yang kedua. Acara ini memang digelar khusus untuk memperkenalkan alat music karinding ke khalayak. Dalam kesempatan itu karinding yang diwakili oleh Karinding Attack berkolaborasi dengan tiga band, Polyester Embassy, Goodbye Lenin, dan Laifenhop, selain juga tampil sendiri. Yang bermain bersama Karat saat itu adalah Mang Utun, Mang Engkus, Kimung, dan Hendra.
Acara tanggal 21 Februari 2009 ini juga dapat dikatakan sebagai momen pertama Karat manggung dan secara resmi menggunakan nama “Karinding Attack”. Nama ini memang sudah digunakan ketika launching Morbid Nixcotine 12 Desember 2009. Namun, yang manggung saat itu bukanlah Karat. Saat itu ditampilkan permainan karinding buhun dari Giri Kerenceng pimpinan Abah Olot. Hingga saat itu, istlah “karinding attack” masihlah sebuah kata pembuka yang ditulis Kimung untuk lebih mengedepankan Giri Kerenceng. “Karinding Attack” digunakan secara resmi pertama kali di Secret Garden Revisited 21 Februari 2009.

Well, besok hari Minggu tanggal 21 Februari 2009 hahahahahaaa…

Jumat malam kemarin Kang Utun, Kimung, dan Karat yang lain sepakat jika Karat akan berulang tahun setiap 21 Februari. So HAPPY B’DAY FOR TOMORROW KARAAAAATTT!!! HAJAR TERUS JALANAN!!!!!

Bersambung ahhh ke jurnal karat#6…

10 playlist Jon 666 Tarawangsa, Burgerkill, Homicide, Bob Marley, Cianjuran, Carcass, Nailbomb, Kyle Minogue, Eddie Brickell, Queen
Movie : The Forth Kind
Books : Fatimah Az-Zahra Sang Putri Rasulullah by Nunik Utami 2009, Sejarah Tuhan by Karen Armstrong 1993,

JURNAL KARAT # 4 JUMAT KRAMAT 12 FEBRUARI 2010, KOLABORASI TIGA TITIK HITAM BURGERKILL VS. KARAT

Posted in Uncategorized with tags on February 16, 2010 by kimun666

JURNAL KARAT # 4 JUMAT KRAMAT 12 FEBRUARI 2010
KOLABORASI TIGA TITIK HITAM BURGERKILL VS. KARAT

Asuhan jon 666

Selasa 9 Februari 2010, Rekaman di Studio Manja Parakan Elok
Jumat Kramat 5 Feb 2010 para personil Karat sepakat akan bereksperimen rekaman lagu mereka di Studio Manja milik Man di bilangan Parakan Elok. Man yang sudah berhasil merekam pola karinding ciptaannya yang terinspirasi Dying Fetus mengundang kawan-kawan Karat untuk juga merekam lagu di studionya. Tentu saja ini sebuah tawaran eksperimen yang sayang untuk disia-siakan. Ini juga siapa tahu bisa menjadi langkah awal Karat untuk mandiri secara teknis dalam segala hal, termasuk dalam rekaman.
Maka Selasa malam, 9 Februari 2010, pukul 21.00, walau tak semua hadir para personil Karat berkumpul di Studio Manja. Kimung dan Hendra pertama kali datang, disusul segera oleh Jawis, dan kemudian Okid. Aki Amenk memberikan konfirmasi tak akan datang. Pun Mang Utun dan Jimbot. Gapapa kata para personil Karat yang hadir. Semua yang hadir bisa merekam malam itu. Yang tidak hadir bisa menyusul kemudian.
Setelah pemanasan, menunggu superglue untuk memperbaiki nada celempung Mang Utun yang dipakai Hendra, Man sebagai operator dan Karat mulai mencari hitungan metronom lagu per lagu. Setelah metronom ditemukan, sesi rekaman pun dimulai. Yang pertama direkam disepakati “Washed” yang memang sudah dikuasai semua yang hadir. Hendra take celempung duluan. Butuh beberapa kali take sebelum akhirnya Hendra merampungkan pola celempung sesuai dengan ketukan metronome.
Usai Hendra, giliran Kimung kini yang loading. Kimung mengalami kesulitan dalam take kali ini. Ia mengalami kesuitan dengan pola pirigan celempung Hendra yang cenderung meleset dari metronom namun sebenarnya pas. Kimung juga tak menemukan sound yang tepat dalam teknik tepukan celempung yang hasilnya selalu tak memuaskan dalam rekaman. Pun setelah ia akhirnya mengganti celempung Giri Kerenceng dengan celempung Banten Kidul. Akhirnya setelah proses take celempung yang lumayan panjang, Kimung pun merampungkan untuk sementara take celempungnya.
Rekaman kemudian dilanjut dengan loading karinding Okid, Man, Jawis, dan Hendra. Menurut Man, total jendral, rekaman itu usai hingga pukul tiga dini hari. Berikut chat Kimung dengan Okid keesokan harinya…
Kimung : Cuuuu, kmh kmri..?? tuliskeun laahhh keur jurnal cuuu
5:21pmRottrevore : jurnal naon mang
5:21pmKimung : jurnal karat nu tiap saptu ku urg rilis, sbagey perjalanan karat mggu inih cuuu
5:22pmRottrevore : heug.bae pabaliut
5:23pmKimung : wakakakkk pabaliut kmh? washed beres td peuting?
5:24pmRottrevore : tempona diganti teu ka udag kukarinding… dilaunan..
5:25pmKimung : Wakakakkk jadi celempung oge dirobah atuu..?
5:26pmRottrevore : dilaunan tempona,via softwarena…. jeung jiga na pirigana kudu aya nu dirobah saeutik
5:26pmKimung : hmmm bisa nyaa? Hehehehe edun uy hheu… pirigan celempung nu kudu dirobah teh?
5:27pmRottrevore : teu kudu celempungmah
5:28pmKimung : jadi ngan karinding hungkul? tapi karinding td peuting beres direkam?
5:29pmRottrevore : nya,meh teu kudu ngarekam deui,tapi ke urang riung keun deui weh.. mung ari isukan maen jam sbraha?
5:30pmKimung : wekekekk teuing cuuu hheuu cobi ka mang uts kntk cuuu
Rottrevore : ari ayeuna aya latihan teu?
5:32pmKimung : teu apal, emg kmri rek lat irh cnh? asa euwh nu ngabejaan ayeuna mah cuuu
5:33pmRottrevore : urang nyien lirik bahasa sunda tapi jiga bahasi india jeung arab nya?
5:34pmKimung : wahh oks oks.. geus ayaa..??
5:34pmRottrevore : ke ditempokeun lyricna…
5:34pmKimung : imelkeun laahh ngarah urg jieun ayeuna piriganna cuuu
Rottrevore : judulna YARO LAGAK SAWA KOCAM… SALAH YARO KALAG SAWA KOCAM
5:38pmKimung : wakakakkk oray galak awas macok wakakakkk imelkuen laaahh
Rottrevore : TAPI URANG HAHALEUANGAN MAH JIGA BASA INDIA atawa arab
5:40pmKimung : wekekekk pastinyoo hahahaha
Rottrevore : meunang teunya… urang kokok heula
5:42pmKimung : meunang atuuuhh… ceuk kami kituuhh hahahaha… sipsip atuuhh.. slamat berkokok sajah cskuuu
Di hari Rabu itu juga beredar SMS Mang Utun yang membuat dinamika Karat semaikin seksi sajah : Burgerkill mengajak Karat tampil berkolaborasi dalam sebuah acara yang akan ditayangkan di MTV. Bagi Karat sjakan ini tentu saja merupakan sebuah kehormatan. Bukan Cuma karena diajak oleh Burgerkill—band metal terdepan Indonesia—tapi juga ini adlah kolaborasi pertama dengan band metal dan ditayangkan di stasiun ikon pop Indonesia, dan dunia : MTV. “Urang obrolkeun enjing jelasna ang,” sambung Mang Utun.

Kamis, 11 Februari 2010
Sore itu para personil Karat berkumpul di Commonroom. Kamis yang sangat ramai!! Selain Openlabs yang juga sedang pada berkumpul, Bandung Oral History yang sedang Kemisan dengan menu presentasi Historiografi Eropa oleh Kimung, Kamis itu tampak juga para personil Beside, manajemen, dan kru sedang berkumpul untuk merencanakan pengajian dan doa bersama untuk memperingati Insiden Sabtu Kelabu 9 Februari. Acara pengajian ini rencananya akan dilakukan hari Rabu tgl 17 Februari 2010 di Commonroom.
Para Personil Karat berkumpul dalam rangka membicarakan rencana kolaborasi dengan Burgerkill dalam lagu “Tiga Titik Hitam” untuk mengisi salah satu acara di MTV. Kalo ga salah nama acaranya MTV Studio. Untuk membicarakan rencana itu kabarnya Jemi akan datang sore itu. Mang Utun, Aki Amenk, Man Jasad, Jawis, Hendra, Jimbot, Okid, dan Kimung yang kemudian bergabung tak lama kemudian setelah forum BOH selesai. Pelataran Commonroom semakin ramai saja dengan berpadunya tiga gangster dua generasi itu : Beside dan Karat yang didominasi wajah-wajah lama Uberebels dan BOH yang didominasi wajah-wajah baru Uberebels. Suasana sangat ramai.
Sayang Jemi sebagai perwakilan dari Burgerkill yang ditunggu-tunggu tak jadi datang malam itu.

Jumat, 12 Februari 2010
Hujan masih mengiringi Jumat Kramat 12 Februari 2010. Namun, suasana ramai tetap menghiasi Jumat Kramat minggu ini. Personil Karat dan kawan-kawan, Zia, Arief, dan Dinan Profanatixa plus dua anggota Bandung Extreme Sketch Club—sebuah gangster ceceesan para desainer khusus death metal dan sgala yang berbau ekstrim—Gencuy Brutal Art dan Candra Monmon Art; Eka, Reggi, dll hadir di pelataran commonroom. Ramai dan hangat karena juga disemarakkan oleh nasi gila yang memang gila pedasnya. Cociks untuk malam hujan dan dingin. Sayang Aki Amenk kembali tak bisa hadir karena ia terjebak banjir di Dayeuh Kolot.
Akhirnya Karat masuk arena latihan. Semua duduk di lantai beralaskan tikas pandan dan tikar plastik. Umi sang gadis Jepang yang baru saja kembali ke Indonesia setelah kepulangannya ke Jepang ikut bergabung latihan dengan Karat malam itu. Umi emang memiliki ketertarikan khusus terhadap Karinding. Kiki yang juga hadir bersama Karat ikut bergabung ke dalam lingkaran. Dan latihan pun memulai prosesi jumaahan wengi.
Prosesi di buka oleh Mang Utun yang menyampaikan perkembangan Karat satu minggu ini yang ternyata semakin dinamis saja. Dibuka dengan refleksi betapa Karat kini sudah semakin dikenal orang dan karena itu Karat harus lebih serius dan inovatif lagi dalam mempersiapkan segalanya, terutama dalam mengisi berbagai undangan gigs dan persiapan rekaman. Mang Utun mereview beberapa jadwal manggung Karat sepanjang Februari : 15 Feb di STBA acara Buch Messe, 16 Feb di launching buku Pamali#2 Norvan di Galeri Jeihan, 20 Feb kolaborasi dengan Burgerkill di lagu “Tiga Titik Hitam” khusus untuk acara MTV Studio, 25 Feb kolaborasi dengan Europe Troppen di Gedung Indonesia Menggugat dalam acara loncing sebuah majalah urban, serta 28 Feb di acara ulang tahun preman Ujungberung dan Unpad Jatinangor. Selain itu, kabarnya tanggal 26 dan 27 Februari Karat juga ada jadwal amnggung tapi masih belum jelas di mana dan acara apa karena masih belum ada konfirmasi lebih lanjut. Yang paling disoroti secara serius tentu saja adalah rencana kolaborasi dengan Burgekrill untuk tampil di MTV. Namun demikian hingga malam itu, belum ada konfirmasi jelas dan langsung dari pihak Burgerkill mengenai rencana ini. Konfirmasi baru dilakukan Jemi manajer Burgerkill via telepon kepada Aki Amenk dan Mang Utun serta SMSan Kimung dan Eben. Namun demikian, Mang Utun menegaskan Jemi akan datang Jumat Kramat untuk membicarakan rencana kolaborasi ini. Setelah siap, latihan pun mulailah.
Latihan dimulai dengan fiksing lagu “New York New York”. Jimbot yang baru bergabung menggarap lagu ini mencoba meraba-raba “New York” dengan tiupan toleat dan suling. Belum 100% fiks tapi ada beberapa bayangan pola alat tiup yang akan dimainkan Jimbot untuk menyemarakkan “New York” yang memang rancak dan ramai. Yang paling jelas akan menyemarakkan “New York” tentu saja adalah beatboxing Kang Diki. Sayang, Karat lupa mengundang Kang Diki untuk ikut bergabung berlatih malam itu, padahal Kang Diki sudahbersedia ketika chat dgn Mang Utun di Facebook. Secara umum,” New York” semakin matang minggu ini. Karinding sudah mantap hanya saja Kimung curhat masih ada sedikit ganjalan mengenai pola karinding “New York” yang sepertinya akan lebih greget jika diset lebih genit dan dinamis sesuai dengan pola celempung. Namun demikian malam itu semua asik dengan dinamika lagu “New York”.
Lagu kedua yang dilatihkan adalah “Washed”. Lagu ini emang sudah fiks. Jimbot yang sudah lumayan memiliki gambaran semakin mantap dengan “Washed”. Tipuan toleat dan sulingnya semakin tajam, bahaya , dan tahu sudut-sudut liar yang harus diredam oleh alunan alat tiup bambunya. Lagu selanjunya adalah “Hampura Ma”. Lagu ini pada dasarnya memang lagu pionir Karat. Lagu yang pertama kali diciptakan sekaligus juga pertama kali direkam oleh Karat. Lagu ini pula yang terus menerus dimainkan di panggung-panggung karat sepanjang tahun 2009 dan secara manis menempel dalam benar para personil Karat. Namun demikian, “Hampura Ma” yang dilatihkan jelas berbeda dengan “Hampura Ma” yang selama ini dimainkan. Sudah ada pola yang baik kini. Dan walau sudah terpola secara baku, sama sekali taka da kesulitan bagi para personil Karat untuk ngawin, bersatu dengan “Hampura Ma” bagaimanapun aransemen yang dibuat Karat untuk lagu itu. “Hampura Ma” melenggang dengan manis dan harmonis walau Jimbot berkali-kali harus mengetes tiupan toleatnya.
Lagu selanjutnya yang terus digarap adalah “Blues Kinanti”. Minggu ini “Blues Kinanti” semakin menunjukkan warnanya. Pola karinding dan celempung yang bluesy sudah semakin kenatra walau tentu saja belum 100% fiks yah… Jimbot malah bereksperimen menggunakan dua suling yang ia tiup dan mainkan langsung untuk mengganti akor-akor harmonika. Hmmm sebenarnya Mang Utun sudah siap memainkan harmonika untuk lagu ini, namun sedapat mungkin karat tetap pada komitmen memainkan alat musik utama dari bambu untuk lagu-lagu di album sekarang ini. Kehadira Umi sang gadis Jepang juga memberikan inspirasi khusus bagi Man sang vokalis untuk menambah perbendaharaan bahasa untuk “Blues Kinanti”. Sejauh ini man sudah mempersiapkan lirik lagu dalam dua bahasa, Sunda dan Jerman. Bahasa jerman didapatkan dari hasil terjemahan York sang Pemuda Berlin khusus untuk Karat. Man meminta Umi untuk menerjemahkan “Blues Kinanti” Budak Leutik Bisa Ngapung ke dalam bahasa Jepang. Umi menyanggupinya.
Sehabis “Blues Kinanti”, Karat segera menghajar dengan “Lagu Perang” yang langsung disambung “Kawih Pati” atau Song of Death. “Lagu Perang” seperti biasa lancar karena sudah sangat dikuasai Karat. Mereka cuma harus mengulang dua kali sebelum akhirnya masuk ke “Kawih Pati”. Ending “Lagu Perang” yang mengetengahkan gelegar alat musik guludug sekaligus menjadi awal untuk “Lagu Perang”. Nuansa muram, lambat, dan monoton mengantarkan meditasi mendalam “Kawih Pati”. Vokal Man yang mengalun dalam kawih ini juga mengambang. Seperti kematian. “Kawih Pati” tak diulang. Lagu ini selesai dalam sekali latihan walau ada sedikit perubahan dalam pola celempung di tengah lagu, ketika tempo perlahan naik, naik, semakin cepat, cepat, cepat, dan cepat. Kimung dan hendra masih belum menemukan pola ketukan yang pas untuk “Kawih Pati” di bagian itu.
“Kawih Pati” mengakhiri sesi latihan Karat jumat kramat ini. Ketika obrolan ringan mengenai rencana rekaman dan dinamika pergerakan scene independen dan isu turunnya bantuan pemerinta bagi komunitas ini bergulir, datang Jemi dan Mpung yang memang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya sejak kemarin untuk membicarakan rencana kolaborasi Karat vs Burgerkill. Dari penuturan Jemi, acara MTV yang akan diramaikan BK dan Karat adalah MTV Studio. Sebenarnya yang mengisi acara ini adalah Burgerkill, namun Burgerkill berinisiatif mengundang Karat sebagai bentuk dukungan utama Burgerkill dalam pergerakan penyebaran syiar karinding dan kasundaan yang dilakukan Karat di jalur pop. Untuk itu, Burgerkill hanya menyediakan transportasi sebuah mobil untuk Karat pergi ke studio MTV di Global TV Jakarta tanggal 20 Februari. Lagu yang akan dibawakan adalah “Tiga Titik Hitam” walau Kimung sebenarnya lebih memilih “Anjing Tanah”, dengan pertimbangan lagu ini sangat menghentak mantap, cocok dengan performa Karat. Namun, Jemi mengungkapkan, Burgerkill harus membawakan “Anjing Tanah” dalam format full band. Lagu ini tak akan maksimal jika dimainkan Burgerkill dalam format akustik. Burgerkill sendiri memiliki pandangan “Tiga Titik Hitam” akan sangat cocok dibawakan dengan alunan karinding celempung dan karenanya maka lagu ini dipilih. Hmmm ya sudahlah.. toh “Tiga Titik Hitam” juga memiliki kekuatan yang bukan olah-olah. Jemi lalu menyebarkan rekaman “Tiga Titik Hitam” versi akustik ketika dimainkan dalam bedah buku Myself : Scumbag 12 januari 2009 silam kepada para personil Karat malam itu.

Bersambung cuuuuu minggon payun nyaaahh… heuheuheu…

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, Burgerkill, Faith No More, Fear Factory, Tika and the Dissidents, Homicide, Pearl Jam, Tracy Chapman, John Lennon, Dawson Creeks’s Soundtrack
Movies : Parthenon : Design and Architecture by Ann Grau Duvall, Portishead live in Roseland New York
Books : The Beatles Ways by Larry Lange, The Lost Symbols by Dan Brown

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.